Wilayah Adat

kampukng Laman Talue

 Terverifikasi

Nama Komunitas Dayak Laman Tawa Kampung Talue
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Sokan
Desa Nanga Libas
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.600 Ha
Satuan kampukng Laman Talue
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Kampung Libas Desa Libas mulai dari Sungai Matal, Nanga Sungai Lomer, Nanga Talue sampai Sungai Senelokan.
Batas Selatan Berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah mulai dari Penyapat Mangkalakah Manjul sampai Sungai Mantal.
Batas Timur Berbatasan dengan Kampung Tangkid (Desa Tangkid) mulai dari Hulu Talue, Pematang Mangur, Nate Hibo Sila, Penyapat Mangkalakah Manjul.
Batas Utara Berbatasan dengan Kampung Tangkid Desa Tangkid mulai dari Sungai Senelokan sampai Hulu Talue.

Kependudukan

Jumlah KK 48
Jumlah Laki-laki 73
Jumlah Perempuan 75
Mata Pencaharian utama Bertani, Penoreh Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

A. Sejarah Keturunan
Nama Kampung
Penamaan nama kampukng Talue karena saat pertama kampung ini berada di muara sungai Teluai. Mata airTalue bersumber dari gunung Coruk Bonung.

B. Sejarah Perpindahan
Sebelum diTalue , paling awal mereka berasal dari ( 1 ) Bure Ala di seberang sungai mantawa –dari Bure Ala pindah ke (2) Laman Tawa di muara Sungai Mantawa –Dari Laman Tawa pindah ke (3) Petapaatn di sungai Penyelayatn – Dari Petapaatn pindah ke (4) Nanga Botukng di Sungai Penyelayatn – dari Nanga Botukng pindah ke (5) Ula Penyapat di Riam Tabodak aliran sungai Penyelayatn – dari Ula Penyapat pindah ke (6)Laman Atas di sungai Atas – dari Laman Atas pindah ke (7) Laman Kebahan – dari Laman Kebahan pindah ke (8)Teluai hingga sekarang
C. Sejarah Keturunan
Dari(1) Lawe turun ke Timakng dengan gelar Patih – Dari (2) Timakng Turun ke Bodatn dengan gelar patih – dari Bodatn turun ke (3) Marak dengan gelar Tamongukng – dari Marak turun ke (4) Bahuakng dengan gelar Petinggi – dari Bahuakng turun ke (5) Lampe dengan gelar Mas Kanuruhan – dari Lampe turun(6) Ajong sebagai kepala kampung – dari Ajong turun ke (7) Abaisebagai kepala Dusun hingga sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Ranah/Umo
kawasan yang ditanami tumbuhan dan tanaman bernilai ekonomi atau Tempat bercocok tanam.
2. Kampung Buah ( Tembawang )
Berdasarkan pembentukannya kampung buah terbentuk dari bekas kampung, dukuh atau ladang yang ditinggalkan.Dengan ditingalkannya lokasi-lokasi yang banyak tanaman buahnya inilah menjadi kampung buah.Jika terbentuk dari bekas kampung maka kepemilikan kampung buah menjadi hak sekampung, tetapi jika terbentuk dari dukuh dan ladang maka haknya menjadi individu yang memiliki dukuh dan ladang.
3. Rimak
kawasan Hutan yang didalamnya masih terdapat pohon-pohon besar, sumber mata air, gaharu, dan hewan-hewan buruan. Di Dalam rima terdapat Tempat Kerama Merupakan lokasi bernilai sacral. Keramat memiliki hubungan psikologis antara masyarakat kampung, baik dengan roh nenek moyang, penunggu alam dan Duata. Masyarakat dayak Laman Tawa di kampung Karangan Panjang memiliki 4 lokasi keramat : Pangulan Laman, Lampahukng Puaka, Nate’ Botukng dan Kayu Hara
4. Laman
merupakan kawasan pemukiman/kampung atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas keseharian mereka. Di dalam laman juga terdapat Paseen (kuburan) yang letaknya tidak jauh dengan pemukiman masyarakat.
5. Kobutn Karet
kawasan yang berisikan mayoritas tanaman karet, walaupun ada juga tanaman-tanaman lain seperti jengkol, durian, dan lainnya yang juga ditanam disana.
6. babas/bawas,
merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagi untuk be-umo lagi pada tahun berikutnya. Mereka juga mengenal tingkat vegetasi (kesuburan tanah) yang ada di babas, seperti tempalai yaitu babas berumur 1 – 3 tahun; balitn batang yakni babas berumur 2 – 3 tahun; babas muda yakni babas berumur 3 – 5 tahun; babas tuha yaitu babas berumur 6 – 11 tahun; agung kelongkang yaitu babas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan huma lagi akan menjadi rima’. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo.
 
1. kepemilikan perseorangan/individu. Sistem ini didasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan(rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga dari warisan orang tua.

2. tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Dan, untuk generasi berikutnya dari warga atau keluarga, kepemilikan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kepemilikan tanah atau lahan untuk beberapa keluarga dalam satu keturunan dan keluarga tersebut.

3. kepemilihan tanah/lahan dengan segala isinya menjadi milik bersama satu kampung atau milik kolektif/komunal
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Suku Laman Tawa Kampung Talue.
Struktur STRUKTUR LEMBAGA ADAT SUKU DAYAK LAMAN TAWA KAMPUKNG TALUE : 1. Kreteria dan proses pemilihan. Kreteria seorang Manter dan Tuha Dalam Laman adalah. Berjiwa kepemimpinan, paham dan mengerti dengan aturan adat. 2. Proses pemilihan - Manter adat dipilih langsung oleh masyarakat - Tuha Dalam Laman ditunjuk secara reklamasi oleh masyarakat 3. Masa jabatan. - Manter Adat dan Tuha Dalam Laman tidak ditentukan berapa tahun masa jabatannya.
1. Manter Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah adat tingkat kampung.

2. Tuha Dalam Laman merupkan Wakil Ketua Adat/Kebayan hanya diberi kewenangan mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah kampung apabila Ketua Adat tidak berada ditempat atau sedang berhalangan. Tuha Dalam Laman juga bertugas untuk menghadirkan atau memanggil masyarakat ketika ada bapokat atau musyawarah adat.

Catatan
Kelembagaan ini berada dalam ketemenggungan Nanga Libas. Apabila ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan oleh ketua adat, maka akan diserahkan kepada Temenggung untuk menyelesaikan perkara tersebut.
 
Melalui rapat/musyawarah adat (Bapokat)
Musyawarah ini dengan melibatkan seluruh warga kampung yang dipimpin langsung oleh pengurus adat. Pelaksanaan biasanya dilakukan di balai adat atau di rumah ketua adat.
 

Hukum Adat

Aturan tentang Umo:

- apabila orang membuat umo, maka dia harus membuat skat/penyiangan api dengan ukuran minimal 3 (tiga) depak dan maksimal 5 (lima) depak Pelanggaran terhadap aturan adat tersebut dikenakan sanksi adat yang disebut dengan “ulun”, yakni:
- Membuat umo di sekitar gupung mali sehingga menyebabkan gupung tersebut rusak, dikenakan sanksi adat pemali 8 (delapan) ulun;
- Membuat umo di posar, dikenakan sanksi adat pemali kubur sebesar 8 (delapan) ulun;
- Membuat umo di tanah mali, yakni adat temuni sebesar 1 (satu) ulun setiap temuni ditambah kokah sengkolan; adat kerobah sebesar 8 (delapan) ulun;
- Apabila membakar ladang (umo), apinya menjalar pada skat api 3 depak, maka kena sanksi adat 3 ulun;
- Apabila api menjalar pada skat api 5 depak, maka sanksi adat 2 ulun.
- Membuka umo hanya boleh ditempat yang belum dibuka oleh orang sebelumnya
- Beumo di lahan orang tanpa seijin pemiliknya akan dikenakan sanksi berupa ganti rugi sesuai dengan yang disepakai
- apabila seseorang/kelompok orang ingin membuka umo rima’, maka orang tersebut harus melakukan musyawarah dan minta ijin dengan seluruh warga masyarakat adat setempat terlebih dahulu. Mereka juga mengenal wilayah jelajah berburu yang mencakup seluruh wilayah adat


Aturan tentang Rimak
- Tidak boleh menebang kayu di Rimo. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa penyitaan kayu dan membayar ganti rugi.
Aturan tentang Laman:
- Semua masyarakat adat wajib menjaga kenyamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan disekitar laman.
- Tidak boleh melepaskan ternak khususnya sapi dan babi untuk berkeliaran. Apabila terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi berupa teguran sampai tiga kali apabila si pemilik tidak menanggapi maka hewan tersebut boleh ditangkap dan dipotong Bersama-sama
 
Aturan adat terkait dengan pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan, balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji, perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat.

Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Penerapan denda berupa hewan dan benda seperti tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang
 
Apabila terjadi pelanggaran akan disidang adat oleh ketua adat dan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Ubi kayu, jagung, padi, Protein nabati: kacang tanah, kacang merah, Protein hewani: Babi, rusa, pelanduk dan ikan Sayuran: Tebu, timun, labuk, perenggi, terong asam, terong manis, kacang-kacangan, cabe rawit, keladai dan kucai, sawi, kangkong, jengkol. Buah-buahan adalah buah rambai , kapul, manggis, mentawo, langsat, durian, manga, pisang, jambu.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Untuk kesehatan mereka mengkonsumsi Seperti: Akar gelaet : untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit Kumis kucing : untuk menyembuhkan penyakit gula Coki , Capa , Jarango, kase/ kunyit. Akar, sore, jambu karosik, daun duhat pelimpikng, sananalit, salung belung, sirih, hida. Kase murukng, paholas, kuliy kalopu(Limo Kapala untuk kecantikan),daun duritn, daun pekawai, sau\lusuk lanuk(untuk mudah melahirkan) daun Pampanggil, daun panatn, daun duku, rambutan, pangolas. Tantan. Tangalukng, pulu tawakng, baun rahube, kalake kangkotar, buntat lalukng(utk menjarangkan kehamilan), capa lobur, sampu hangat.
Papan dan Bahan Infrastruktur 1. Jenis Kayu. - Kayu bulitn, digunkan sebagi tiang dan tongkat rumah - Kayu banuah, omang (besi,tolur,jangkar), kaladatn, ponga,pakit (bakunyit,Balamur), tokapm, rosak, ubar, garungakng, kankabakng( bukit, rame,tungkul), kanopak, gansure bukit, kayu buluh, ulapm kopuan digunakan sebagai bahan seperti kasau, reng dan lain-lainnya. 2. Jenis rotan: Rutitn, lahua, mahilatn, jelapang, bulu, tebodak, labu, sorik,jiik, tajapm, kawatn, joronang, batu. Digunakan untuk pengikat bahan rumah (pengganti paku)
Sumber Sandang Dulu mereka memanfaatkan pakaian dari kulit kayu (kapuak, dll), getah pohon untuk pewarna pakaian, bulu burung ruai dan tanduk hewan (rusa dll )yang tersedia di alam. Kemudian mereka mengembangkan teknologi pemintal kapas menjadi benang untuk ditenun menjadi bahan pakaian.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kase, sore, cabe, jahik, daun mudak Sangkubak untuk penyedap rasa (micin) Asam ganis untuk rempah sayur asam polapm, asam bubuk, asam putaran
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No 4 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan hak Masyarakat Hukum Adat No 4 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Perlindungan hak Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Melawi Nomor 660/172 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dayak Laman Tawa Kampung Teluai Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi Nomor 660/172 Tahun 2019 SK Bupati Melawi Nomor 660/172 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dayak Laman Tawa Kampung Teluai Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen