Wilayah Adat

Rejang Lubuk Kembang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Rejang Lubuk Kembang
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota REJANG LEBONG
Kecamatan Curup Utara
Desa Lubuk Kembang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.005 Ha
Satuan Rejang Lubuk Kembang
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan Desa Air Pikat, Desa Talang Ajan, dan Desa Tebat Pulau dengan batas berupa Bioa Tik Lepsoak, Jalan TMD, Kebun.
Batas Selatan Berbatasan dengan Desa Dusun Sawah dan Desa Batu Peco dengan batas berupa Bioa Tik Leboa, Kebun Sarbaini, Kebun Del Mustamin, Kebun Herwan Alil, Bioa Klitang, Saweak Badaruddin, Bioa Musei.
Batas Timur Berbatasan dengan Desa Perbo dan Desa Batu Panco dengan batas berupa Bioa Musei, Gapura, Saweak Yunus, Saweak Asron.
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Suka Datang, Desa Sukarami, Desa Pagar Gunung dengan garis batas berupa: Bioa (Sungai) Musei, Perkebunan Kopi Warga (Hartobi, Darwin, Sekea Rajo, dll.), Tanda batas Buatan dengan Desa Sukarami, Jembatan Plat Deuker, Tanda batas Buatan di jalan menuju Desa Pagar Gunung.

Kependudukan

Jumlah KK 317
Jumlah Laki-laki 591
Jumlah Perempuan 504
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dituturkan bahwa sejarah pemukiman di Sadie Rejang Lubuk Kembang saat ini berasal dari leluhur mereka yang bernama Muning Alus yang hidup di sekitar Bioa Musei yang saat ini berada di wilayah Desa Dusun Sawah. Muning Alus dikisahkan hidup jauh sebelum abad ke-8 dan memiliki 4 anak yang diberikan wilayah kepada masing-masing mereka yaitu
1. Rajo Depatei diberikan wilayah Batu Paco.
2. Kak Tuo diberikan wilayah Dusun Sawah.
3. Buruk Cinde diberikan wilayah Sadie Perbo.
4. Mat Alei diberikan wilayah paling atas di perbukitan yang kemudian diberi nama Lubuk Kembang.
Asal mula penyebutan “lubuk kembang” dikarenakan adanya sebuah genangan air atau “lubuk” di wilayah perbukitan itu yang luas atau dalam bahasa rejang disebut “kembang”. Sejak saat itu, keturunan Mat Alei hidup di sebelah Barat Utara kampung nenek moyangnya dengan menanam padi, menyadap aren, dan berburu. Di pemukiman dibuatlah parit atau disebut pigei dengan menggali tanah dan diisi dengan jebakan berupa bambu runcing dan sebagainya untuk mencegah hewan buas dan menghalau musuh-musuh lain. Keturunan Mat Alei berjumlah 3 orang yaitu: 1. Setenang (Pelimo Tukak), 2. Menang (Pelimo Kuep), dan 3. Tawakkin (Pelimo Tuweak). Ketiga kakak beradik itu kemudian berkembang menjadi klen/keluarga besar yang mendiami Lubuk Kembang hingga kini. Kala itu Pelimo Kuep gemar berjemur di atas batu yang masih ada hingga saat ini.
Pada sekitar tahun 1729, orang-orang Lubuk Kembang membentuk kesatuan sosial yaitu Sadie (Desa) dengan pemimpin yang disebut Patai/Ginde. Saat itu wilayah Sadie Lubuk Kembang termasuk ke dalam wilayah Pasirah Manei yang berpusat di Dusun Sawah (saat ini). Konsep Sadie dan Pasirah itu berlangsung hingga kurang lebih 300 tahun kemudian. Perkembangan budaya saat itu diwarnai dengan beberapa ritual seperti Meket Pai di Penei (Panen Sawah) dengan sesaji Iben (daun sirih), bubur 7 macam, benik manis (lemang), benik biasa, dupa, kemenyan, dll. Pada masa pra kolonial itu, ajaran agama Islam mulai masuk dan dibawa oleh Kyai Muhammad yang dipercaya berasal dari Curup. Secara bertahap Islam masuk menggantikan kepercayaan sebelumnya.
Pada zaman kolonial, terjadi interaksi antara Belanda dan MA Buluk Kembang. Dikisahkan pada saat itu Belanda ingin masuk ke wilayah Kerajaan Lebong, tetapi tidak dapat menembus pertahanan. Belanda lalu menjalankan siasat adu domba dengan meminta bantuan kepada Regina (Pelimo Kuning) cicit dari Mat Alei untuk menyerang pertahanan Kerajaan Lebong yang terdepan yaitu di sekitar Rimbo Pengadang. Dituturkan saat itu pihak kerajaan mengatakan kepada Regina untuk tidak menyerang karena perdaya Belanda. Namun, Pelimo Kuning tetap menyerang dan ternyata berhasil. Ia kembali ke tempat asalnya dengan membawa kepala panglima Kerajaan Lebong. Di perjalanan, ia berpapasan oleh kakaknya dari Dusun Sawah (Keturunan Kak Tuo). Kakaknya itu kemudian memperdaya Pelimo Kuning untuk menyerahkan Kepala Panglima dan dengan kepolosannya Pelimo Kuning menyerahkannya. Saat itu Belanda kemudian memberikan hadiah uang kepada Pelimo Kuning.
Di masa yang sama dengan Pelimo Kuning, hidup pula Pelimo Gawar. Dikisahkan bahwa datanglah dari daerah Lembak, rombongan yang diberi tugas Mnee/mencuri perempuan cantik. Rombongan itu menandai rumah Pelimo Gawar dengan tombak yang ditaruh di tangga rumah. Pelimo Gawar mempersilahkan rombongan untuk masuk sambil dirinya melepaskan ujung-ujung tombak. Di depan rombongan, Pelimo Gawar mematahkan ujung-ujung tombak itu memakai jarinya lalu mengajak mereka makan “Marobaite Muk Iben Samo-samo” (Mari Tuan Makan Sirih Bersama). Iben yang dimaksud adalah ujung-ujung tombak itu. Menengok ujung-ujung tombak itu membuat rombongan berpamit pergi melanjutkan perjalanan ke utara. Di daerah utara, mereka menemukan perempuan-perempuan yang dicari dan kembali ke rute sebelumnya. Pada saat sampai di Perbo, Buruk Cinde berpapasan dan meminta gadis-gadis itu. Rombongan itu menolak permintaan Pelimo Gawar dan terjadilah pertempuran. Sejak itu banyak orang-orang Perbo saat ini memiliki keturunan dari gadis-gadis yang berasal dari Utara itu.
Pada zaman Belanda itu juga, orang Lubuk Kembang bernama Din diangkat menjadi anak buah Kapten Ripin angkatan bersenjata Indonesia kala itu. Dituturkan, Kapten Ripin memerintahkan Din untuk memimpin pasukan mengambil senjata Belanda di Dwi Tunggal. Saat itu orang-orang utusan berlindung di belakang Din yang dipercaya kebal peluru dan berhasil mengambil seluruh senjata Belanda. Pada saat penjajahan Jepang, Kapten Ripin melakukan misi penyerangan kemah-kemah Jepang di Tabarna dan berhasil melumpuhkan sampai tersisa 1 tenda saja dengan hanya 1 korban di pihak Indonesia yaitu Margetih (dimakamkan di TMP Rejang Lebong) oleh karena jebakan listrik. Pada saat itu baik Margetih maupun Din dipercaya kebal peluru. Dituturkan bahwa Kapten Ripin diperdaya oleh keluarganya sendiri. Ia tertipu informasi palsu bahwa Negara sudah aman, iapun ditangkap oleh Belanda. Oleh karena menyerah kepada Belanda, Kapten Ripin beserta pengikutnya tidak dianggap sebagai pahlawan. Begitu pula dengan Din, yang meninggal akibat sakit di kemudian hari.
Pada rentang tahun 1960—1970 di bawah kepemimpinan Bapak Aman, konsep Sadie berubah menjadi Desa pasca terbit UU Desa. Secara bertahap pada tahun 1970 ke atas konsep pemerintahan desa dan kecamatan mulai mapan. Masyarakat Adat Lubuk Kembang mengalami bencana gempa pada tahun 1979. Saat itu seluruh rumah di Lubuk Kembang roboh kecuali 3 saja rumah kayu yang mampu bertahan dan memakan korban satu orang meninggal. Delapan tahun pasca gempa, konsep kelembagaan adat yang disebut Kutei masih berlangsung dengan suksesi kepemimpinan yang berjalan secara alami. Namun, pada tahun 1987, terjadi perubahan kelembagaan adat yang sebelumnya disebut Kutei menjadi Badan Musyawarah Adat (BMA) pasca terbitnya Perda No…/… Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong tentang Pembentukan BMA. Pada saat itu, mekanisme suksesi pada Kutei tetap digunakan untuk pemilihan pemangku adat dalam BMA. Namun, pada rentang tahun 1992—2000, terjadi perubahan suksesi dari cara tradisonal menjadi hak preogatif Kepala Desa untuk menunjuk 3 calon Ketua BMA.
Pada tahun 2015, terjadi persinggungan batas antara Desa Lubuk Kembang dan Desa Suka Datang. Pemerintah Desa Suka Datang saat itu mengklaim wilayah Desa Lubuk Kembang. Konflik berdarah hampir terjadi jika pihak Kecamatan Curup Utara tidak turun tangan. Akhirnya pada tanggal 27 Agustus 2015 terjadi kesepakatan batas di antara dua desa tersebut. Merespon konflik itu, pada tahun 2016 dilakukan pemetaan partisipatif yang difasilitasi oleh Pemkab Rejang Lebong. Hingga saat ini, MA Lubuk Kembang masih berusaha untuk memperoleh pengakuan atas keberadaan mereka dan perlindungan atas hak-hak ulayatnya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Wilayah Keramat: Tpat Pakulintang (Makam Leluhur) antara Sadie Lubuk Kembang dan Sadie Dusun Sawah.
Bekas Dumei:
- Sakea adalah bekas Dumei tanaman palawija yang sudah ditinggal dan ditumbuhi rumput, batang kayu, dsb.
- Jamei adalah bekas Dumei tanaman padi yang sudah ditinggal selama 1 tahun dan ditumbuhi rerumputan/semak belukar. Jamei yang sudah ditinggal selama 1 tahun akan diolah kembali menjadi Saweak.
Kbun adalah areal perkebunan aktif masyarakat dengan tutupan vegetasi berupa tanaman produktif masyarakat seperti Kopi, Palawija, dsb.
Saweak adalah areal yang dijadikan sawah aktif masyarakat.
Sadie: Pemukiman
Talang: Kelompok Pondokan di Kbun 
Hak Milik Individu atas Kbun dan Saweak diperoleh dengan membuka lahan pertama kali oleh nenek moyang dan diwariskan secara lisan. Pada tahun 1959an beberapa tanah sudah dibuat surat tanah.

Peralihan Hak Milik Individu pada zaman dahulu dapat dilakukan dengan cara Barter dengan barang-barang seperti Jaring, Bubu, Hewan, Kain, dsb. Peralihan Hak Milik Individu itu dilaksanakan secara lisan.

Di masa kini, peralihan hak milik individu dilakukan dengan cara jual beli. Baik warga masyarakat maupun luar masyarakat dapat membeli lahan di wilayah adat Lubuk Kembang. Jual beli lahan dilakukan di atas surat jual beli tanah dengan mencantumkan batas, luas, dan lokasi tanah.

Terdapat beberapa sistem pengelolaan wilayah. Pertama adalah cara gadai. Jika pemegang gadai (pemegang hak kelola sementara) yang menanam tanaman, maka hasil dimiliki olehnya seluruhnya. Namun, jika pemilik yang menanam di lahan gadai, maka hasilnya akan dibagi dua. Jika pemilik tidak mengelola tanah gadai maka pemilik tetap harus membayar sejumlah 50% hasil tanaman di atas lahan atau mempersilahkan pemegang hak kelola untuk mengelolanya.

Adapula sistem kontrak yang tidak berbeda dengan sistem gadai kecuali dalam konteks pengembalian uang dan durasi peralihan hak kelola. Jika sistem gadai ada pengembalian uang gadai tanpa durasi tertentu sedangkan sistem kontrak memberikan hak kelola kepada pihak yang mengontrak tanah hingga batas waktu yang disepakati.

Selain itu, anggota masyarakat juga dapat meminta/ menumpang untuk mengelola kebun milik orang lain. Hal itu disepakati secara lisan. 

Kelembagaan Adat

Nama Kutei Lubuk Kembang yang kemudian berubah menjadi BMA Lubuk Kembang
Struktur Struktur kepengurusan lembaga adat di Lubuk Kembang berubah-ubah sesuai dengan PERDA tentang BMA yang ada. Saat ini (2018) strukturnya meliputi: - Ketuai BMA - Wakil Ketuai BMA - Pengurus BMA Ketuai BMA dipilih dengan melalui penunjukan 3 calon oleh Kepala Desa, Ketiga calon tersebut berembuk untuk menentukan ketua BMA. Periode jabatan dalam BMA mengikuti suksesi pemerintahan desa.
Ketuai BMA:
- Pengambilan keputusan bersama dengan kepala desa/patai Sadie terkait segala urusan.
- Memimpin peradilan adat.
- Bertanggungjawab dalam pelaksaan ritual/tradisi adat.
Wakil Ketuai BMA:
- Mengurus administrasi
- Mengurus keuangan
Pengurus BMA:
- Membantu Ketuai BMA dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 
Basen/Musyawarah di beberapa tingkatan yaitu Antar-Keluarga, Tingkat Dusun, dan Tingkat Desa/Sadie. Basen memiliki beberap tujuan yaitu: 1. Diskusi pelaksanaan tradisi/ ritual (Perkawinan, dll), 2. Penyelesaian sengketa/perselisihan, 3. Peradilan Adat, 4. Pengambilan keputusan terkait segala urusan, dan lain-lain. Pihak-pihak yang hadir pada Basen-basen di tiap tingkatan itu mengikuti pihak-pihak yang sesuai dengan tingkatan dan dianggap perlu untuk hadir di dalam Basen tersebut. 

Hukum Adat

Pada zaman dahulu, Tanaman yang jadi batas antar lahan maka keberhakan hasil tanaman itu mengikuti ke arah mana buah/hasil lain itu condong/masuk. Sebagian saja yang saat ini memegang aturan ini.

Pada zaman dahulu, di wilayah dengan kemiringan tidak boleh dibuka untuk mencegah longsor dan juga areal sekitar sungai hingga berjarak 10 meter (dari tepi sungai), jika melanggar maka dikenakan sanksi sosial (dikucilkan). Namun, kini sudah tidak lagi berjalan karena lahan wilayah semakin sempit.

Ada pemahaman bersama untuk menanam tanaman keras (Berkayu) sebagai batas antara lahan. Adapula tanaman keras (Berkayu) seperti Bambu, Sengon, Juar, Cangkring (berduri dan tidak), Petai Cina, dll. yang sengaja ditanam untuk menaungi tanaman kopi.

Keputusan yang memungkinkan adanya perubahan tutupan vegetasi atau peralihan hak milik tanah dengan luasan yang besar, maka dibawa terlebih dahulu ke musyawarah tingkat Sadie. Hasil dari musyawarah itu mengikat seluruh warga. 
Pada zaman dahulu, dilarang mencuri di kampung, bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi berupa diarak keliling kampung sambil membawa hasil curiannya. Namun saat ini berlaku hukum positif.

Dilarang berselingkuh dan Berzina, bagi yang melanggar maka dikenakan sanksi “Punjung Mateak” yaitu membayar 1 ekor kambing atau 1 ekor ayam biring (berwara kuning), beras, dan rempah-rempah. Untuk kasus perselingkuhan ditambah dipukul pakai lidi daun kelapa hijau. Kedua pelaku harus meminta maaf ke tokoh-tokoh masyarakat untuk kemudian merekalah yang mencambuk pelaku itu.

Cepalo Tangen: Dilarang merugikan orang dengan tangan (pelecehan atau perkelahian), jika dilanggar maka dikenakan sanksi yaitu Punjung Mateak ditambah denda uang senilai yang disepakati oleh kedua pihak melalui pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Kaki: Dilarang masuk ke rumah/kamar orang tanpa izin, jika dilanggar maka dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mato: Dilarang mengintip orang (Istri, anak gadis, dll.), jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.

Cepalo Mulut: Dilarang memfitnah, mengancam, dan menghina orang lain, jika melanggar dikenakan sanksi berupa denda uang senilai kesepakatan dan pertimbangan dalam musyawarah.
Dilarang membunuh, jika melanggar maka dikenakan sanksi berupa denda penuh berupa uang 25 juta dan Punjung Mateak.
Dilarang membawa lari anak orang (Kawin Lari/Bemaling), bagi yang melanggar dikenakan sanksi berupa 1 ekor kambing dan Punjung Mateak.

Mengacu pada Perda Hukum Adat Kab. Rejang Lebong tahun 1987 tetapi belum ditegakkan dengan maksimal. 
Pada tahun 1985 pernah terjadi penerapan hukum adat di karenakan ada seorang warga lubuk kembang Melakukan kawin lari ( Bemaling ). Sesuai hukum adat yang berlaku di Sadie lubuk kembang dengan memotong 1 (satu) ekor kambing dan Punjung mentah. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi, Ubi, Jagung, Singkong, dll. Protein Nabati: Kacang Tanah. Protein Hewani: Ayam, Kambing, Sapi, Kerbau, Bebek, Itik, Sungai: Ikan Tidin, Ikan Putih, Ikan Baung, Ikan Nila, Ikan Puyuh, Udang, Belut, Ikan Mas, Ikan Tiluk, Ikan Kepyoa dsb. Sayuran: Daun Singkong (Katubek), Pucuk Sayur Manis (Sejenis Kol), Pucuk Lumai, Genjer, Kangkung, Terong, Timun, Pakis, Kacang Panjang, Kacang Buncis, Pucuk Kates, Jengkol, Petai, dll. Buah: Pisang, Kelapa, Nangka, Kates, Duku, Rambutan, Durian, Alpukat, Sirsak, Mangga, Belimbing, Jambu Telung (Jambu Biji), Slukut, Kisip, dsb.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Jahe (Merah dan Putih) untuk obati Panas Dalam. Brotowali untuk obati malaria. Bawang Putih untuk obati masuk angin (dibakar dan dimakan). Rumput Kerak yang direbus untuk obati wasir. Selaseak (selasih) untuk obati panas dalam. Kunyit dan sedikit kapur untuk obati infeksi usus/maag, sariawan, dll. Jeruk nipis, bawang merah dan sedikit gula, dan sirih untuk obati batuk.
Papan dan Bahan Infrastruktur Rumput Beling untuk obati batu ginjal (direbus dan minum). Lidah buaya untuk rambut Beras untuk jadi bedak
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, Lengkuas, Jahe, Lada, Cabe, Bawang Daun, Jeruk Lemeu, Pala, Kayu Manis, Daun Salam, Daun Sereh, Daun Sirih, dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Padi, Lada (Sahang), Cokelat (Kakao), Buah-buahan (Durian, Mangga, Alpukat, Pisang, dll), Jengkol, Pinang, Kambing, Ayam, Sapi, dll.