Wilayah Adat

Sadei Cawang An

 Terverifikasi

Nama Komunitas Cawang An
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota REJANG LEBONG
Kecamatan Selupu Rejang
Desa Desa Cawang Lama dan Desa Kayu Manis
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 875 Ha
Satuan Sadei Cawang An
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat DEsa Seguring kec. Curup timur Dari Lemua butak sampai ke air simpang
Batas Selatan Desa Duku ulu kec. Curup timur Dari air tik tenggung sampai lemua butak
Batas Timur Cawang baru Dari musi cangka kanan sampai ke air tik tenggung
Batas Utara TNKS jambi Dari air simpang sampai ke musi cangka kanan

Kependudukan

Jumlah KK 598
Jumlah Laki-laki 1052
Jumlah Perempuan 896
Mata Pencaharian utama Pertanian dan Perkebunan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Cawang An atau Cawang lama merupakan tempat yang terletak di Kabupaten Rejang Lebong. Cawang artinya cabang jalan yang ada di simpang jalan lubuk linggau ke Bengkulu. Sebelum di Cawang An, sekitar tahun 1800 masyarakat tinggal di Cawang Lekat. Pada saat tinggal disana pemimpinnya belum memakai istilah Ginde, tetapi Bepatei. Selama di Cawang Lekat ada 7 Orang Bepatei antara lain:Lang reges, Bia Peing, Uben, Jenaris, Jenas, Ubung, dan Sain. Keturunan dari Bepatei Lang Reges, Bia Peing, Uben, Jenaris dan Jenas ini kemudian hidup berpencar, ada yang ke Sadei Lama, Curup lama, Talang Limbau Lama, Air Putih Lama, sedangkan keturunan dari Bapatei Ubung pindah ke Cawang lama. Sedangkan anaknya dari Ubung (Bepatei Sain) kemudian pindah ke Cawang Baru. Adapun alasan perpindahan dari Cawang Lekat ke Cawang Lama karena akses jalan yang susah maka pindahlah ke tempat-tempat lain. Setelah di Cawang Lama kemudian memilih untuk tinggal di pegunungan yang bernama Air Tik Tenggung. Tidak diketahui berapa lama masyarakat pada waktu itu tinggal di Air Tik Tenggung. Kemudian memutuskan untuk pindah kembali menuju Talang Nawek (Pemukiman sekarang). Alasan dari perpindahan tersebut karena mencari tempat yang mendekati sumber air sehingga mudah untuk bercocok tanam. Nama Talang Nawek sendiri sejarahnya ada seorang yang bernama Nawek yang lebih dahulu pindah dari Air Tik Tenggung yang kemudian diikuti oleh masyarakat yang lain. Sehingga saat ini tempat yang didiami bernama pemukiman Talang Nawek.
Saat memutuskan untuk menetap, pola kehidupan masyarakat pada saat itu langsung bercocok tanam tanpa berpindah. Tanaman yang paling banyak ditanam pada waktu itu adalah tembakau, kopi, padi darat/ladang. Pada waktu itu belum ada sawah. Pembuatan sawah pertama kalinya di Kejalo yang itu baru dimulai pada tahun 1937 yang ini pertama kali juga ada irigasi. Ini merupakan bentukan dari belanda pada waktu itu. Pengerjaannya sudah pada pribadi -pribadi orang per orang bukan lagi secara berkelompok. Alat -alat yang digunakan berupa cangkul, parang bengkok, arit.
Pada zaman Kolonial terjadi interaksi antara Belanda dengan masyarakat adat setempat. Sekitar tahun 1914. seorang insinyur pertanian dari belanda yang bernama “ Onder Neming” mengatakan bahwa daerah Cawang An sangat cocok untuk ditanami kopi. sehingga sejak itu dibuatlah perkebunan kopi yang besar oleh orang belanda. Pada zaman Belanda juga pertama kalinya dibuat jalan sepanjang kurang lebih 13 Km dari Cawang baru sampai ke Air Simpang. Itu awal mulanya didatangkan orang-orang dari Jawa sebagai tenaga kerjanya. Orang pendatang itu ditransmigrasikan dan penempatannya dekat air simpang sehingga ada tempat yang saat ini disebut dengan “Mirasi”. Selain kopi juga banyak dikembangkan tanaman kulit manis sehingga tempat tersebut dinamakan “Kayu Manis”. Tahun 1918 kolonia Belanda juga masuk ke wilayah Kayu Manis, tepatnya di hulu sungai musi. Kedatangan Belanda tersebut untuk membuka perkebunan kopi dan rempah. Untuk mengelolah hasil kebun kopi pemerintah Belanda Juga membangun pabrik, yang merupakan pabrik terbesar di Bengkulu saat itu. Sedangkan untuk buruh yang akan dipekerjakan, pemerintah Beranda mendatangkan pekerja dari pulau jawa dengan system kontrak. Gencarnya perang grirya yang dirancarkan oreh pribumi serta perkebunan yang tidak lagi produktif, pada tahun 1926 pemerintah Belanda secara berlahan meninggalkan wilayah kayu manis. Selain dijajah oleh Beranda, tahun 1942-1945 masyarakat adat Cawang An juga mengalami penjajahan oleh Jepang. pada zaman penjajahan Jepang masyarakat mengalami kelaparan. Ini disebabkan karena pemerintah Jepang melarang warga untuk rnenanam padi, sehingga sebagian besar masyarakat terpaksa memakan ubi-ubian untuk bertahan hidup.
Masuknya ajaran agama yang ada sejak penjajahan Belanda. Tidak diketahui secara pasti siapa yang membawa ajaran agama islam masuk ke wilayah adat cawang an. Dengan adanya ajaran agama, ritual adat sudah mulai tidak dijalankan lagi. Hanya saja aturan-aturan adatnya masih diberlakukan sampaikan sekarang. Menurut pepatah orang tua aturan adat Rejang ” Tidak Lekang Kena Panas dan Tidak Hancur Kena Hujan” yang artinya Aturan Adat Rejang tersebut tidak bisa diganti.
Sebutan untuk pemimpin adat pada zaman dahulu disebut dengan Ginde. Tetapi sejak adanya Desa maka mulailah ada kepala desa. Siapa yang menjadi Ginde pada waktu itu otomatis menjadi Kepala Desa. Mulai dari tahun 1937 sampai tahun 1961 masa jabatan Kepala Desa selama 5 tahun. Kemudian setelah adanya UU nomor 5 tahun 1979 jabatan untuk Kepala Desa menjabat selama 8 tahun. Setelah ada desa peran dari kelembagaan adat sendiri masih tetap ada. Pada tahun 1984 terjadi pemekaran wilayah. Dimana Rejang Kayu manis yang awalnya merupakan Kampung yang ada di Cawang Lama mekar menjadi Desa Kayu Manis. Walaupun secara administrasi pemerintah sudah berbeda, namun secara kelembagaan adat masih tetap berada dalam kelembagaan adat Kutei Rejang Cawang An.
Proses memiliki lahan pada waktu itu dengan cara membuka lahan yang ada. Siapa yang akan membuka terlebih dahulu harus ijin kepada Ginde atau Kepala Adat. Jadi apabila sudah dibuka oleh orang yang bersangkutan maka itu secara otomatis menjadi hak orang tersebut. Pemberitahuan ke Ginde hanya sifatnya ijin secara lisan tanpa menggunakan surat-surat. Pengelompokan tanah yang ada berdasarkan marga yang turun temurun menjadi satu keluarga. Di Cawang An atau Cawang Lama terdapat dua suku yaitu Suku rejang dan Suku Jawa. Sedangkan hanya ada 1 marga yaitu marga selupu rejang. Adanya Suku Jawa di wilayah adat Cawang An karena semasa Zaman Belanda, Berdiri perkebunan PT Budi Putra Makmur yang mempekerjakan masyarakat dari Pulau Jawa Setelah Perusahaan tersebut bangkrut sebagian pekerjanya ada yang kembali pulang ke Jawa dan sebagian ada juga yang memilih untuk menetap. Bagi masyarakat Suku Jawa yang tetap tinggal di Cawang An, meminta lahan kepada Ginde untuk bisa bertempat tinggal dan mengolah lahan. Antara Suku Rejang dan Suku Jawa tidak ada pengaturan khusus terkait dengan lahan.
Secara fungsi Kawasan, Wilayah adat Cawang An masuk dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Namun pada waktu itu tidak ada sosialisasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat setempat. Yang intinya Ada klaim sepihak dari pihak Taman Nasional Kerinci Seblat, bahwa wilayah adat Cawang An masih masuk dalam Kawasan taman nasional. Pada tahun 1987 terjadi pencabutan tanaman kopi dan pembakaran pondok kerja masyraakat oleh apparat setempat. Masyarakat merasa terintimidasi dengan tindakan apparat tersebut, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena takut. Saat ini masyarakat masih tetap beraktivitas pada lahan yang diklaim oleh taman nasional tetapi secara sembunyi-sembunyi. Pada tahun 2016 mulai ada pergerakan bagaimana masyarakat bisa untuk mendapatkan lahan yang menjadi hak masyarakat adat setempat.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Hutan (imo)
Merupakan kawasan yang dilindungi yang tutupan lahannya berupa kayu-kayu besar, tempat keramat dan sumber mata air.
2. Sawah (sawe”ak)
Merupakan Areal yang dijadikan sawah aktif yang digunakan untuk bercocok tanam padi. Sebelum dikelola menjadi saweak lokasi ini bernama jamai. Yaitu bekas kebun yang ditanami padi yang sudah ditinggalkan selama setahun atau lebih.
3. Kebun (dumei)
Merupakan areal perkebunan aktif masyarakat dengan tutupan lahan berupa tanaman kopi, palawija dll. Dalam dumai atau kebun terdapat sakea yaitu: lokasi bekas tanaman palawija yang sudah ditinggal dan ditumbuhi rumput, batang kayu dan semak belukar.
4. Pemukiman (talang)
Merupakan areal pemukiman bagi yang masyarakat yang didalamnya berisi tegakan bangunan tempat tinggal, pekarangan, dan sarana fasilitas umum seperti: sekolah, balai kesehatan, masjid, dll.
 
Sistem kepemilikan ada yang menjadi milik Bersama dan juga milik pribadi. Adapun yang menjadi milik Bersama berupa Hutan (Imo). Dan yang menjadi
Milik Pribadi berupa: Kebun (Dumei), Sawah (Sawea”ak) dan Pemukiman (Talang). Mekanisme atau tata cara dalam memperoleh tanah di wilayah adat setempat adalah: tanah yang belum pernah dibuka masih dalam bentuk hutan atau imo merupakan milik Bersama. Tetapi setelah di racas (dibersihkan) itu hak kepemilikan masih menjadi milik adat. Setelah diurus hak izin kepada Lembaga adat maka baru bisa menjadi hak milik pribadi. Dalam tata cara pemberian penguasaan hak tanah, lembaga adat melakukan sejenis ritual “Semsak Sawo” untuk menerangkan kepada Kutei Natet (warga Adat) bahwa tanah ini sudah diserahkan kepada orang tertentu. Dasar hukum kepemilikan sebuah tanah pada zaman dahulu tidak memakai perjanjian tertulis tapi dengan “semsak Sawo” sudah dianggap sebagai pengikat sebuah perjanjian ini. Begitu juga kalau orang yang tersebut ingin mengembalikan tanah tersebut kepada Lembaga adat, maka akan dilakuan ritual “semsak sawo” kembali. Dalam kepemilikan individu pemindahan lahan terjadi dalam pewarisan dan juga jual beli dengan masyarakat sekitar. Peralihan tersebut dilakukan secara lisan antar kedua belah pihak namun diketahui oleh Lembaga adat dan perangkat desa setempat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Kutei Rejang Cawang An
Struktur Struktur kepengurusan lembaga adat di Kutei Rejang Cawang An berubah-ubah. Awalnya terdiri dari: 1. Ketua adat/Tuei kutei 2. anak kutei 3. Depati 4. Penggawa 5. Imam atau sarak 6. Khatib atau Bilal 7. Garim Namun seiring dengan penyesuaian Perda yang ada tentang BMA yang ada. Saat ini (2018) strukturnya meliputi: 1. Ketuai BMA 2. Wakil Ketuai BMA 3. Pengurus BMA Ketuai BMA dipilih dengan melalui penunjukan 3 calon oleh Kepala Desa, Ketiga calon tersebut berembuk untuk menentukan ketua BMA. Periode jabatan dalam BMA mengikuti suksesi pemerintahan desa.
Struktur Lama
1. Ketua adat/Tuei kutei:
a. Mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan adat baik itu ritual adat dan juga perkara adat.
b. Mengatur tentang pembagian tanah.

2. Anak Kutei: Membantu Ketua dalam urusan adat
3. Depati: Membantu Anak Kutei.
4. Penggawa: Membantu Depati
5. Imam atau sarak: Membantu Penggawa
6. Khatib atau Bilal: Membantu Imam atau Sarak
7. Garim: Membantu Khatib atau Bilal

Struktur Baru:
Ketua BMA: Pengambilan keputusan bersama dengan kepala desa/patai Sadie terkait segala urusan, Memimpin peradilan adat, Bertanggungjawab dalam pelaksaan ritual/tradisi adat.

Wakil Ketuai BMA: Mengurus administrasi dan Mengurus keuangan
Pengurus BMA: Membantu Ketuai BMA dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
 
Cara mengambil keputusan dengan cara Basen (musyawarah). Basen atau musyawarah di beberapa tingkatan yaitu Antar-Keluarga, Tingkat Dusun, dan Tingkat Desa/Sadei.
Basen memiliki beberap tujuan yaitu:
1. Diskusi pelaksanaan tradisi/ ritual (Perkawinan, dll),
2. Penyelesaian sengketa/perselisihan,
3. Peradilan Adat,
4. Pengambilan keputusan terkait segala urusan, dan lain-lain.
Pihak-pihak yang hadir pada Basen-basen di tiap tingkatan itu mengikuti pihak-pihak yang sesuai dengan tingkatan dan dianggap perlu untuk hadir di dalam Basen tersebut.
 

Hukum Adat

1. Melaksanakan Kedurai. Kedurai adalah aturan adat sebelum pembukaan
hutan untuk lahan baru.
2. Nsepoa adalah prose pembakaran lahan supaya tidak
melebar kelahan orang lain.
3. Beto'ok adalah prose penanaman didarat dengan
pola organic.
4. Dilarang menebang Kiyeu Setimbang Alam (penyebutan untuk kayu
yang dilindungi)
5. Hutan Adat yang dilindungi biasanya hutan adat ini terdapat
dipinggiran Ulu Sungai tidak bisa dibuka untuk lahan masyarakat.

Aturan- aturan tersebut jika dilanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan adat yang berlaku.
 
Dilarang berselingkuh dan Berzina, bagi yang melanggar maka dikenakan sanksi “Punjung Mateak” yaitu membayar 1 ekor kambing atau 1 ekor ayam biring (berwara kuning), beras, dan rempah-rempah. Untuk kasus perselingkuhan ditambah dipukul pakai lidi daun kelapa hijau. Kedua pelaku harus meminta maaf ke tokoh-tokoh masyarakat untuk kemudian merekalah yang mencambuk pelaku itu.

Cepalo Tangen: Dilarang merugikan orang dengan tangan (pelecehan atau perkelahian), jika dilanggar maka dikenakan sanksi yaitu Punjung Mateak ditambah denda uang senilai yang disepakati oleh kedua pihak melalui pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Kaki: Dilarang masuk ke rumah/kamar orang tanpa izin, jika dilanggar maka dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mato: Dilarang mengintip orang (Istri, anak gadis, dll.), jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mulut: Dilarang memfitnah, mengancam, dan menghina orang lain, jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.
Dilarang membunuh, jika melanggar maka dikenakan sanksi berupa denda penuh berupa uang 25 juta dan Punjung Mateak.
Dilarang membawa lari anak orang (Kawin Lari/Bemaling), bagi yang melanggar dikenakan sanksi berupa 1 ekor kambing dan Punjung Mateak.
Kedurei (Kenduri)
 
Di Komunitas Rejang Cawang Lama pernah terjadi pelanggaran Hukum Adat Cempalo Tangan yaitu mencuri Kopi yang terjadi sekitar bulan September 2019. Orang yang mencuri tersebut kemudian dibawah ke pengadilan
adat untuk dimusyawarakan. Hasil dari musyawarah itu memutuskan ganti rugi berupa : mengembalikan barang yang telah diambil dengan ketentuan membayar 10x lipat barang atau nilai barang yang telah diambil, meminta
maaf dan berianjididepan perangkat adat untuk tidak mengulangi perbuatannya.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat : padi, jagung, ubi, singkong, keladi, jemawut, gadung, uwi, kentang Protein : kacang merah, buncis, kacang tanah,kedelai,kol,ijoi,kacang koro, kacang benguk,kacang taele Hewan : ayam, sapi, kambing,kerbau,kelinci,kijang,rusa,babi,tapir,burung,ikan mas,mujair,ikan tanah,seluang,ikan pongkot,baung,ikan gabus,keli (lele hutan),udang,kepiting,katak Buah : jambu biji,jambu pokat,mangga,pisang,durian,rambutan,salak,jeruk,nanas,kolang kaling,kelapa,alpokat,papaya,nangka,sirsak,sawo,srikaya,langsat,strowbery Sayur : kacang panjang, kecombrang,kol,lumay,bayam,kangkung,umbut,rebung,terong,sawi,wortel,jengkol,petai,singkong,selada,pucuk
Sumber Kesehatan & Kecantikan Pinang : sakit perut. Pudding abang : obat darah rendah. Piung : obat panas dalam. Pulai : obat malaria kencing manis. Sirih : obat luka. Brotowali : obat malaria. Kumis kucing : diabetes,ginjal,kencing batu. Akr alang-alang : ginjal. Pecah beling: ginjal. Sematung : obat sesak napas. Kayu kenidai : obat sakit perut kina :obat luka. Stewca : obat luka. Daun marcapei :obat masuk angina/pilek, jelatang :gizi buruk, temulawak :kekebalan tubuh, pacar air :untuk obat luka, kapiul :obat kencing batu Pinang : bedak, kencur :bedak, lidah buaya: rambut, daun jambu biji: pembersih muka, daun sekeleat: pembersih gigi, sejonyit:obat luka dalam
Papan dan Bahan Infrastruktur Atap : sirap,bambu,ijuk,ilalang,daun kelapa,daun enau,daun puar Tiang : kayu pakis,bambu petung,kayu meranti,kayu medang,kayu megriri,kayu johar,kayu nangka Dinding/papan :bamboo,kulit kayu,kayu medang,kayu melung,kayu pelanpung,kayu pulai,kayu mahoni
Sumber Sandang -ubar :pewarna alami -kayu keduli :pewarna alam -rukam :pewarna alam -kunyit -daun sirih
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bawang merah,serei,lengkuas,jahe,kunyit,kemiri,daun salam,pala,cengkeh,kayu manis merica,cabai,tomat,ketumbar,seledri,kemangi,cabe jawa,asam kandis,daun jeruk purut,jeruk nipis,kencur
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi,kakau,merica,cengkeh,alpukat,pisang,jahe,kayu manis,serai,cabe,durian

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Rejang Lebong Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kutei Cawang An sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong 180.64.I Tahun 2020 SK Bupati Rejang Lebong Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kutei Cawang An sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong No 5 Tahun 2018 Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
3 Keputusan Bupati Rejang Lebong Nomor 180.250.IV Tahun 2019 Tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2019 Nomor 180.250.IV Tahun 2019 Keputusan Bupati Rejang Lebong Nomor 180.250.IV Tahun 2019 Tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2019 SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen