Wilayah Adat

Sadei Cawang An

 Terverifikasi

Nama Komunitas Cawang An
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota REJANG LEBONG
Kecamatan Selupu Rejang
Desa Desa Cawang Lama dan Desa Kayu Manis
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.198 Ha
Satuan Sadei Cawang An
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat DEsa Seguring kec. Curup timur Dari Lemua butak sampai ke air simpang
Batas Selatan Desa Duku ulu kec. Curup timur Dari air tik tenggung sampai lemua butak
Batas Timur Cawang baru Dari musi cangka kanan sampai ke air tik tenggung
Batas Utara TNKS jambi Dari air simpang sampai ke musi cangka kanan

Kependudukan

Jumlah KK 598
Jumlah Laki-laki 1052
Jumlah Perempuan 896
Mata Pencaharian utama Pertanian dan Perkebunan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Desa Cawang Lama merupakan desa tertua yang ada di Kecamatan Selupu Rejang. Cawang berasal dari kata Bercabang dan ada pula yang menyebutkan Bercabang tapi Serasan. Pada sekitar abad ke 13 ada seorang raja yang bernama Djago Setahun. Raja ini Tidur selama setahun dan bangun selama setahun. Selama masa kepimpinan Raja Djago Setahun masyarakat Cawang Lama hidup dengan tentram dan damai dikarenakan Raja Djago Setahun membuat istana didekat Sungai Musiyang membuat hewan-hewan buas tidak bisa memasuki wilayah Cawang Lama. Selama penjajahan Belanda masyarakat Desa Cawang Lama mengalami krisis ekonomi yang Iuar biasa hasil panen masyarakat dirampas oleh belanda dan tidak sedikit masyarakat yang harus bertaruh nyawa demi mempertahankan hasil panen mereka. Pada tahun 1918 pemerintah Belanda meninggalkan Wilayah Cawang Lama dikarenakan mendapatkan perlawanan dari masyarakat dan menuju wilayah Kayu Manis yang kemudian membuat pabrik Kopi dan pusat perdagangan. Setelah penjajahan Pemerintahan Belanda masyarakat desa cawang lama secara beransur ansur menata kembali kehidupan mereka.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Hutan (imo)
Merupakan kawasan yang dilindungi yang tutupan lahannya berupa kayu-kayu besar, tempat keramat dan sumber mata air.
2. Sawah (sawe”ak)
Merupakan Areal yang dijadikan sawah aktif yang digunakan untuk bercocok tanam padi. Sebelum dikelola menjadi saweak lokasi ini bernama jamai. Yaitu bekas kebun yang ditanami padi yang sudah ditinggalkan selama setahun atau lebih.
3. Kebun (dumei)
Merupakan areal perkebunan aktif masyarakat dengan tutupan lahan berupa tanaman kopi, palawija dll. Dalam dumai atau kebun terdapat sakea yaitu: lokasi bekas tanaman palawija yang sudah ditinggal dan ditumbuhi rumput, batang kayu dan semak belukar.
4. Pemukiman (talang)
Merupakan areal pemukiman bagi yang masyarakat yang didalamnya berisi tegakan bangunan tempat tinggal, pekarangan, dan sarana fasilitas umum seperti: sekolah, balai kesehatan, masjid, dll.
 
Sistem kepemilikan ada yang menjadi milik Bersama dan juga milik pribadi. Adapun yang menjadi milik Bersama berupa Hutan (Imo). Dan yang menjadi
Milik Pribadi berupa: Kebun (Dumei), Sawah (Sawea”ak) dan Pemukiman (Talang). Mekanisme atau tata cara dalam memperoleh tanah di wilayah adat setempat adalah: tanah yang belum pernah dibuka masih dalam bentuk hutan atau imo merupakan milik Bersama. Tetapi setelah di racas (dibersihkan) itu hak kepemilikan masih menjadi milik adat. Setelah diurus hak izin kepada Lembaga adat maka baru bisa menjadi hak milik pribadi. Dalam tata cara pemberian penguasaan hak tanah, lembaga adat melakukan sejenis ritual “Semsak Sawo” untuk menerangkan kepada Kutei Natet (warga Adat) bahwa tanah ini sudah diserahkan kepada orang tertentu. Dasar hukum kepemilikan sebuah tanah pada zaman dahulu tidak memakai perjanjian tertulis tapi dengan “semsak Sawo” sudah dianggap sebagai pengikat sebuah perjanjian ini. Begitu juga kalau orang yang tersebut ingin mengembalikan tanah tersebut kepada Lembaga adat, maka akan dilakuan ritual “semsak sawo” kembali. Dalam kepemilikan individu pemindahan lahan terjadi dalam pewarisan dan juga jual beli dengan masyarakat sekitar. Peralihan tersebut dilakukan secara lisan antar kedua belah pihak namun diketahui oleh Lembaga adat dan perangkat desa setempat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Kutei Rejang Cawang An
Struktur Struktur kepengurusan lembaga adat di Kutei Rejang Cawang An berubah-ubah. Awalnya terdiri dari: 1. Ketua adat/Tuei kutei 2. anak kutei 3. Depati 4. Penggawa 5. Imam atau sarak 6. Khatib atau Bilal 7. Garim Namun seiring dengan penyesuaian Perda yang ada tentang BMA yang ada. Saat ini (2018) strukturnya meliputi: 1. Ketuai BMA 2. Wakil Ketuai BMA 3. Pengurus BMA Ketuai BMA dipilih dengan melalui penunjukan 3 calon oleh Kepala Desa, Ketiga calon tersebut berembuk untuk menentukan ketua BMA. Periode jabatan dalam BMA mengikuti suksesi pemerintahan desa.
Struktur Lama
1. Ketua adat/Tuei kutei:
a. Mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan adat baik itu ritual adat dan juga perkara adat.
b. Mengatur tentang pembagian tanah.

2. Anak Kutei: Membantu Ketua dalam urusan adat
3. Depati: Membantu Anak Kutei.
4. Penggawa: Membantu Depati
5. Imam atau sarak: Membantu Penggawa
6. Khatib atau Bilal: Membantu Imam atau Sarak
7. Garim: Membantu Khatib atau Bilal

Struktur Baru:
Ketua BMA: Pengambilan keputusan bersama dengan kepala desa/patai Sadie terkait segala urusan, Memimpin peradilan adat, Bertanggungjawab dalam pelaksaan ritual/tradisi adat.

Wakil Ketuai BMA: Mengurus administrasi dan Mengurus keuangan
Pengurus BMA: Membantu Ketuai BMA dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
 
Cara mengambil keputusan dengan cara Basen (musyawarah). Basen atau musyawarah di beberapa tingkatan yaitu Antar-Keluarga, Tingkat Dusun, dan Tingkat Desa/Sadei.
Basen memiliki beberap tujuan yaitu:
1. Diskusi pelaksanaan tradisi/ ritual (Perkawinan, dll),
2. Penyelesaian sengketa/perselisihan,
3. Peradilan Adat,
4. Pengambilan keputusan terkait segala urusan, dan lain-lain.
Pihak-pihak yang hadir pada Basen-basen di tiap tingkatan itu mengikuti pihak-pihak yang sesuai dengan tingkatan dan dianggap perlu untuk hadir di dalam Basen tersebut.
 

Hukum Adat

1. Melaksanakan Kedurai. Kedurai adalah aturan adat sebelum pembukaan
hutan untuk lahan baru.
2. Nsepoa adalah prose pembakaran lahan supaya tidak
melebar kelahan orang lain.
3. Beto'ok adalah prose penanaman didarat dengan
pola organic.
4. Dilarang menebang Kiyeu Setimbang Alam (penyebutan untuk kayu
yang dilindungi)
5. Hutan Adat yang dilindungi biasanya hutan adat ini terdapat
dipinggiran Ulu Sungai tidak bisa dibuka untuk lahan masyarakat.

Aturan- aturan tersebut jika dilanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan adat yang berlaku.
 
Dilarang berselingkuh dan Berzina, bagi yang melanggar maka dikenakan sanksi “Punjung Mateak” yaitu membayar 1 ekor kambing atau 1 ekor ayam biring (berwara kuning), beras, dan rempah-rempah. Untuk kasus perselingkuhan ditambah dipukul pakai lidi daun kelapa hijau. Kedua pelaku harus meminta maaf ke tokoh-tokoh masyarakat untuk kemudian merekalah yang mencambuk pelaku itu.

Cepalo Tangen: Dilarang merugikan orang dengan tangan (pelecehan atau perkelahian), jika dilanggar maka dikenakan sanksi yaitu Punjung Mateak ditambah denda uang senilai yang disepakati oleh kedua pihak melalui pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Kaki: Dilarang masuk ke rumah/kamar orang tanpa izin, jika dilanggar maka dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mato: Dilarang mengintip orang (Istri, anak gadis, dll.), jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mulut: Dilarang memfitnah, mengancam, dan menghina orang lain, jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.
Dilarang membunuh, jika melanggar maka dikenakan sanksi berupa denda penuh berupa uang 25 juta dan Punjung Mateak.
Dilarang membawa lari anak orang (Kawin Lari/Bemaling), bagi yang melanggar dikenakan sanksi berupa 1 ekor kambing dan Punjung Mateak.
Kedurei (Kenduri)
 
Di Komunitas Rejang Cawang Lama pernah terjadi pelanggaran Hukum Adat Cempalo Tangan yaitu mencuri Kopi yang terjadi sekitar bulan September 2019. Orang yang mencuri tersebut kemudian dibawah ke pengadilan
adat untuk dimusyawarakan. Hasil dari musyawarah itu memutuskan ganti rugi berupa : mengembalikan barang yang telah diambil dengan ketentuan membayar 10x lipat barang atau nilai barang yang telah diambil, meminta
maaf dan berianjididepan perangkat adat untuk tidak mengulangi perbuatannya.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat : padi, jagung, ubi, singkong, keladi, jemawut, gadung, uwi, kentang Protein : kacang merah, buncis, kacang tanah,kedelai,kol,ijoi,kacang koro, kacang benguk,kacang taele Hewan : ayam, sapi, kambing,kerbau,kelinci,kijang,rusa,babi,tapir,burung,ikan mas,mujair,ikan tanah,seluang,ikan pongkot,baung,ikan gabus,keli (lele hutan),udang,kepiting,katak Buah : jambu biji,jambu pokat,mangga,pisang,durian,rambutan,salak,jeruk,nanas,kolang kaling,kelapa,alpokat,papaya,nangka,sirsak,sawo,srikaya,langsat,strowbery Sayur : kacang panjang, kecombrang,kol,lumay,bayam,kangkung,umbut,rebung,terong,sawi,wortel,jengkol,petai,singkong,selada,pucuk
Sumber Kesehatan & Kecantikan Pinang : sakit perut. Pudding abang : obat darah rendah. Piung : obat panas dalam. Pulai : obat malaria kencing manis. Sirih : obat luka. Brotowali : obat malaria. Kumis kucing : diabetes,ginjal,kencing batu. Akr alang-alang : ginjal. Pecah beling: ginjal. Sematung : obat sesak napas. Kayu kenidai : obat sakit perut kina :obat luka. Stewca : obat luka. Daun marcapei :obat masuk angina/pilek, jelatang :gizi buruk, temulawak :kekebalan tubuh, pacar air :untuk obat luka, kapiul :obat kencing batu Pinang : bedak, kencur :bedak, lidah buaya: rambut, daun jambu biji: pembersih muka, daun sekeleat: pembersih gigi, sejonyit:obat luka dalam
Papan dan Bahan Infrastruktur Atap : sirap,bambu,ijuk,ilalang,daun kelapa,daun enau,daun puar Tiang : kayu pakis,bambu petung,kayu meranti,kayu medang,kayu megriri,kayu johar,kayu nangka Dinding/papan :bamboo,kulit kayu,kayu medang,kayu melung,kayu pelanpung,kayu pulai,kayu mahoni
Sumber Sandang -ubar :pewarna alami -kayu keduli :pewarna alam -rukam :pewarna alam -kunyit -daun sirih
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bawang merah,serei,lengkuas,jahe,kunyit,kemiri,daun salam,pala,cengkeh,kayu manis merica,cabai,tomat,ketumbar,seledri,kemangi,cabe jawa,asam kandis,daun jeruk purut,jeruk nipis,kencur
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi,kakau,merica,cengkeh,alpukat,pisang,jahe,kayu manis,serai,cabe,durian

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Rejang Lebong Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kutei Cawang An sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong 180.64.I Tahun 2020 SK Bupati Rejang Lebong Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kutei Cawang An sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong No 5 Tahun 2018 Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Rejang Lebong Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen