Wilayah Adat

Komplek Nanga Tubuk

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Kalis Nanga Tubuk
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Kalis
Desa Nanga Tubuk
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2 Ha
Satuan Komplek Nanga Tubuk
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan wilayah adat Tekuda, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu Tanda batasnya: Sungai Konyin, Nanga Sunga Sambut, Sopan Penisi.
Batas Selatan Berbatasan dengan wilayah adat Tekalong dan Kepala Gurung serta Desa Suka Maju di Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu Tanda batasnya: Tanah Pak Dusun dan Pak Saban, Kandang Sapi Lidi dan Brahim, Kandang Sapi Tomas Tambuan dan Ambok, Tanah Delima dan Ambok, Tanah Marsius dan Salung, Tanah Embeng dan Linge, Simpang Jalan Tani Sakasio, Tanah Yulius Jaken dan Tumpuk, Tanah Salung dan Jaka, Tanah Yunis Kalis dan Alexi, Sungai Batang Tubuk, Sungai Ayang (Tanah Berat dan Benang)
Batas Timur Berbatasan dengan wilayah adat Nanga Danau, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu. Tanda batasanya: Bendungan air Bersih, Ulu Padungen, Patok Batas (bayung/ijuk), Hutan Masyarakat, Cabang Sungai Bokungan, Batang Sungai Bokungan, Tepi Sungai Bokungan, Jalan Pak Linge, Jalan Pak Linge, Batangan Bukungan, Sungai Ulak sawa, Tintin Patae, Tajar Pak Amat, Tajar Pak Igang.
Batas Utara Berbatasan dengan wilayah adat Samarantau dan Nanga Kalis, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu. Tanda batas: Sungai Laban, sungai Tukan, Tengkawang Busrah, Perhuluan Sungai Samban - Pohon Kayu Krosit, Perbatasan Tanah warga, Nanga Sungai Torak - Pompong, Kabang Langke, Durian Tinggang.

Kependudukan

Jumlah KK 326
Jumlah Laki-laki 668
Jumlah Perempuan 598
Mata Pencaharian utama Be-Mauma (Berladang) Bersawah Menyadap Karet alam/asli

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Adat Suku Kalis merupakan orang-orang dari rumpun Suku Dayak yang pada mulanya dikenal sebagai “Suku Ruk” itu bermukim di hulu Sungai Kapuas (sekitar Nanga Balang, Putussibau Selatan saat ini) dan mencari makan dengan cara menangkap ikan di sungai dengan bubu, berladang padi dengan sistem gilir balik, berburu dan menjerat hewan di hutan. Dalam perkembangannya, orang-orang Suku Ruk itu mendirikan Sao (Rumah Betang) sebagaimana Suku Dayak pada umumnya. Mereka juga mengenal stratifikasi sosial di antara mereka yang berjumlah tiga yakni: Semagat Tuu yang berisikan Orang Kalis Asli dan/atau dari kalangan bangsawan, Semagat Pabiring adalah mereka yang berdarah Kalis campuran tetapi sudah mengikuti mekanisme tertentu, dan Semagat Raa adalah orang Kalis campuran.

Pada saat itu, terjadi dinamika antar suku-suku di hulu Sungai Kapuas. Mereka kemudian berpindah dengan mengikuti aliran ke arah hilir sungai hingga ke lokasi yang saat ini disebut dengan Lunsa yang kemudian berlanjut sampai ke Danau Ketutug yang berlokasi di antara Sungai Kapuas dan Sungai Manday. Mereka mendirikan Sao di tengah-tengah Danau Ketutug yang juga dekat dengan lokasi Danau Buak, di Kecamatan Bika saat ini.

Pasca Sao di Danau Ketutug terbakar akibat serangan musuh, para leluhur Suku Ruk saat itu berpindah ke hulu Batang Sungai Manday hingga bermukim di Segiam. Pemukiman Suku Ruk di Segiam berkembang di bawah enam orang pimpinan suku yakni Apu’ Arang Dano, Apu’ Iman Paninting, Apu’ Iman Ponyang, Apu’ Dakun Bulu Kara’ dan Apu’ Dakun Kasa’. Pada saat di Segiam, terjadi serangan oleh Bala Luju yang datang berduyun-duyun menggunakan perahu. Orang-orang Segiam saat itu berstrategi menghadapi mereka satu persatu secara bergiliran. Oleh karena kalah jumlah, orang-orang Segiam kalah dan melarikan diri dari kampungnya. Dua pimpinan kampung saat itu melarikan diri ke dua arah yaitu Apu’ Dakun Bulu Kara yang lari ke Hulu Taman Sungai Ikan Tapah (anak Sungai Segiam) dan berdiam di Bukit Begantung. Mereka kini diyakini sebagai “Orang Tapuk” yaitu orang yang hilang tetapi diyakini masih hidup di alamnya. Adapula Apo’ Suada yang melarikan diri ke Kerangas Lokon Pandi’.

Sementara itu, pasukan Bala Luju yang menang naik ke dalam Sao orang-orang Ruk untuk menjarah harta benda. Salah satunya adalah kangkuang yaitu sejenis alat musik pukul yang terbuat dari besi. Saat menuruni tangga, kangkuang yang dibawa orang Bala Luju itu tersangkut di ujung tangga dan menghasilkan bunyi nyaring. Bunyi kangkuang itu terdengar hingga ke telinga Ne’ Lagi Siding yaitu pimpinan Suku Urun Da’an dari Nanga Dan di hulu Sungai Manday. Ia memiliki perjanjian dengan orang-orang Ruk di Segiam untuk saling membantu apabila terjadi serangan dengan penanda pemanggil bantuan yaitu suara kangkuang. Dengan menggunakan sampan dari batang kayu durian dan kayu penyao’ pemberian orang tapuk (tidak tampak), Ne’ Lagi Siding menuju Segiam dengan kecepatan penuh. Sesampainya di Segiam, orang-orang Bala Luju sudah pergi menuju Sungai Kapuas sehingga hanya sedikit saja yang dapat terkejar. Mendapati sudah tidak ada lagi orang-orang Ruk di Segiam, ia kembali ke kampungnya.

Dari Segiam, mereka yang melarikan diri itu kemudian berpindah ke arah hulu Sungai Kalis hingga sampai antara Sungai Torak anak Sungai Kalis di sebelah kiri dan hulu Nanga Sungai Tubuk anak Sungai Kalis di sebelah kanan. Sejak saat itu, leluhur Suku Ruk ini dikenal luas sebagai orang-orang Kalis atau Suku Kalis. Lokasi tempat mereka mendirikan pemukiman itu dikenal dengan sebutan Banua Poten (Pot). Di Banua Poten, orang-orang Kalis mendirikan 6 (enam) Rumah Betang. Masing-masing 3 (tiga) buah sebelah kanan Sungai Kalis dan 3 (tiga) buah sebelah kiri Sungai Kalis. Posisi Rumah Betangnya melintang di atas Sungai Torak. Salah satu rumah panjang ditempat ini posisinya tinggi dari yang lainnya. Ketiga rumah panjang di Nanga Torak ini juga di kenal dengan sebutan Torak Aung Saoen atau Sao Palabiang karena tiang bangunannya lebih besar dan bangunannya lebih tinggi. Rumah Betang itu dipimpin oleh Apu’ Tai’ Nua. Nama Poten sendiri berasal dari kata Pot yang berarti rajin mengingat seluruh warganya sangat rajin memperbaiki rumah mereka jika terdapat kerusakan. Adapun nama-nama pemimpin Dayak Kalis di Banua Poten (Pot) berdasar pada Rumah Betang dan Stratifikasi Sosial:
• Saung Ponanen Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sungai Torak dari kelas Semagat.
• Saung Rando Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sungai Torak dari kelas Pabiring.
• Saung Muring Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sungai Torak dari kelas Ulun.
• Apu’ Dakun Kasa’ Betang Torak Aung Saoen di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis dari kelas Semagat.
• Apu’ Dakun Tandi’ Betang Torak Aung Saoen di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis dari kelas Semagat.
• Apu’ Tai Nua Betang Torak Aung Saoen atau Sao Palabiang di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis dari kelas Semagat.

Pada saat itu, hubungan antar orang-orang Kalis di Nanga Sungai Torak dengan mereka yang berada di seberangnya sangat baik. Tidak diketahui secara pasti berapa lama mereka bermukim di Nanga Sungai Torak, tetapi bekas pemukiman yang ditandai dengan tiang rumah panjang masih dapat dijumpai hingga kini.

Pada saat di Banua Poten, terjadi perkawinan antara gadis Suku Ruk dan jejaka Suku Punan. Dituturkan bahwa pemuda Dayak Punan memperoleh mimpi akan mengawini seorang perempuan dengan tanda rambut belang cokelat, merah, dan hitam hingga berulang tiga kali. Suatu hari saat pergi mengayau bersama rekan-rekannya, ia melihat gadis dengan ciri yang sama persis di tepi sungai. “Ternyata sungguh benarlah mimpi saya” ujarnya sambal kembali ke rombongannya untuk meminta mereka kembali ke kampung. Lalu ia berkata kepada rombongannya “Jika kalian datang untuk niat membunuh, maka kalian akan berhadapan dengan saya. Saya akan tinggal, menetap, dan menikah dengan gadis dari Banua Potan ini.” Pemuda Punan kemudian menanggalkan seluruh peralatan perangnya dan mendatangi sekelompok orang yang sedang berladang lalu menyatakan tujuannya. Ia kemudian dibawa ke kampung dan menyatakan bahwa ia siap menyerahkan dirinya untuk diterima, Bersatu, dan hidup bersama orang-orang Ruk di Banua Poten. Atas dasar niat baik Pemuda Punan dan persetujuan tetua serta orang tua gadis, perkawinan kemudian terjadi di antara keduanya.
Ada pula sekelompok orang-orang Kalis yang membuat pemukiman di Tandung Balawanen, di arah hulu aliran Sungai Kalis yang dipimpin oleh Apu’ Uling. Ia memiliki istri yang bernama Kabang dan dua anak bernama Nyaring dan Dailang. Saat pemukimannya diserang, istri Apu’ Uling menjadi korban. Ia kemudian bersama anak-anaknya dan beberapa warga lain lari menuju Sungai Suruk berdiam di tempat keluarga mereka sementara waktu. Apu’ Uling kemudian memilih berdiam di dalam gua di Bukit Bunung hingga ia meninggal dunia karena jatuh dari jurang. Gua itu kemudian dikenal sebagai Gua Apu’ Uling.

Dari Banua Poten, mereka pindah ke arah timur selatan hingga sampai ke lokasi yang disebut Bukit Sunan dan Bukit Lokan Sagu. Orang-orang Kalis kemudian mendirikan pemukiman di Bukit Sunan di bawah pimpinan Apu’ Sawang dibantu oleh Apu’ Sakat yang berasal dari Bukit Lokun Sagu. Demikian pula Nyaring, anak sulung Apu’ Uling juga mengikuti rombongan tersebut. Adapun pemimpin di Bukit Lokan Sagu bernama Apu’ Undan yang juga seorang balian (shaman) dan juga Apu’ Sakat. Dikisahkan, Apu’ Undan yang seorang manang atau orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan penyembuhan yang dipercaya dari leluhur. Ia ditantang oleh keluarganya untuk menghadirkan buah hutan sangalang dan langaja (diyakini sebagai buah hantu). Keduanya pantang untuk hadir saat seorang manang mengobati orang dan kemudian dilanggarlah pantangan itu. Mewabahlah penyakit yang menyebabkan warga meninggal. Oleh karena itu, Apu’ Undan dituduh sebagai penyebab kematian bagi warganya.

Oleh karena situasi wabah di Bukit Sunan dan Bukit Lokun Sagu. Orang-orang Ruk kemudian berpindah lagi kea rah hilir Sungai Kalis. Pada pemukiman baru ini, salah satu rumah panjang yang terkenal adalah rumah panjang Sao Joloen yang dipimpin oleh Apu’ Nyaring yang letak posisinya saat ini berada di kampung Rantau Kalis. Sejak saat itu, orang-orang Ruk dikenal juga sebagai orang-orang Kalis mengingat merekalah yang mendirikan pemukiman di sepanjang aliran sungai tersebut.

Pada masa bermukim di tepian Sungai Kalis, masih terjadi dinamika mengayau terutama oleh Suku Iban dari Nanga Gat di Sungai Batang Rajang, yang saat ini masuk ke wilayah Serawak, Malaysia. Pimpinan Sao Joloen yang bernama asli Tumbung dikisahkan bermimpi bahwa ia akan terkenal dan dan terdengar nyaring di man-mana. Atas ihwal mimpi itu, ia kemudian diberi gelar Apu’ Nyaring yang kemudian membawa 60 orang bersamanya berangkat membawa pesan perdamaian ke Suku Dayak Iban di Sungai Batang Rajang. Rombongan Suku Dayak Kalis yang membawa tempayan guci/keramik dan tengkorak kepala itu kemudian bertemu dengan pimpinan Suku Dayak Iban bernama Ko’ di sebuah karangan atau pulai pasir kecil di tengah sungai berbatuan. Pertemuan antara kedua pimpinan Dayak itu juga dihadiri oleh suku Dayak lainnya yang menyepakati sebuah kata perdamaian. Apu’ Nyaring menunjukkan ke tempayan guci dan tengkorak itu kemudian mengucap sumpah “Apabila orang Iban menyerang dan membunuh orang kalis, mereka akan habis menjadi tengkorak dan darahnya tersimpan di tempayan guci.” Temenggung Ko’ menyetujuinya kemudian mengutus 60 orang Iban di bawah pimpinan Lingkung Samuri yang juga seorang peramal mimpi untuk melakukan hal yang sama di pemukiman orang Kalis. Setibanya kedua rombongan di Sao Joloen, kedua tokoh itu naik ke rumah Apu’ Nyaring dan bersepakat lagi untuk kemudian mendirikan sebuah tiang besar dan tinggi dari pohon kayu belian sebagai tanda perdamaian kedua suku. Tiang perdamaian itu disebut Patamuan Buno’ yang terdapat lubang di dalamnya dan dimasukkan tengkorak yang dibawa oleh orang Iban kemudian dimasukkan tiang itu ke tanah dengan ujung runcingnya menghujam tanah. Pimpinan orang Iban kemudian bersumpah “Apabila orang kalis menyerang dan membunuh orang Iban, maka ia akan habis seperti tengkorak tersebut. Sehebat dan sekuat apapun orang Kalis, kekuatan mereka akan berbalik dan tidak berguna.” Tiang Patamuan Buno’ itu masih dapat ditemui di Banua Rantau Kalis.

Pemukiman orang-orang Kalis di Rantau Kalis atau yang disebut dengan Banua berkembang hingga kini berjumlah tujuh yaitu: i. Banua Buntut Pulau, ii. Banua Patung, iii. Banua Laban, iv. Banua Luna Patung, v. Banua Rantau Kalis, vi. Banua Rantau Batang, dan vii. Banua Sungai Tempurau.

Sebagain orang-orang Kalis di Banua-banua yang terdapat di Rantau Kalis berpindah ke arah hilir sampai ke Nanga (Muara) Sungai Kalis. Sebagian orang kalis yang berpindah ke arah hilir hingga bertemu Sungai Tubuk yang masih anakan Sungai kalis. Mereka yang berpindah ke arah hilir itu kemudian mendirikan beberapa Banua di sepanjang pertemuan antara Sungai Kalis dan Sungai Tubuk sehingga disebut dengan daerah Nanga Tubuk. Pemukiman orang-orang Kalis di Nanga Tubuk atau yang disebut dengan Banua berkembang hingga kini berjumlah dua yakni Banua Nanga Tubuk dan Banua Pulau Jambu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Toan Pari’an adalah areal hutan rimba yang telah disepakati bersama untuk dilindungi oleh karena terdapat banyak mata air dan tempat keramat, tetapi dapat diambil manfaatnya secara amat terbatas. Toan Pari’an ditumbuhi pohon kayu seperti belian, meranti, dan keladan, hidup pula berbagai jenis binatang, dan tanaman bermanfaat lainnya. Masyarakat dapat mengambil manfaat di hutan ini dengan tanpa menebang pohon kayu.
2. Mauma (Ladang) yaitu areal yang dapat digarap dengan sistem pertanian ladang kering yang ditanami komoditas seperti padi, sayur-sayuran dan lainnya. Dalam budaya bercocoktanam di Mauma, orang-orang kalis membuat Pambutan yaitu areal yang berisikan pondokan-pondokan berbasis keluarga luas selama masa bercocoktanam berlangsung. Masyarakat Adat juga mengenal istilah lahan bekas ladang/mauma, yakni:
a. Lembawas dan Balik Batang, adalah areal bekas ladang yang dibiarkan selama 1-3 tahun.
b. Tana Toa, adalah areal bekas ladang yang telah ditinggalkan selama 10-15 tahun
c. Taja, yaitu areal bekas ladang yang telah ditinggalkan dalam jangka waktu yang sangat lama, sekitar 30 tahun.
d. Sasap, yaitu bekas bekas ladang yang kemudian digarap kembali pada tahun yang sama.
3. Payak yaitu, areal yang digarap dengan sistem pertanian basah baik melalui irigasi maupun tadah hujan dengan tanaman padi lokal seperti Rabi’, Kujan, Pulut Babari, Pulut Dayak, Asejuatan, dsb.
4. Kebun Karet (kebun getah) yaitu, areal yang dikelola untuk diambil manfaat getah dari pohon karet.
5. Banua: adalah areal pemukiman untuk tempat tinggal dan beraktivitas yang ditandai dengan adanya sebuah Sao/Rumah Betang. Di dalam Banua juga terdapat pekarangan dan areal peternakan keluarga.
 

Toan Pari’an, dimiliki secara kolektif oleh seluruh masyarakat adat di tingkat Komplek (Desa) yang penguasaan dan pengelolaannya di bawah naungan Toa Banua yang berkoordinasi dengan Kepala Komplek dan Temenggung. Keempat ruang hidup di atas tidak dapat dibuka, tidak untuk diperjualbelikan, dan tidak dapat dipindahalihkan haknya ke perseorangan.

Sebagian Kebun Karet dikuasai secara kolektif oleh keluarga luas atau mereka yang memiliki pertalian darah dari leluhur yang sama. Biasanya mengacu pada keluarga-keluarga luas dalam bilik-bilik di Sao/Rumah Betang. Hak kuasa dan hak kelola di tiga ruang di atas dapat dipindahalihkan melalui pewarisan hak kolektif.

Sebagian kebun karet, Mauma (termasuk Taja, Tana Toa, Lembawas, Balik Batang, dan Sasap), Payak, dan tanah pekarangan dan peternakan yang berada di Banua dimiliki secara individu berdasarkan keluarga-keluarga inti. Hak atas Mauma diperoleh dengan pertama kali membuka lahan di masa lalu yang kemudian dapat dipindahalihkan haknya melalui pewarisan dan pinjam-pakai Mauma/Payak.

 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Dayak Kalis-Komplek Nanga Tubuk Masyarakat Adat Dayak Kalis Nanga Tubuk secara struktural kepemangkuan adat berada di Ketemenggungan Dayak kalis yang memiliki 3 Komplek (setingkat desa) dan 12 Banua (setingkat dusun/kampung).
Struktur • Temenggung • Kepala Komplek • Toa Banua Toa Banua dipilih melalui mekanisme musyawarah adat di tingkat Banua dan dipilih oleh kepala keluarga. Periode jabatan 10 tahun. Kepala Komplek dipilih melalui mekanisme musyawarah adat di tingkat Komplek yang dipilih oleh Toa-toa Banua. Periode jabatan 5 tahun. Temenggung dipilih melalui mekanisme pengusulan calon dan pemungutan suara oleh wakil-wakil Komplek dan Banua. Periode jabatan 10 tahun.
Temenggung
• Memimpin masyarakat adat di satu Ketemenggungan
• Menyelesaikan sengketa dan/atau peradilan adat yang tidak dapat diselesaikan di tingkat Banua dan Komplek.
• Menjaga wilayah Katemenggungan
• Bersama Toa Banua dan Kepala Komplek menyelesaikan permasalahan dengan pihak luar.
• Mengadakan ritual-ritual adat dan musyawarah adat di tingkat Suku Kalis.

Kepala Komplek
• Memimpin masyarakat adat di tingkat Komplek.
• Menyelesaikan sengketa dan/atau peradilan adat yang tidak dapat diselesaikan di tingkat Banua, kecuali kasus pembunuhan dapat langsung diadili oleh kepala komplek.
• Menjaga tanah komunal di Toan Pari’an, Toan Pangasuan, Toan Peramuan, dan Kulambu.
• Bersama Toa Banua dan Temenggung menyelesaikan permasalahan dengan pihak luar.
• Mengadakan ritual-ritual adat dan musyawarah adat tingkat Komplek.

Toa Banua
• Memimpin masyarakat adat di tingkat Banua
• Menyelesaikan sengketa dan/atau peradilan adat di tingkat Banua, kecuali kasus pembunuhan dapat langsung diadili oleh kepala komplek.
• Mengadakan ritual-ritual adat dan musyawarah adat tingkat Banua dan keluarga luas.
• Bersama Kepala Komplek dan Temenggung menyelesaikan permasalahan dengan pihak luar.

 
Mekanisme Pengambilan Keputusan di Wilayah Adat Dayak Kalis disebut dengan Pakara. Itu dilaksanakan dengan mekanisme berjenjang dari Banua, Komplek, dan Ketemunggungan untuk beberapa tujuan seperti:
• Penyelesaian sengketa
• Peradilan adat
• Pengambilan keputusan
• Pemilihan pemimpin adat
• Penyiapan penyelenggaraan ritual adat
• Dan sebagainya.

Apabila terjadi pelanggaran atau perbuatan yang merugikan orang/pihak lain baik disengaja maupun tidak disengaja maka perbuatan tersebut dikenakan sanksi adat. Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Tubuk memiliki mekanisme dalam pengambilan keputusan terkait penyelesaian sengketa adat.

Adapun mekanisme penyelesaian perkara adalah pihak yang merasa dirugikan (pelapor) melaporkan persoalan perkaranya kepada Toa Banua, selanjutnya Toa Banua memanggil pihak yang terlapor untuk melaksanakan perundingan. Selanjutnya Toa Banua mencari tokoh masyarakat yang memiliki kapasitas (setingkat saksi ahli) untuk dapat dan mampu menilai
sebuah persoalan yang sesuai dengan objek (pokok-pokok) perkara. Para tokoh ini menjadi pihak yang akan memberikan pertimbangan hukum adat kepada Toa Banua dalam hal Toa Banua memutuskan sebuah perkara.

Sebelum memulai perundung, Toa Banua bersama pihak terlapor, pelapor dan para tokoh ahli, menyepakati aturan dalam sebuah perundingan. Diantaranya, semua pihak tidak boleh membawa senjata tajam dalam ruang perundingan, tidak boleh minum minuman keras (mabuk), tidak boleh memotong pembicaaraan seseorang saat orang lain sedang bicara, tidak boleh memukul lantai. Tidak boleh melontarkan bahasa kasar yang dianggap dapat merugikan pihak lain.

Jika suatu perkara tidak dapat diputuskan secara berjenjang melalui Toa Banua, Kepala Komplek dan Temenggung, maka upaya terakhir proses penyelesaian perkara adat adalah dengan cara bersumpah. Keduanya belah pihak yang berpekara dapa memilih adat beselam, sabung ayam atau lainnya. Dan dapat juga kasus dilimpahkan ke pihak Kepolisian terutama kasus pembunuhan.
 

Hukum Adat

Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Tubuk telah memiliki aturan adat turun temurun terkait pengelolaan wilayah adat dan sumber daya alam. Bahkan Masyarakat Adat telah mendokumentasikan secara tertulis Hukum Adat tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA). Peraturan Adat tentang PSDA ini berisikan tentang:
1. Be-Mauma (Ladang)
2. Kebun Karet (Kebun Getah)
3. Kampung /Desa
4. Kulambu (Kuburan)
5. Tembawang
6. Toan Pari’an (Rimba/Hutan Tutupan)

Bahkan Masyarakat Adat telah mendokumentasikan secara tertulis Hukum Adat tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA). Peraturan Adat tentang PSDA ini berisikan tentang:
1. Be-Naum (Ladang)
2. Kebun Karet (Kebun Getah)
3. Kampung /Desa
4. Kulumbu (Kuburan)
5. Tembawang
6. Toan Pari’an (Rimba/Hutan Tutupan) 
Masyarakat Adat Dayak Kalis di Desa Nanga Tubuk, telah turun temurun mengenal, memiliki dan melaksanakan adat istiadat dan hukum adat yang mengatur hubungan sosial, baik antar lingkup internal warga desa/kampung maupun dengan warga kampung lain atau pihak luar.
Aturan Adat yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat, mengatur pranata sosial antara lain:
1. Hukum Adat Kelahiran
2. Hukum Adat Pernikahan
3. Hukum Adat Perceraian
4. Hukum Adat Jinah
5. Hukum Adat Tidak Jadi Nikah
6. Hukum Adat Kematian
7. Hukum Adat Pencurian
8. Hukum Adat Pembunuhan (pati nyawa)
9. dll
 
Tahun 2020 terjadi masalah sengketa tanah antar masyarakat adat. Lembaga adat menyelengarakan Pakara Tana Masalah Intara. Dan dijatuhkan sanksi adat kepada pihak yang bersalah berupa Ipautang. Yaitu sanksi adat berupa belanga sera (20 bua x 75.000= Rp. 1.500.000) dan 1 ekor babi berat 30 Kg.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Sebagai sumber karbohidrat. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk membuka lahan untuk berladang/naumo, bersawah yang ditanami padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, keladi, kacang panjang, dll. Sebagai sumber protein. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk menangkap ikan (menjala, masang pukat, bubu, mancing), mereka juga berternak (sapi, babi, ayam, itik), dan berburu binatang liar di hutan (babi hutan, rusa, kijang, kancil, musang, dll). Untuk memenuhi sumber vitamin. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk berkebun/menanam sayur-sayuran baik di ladang/naumo atau dipekarangan rumah, seperti: daun ubi, daun timun, sawi naumo/ladang, daun perenggi, cangkok manis, kacang, paskis bayam, daun kundur, rebung. Mereka juga bertanam berbagai jenis buah-buahan, yakni: durian, rambutan, jengkol, jambu, mangga, langsat, lengkeng, manggis, kelapa, kemayau, asam pelam, mentawa, pekawai, kemantan, mawang, nangka, cempedak, rambai, dll.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Untuk sumber kesehatan. Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk mengenal berbagai jenis tanaman alami yang digunakan sebagai bahan obat-obatan, seperti: 1. daun jambu cacing digunakan mereka sebagai obat sakit perut/diare; 2. Cekor, liak/jahe, kunyit sebagai obat memulihkan kesehatan ibu melahirkan; 3. ...dll
Papan dan Bahan Infrastruktur Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk masih menggunakan bahan-bahan alami untuk bahan bangunan rumah dan bahan bangunan infrastruktur lainnya (jembatan, rumah ibadat). Jenis kayu yang biasa digunakan untuk bahan bangunan rumah dan infrastruktur lainnya, yakni: 1. Kayu Belian/Ulin, digunakan untuk tiang dasar bawah bangunan seperti bangunan rumah pribadi, rumah ibadat, jembatan, atap rumah, dll; 2. Kayu Keladan, dan Resak dan Bengkirai biasa digunakan mereka untuk tiang dinding, tutup tiang dinding atas, kasau, lidi/ring, papan lantai, dll; 3. Kayu Temau, biasa digunakan untuk atap rumah, kasau, ring/lidi, tiang dinding.
Sumber Sandang Pada waktu sekarang Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk tidak lagi menggunakan bahan-bahan sandang dari alam untuk hidup sehari-hari. Sudah sangat minim menemukan jenis pakaian yang dulunya terbuat dari kulit kayu untuk pakaian adat dan bulu buruang ruai sebagai hiasan topi kepala, serta berbagai jenis anting-anting unik/adat. Walaupun masih ada tapi itu pun tidak banyak lagi, dan hanya digunakan pada acara-cara pesta adat (gawai syukuran padi). Sekarang ini, sumber sandang mereka lebih banyak berasal dari luar seperti, pakaian hari-hari, perlengkapan dapur, peralatan pertanian, dll.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sumber rempah : - Kunyit dan serai digunakan untuk masak daging, ikan, buah nangka, buah kundur (labu). - Lengkuas biasanya digunakan untuk bumbu masak daging yang amis. - Daun Sengkubak biasa digunakan untuk penyedap rasa rasa sebagai pengganti micin. - Buah dan bunga Cekala digunakan untuk bumbu masak ikan - Daun dan buah kandis digunakan untuk bumbu masak daging, masak ikan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Sumber ekonomi utama Masyarakat Adat Kalis di Desa Nanga Tubuk adalah padi ladang dataran tinggi, rendah/payak, padi dan padi ditanam di sawah; menyadap karet, beternak sapi, babi, ayam.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Kapuas Hulu Tentang PPMHA Suku Dayak Kalis Nanga Tubuk 132/DLH/2021 SK Bupati Kapuas Hulu Tentang PPMHA Suku Dayak Kalis Nanga Tubuk SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen