Wilayah Adat

Tabam Rae Tafi

 Teregistrasi

Nama Komunitas Rae Tafi (Marga Tafi)
Propinsi Papua Barat
Kabupaten/Kota TAMBRAUW
Kecamatan Fef
Desa Ibe
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 945 Ha
Satuan Tabam Rae Tafi
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan wilayah adat Tabam Rae Wen Sate dengan batas berupa Ase Mair, Atwo Meniy, Hoyuo Te, Wena Semsaet Meniy, Frasom, Kema Wayar, dan Isyokoh.
Batas Selatan Berbatasan dengan wilayah adat Tabam Rae Wen Sakof dengan batas berupa Knak Mair, menuju punggung Bukit Ukom Woy, Ndah Riy Syuo, Sakof Arit, dan Ase Mair.
Batas Timur Berbatasan dengan wilayah adat Tabam Rae Bofra dengan batas berupa Aya (Sungai) Ifrot, Musboh, Siwai Kmot, dan Knak Mair.
Batas Utara Berbatasan dengan wilayah adat Tabam Rae Wen Kuku dengan batas berupa Isyokoh, Kantor Bappeda Tambrauw, Jalan Ira Wiyam dan Aya (Sungai) Ifot

Kependudukan

Jumlah KK 34
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun, Peternak, & PNS

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Orang-orang Tafi pada umumnya berasal dari Suku Aifat dan tinggal di Wilayah Maibrat. Dikisahkan pada masa lalu, berjalanlah dua perempuan kakak beradik Rae (Marga) Tafi yang dikenal sebagai Sou Tafi dan Sou Wen untuk mencari ikan dengan cara Balobe. Keduanya berjalan mencari ikan dari Aya (Sungai) Ases ke Aya Matamekek. Sesampainya di Aya Matamekek, kedua perempuan itu berhenti di sebuah pohon yang tumbang sembari berbincang dan menjemur badan mereka. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang lelaki bernama Frahaef yang berasal dari Marga Wen, Suku Abun. Pertemuan ketiganya kemudian berlanjut ke perkawinan dan bersama bermukim di sebuah lereng gunung dekat aliran Aya Matamekek yang sering disebut Ataf Iwas.

Seiring berjalannya waktu, ketiga lelaki perempuan itu berkembang biak dan membentuk 2 (empat) Marga berdasarkan keturunan mereka yaitu: Wen Sakof (termasuk Keturunan Tafi di dalamnya) dan Wen Kuku. Penamaan setelah Marga itu berdasarkan pada persebaran areal cari makan yang kemudian membentuk pemukiman-pemukiman baru. Dari Ataf Iwas sebagai pusat ke sebelah timur di Sakof dan ke sebelah utara di Kuku. Pasca perkembangan Marga-marga Wen melalui keturunan dari Rahim orang Tafi, Marga Wen Sakof memberikan sebagian tanah marganya kepada saudaranya dari keturunan Marga Tafi pada tahun 2014 sebagai bentuk penghormatan kepada dua kakak-beradik yang melahirkan keturunan untuk Marga Wen. Selain kedua marga Wen tersebut adapula beberapa marga Wen lain yang diyakini berasal dari akar leluhur yang sama yaitu Wen Tuak, Wen Irwo, dan Wen Sate yang semuanya memiliki tanah ulayat masing-masing di Kab. Tambrauw.

Keturunan Wen dan Tafi saat itu mencari makan menanam Awiyah, Arsasu, Ketawe, dan Saswati (sejenis umbi-umbian), berburu Fane (Babi) dan Teftiyah, Ames, dsb (Sejenis Kuskus) serta menangkap Ikan Fiyam (Sejenis Lele), Saa (Gabus), Abanai, Souh, dsb. Mereka memiliki konsep kepercayaan yang disebut Siwai (awal) dan Mafif (akhir). Masing-masing Marga memiliki Sorwon yaitu lokasi awal manusia muncul pertama kali dan tempat arwah kembali sementara sebelum adanya Pengadilan Akhir Seluruh Umat Manusia. Hingga kini masih terdapat tradisi menaruh barang-barang anggota marga yang meninggal di lokasi Sorwon masing-masing.

Adapula tradisi tentang inisiasi atau yang disebut Wuon dan Fenia Meruoh. Inisiasi Wuon diperuntukkan bagi anak laki-laki 7 tahun ke atas dipisahkan dari orang tua (lebih dari 1 km) dan dikumpulkan di tempat yang jauh dari pemukiman untuk dilatih oleh orang dewasa (yang telah lulus Wuon) tentang Etika, Interaksi/Pergaulan, Penghormatan ke Alam dan Tuhan, Keterampilan (Berburu, Membuat Rumah, Menyembuhkan Sakit), serta segala hal yang menjadi bekal menuju fase dewasa. Fenia Meruoh diperuntukkan untuk anak perempuan dimulai dari saat haid pertama yang dipisahkan dari orang tua (sekitar 500 meter) untuk diajarkan tentang Etika, Hidup Berumahtangga, Keterampilan (Membantu Kelahiran, Membuat Kerajinan, Memasak, dsb.), dan Penghormatan ke Alam dan Tuhan. Adapula hubungan yang terjalin antara Marga Tafi-dan Marga Wen-dengan Marga-marga lain seperti Kinho, Bame, Baa Sikor, Baa Sakof, Bofra terkait perkawinan, pertukaran kain timur dan hasil kebun, dan pergaulan secara umum.

Interaksi Marga Tafi dan Wen dengan bangsa asing dimulai dari masuknya bangsa Portugis ke wilayah Sayam (Distrik Rombos sekarang) untuk melakukan perdagangan dengan cara barter. Orang portugis mencari rempah-rempah untuk ditukar barang lain seperti Kain Timur, Parang, Kapak, dsb. Saat itu orang-orang dari Marga Tafi dan Wen menukarkan Sabakora (Tembakau), Matiyaf (Cenderawasih), Waf (Kakak Tua), Kos (Nuri), Kulit Rief (Lawang), dan lain-lain. Sekitar tahun 1850an, Belanda masuk dengan membawa tiga hal yaitu Iman melalui Pekabaran Injil, Pendidikan melalui Penyiapan Sekolah Rakyat, dan Kesehatan melalui Penyiapan Tenaga Kesehatan. Maurits Bame adalah orang pertama dari Marga Tafi yang disekolahkan Belanda (SR) setelah lulus Wuon, kemudian dibaptis, dan disekolahkan sampai menjadi Mantri (Tenaga Kesehatan) di Kampung Fef. Bangsa Belanda melalui Pihak Gereja juga membawa beebrapa komoditas baru seperti Kacang Tanah, Kacang Hijau, Kopi, dan Cokelat yang ternyata dapat ditanam dengan baik di Tanah Marga Tafi. Adapun tanaman bumbu dapur yaitu Bawang ditemukan secara tidak sengaja karena jatuh ke tanah dan dapat tumbuh subur di Tanah Marga Tafi.

Sekitar tahun 1960an Marga Tafi beberapa Wilayah Persekutuan Marga seperti Ye Wen, Bame, Kinho, Bafut, dan Bofrei memutuskan untuk membentuk Wilayah Fef, cikal bakal Kampung Fef dengan bersatunya pemukiman persekutuan marga-marga di wilayah Syubun dan Syujak. Pada tahun yang sama, dibangun juga Gereja pertama di Tanah Marga Tafi yang dilanjutkan dengan Pembangunan Lapangan Terbang Perintis sekitar tahun 1970an sebagai akses dari luar ke dalam Kampung Fef. Melalui jalur udara itu, Marga Tafi dapat menjual hasil kebunnya berupa bawang, kacang-kacangan, dan lain-lain ke luar sampai dengan tahun 1980an.

Pada tahun 2011 akses jalan dari ibukota provinsi Sorong ke Tambrauw sudah terbuka sejak pembangunannya pasca mekarnya kabupaten Tambrauw pada tahun 2008. Sejak itu, jalur udara kemudian berganti ke jalur darat meski belum berfungsi penuh untuk menjual komoditas ekonomi. Sejak terbukanya akses, terdapat beberapa pendatang yang masuk ke Tanah Marga Tafi yaitu dari Flores dan Kepulauan Kei sebagai Penginjil di Gereja.

Pada tahun 2014, Kampung Fef mekar menjadi Kampung Ibe di mana Tanah Marga Tafi masuk di dalamnya. Pembangunan Infrastruktur dipimpin oleh PT. Bayaraya Perkasa. Adapun fasilitas listrik masuk ke Kampung sejak tahun 2017. Ketua Marga Tafi saat itu memberikan hak milik atas tanah marga (berbentuk kavling) kepada PT. Bayaraya Perkasa untuk dibuatkan rumah tinggal sebagai bentuk dukungan atas proyek pembangunan di Tanah Marga Tafi. Pada tahun 2018 dilakukan pemetaan partisipatif di Tanah Marga Tafi yang difasilitasi oleh Lembaga Akawuon. Sejak saat itu, Masyarakat Adat Marga Tafi masih menyiapkan segala hal untuk memperoleh pengakuan atas diri mereka dan hak ulayat atas Tanah Marga dan Hutan Adat yang di dalamnya terdapat banyak sekali tempat hidup Burung Cenderawasih yang dilindungi. Sejak tulisan tentang sejarah ini dibuat, Marga Tafi telah menuliskan dan menyepakati Aturan-aturan tentang Pengamanan Tanah Marga serta Pelindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam pada tanggal 2 Januari 2020 sebagai bukti komitmen untuk menjaga dan mengelola alam secara lestari.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tiam merupakan hutan yang berfungsi untuk dilindungi dan dimanfaatkan terbatas untuk diambil kayunya sebagai bahan bangunan rumah. Tiam dilindungi karena didalamnya terdapat Aya Meni (mata air) sebagai sumber penjaga kehidupan, Matiyaf Mesom (tempat hidup Cenderawasih), Sorwon (tempat arwah leluhur), Wuon (tempat inisiasi Anak Laki-laki), Ataf Iwas (Kampung Lama), Totor (Titik Batas Keramat)

Mbeir Rekah Ora merupakan areal yang berfungsi sebagai lahan Garapan, diambil manfaat, dan cadangan kebun. Tanaman yang ditanam biasanya berupa umbi umbian, kacang kacangan, dan sayur sayuran. Selain itu terdapat juga tempat tempat yang dilindungi berupa Aya Meni, Wuon, dan Kuburan Leluhur. Dalam sistem lahan garapan yang dilakukan oleh masyarakat, Mbeir Rekah Ora terbagi menjadi beberapa sebutan yaitu
- Ora merupakan kebun yang digarap oleh masyarakat
- Tein merupakan kebun yang sudah ditinggalkan beberapa tahun dan sudah menjadi hutan muda.

Mbeir Hurein merupakan areal pemukiman serta pekarangan. Terdapat beberapa bangunan adat berupa Rumah Reget (Ketua Marga), dan lain sebagainya. 
Hak atas tanah

Subyek pemegang hak kuasa/milik di Tiam merupakan Rae (Marga) Tafi yang didalam struktur adat dipimpin oleh Reget (Ketua Marga) dan Rae Manes (Tua Marga)

Subyek pemegang Hak kelola tanah pada Mbeir Rekah Ora terbagi kepada … (keluarga inti) dan … (keluarga besar). Kebun yang ada di Mbeir Rekah Ora sudah/belum terbagi ke pada subyek pemegang hak kelola. Namun hak kuasa/ hak milik beda pada Reget dan Rae Manes.

Subyek pemegang Hak guna bangunan pada Mbeir Hurein dimiliki oleh keluarga inti, namun hak milik tetap berada pada Reget dan Rae Manes. Namun sebagian kecil sudah ada hak milik yang sudah dipegang oleh keluarga inti melalu proses pelepasan tanah adat.

Pemindahalihan hak

Tidak boleh ada perubahan fungsi dari hutan Tiam menjadi kebun. Namun jika ada perubahan fungsi ini bisa dicapai melalui mekanisme Huren Besu (musyawarah adat).

Pewarisan Hak Kelola di kebun aktif dapat dilakukan jika di kebun tersebut terdapat tanaman keras maupun tanaman tahunan.

Meminta hak kelola atau izin kebun baru pada bekas kebun yang dimiliki keluarga luas dapat dilakukan ke anggota keluarga yang dituakan.

Pemindahalihan lain baik berupa hak kelola/guna maupun pelepasan hak milik melalui jual beli, sewa, gadai, hibah, bagi hasil, dan lain sebagainya harus melalui kesepakatan dalam Huren Besu (Musyawarah Adat) yang dihadiri beberapa pihak yaitu Keluarga Inti, Keluarga Besar, Reget, Rae Manes, dan pihak yang ingin mendapatkan hak/izin terhadap tanah tersebut. 

Kelembagaan Adat

Nama Rae Tafi
Struktur Reget (Ketua Marga) Raefak Reget (Wakil Ketua Marga) Rae Manes (Tetua Marga) Reget dipilih melalui mekanisme musyawarah adat dengan melihat pada kecakapan dan lain sebagainya. Raetem Reget dan Rae Manes dipilih menurut ketentuan yang berlaku.
Reget merupakan Ketua Marga yang mengemban tugas sebagai pemimpin anggota marga. Bersama Rae Manes mengesahkan hasil musyawarah penyelesaian sengketa tanah baik di tingkat Antar-Keluarga, Antar-Keluarga Besar, maupun Antar-Marga.
Rae Manes merupakan para Tetua Marga yang bersama Reget mengesahkan putusan musyawarah adat. Rae Manes juga memberikan masukan/pertimbangan di musyawarah karena memiliki pengetahuan dan pengalaman khusus tentang:
- Pengobatan tradisional
- Juru Kunci Sejarah
- Hukum dan Sanksi Adat
- Pelaksanaan Proses Inisiasi Wuon dan Fenia Meruoh
- Strategi dan Pelaksanaan Perang (dulu)
- Pelaksanaan Ritual adat
Rae Tem Reget merupakan wakil reget yang bertugas untuk menuliskan hasil musyawarah dan putusan yang dibuat 
Huren Besu dilakukan untuk berbagai macam hal seperti:
- Pengambilan Keputusan Bersama
- Peradilan Adat
- Penyelesaian Sengketa
- Pelaksanaan Ritual Adat, Proses Inisiasi, hingga Perencanaan Perkawinan, dan lain-lain.

Huren Besu ini dilakukan di berbagai tingkatan sosial dari Keluarga Inti, Keluarga Luas, hingga tingkat Marga. Huren Besu di semua tingkatan tersebut harus dihadiri oleh Reget dan Rae Manes. Tempat dilakukannya Huren Besu ditentukan berdasarkan kesepakatan.  

Hukum Adat

Aturan adat pada Tiam
- Dilarang melakukan perburuan hewan hewan tertentu
- Dilarang melakukan aktifitas di tempat bermain cendrawasih
- Dilarang melakukan aktifitas di tempat satwa mabuk
- Dilarang membuka kebun dengan jarak kurang dari 100 meter
- Dilarang ambil kayu secara massif hingga areal menjadi terbuka, harus dilakukan melalui mekanisme tebang pilih

Aturan adat pada Mbair Rekah Ora
- Dilarang mengambil hasil kebun orang lain
- “Sombo” merupakan mekanisme pembukaan lahan baru dengan mekanisme membuka lahan namun menyisakan satu pohon dan meletakan bibit bibit yang akan ditanam didekat pohon tersebut kemudian pemilik lahan melakukan ritual untuk menebang pohon terakhir tersebut. 
- Kasus perselingkuhan denda berupa babi, ternak, uang tergantung kesepakatan. Selain itu antar-pihak yang berselingkuh tidak boleh bertemu atau berdekatan selama mereka hidup. 
Pada bulan Oktober tahun 1998 ada yang berburu di areal Wuon padahal ia belum pernah mengikuti Wuon. Konsekuensinya adalah ia harus mengikuti prosesi inisiasi Wuon.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Aof (Sagu), Awiyah (Keladi), Arsasu (Singkong), Ketawe (Keladi), Saswati (Betatas), Besen (Jagung),… dsb. Protein Nabati: Kacang Tanah, Kacang Hijau Protein Hewani: Fane (Babi), Teftiyah, Ames, dsb (Sejenis Kuskus), Ikan Fiyam (Sejenis Lele), Saa (Gabus), Abanai, Souh, dsb. Vitamin Sayuran: Sifo (Bayam), Boya (Gedi), Ebiyah (Gohi), Amase (Labu), Hata (Lilin), Emes (Pakis), Ubah (Bambu Jalar), … dsb. Vitamin Buahan: Abit (Pisang), Aruisam (Langsat), Atiek (Sukun), Kenak (Cempedak), Esah (Matoa), … dsb.
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Afa (daun gatal) untuk obat gatal - Pohon Ganemo untuk berbagai macam penyakit dengan cara seratnya diikat kebagian tubuh - Tahsi digunakan untuk berbagai macam penyakit dengan cara menebas ke badan.
Papan dan Bahan Infrastruktur Lantai dan Dinding: Heyuot dan Saman (Jenis Damar), Esah (Matoa), Bron (Bambu) Atap: Aof (Daun Sagu) Tiang: Esah (Matoa), Perkakas: …
Sumber Sandang Rotan, rus kwiyan, daun tikar, pohon biyek dijadikan pakaian adat Ekiet Ara.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Marisan (Cabe), Bofit (Jahe), … dsb.
Sumber Pendapatan Ekonomi Umbi-umbian, Ternak, sayur sayuran, kacang kacangan.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR 6/37/2018 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAMBRAUW NOMOR No. 6/37/2018 TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TAMBRAUW Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen