Wilayah Adat

Kampukng Boyutn

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Sokan
Desa Nanga Libas
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 4 Ha
Satuan Kampukng Boyutn
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Sebelah Barat berbatasan dengan Berbatasan dengan: 1. Kampung Karangan Panjang (Desa Nanga Ora) mulai dari Sungai Palipi Hulu sampai Sungai Bagantar. 2. Desa Tanjung Mahu Mulai dari Sungai Bagantar, Sungai Silik Barasap sampai Sungai Sopatan Kalasi ,
Batas Selatan Sebelah Selatan dengan Berbatasan dengan Kampung Nangora (Desa Nanga Ora) mulai dari Sungai Jalinuh Sangkuang Batali sampai Sungai Palipi Hulu
Batas Timur Sebelah Timur dengan Berbatasan dengan Kampung Libas (Desa Nanga Libas) mulai dari Bukit Hulu Sabaguru sampai Sungai Jalinuh Sangkuang Batali ,
Batas Utara Sebelah Utara dengan Berbatasan dengan: 1. Dusun Pugar Indah (Desa Nanga Libas) mulai dari Sungai Sopatan Kalasi sampai Sungai Penyebrang Suritn 2. Kampung Libas (Desa Nanga Libas) mulai dari Sungai Penyebrang Surit sampai Bukit Hulu Sabaguru

Kependudukan

Jumlah KK 97
Jumlah Laki-laki 208
Jumlah Perempuan 189
Mata Pencaharian utama Petani dan penoreh karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Suku Dayak Laman Tawa
Suku Dayak Laman Tawa berasal dari laut Laba-Labe, kemudian pindah ke Pontianak dan mendirikan kampung. Dari Pontianak berpindah dan membuat kampung di Nanga Pinoh, tepatnya di Kampung Rame. Dari Kampung Rame kemudian pindah mendirikan kampung di Nanga Sungai Songang, dan berpindah lagi di Nanga Sayan tepatnya Kerangkng Mawakng. Dari Kerangkang Mawakng kemudian mendirikan kampung di Madong Raya tepatnya di Sungai Bata. Di Kampung Madong Raya mereka terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok Pertama: Mereka masuk Sungai Pinoh, membuat kampung di Sungai Panak dalam Sungai Nobatn di Riam Tarik, pindah lagi kemudian membuat kampung di Sungai Mentawa tepatnya di Nanga Libas. Sedangkan Kelompok Kedua: Mereka masuk Sungai Ngolas membuat kampung di Laman Lompak’n di hulu Sungai Kanibang anak Sungai Ngolas. Pecahnya Laman Lompak’n terjadi karena kematian Dara Tunggal yang disebabkan mencuci beras di dalam rumah dekat dapur tungkuan. Sampai saat ini penyebaran Dayak Laman Tawa berada di Sungai Pinoh Desa Nanga Libas, Desa Nanga Ora, dan Desa Penyengkuang Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi. Sungai Pinoh ini bermuara ke Sungai Melawi Sungai Melawi Bermuara ke Sungai Kepuas dan Sungai Kepuas Bermuara ke Laut tepatnya di Kota Pontianak.

Sejarah Suku Dayak Laman Tawa di Kampukng Boyutn
Bermula di Sungai Mentawa, Sekitar tahun 1897, pada masa kerajaan dimana penduduk Dayak Laman Tawa dipaksa untuk memeluk Agama Islam, jika ada menolak maka akan diberikan sanksi oleh raja. Karena tidak bersedia mengikuti keinginan raja, maka penduduk Laman Tawa pun memutuskan untuk pindah tempat tinggal lalu bergerak kearah mudik dari Sungai Libas hingga sampai ke hulunya yaitu di Laman Baharu. Pada tahun 1925, Orang yang pertama kali membuka lahan pertanian di Laman baharu bernama Pak Sopo. Pada waktu itu pak Sopo ini juga sebagai pemimpin Kampukng yang sering disebut kepala Kampukng. Di situlah Masyarakat adat Dayak Laman Tawa mulai membuka lahan untuk kegiatan bercocok-tanam. Mereka menanam karet, tengkawang, durian dan berbagai jenis tanaman lainnya dan menetap membentuk Dukuh-dukuh (lokasi perladangan) diantaranya Dukuh Laman Sungai Panak, Dukuh Selumakng, dan Dukuh Durian Pako.
Atas keinginan dari masyarakat sendiri maka dukuh-dukuh yang ada bergabung menjadi Kampung. Pada tahun 1938 berdirilah Kampung Laman Baharu yang tidak hanya terdiri dari tiga Dukuh saja tetapi gabungan dari beberapa dukuh lainnya seperti: Dukuh Batapis, Dukuh Omang, Dukuh Kupo Bolin, Sungai Panak, Duku Baloyakng, Dukuh Durian Pako dan Dukuh Tanjung Limo. Kepala Kampung sekaligus merupakan Kepala Adat namun Tidak diketahui siapa yang menjadi Kepala Kampung pada saat itu.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945 sistem pemerintahan mulai tertata. Kampung Laman Baharu dipimpin oleh Kepala Kampung dan Kabayatn (Wakil Kepala Kampung). Adapun sejarah kepemimpinan di Kampung Laman Baharu adalah sebagai berikut: Tahun 1945-1970: Kepala Kampung dijabat oleh Bapak Kedok dan Kebayatnnya adalah Bapak Ubun. Dari tahun 1970-1990 Kepala Kampung Laman Baru dijabat oleh Bapak Acon dan Kebayatnnya BapakTeman.
Penyebaran Agama Katholik pada tahun 1982 oleh Pastor J. Gross, CM. dan sampai saat ini Masyarakat Dayak Laman Tawa memeluk Agama Khatolik. Walaupun demikian ritual-ritual adat masih tetap mereka laksanakan.
Pada tahun 1990-1996 Kepala Kampung dijabat oleh Bapak Sopor dan Kebayatnnya adalah Bapak Hentong. Pada tahun 1996 juga ada perubahan status pemerintahan kampung yang secara otomatis merubah stasus kepemimpinan. Kepala kampung menjadi kepala desa, kabayatn menjadi kepala dusun. Sehingga Kampung Laman Baharu secara administrasi berada dalam Desa Nanga Libas Dusun Lestari Setia. Desa Nanga Libas terdiri dari empat dusun. Yaitu: Dusun Nanga Libas (yang terdiri dari Kampung Nanga Libas), Dusun Lestari Setia (terdiri dari Kampung Laman Baharu dan Kampung Nanga Teluai), Dusun Pugar indah (Terdiri dari Kampung Ketati dan Kampung Nanga Haji) dan Dusun Nanga Tangkit (Terdiri dari Kampung Nanga Tangkid)
Melihat perkembangan yang ada di Kampung Laman Baharu kurang memadai terutama dari akses transportasi, komunikasi dan informasi dan juga jauh dari sarana prasarana, sehingga ada pemikiran dan keinginan orang-orang tua terdahulu untuk membentuk kampung baru yang lokasinya berada di Buluh Berani. Mempertimbangkan lagi dari segi akses, kemudian berpindah ke Sengkuang Betali dan akhirnya memutuskan untuk menetap di pinggiran Sungai pinoh yang banyak ditumbuhi Pohon Boyutn, sehingga tempat tersebut dinamakan Kampukng Boyutn.
Saat Bapak Sopor menjadi Kepala kampung, Bersama dengan Bapak Acon (Mantan Kepala Kampung) berinisiatif untuk pertama kali membuka Kampung Boyutn dengan membeli tanah milik Haji Abang Tayo (yang merupakan orang dari sokan Kampung Libas) dengan seekor sapi betina yang diuangkan pada saat itu sebesar Rp. 5.600.000,00 (Lima Juta Enam Ratus Ribu Rupiah). Beliau menginginkan dan bercita-cita kampukng Boyunt menjadi kampung yang besar dan berkembang, perlahan-lahan Masyarakat pindah bermukim dari Laman Baharu ke Kampukng Boyutn.
Pada tahun 2000, Kampukng Boyutn masuk dalam administrasi Dusun Lestari Setia. Dimana Dusun Lestari setia merupakan gabungan dari Kampukng Boyutn (termasuk Laman Baharu) dan Kampukng Teluai. Yang menjabat sebagai Kepala Dusun Pertama pertama kali adalah Bapak Hentong, Dimana jumlah penduduk kurang lebih 34 Kepala Keluarga, 169 Jiwa. Pada tahun 2004 adanya pergantian Kepala Dusun. Bapak Hentong diganti oleh Pak Donson dengan periode jabatan (2004-2006). Pada tahun 2005, terjadilah pemekaran dusun yaitu Dusun Lestari Setia dan Dusun Telui (Taluai). Pada tahun 2006 adanya pergantian Kepala Dusun lagi, Pak Donson digantikan oleh Pak A. Sono periode jabatan tahun 2006 – sekarang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

pembagian ruang menurut Masyarakat Adat Kampukng Boyutn adalah sebagai berikut:
a. Kampukng Buah ( Tembawang )
Berdasarkan pembentukannya Kampukng buah terbentuk dari bekas Kampukng, dukuh atau ladang yang ditinggalkan.
Dengan ditingalkannya lokasi-lokasi yang banyak tanaman buahnya inilah menjadi Kampukng buah. Jika terbentuk dari
bekas Kampukng maka kepemilikan Kampukng buah menjadi hak seKampukng, tetapi jika terbentuk dari dukuh dan ladang
maka haknya menjadi individu yang memiliki dukuh dan ladang.
b. Laman
merupakan kawasan pemukiman/kampung atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas
keseharian mereka. Di dalam laman juga terdapat Paseen (kuburan) yang letaknya tidak jauh dengan pemukiman
masyarakat.
c. Kobutn Karet (Karit)
yakni kawasan yang berisikan mayoritas tanaman karet, walaupun ada juga tanaman-tanaman lain seperti jengkol, durian,
dan lainnya yang juga ditanam disana.
d. Rima
merupakan hutan yang masih utuh, banyak dijumpai pohon-pohon besar, binatang buruan, mata air, berbagai jenis burung,
dll. Dalam Rima juga terdapat Tempat Keramat yang bernama Lubang Macan. Lokasi tersebut bernilai sakral, Keramat
memiliki hubungan psikologis antara masyarakat Kampukng, baik dengan roh nenek moyang, penunggu alam dan Duata.
Maka tempat-tempat tersebut tidak boleh untuk dibuka.
e. Rasau/rawa
yaitu dataran rendah yang berair, biasanya digunakan sebagai kawasan umo rawa. Umo rawa ini yang digunakan
masyarakat untuk menanam padi dan tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam lainnya
f. Babas/bawas,
Merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagi untuk
be-umo lagi pada tahun berikutnya. Mereka juga mengenal tingkat vegetasi (kesuburan tanah) yang ada di babas, seperti
tempalai yaitu babas berumur 1 – 3 tahun; balitn batang yakni babas berumur 2 – 3 tahun; babas muda yakni babas
berumur 3 – 5 tahun; babas tuha yaitu babas berumur 6 – 11 tahun; agung kelongkang yaitu babas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan huma lagi akan menjadi rima’. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan
atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo. Dalam Babas
terdapat dukuh, yaitu lokasi yang perladangan/huma yang sudah mencapai puluhan tahun, jumlah yang menepati dukuh
kurang lebih 1-6 kelurga, biasanya berasal dari lawang ( gabungan dari keluarga). 
Sistem Kepemilikan Tanah Masyarakat Adat Kampukng Boyutn
Secara adat, kepemilikan atas tanah atau lahan dapat dibagi
1. Tanah Individu
Sistem ini didasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan(rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga
dari warisan orang tua. (Ranah, Bawas, kobutn karet, Laman)
2. Tanah keluarga/marga
Tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Dan, untuk
generasi berikutnya dari warga atau keluarga, kepemilikan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kepemilikan tanah atau lahan
untuk beberapa keluarga dalam satu keturunan dan keluarga tersebut.( Ranah, Bawas, kobutn karet, Laman)
3.Tanah Komunal
Kepemilihan tanah/lahan dengan segala isinya menjadi milik bersama satu kampung atau milik kolektif/komunal (Rimo,
Rampa Lalang. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn.
Struktur Struktur Lembaga Adat Suku Dayak Laman Tawa Kampukng Boyutn: 1. Proses pemilihan Manter dan Tuha dalam Laman melalui Bahump Bopkat dan ditunjuk langsung oleh Masyarakat yang hadir pada saat itu atau dengan Pencalonan (Sistem Demokrasi). 2. Syarat seorang Kepala Adat dan Tuha dalam Laman memiliki Kemapuan dalam bidang adat, cakep berani mengambil Keputusan. Masa jabatan Manter dan Tuha Dalam Laman Tidak Ditentukan, sesuai dengan kemampuan memimpinnya.
1. Manter Adat / Ketua Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah adat tingkat
kampung.
2. Tuha Dalam merupkan Wakil Ketua Adat/Kebayan hanya diberi kewenangan mengurus adat istiadat dan hukum adat di
wilayah kampung apabila Ketua Adat tidak berada ditempat atau sedang berhalangan. Tuha Dalam juga bertugas untuk
menghadirkan atau memanggil masyarakat ketika ada bapokat atau musyawarah adat. 
Melalui rapat/musyawarah adat (Bapokat)
Musyawarah ini dengan melibatkan seluruh warga kampung yang dipimpin langsung oleh pengurus adat. Pelaksanaan
biasanya dilakukan di balai adat atau di rumah ketua adat. 

Hukum Adat

Aturan tentang Rimo
- Tidak boleh menebang kayu di Rimo. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa penyitaan kayu dan
membayar ganti rugi.
Aturan tentang Laman:
- Semua masyarakat adat wajib menjaga kenyamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan disekitar laman.
Tidak boleh melepaskan ternak khususnya sapi dan babi untuk berkeliaran. Apabila terjadi pelanggaran maka akan
dikenakan sanksi berupa teguran sampai tiga kali apabila si pemilik tidak menanggapi maka hewan tersebut boleh
ditangkap dan dipotong Bersama-sama 
Aturan adat terkait dengan pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan,
balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji,
perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat,
kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat.
Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Penerapan denda berupa hewan
dan benda seperti tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang 
Pada tahun 2016 terjadi kasus seseorang membakar kebun yang apinya merambat ke kebun orang lain. Akibat kejadian
tersebut yang bersangkutan disidang secara adat, dengan melakukan proses mediasi terlebih dahulu kepada kedua belah
pihak. Sanksi yang dikenakan tidak berupa pembayaran dengan uang, namun menyerahkan hasil panen (Getah Karet)
sesuai dengan kerugian yang dialami. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat Ubi kayu, ketela, keladi. Sayuran: Entimun, labuk, perenggi, terong asam, terong manis, kacang-kacangan, cabe rawit, dan kucai, dan buah-buahan lokal Buah-buahan . Buah sibo, kembayo,Lemacang, kusik, durian, langsat, sedawak,Pekawai. Protei Nabati Kacang Tanah,kacang hijau, kedelai, kacang merah Protein Hewani Ikan, babi, rusa,kijang, landuk, batat(musang),
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar gelaet : untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit Kumis kucing : untuk menyembuhkan penyakit gula , Pasak bumi penyembuhkan rasa pegal dan nyeri, Akar kebintang menyembuhkan sakit perut, kayu cina buri untuk luka dan coki untuk menyembuhkan penyakit dalam
Papan dan Bahan Infrastruktur Jenis kayu 1. Tiang kayu: kayu ulitn , Jenang, kasau kayu gonis tokapm banuah, , keladatn 2. Dinding: kayu meranti, omang besi, pakit 3. Atap rumah: Daun sarakng, penyelapat,maso,paraya
Sumber Sandang Untuk keperluan Adat istiadat masih memanfaatkan pakaian dari kulit kayu seperti: Kulit kayu kapuak : untuk membuat pakaian (adat) Getah pohon : Untuk pewarna pakaian, Bulu ekor burung ruai : untuk asosoris adat,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, cabe rawit,sengkubak.sibuk, lonsu, asam kandis, tekoru.
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, Jengkol, Tengkawang