Wilayah Adat

Marga Ogoney

 Teregistrasi

Nama Komunitas Komunitas Masyarakat Hukum Adat Marga Ogoney
Propinsi Papua Barat
Kabupaten/Kota TELUK BINTUNI
Kecamatan Merdey
Desa Mear
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 21.211 Ha
Satuan Marga Ogoney
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Jembatan Rotan, Gunung Markeita, Kayu Besi, Kali Meyosa,/Kali Biru, Kampung Masyeta Pusat, Kampung Meigera
Batas Selatan Kampung Meyoijs, Kampung Meyom, Kampung Massih, Kampung Menesba, Muara Kali Meyomderey, Kampung Mowitka, Gunung Mowiger, Biscoop, Kali Sebyar, Jalan Biscoop, Kali Pamali, Gunung Moyang, Gunung Mosedewei, Gunung Asmorom
Batas Timur Gunung Asmorom, Kali Dahawei, Gunung Boho, kali Dowei, Jalan HPH, Gunung Meyesga, Gunung Mesokoj, Kali Cu, Gunung Moskuga, Kali Sebyar
Batas Utara Kampung Mesomda, Gunung Oimun, Makofof, Gunung Masmafews, Gunung Masmafef, Gunung Mofretwef, Kampung Mosoima, Kampung Memejem, Kampung Mendesba

Kependudukan

Jumlah KK 887
Jumlah Laki-laki 449
Jumlah Perempuan 438
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Ogoney adalah moyang perempuan dan Inseijom adalah suami dari moyang Ogoney mereka berdua adalah pasangan suami istri yang hidupnya harmonis,pasangan ogoney dan inseijom dikaruniai satu anak yang bernama ingukur dan mereka berdomisili diulayat meyom,mogromus,meyejga,massy,merdey.
Pekerjaan pokok mereka adalah meramu dan berkebun. Karakteristik dari Moyang/Marga Ogoney adalah menjunjung tinggi nilai kasih, berkebun dan membangun rumah tanpa merusak hutan disekitar nya. Keberadaan Marga Ogoney sudah berada pada jaman dahulu kala, berdasarkan data sosial yang kita peroleh bahwa keturunan Marga Ogoney pada saat ini adalah generasi ketujuh Moyang Ogoney Pertama kali tinggal didaerah kali Meyom/Mear kemudian tersebar luas di daerah Moskona
Nama Nenek Moyang Ogoney adalah Meyomined Dalam cerita legenda Moyang Ogoney berubah menjadi batu yang berbentuk seperti kemaluan perempuan, yang kemudian tersimpan sampai dengan sekarang. Benda / barang penting yang saat ini masih tersimpan oleh generasi Marga Ogoney adalah Batu berada diwilayah Kepala Air kali Meyom, Bambu hutan yang digunakan sebagai sumber api, panah-panah, kain timur, pernik-pernik dalam bentuk manik-manik, gelang tangan yang terbuat dari kulit bia

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Berdasarkan fungsi wilayah adat, terdapat pembagian
ruang adat yang berlaku dalam kelompok marga yaitu moirok
(hutan), mou kene (kebun), dan mouwos (kampung). Di dalam
moirok terbagi lagi menjadi tiga wilayah yaitu marok khuruk
(tempat keramat), moug (dusun buah merah) dan medeuw
(dusun sagu). Marog khuruk tersebar diberbagai lokasi seperti
di hulu sungai meyom, sempadan sungai meyom, kali pamali
dan mowutka. 
Hak milik dari Marga Ogoney hanya ada pada pihak laki-laki, dan turunan kepemilikan akan tetap kepada anak laki-laki pertama/pilihan (yang selalu hidup & bertumbuh dalam lingkungan hutan tersebut), disisi lain hak pakai juga terdapat didalam marga ogoney, contohnya jika anak laki-laki mempunyai peran besar dalam hak kepemilikan maka mereka berhak menentukan siapa yang akan memakai daerah penguasaan mereka sebagai penunjang hidup semasa hidup mereka, dan hal ini berlaku turun-temurun hingga saat ini masih diterapkan dalam kehidupan marga Ogoney.
Ada juga Hak jaga dalam marga Ogoney, dimana Marga ini adalah salah satu marga yang berasal dari daerah pegunungan suku Moskona namun sejak masa penjajahan pemerintah Belanda terjadi persebaran antar anggota marga, sehingga ada beberapa dari mereka yang tidak hanya berada pada wilayah Distrik Merdey karena penyebaran tersebut akhirnya beberapa anggota marga Ogoney hidup bersama dengan marga-marga lain dan diminta untuk menjaga wilayah tersebut.
Aturan tentang pemanfaatan tanah secara khusus untuk kepentingan marga Ogoney adalah tersediannya lahan untuk untuk membuat rumah tinggal, lahan untuk membuat lahan berkebun, lahan untuk berburu, lahan untuk penghasil perekonomian dalam skala besar seperti hasil kayu (kayu besi, kayu matoa, kayu putih, pohon Gaharu, dan pohon merbau).
Aturan tentang pemanfaatan tanah/lahan untuk
kepentingan sosial adalah memberikan lahan untuk jalan
kampung, pembangunan gedung gereja, dan dermaga
masyarakat.

Kepemilikan tanah bersifat Komunal yang berbasis kepada
Marga 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Masyarakat Adat Marga Ogoney
Struktur 1. Tua Marga dari Keturunan (Ivboi) 2. Anggota Marga
1. Tua Marga : Pengambil keputusan setelah dilakukan
musyawarah adat
2. Anggota Marga : Memberikan masuka kepada tua marga
dalam proses pengambilan keputusuan 
Pengambilan keputusan diambil melalui musyawarah (Inn miss
Ergens) 

Hukum Adat

Aturan tentang pemanfaatan tanah secara khusus untuk
kepentingan marga Ogoney adalah tersediannya lahan untuk
untuk membuat rumah tinggal, lahan untuk membuat lahan
berkebun, lahan untuk berburu, lahan untuk penghasil
perekonomian dalam skala besar seperti hasil kayu (kayu besi,
kayu matoa, kayu putih, pohon Gaharu, dan pohon merbau).
Aturan tentang pemanfaatan tanah/lahan untuk
kepentingan sosial adalah memberikan lahan untuk jalan
kampung, pembangunan gedung gereja, dan dermaga
masyarakat.
Aturan tentang pemanfaatan tanah/lahan untuk kepentingan
eksternal yaitu beberapa lahan dari marga ogoney diberikan
kepada pihak luar untuk disewakan. 
Kepercayaan :
Kepercayaan asli masyarakat marga Ogoney dalam
mengelolah hutan mereka dengan sistem ladang berpindah
dan memperoleh hidup dari alam itu sendiri. Hubungan antara marga Ogoney dengan batu yang berbentuk seperti kemaluan
perempuan dianggap sebagai nenek moyang mereka yang
telah ada sejak dulu sehingga dipercayakan sebagai hal yang
mistis dalam silsilah turunan marga Ogoney. Menurut
beberapa tokoh marga Ogoney jika ada marga lain yang
masuk tanpa seijin pemilik marga ogoney ditempat
berdiamnya moyang tersebut maka akan mendapat musibah
berupa hilang ditelan rimba maupun kali sepanjang hutan
tersebut atau dimakan sama buaya.
Perkawinan:
Tata cara perkawinan marga Ogoney adalah pihak lakilaki
mendatangi keluarga pihak perempuan untuk meminang
mempelai perempuan dengan membawakan meiven (kain
timur), mek (babi) 2 -3 ekor, uang tunai sebesar 50 – 100 juta,
gelang besi putih, motois (pusaka), kain cita. Sama hal nya
dengan membayar denda apabila terjadi konflik maka
beberapa barang dan jasa dapat ditukar untuk membayarkan
denda tersebut seperti kain timur, mek (babi), uang tunai,
bahkan penukaran manusia (budak). Dalam tradisi marga
Ogoney anak laki-laki wajib membantu ayah nya untuk
mencari nafkah dalam pemenuhan keluarga, sedangkan anak
perempuan membantu ibunya untuk berkebun dan
menyiapkan makanan dalam keluarga.
Konflik:
Kasus yang sering terjadi antar marga adalah konflik
atas tanah sehingga terjadi perang adat antar kepemilikan hak
ulayat, namun dapat diselesaikan berdasarkan sejarah dan
moyang, akan tetapi tidak menjamin pendapat dari sejarah dan
moyang sehingga diperkuat dengan bantuan tokoh-tokoh
kelembagaan adat, kepala suku dan kepala marga. Karena
masing-masing dari mereka memiliki kewenangan yang dapat
mempermudah dan menjamin terselesainya konflik tersebut 
Contoh dalam penyelesaian konflik. Prosedur dalam
menyelesaikan sengketa/konflik yang biasanya terjadi adalah
dalam betuk musyawarah adat antar maryarakat maupun antar
marga/keluarga. Cara menyelesaikan kasus yang sering terjadi
dengan mengadakan pertemuan dalam bentuk musyawarah
adat dan dihadiri oleh beberapa tokoh-tokoh adat. Tua-tua
marga, maupun pihak yang bersangkutan serta beberapa saksi
dan memberikan sistem ganti rugi berupa uang tunai, kain timur,
dan mek (babi). Dan sanksi yang diberikan apabilah terjadi
konflik lagi maka pihak yang menibulkan konflik tersebut akan
memberikan ganti rugi 2kali lipat dari sebelumnya. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Umbi-Umbian (Ubi Kayu, Ubi Jalar, Keladi) dan Pisang
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun Gatal Gaharu Buah Merah
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Merbau
Sumber Sandang Kulit Melinjo sebagai bahan baku pembuatan Noken
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Minyak Buah Merah
Sumber Pendapatan Ekonomi Penjualan Minyak Buah Merah

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Keputusan Bupati Teluk Bintuni NOMOR 118.4.5/H-10 Tahun 2021 Pengakuan Keberadaan Masyarakat Hukum Adat Marga Ogoney pada Suku Moskona di Kabupaten Teluk Bintuni SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 Inpres Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Prov Papua dan Papua Barat 9 Tahun 2020 Inpres Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Prov Papua dan Papua Barat Nasional  Dokumen
3 Perda TELUK BINTUNI NO 1 TAHUN 2019 Tentang PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TELUK BINTUNI 1 tahun 2019 Perda TELUK BINTUNI NO 1 TAHUN 2019 Tentang PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN TELUK BINTUNI Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen