Wilayah Adat

Gelarang Nancur

 Terverifikasi

Nama Komunitas Teno Mese
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Elar Selatan
Desa Teno Mese
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 851 Ha
Satuan Gelarang Nancur
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Berbatasan dengan Benteng Pao dengan batas berupa Wae Woza, Ulung Wae Peuas, Tonggo Rengging, Wae Sare
Batas Selatan Berbatasan dengan Lando dan Renden dengan bentuk batas berupa Kejek, Wae Anung, Desa Benteng Pao, Wae Woza
Batas Timur Desa Gising, Wango Kampung Lam, Wae Wit, Wae Ten, Wae Basi, L Bajo.
Batas Utara Berbatasan dengan Wilayah adat Rana Gapang dengan batas berupa Wae Linang Pitas, hingga Wae Ten

Kependudukan

Jumlah KK 151
Jumlah Laki-laki 800
Jumlah Perempuan 333
Mata Pencaharian utama Bertani (kopi, padi) Ternak (kambing, babi, kerbau, kuda)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada tahun 1700-1800 komunitas tenomese tinggal kampung golo wuk yang merupakan kampung lama. Dari Golowuk lalu pindah ke kampung pau dan geok, karena di pau dan geok sempit dan tidak bisa untuk tinggal banyak orang, maka mereka berbagi. Ada yang ke mimor, ke nancur, rii mese, mari ke weru, Payt. Alasan perpindahan dari Golowuk dan pau dan geok pada waktu itu terjadi perang dan terjadi perebutan wilayah akhirnya mereka memutuska untuk pindah ke pauk dan geok. Setelah sampai di pauk dan geok ada gangguan angin, dan juga tempat untuk membuka pemukiman kecil dan banyak masyarakat yang meninggal akibat wabah penyakit maka pindahlah mereka ke ke mimor, ke nancur, rii mese, mari ke weru, Payt secara menyebar dan bersamaan. Tetapi untuk wilayah hokum adat masih berada dibawah kekuasaan nancur dengan ritual yang sama dan adat istiadat yang sama. Akhirnya mereka memilih untuk menetap. Apabila yang di panwaru tetap di panwaru. Sedangkan yang di tano mese tetap di teno mese. Panwaru merukapan desa pemekaran pada waktu pelaksanaan desa gaya lama. Setiap wilayah dipimpin dari orang/ suku nancur. Dari nancur, riton dan rii mese ini masih dalam satu kesatuan. Karena jarak nancur dengan riton jauh maka tuan tanah nancur diberi kuasa kepada orang riton sebagai tua teno untuk menjaga 12 Lingko disini (lingko panwatu dan egolandang diklaim oleh TWA). Semua teno-teno yang ada sekarang merupakan dari nancur. Di nancur kepemimpinan ada 2 yaitu gelarang dan tuan tanah. Tuan tanah memiliki lahan dari Golowuk sampai sungaiwae. Dari taun tanah baru ada teno. Semua lingko-lingko mendapat dari nancur yang diber kuasa kepada mimor dan rii mese untuk menjaga tanah itu. Tanah yang luas kemudian dibagi-bagi kembali oleh teno.
Memutuskan untuk menetap terjadi pada zaman colonial belanda dan juga sesudah Indonesia merdeka. Pada zaman belanda: ada mimor, ada kajan, payt, ada weru, lando, dan mari. Tetapi penempatan kampung setelah Indonesia merdeka ada di kotawatu, Pelai, lai dan kebok lanju, dan lambu.
Kampung riton: sebelum memutuskan untuk menetap sebelumnya komunitasnya berada di nancur. Jadi perpindahanya dari nancur langsung menetap disini. Nancur tetap di nacur dan mimor tetap dimimor. Pola hidup setelah menetap di kampung masing-masing ada perubahan dalam cara orang bercocok tanam dengan membuka lingko-lingko tersebut. Sebelumnya mereka nomaden. Ada yang berburu, dan juga mencari ikan di sungai sedangkan ada yang di padang. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman orang mulai untuk bercocok tanam. Artinya tidak lagi menggantungkan hidup dan alam. Tanaman yang pertama kali ditanam: padi, jagung, kacang-kacangan, ubi dan juga berburu. Sampai saat ini pun masyarakat masih berburu hanya saja pada musim-musim tertentu saja. Biasanya dilalkukan pada saat habis pane nada jeda waktu untuk menanam pada saat itulah dimanfaatkan untuk berburu dan lebih banyak ke padang. Pada saat itu belum ada tanaman kopi yang masuk ke komunitas. Kopi masuk pada tahun 1945 yang pada waktu itu ada istilah kopi panglima. Pada waktu itu ada intruksi untuk menanam kopi panglima. Selain itu pada zaman setelah kemerdekaan muncul tanaman perkebunan karena sebelumnya hanya bercocok tanam tanaman ladang atau musiman. Setelah memutuskan untuk menetap, masyarakat langsung memutuskan untuk membuat pemukiman.
Pada zaman penjajahan jepang, banyak perempuan-perempuan dari komunitas pergi ke potak kecamatan sambirampas untuk menanam kapas. Perempuan tersebut dipilih dari setiap kampung diperintahlah mereka pergi ke potak untuk menanam kapas. Ternyata yang terjadi pada waktu itu mereka pergi bukan untuk menanam kapas. Tetapi malah dijadikan istri oleh serdadu-serdadu tentara jepang. Namun terjadi keajaiban pada waktu itu perempuan yang berasal dari nancur tidak sampai pada tempat sasaran tersebut.
Pada zaman belanda tidak ada peristiwa penting yang terjadi, hanya mereka berpatroli saja. Sampai pada penetapan PAL 32. PAL 32 adalah PAL yang dibuat oleh Belanda yang pada waktu itu merupakan Kawasan hutan tutupan. Masyarakat tidak boleh untuk mask dan beraktivitas di sekitar Kawasan itu. Pada saat ini masyarakat menurut dan tidak berani melawan.
Ajaran agama baru mulai masuk sejak tahun 1925 khususnya agama khatolik. Agama khatolik dibawa dari Larantuka karena pengaruh Portugal. Penyebaran ke pribumi lebih banyak pengaruh dari larantuka. Pada tahun 1912 masyarakat sudah memeluk agama yang disebarkan dari larantuka. Sebelum agama masuk mereka memuja roh leluhur dilakukan di dua tempat yaitu di Golowuk tempat kampung lama, karena tempat tersebut jauh kurang lebih 10 km dari kampung ini maka pindahlah ke likantelu. Tempat pemujaannya disebut dengan nambe. Dalam nambe terdapat lobang yang sebelumnya disirami lalu dimasukkan kerbau disana. Pada saat ajaran agama sudah masuk, masyarakat masih tetap menjalankan ritual adatnya. Sehingga ajaran agama berjalan seiringan dengan ritual adat yang ada.
Gereja dibangun untuk pertama kalinya pada tahun 1925. Yang membangun pastor yang berasal dari belanda. Setelah itu ada pastor dari polandia yang juga membangun gereja di komunitas ini. Pastor dari polandia ini tinggal di komunitas selama kurang lebih 25 tahun. Yang bernama frater Stevanus Bross. Yang dilakukan dsana beliau Bersama masyarakat untuk menggali jalan.
Sebelum di sahkan menjadi desa, teno mese menjalankan pemerintahan desa gaya lama. Dimana pemerintahan desa berada dibawah gelarang. Pada masa orde lama system pemerintahan adat masih berlaku. Setelah tahun 1965 barulah ada penyebutan desa untuk seluruh nusantara, tetapi dari tahun 1979 desa gaya baru baru masuk di flores. Bentuk kepemimpinan desa gaya baru ada pimpinan yang disebut dengan kepala desa dan struktur pemerintahnya. Pada zaman pemerintahan desa gaya lama, calon kepala desa harus menghadap gelarang untuk mendapatkan arahan dan minta restu untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Sedangkan pemerintahan desa gaya baru pelaksanaannya sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku. Dengan adanya undang-undang itu maka desa menjadi independent sudah tidak dibawah gelarang lagi. Dan juga tidak perlu lagi meminta pendapat kepada gelarang.
Pada masa pemerintahan desa gaya lama, kabupaten manggarai dibagi menjadi hamente-hamente atau kedaluan. Ada dalu biting, ada dalu rembong, ada rajong, congkar, waledak, reok. Gelarang yang ada pada waktu itu Cuma 1 dari keturunan nancur. Setelah terjadi perubahan kepemimpinan desa gaya lama ke desa gaya baru ada perubahan yang terjadi, desa mengatur pemerintahan sendii sedangkan gelarang hanya mengurus keadatannya. Fungsi gelarang pada waktu itu memimpin teno-teno yang ada. Setiap teno wajib 1 moso Garapan wajib bayar upeti ke gelarang. Yang istilahnya “kasiwiang” setiap 1 moso hasilnya harus dibawa ke gelarang. Sebutan untuk ketua gelarang pada waktu itu adalah “Kraeng”. Tetapi yang terjadi sejak terbentuknya desa gaya baru “kraeng “ ini sudah tidak berfungsi lagi. Sejak terbentuknya desa gaya baru, ada undang-undang kepemerintahan sehingga Kraeng ini sudah tidak berfungsi atau powernya hilang.
Hubungan Kraeng dengan tua teno maupun tua golo pada waktu saling berkoordinasi. Apabila akan melakukan musyawarah adat wajib memberitahukan kepada kraeng. Tetapi yang terjadi saat ini sudah tidak wajib lagi karena kewenangan berada pada tua teno dan tua golo.
Pemasangan Patok pilar TWA terjadi pada tahun 1993. Yang melakukan pemasangan oleh Pemerintah dan masyarakat sebagai pekerja dengan mendapat upah. Pada saat ini ada juga masyarakat yang melakukan penolakan yang dikoordinir oleh mantan kraeng itu. Respon masyarakat terhadap TWA pada waktu itu ada upaya adat untuk menolak. Karena ini urusan pekerjaan yang mengikuti perintah atasan untuk memasang patok pilar batas maka itu harus dilakukan. Setelah pilar terpasang ada sosialisasi yang dilakukan bahwa dimana wilaayh yang dipasang pilar sudah tidak boleh lagi dimasuki oleh masyarakat, dan masyarakat juga tidak boleh lagi mencari madu, rotan dan hasil lainnya. Dari situ mereka baru tau resikonya karena sebelumnyab tidak ada sosialisasi sebelumnya hanya disuruh masang pilar saja.
Tahun 2001-2002 masyarakat baru menyadari, kalau melakukan pergerakan sediri pasti tidak akan mampu. Untuk itu perlu berkoordinasi dengan beberapa LSM yang ada yang mempunyai visi untuk mengadvokasi persoalan ini karena pada waktu itu ada intimidasi dari apparat TWA kepada masyarakat bahwa apa yang sudah mereka tanam harus dicabut. Ini terjadi pada tahun 2002-2003. Jenis tanaman yang sudah ditanam itu kopi, pisang itu semua harus dicabut. Respon dari masyarakat pada waktu itu ada yang menurut untuk mencabut ada juga yang melawan. Sampai saat ini tidak ad alai intimidasi yang dilakukan oleh pihak TWA sejak ada tragedy berdarah di colol. Hanya saja mereka datang untuk mengecek patok-patok batas yang masih ada, yang beberapa patok sudah dirusak oleh masyarakat.
Penamaan local yang ada saat ini merupakan pemberian dari nenek moyang sebelumnya dibuatkan acara napok. Denan cara membelah pinang. Apabila satu terbuka dan satu tertutup maka itu berarti cocok dan bisa dilakukan, tetapi apabila sama-sama terbuka atau tertutup berarti tidak cocok dan harus diualang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Komunitas Teno Mese dalam membentuk ruang hidup berlandas pada 5 (lima) unsur, yaitu:
1. Uma bate Duat: lahan pertanian, lingko / tanah persekutuan adat sebagai sumber kehidupan dan kebutuhan sehari dan sumber makanan.
2. Wae Bate Telu: air salah satu unsur kehidupan yang dipakai untuk keperluan mandi, cuci, minum, dan mengairi lahan, sawah yang membutuhkan air.
3. Beo bate Lontoh: kampung halaman sebagai pemukiman
4. Baru bate Kaeng: rumah sebagai tempat tinggal.
5. Natar Bate: halaman untuk bermain juga untuk melakukan ritual adat dan aktivitas lainnya termasuk pertunjukan tarian-tarian adat.

Adapun pembagian ruang yang ada adalah sebagai berikut:

1. Pong Sengit: areal yang dilindungi (tidak boleh ada penebangan kayu) yang didalamnya terdapat pohon-pohon besar, tempat keramat dan sumber mata air.

2. Pong Tonggoringging: areal yang dilindungi (tidak boleh ada penebangan kayu) yang didalamnya terdapat pohon-pohon besar dan rana mese (danau didalam hutan)
3. Puar/bekas ladang/bekas kampung: Bekas kampung atau bekas ladang yang sudah berupa hutan karena banyak pohon-pohon besar yang hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakart.

4. Satar: Areal padang rumput yang digunakan sebagai tempat pengembalaan ternak.

5. Uma: Areak kebun yang saat ini masih digunakan oleh masyarakat untuk bercocok tanam, baik itu tanaman kayu maupun tanaman buah-buahan. Dalam uma terdapat lingko, dimana 1 lingko terdiri dari 8-10 orang. Adapun nama-nama lingkoyang ada adalah sebagai berikut: kae, masak, bajo, kator, pinggang, namut, riton, lengor, pamor, panwatu, egoladang, siyeng.

6. Galung: areal persawahan yang ditanami padi dan tanaman jens palawija lainnya.

7. Alo: Sungai yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat.dalam sungai terdapat mata air: wae mese, wae raut, wae kator.

8. Beo: Perkampungan/pemukima. Di Beo terdapat bangunan/sarana prasarana seperti rumah pendudk, kantor desa, gereja, sekolah, pustu, tempat ritual.

 
Sistem Penguasaan lahan di Teno Mese menggunakan konsep konsep berupa “Gendang One Lingko Peang” yang artinya “Kampung di dalam dan Ladang di luar” diatur oleh Tua Teno. Untuk memperoleh Lingko ini warga dapat memintanya kepada Tua Golo dan Tua Teno.
Sistem pengelolaan wilayah di Komunitas Teno Mese ada yang dikelola secara Komunal dan Individu. Adapun lahan yang dikelola secara Komunal seperti: Pong Sengit, Pong Tonggoringging, Satar, dan Alo. Sedangkan lahan yang dikelola secara Individu seperti: Beo, Uma, dan Galung.
Pembagian tanah hanya terjadi ketika tanah masih luas dulu. Pembagian lahan garapan untuk membuka kebun. Saat ini sekalipun tidak lagi buka kebun tapi ritual adatnya tetap berjalan. Untuk menentukan pembukaan lahan baru, yakni dengan melakukan bot dengan buah pinang. Bilah saat bot pinangnya terbuka berarti kebunya harus pindah.

 

Kelembagaan Adat

Nama - Lembaga adat Beo Riton - Lembaga adat Beo Nancur - Lembaga adat Beo Mimor
Struktur Tua Teno (Kepala Hakim Adat) Tua Golo (Kepala Kampung) Tua Panga (Kepala Suku) Tua Kilo (Kepala Keluarga)
1. Tugas Tua Teno: menyelesaikan masalah tanah, membagi tanah, melaksanakan acara-acara adat.

2. Tugas Tua Golo: Mengayom dan membimbing masyarakat adat Paang olo ngaung musi, Bersama Tua Teno dan Tua Panga melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan adat, Bersama Tua Teno dan Tua Panga menyelesaikan permasalahan sosial maupun sengketa lahan.

3. Tugas Tua Panga: Memimpin masyarakat di tingkat panga, menyelesaikan permasalahan di tingkat panga.

4. Tugas Tua Kilo: Memimpin Keluarga Besar
Membantu urusan yang berkaitan dalam lingkup keluarga besar (kelahiran, perkawinan, dan kematian)
 
Melalui Lonto Leok atau Musyawarah Mufakat yang dihadir oleh unsur-unsur adat sesuai dengan tingkatan Lonto Leok yang dilakukan di rumah gendang
Adapun tujuan dari Lonto Leok bagi Masyarakat Adat Teno Mese antara lain: Menyelesaikan sengketa dan permasalahan secara adat, Mengadakan suatu peradilan adat, Membahas pernikahan (di tingkat Kilo), dan lain-lain. Setiap melaksanakan Lonto Leok diawali oleh pembicaraaan awal dengan memegang Tuak dan rokok. Keputusan yang sudah diambil wajib untuk dilaksanakan dan tidak boleh dibatalkan. Istilah ini disebut dengan : “Wae ilur atawangiang nikalaik kole”

 

Hukum Adat

1. Di Pong Sengit tidak boleh menebang kayu, dan dilarang berburu. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat berupa babi, tuak, rokok, ayam, kambing.
2. Di Pong Tonggoringging tidak boleh mencemari mata air yang ada. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat berupa babi, tuak, rokok, ayam, kambing.
3. Apabila akan masuk Puar harus seizin Tua Teno. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat berupa uang, ayam, tuak, rokok.
4. Melepas ternak di satar harus dilakukan dari bulan juni – oktober, sedangkan pada bulan November – mei ternak tidak boleh dilepas di satar dan harus diikat di lahan masing-masing. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat sesuai dengan kerugian tanaman orang yang dirugikan.
5. Tidak boleh bercocok tanam dikebun orang tanpa seizin pemiliknya. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat berupa: uang, ayam, tuak, rokok.
6. Dalam pembagian air di sawah harus sama/mendapat giliran yang adil, Untuk mulai mbercocok tanam harus mengikuti musyawarah yang sudah ditetapkan oleh Tua Teno, tidak bisa menggarap sawah orang tanpa seizin pemiliknya. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat berupa: uang, ayam, tuak, rokok.
7. Tidak boleh melakukan penebangan pohon di pinggir sungai, tidak boleh mengambil ikan di sungai memakai bahan-bahan kimia. Apabila dilanggar dikenakan sanksi/ denda adat berupa: uang, ayam, tuak, rokok.
 
1. Apabila terjadi pencurian dikenakan denda sesuai dengan besar kecinya pencurian. Apabila kecil didenda berupa ayam, uang, tuak, rokok. Sedangkan apabila besar dedenda berupa: sapi, ayam, kuda kerbau.
2. Apabila terjadi pembunuhan pihak adat langsung menyerahkan kepada pihak yang berwajib untuk diselesaikan secara hukum.
3. Tidak boleh melakukan perkawinan dengan saudara sedarah atau dalam satu keturunan, Tidak boleh melangsungkan perkawinan dengan orang yang masih ada ikatan perkawinan sebelumnya. Apabila dilanggar kedua belah pihak akan disifang adat dan dijatuhkan denda sesuai dengan kesepakatan, biasanya berupa: kain, uang, ayam, kerbau dan kuda.
4. Apabila dalam keluarga ada yang baru melahirkan wajib melakukan ritual waung. Bila itu anak pertama wajib melaksanaan irong. Pada saat pelaksanaan irong ada masyrakat yang melanggar maka akan didenda berupa uang, ayam, tuak, rokok.
5. Aturan adat tentang kematian (Rendut mata kemu mozon)
Apabila dalam kematian salah satu pihak tidak menyampaikan kepada keluarga yang bersangkutan, maka pihak kelurag dapat menuntut secara hukum dan adat menjatuhkan denda berupa kuda, kerbau dan uang.
 
Setiap pelanggaran dikenakan denda sesuai dengan tingkat pelanggarannya, yaitu pelanggaran kecil dikenakan denda berupa ayam, babi, beras, kain, tuak rokok. Pelanggaran menengah dikenakan denda berupa kuda. Sedangkan pelangaran besar dikenakan denda berupa kerbau. Dalam setahun terakhir ini belum ada kasus yang diselesaikan oleh Lembaga adat. (belum ada pelanggaran adat) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: woja (padi), daeng (singkong), latun (jagung), teko (keladi), tete (ubi jalar), Protein Nabati: koja (kacang tanah), kedelai Protein Hewani: babi, ayam, kambing, kuda, kerbau, sapi, anjing, kepiting, katak, Sayur-sayuran: buncis, kacang Panjang, labu, daun singkong, daun papaya, bayam, selada kangkong, kol, kucai, daun kastela, Buah-buahan: papaya, pisang, manga, nenas, jeruk, Nangka, markis, jambu biji, alpukat, limau
Sumber Kesehatan & Kecantikan Wunis/kunyit: untuk sakit perut Halia/jahe: untuk sakit pinggang Serei: lastiu: untuk obat gatal-gatal Pucuk daun jambu: obat sakit perut Binahong: obat pusing Ndingar/kayu manis: obat untuk sakit perut Welu/kemiri: obat flu, luka, minyak urut, mintak rambut Sambi poso: obat flu, sakit perut, sakit pinggang, luka, sakit kepala Jarak/pandu: obat sakit perut Toroburah: obat sakit giggi Bunge Lengkeh: obat sakit gigi, obat sakit perut Legi: obat luka
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang: Kayu loloangin, wugar, rukus, ngasar, rewu, ratun, damuh, ngelong, mahoni Papan: azang, lumung, niton, lebak, ngelong, sengon Atap: Alang-alang:, ijuk, anyaman bambu
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Lengkuas, kunyit, merica, halia, serei, salam, pala, ketumbar, jinten
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Cengkeh, Pinang, Kemiri, Vanili, Merica, Coklat

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No.1 Tahun 2018 tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat No.1 Tahun 2018 tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen