Wilayah Adat

Kampung Sakaro

 Teregistrasi

Nama Komunitas Masyarakat Adat Kampung Sakaro
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota LANDAK
Kecamatan Sengah Temila
Desa Paloatn
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Kampung Sakaro
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat kampung Paoatn
Batas Selatan kampung Pangapet dan Kabadu
Batas Timur kampung Jalutukng dan Tumahe
Batas Utara kampung Jalutukng dan Ansekng

Kependudukan

Jumlah KK 95
Jumlah Laki-laki 202
Jumlah Perempuan 179
Mata Pencaharian utama Bersawah, berladang, kebun karet, kebun sawit, beternak, pegawai swasta, guru, PNS

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dalam konteks adat Sakaro adalah salah satu kampung yang masuk dalam wilayah binua Soari, dalam adninistrasi pemerintah Sakaro adalah salah satu dusun yang masuk dalam wilayah desa Paloatn kecamatan Sengah Temila kabupaten Landak. Menurut penuturan pak Acis (pasirah Sakaro), orang yang pertama kali tinggal di Sakaro adalah pak Kates atau Idam. Kampung Sakaro diambil dari kata Saka dan Ro. Saka artinya simpang, Ro artinya saparo = separuh. Dikatakan Saparo karena dulu kampung Sakaro terdiri dari 9 orang yang berasal dari kampung Tumahe dan 9 orang berasal dari kampung Paloatn (=18 KK). 9 orang yang berasal dari Tumahe adalah:
1. Pak Ngampuh/Dohat
2. Pak Nyimpan/Juang
3. Pak Unyuk/Rasap
4. Pak Buci/Gombang
5. Pak Iyul/Ninsi
6. Pak Utin/Metar
7. Pak Joto/Ance
8. W. Sareng/Kain
9. Pak Nangkong/Sadang

Sembilan orang yang berasal dari Paloatn adalah:
1. Pak Meban/So’ot
2. Pak Nio/Bulan
3. Pak Pilip/Akin
4. Pak Diram/Penes
5. Pak Paten/Anden
6. Pak Mamak/Nulis
7. W. Sele
8. Pak Iyut/Misuh
9. Pak Pinsen/Jungki

Ke-18 kepala keluarga inilah yang mula-mula menjadi penduduk hingga terbentuk kampung Sakaro. Kepala kampung pertama adalah pak Buci (Gombang) wakilnya Kabayan pak Joto (Ance). Pak Buci diganti oleh pak Pinsen/Jungki wakilnya pak Pilip/Akin. Ketika kampung berubah menjadi dusun, kepala dusun adalah:
1. Supian/pak Maman tahun 1988
2. Yohanes Osot/pak Deden tahun 1988-1996
3. Jani/pak Aju tahun 1996-2014
4. Natalis Namsin/pak Epi tahun 2014-sekarang.

Pada tahun 1983 ada peraturan yang dikeluarkan bahwa kepala kampung hanya mengurusi urusan pemerintahan kampung saja tidak mengurusi urusan adat (hukum adat). Pada tahun 1983 para timanggong binua membentuk pasirah dan pamane (anak raga). Tahun 2016 pak Sinor/Acis B. Dokot dipilih menjadi pasirah, sedangkan pamane atau anak raga adalah pak Nangkong/Ladang. Pak Nangkong meninggal diganti pak Dion/Sau diganti lagi oleh pak Memel/Sabinus hingga sekarang. Per Juni 2016, dusun Sakaro berpenduduk 88 kepala keluarga dengan 375 jiwa.

Menurut cerita versi lain kampung Sakaro sebenarnya dulu bernama Edak, karena di tempat itu ada orang yang singgah di saka mengalami kakaroatn ( kejang-kejang) maka disebutlah tempat itu Sakaro.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kabun gatah atau kebun karet merupakan salah satu usaha produksi yang dimiliki secara perorangan maupun kolektif (keluarga). Kebun karet merupakan salah satu mata pencaharian utama dengan hasil yang diperoleh dapat dijual pada hari itu juga atau berdasarkan kurun waktu tertentu (mingguan, bulanan dan bahkan pada ada yang juga yang menyimpan hasil sadapannya hingga tahunan).
Kompokng merupakan lokasi hutan yang ditanami dengan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi kehidupan masyarakat yang bersangkutan sesuai dengan kearifan tradisional (traditional wisdom) masyarakat lokal/setempat. Tumbuh-tumbuhan itu misalnya berbagai tanaman local seperti tengkawang, durian, langsat, dan lain-lain.
Kampokng adalah areal pemukiman warga
Bancah atau sawah adalah salah satu model atau pola pertanian lahan basah masyarakat yang pengelolaannya dilakukan semi modern.
Sawit terbilang komoditas yang relatif baru di wilayah ini dan ditanam/dikebunkan secara pribadi oleh masyarakat setempat.
Timawakng adalah suatu kawasan yang memiliki aneka jenis tanaman dan buah-buah local, sebagai kawasan bekas pemukiman penduduk (perkampungan) yang karena perkembangan kehidupan atau alasan tertentu tidak ditempati lagi. Oleh karena itu, sebuah Timawakng merupakan bukti sejarah kepemilikan tanah adat yang sekaligus merupakan bukti hak milik atas tanah adat. Seluruh tanaman baik yang ditanam maupun yang tumbuh secara alami di atas tanah adat tersebut, termasuk tanaman obat-obatan alami, garu, tapakng, kelapa, sibo/rambutan, langset, satol, nangka, duriatn, asapm, kemiri, bumbu alam, berbagai jenis rotan, kayu dan bambu, dan lain-lain yang bisa dimanfaatkan untuk menyokong kehidupan, misalnya untuk bahan obat-obatan alami, ramuan bangunan dan alat rumah tangga warga setempat.
 
Sistem Kepemilikan Tanah
Secara adat, kepemilikan atas tanah atau lahan dapat dibagi menjadi 4 (empat), yaitu: Pertama: kepemilikan seko manyeko atau kepemilikan perseorangan/individu maupun satu keluarga. Warga atau keluarga yang membuka tanah, lahan, baik yang masih berupa hutan maupun bukan hutan di kawasan tertentu untuk ladang maupun kebun yang diolah terus-menerus dapat dijadikan dasar kepemilikan tanah dan lahan bagi warga atau keluarga tersebut; Kedua: kepemilikan parene’atn yaitu tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Dan, untuk generasi berikutnya dari warga atau keluarga, kepemilikan tersebut bisa dijadikan dasar bagi kepemilikan tanah atau lahan untuk beberapa keluarga dalam satu keturunan dan keluarga tersebut; Ketiga: kepemilikan saradangan adalah kepemilihan tanah/lahan dengan segala isinya menjadi milik satu kampung tertentu; Keempat: kepemilikan binua adalah kepemilikan tanah atau lahan dengan dengan segala isinya dimiliki oleh beberapa kampung di dalam wilayah kesatuan hukum adat atau binua. Kemudian, berdasarkan keadaan tanam-tumbuh yang terdapat di atas tanah atau lahan, tanah digolongkan sebagai tanah jerami’, pantusatn, pararo’atn, rame tuha, magokng, udas pekarangan (yang dekat dari kampokng), udas palasar palaya’ (yaitu tanah yang letaknya jauh dari kampokng), kompokng/timawakng.

Cara Menguasai Tanah
Cara menguasai tanah, lahan dan hutan pada masyarakat Kanayatn terkait erat dengan sejarah pembukaan hutan oleh leluhur atau generasi pendahulu sehinga hal ini menghasilkan warisan leluhur. Itulah dasar cara penguasaan tanah/lahan, masyarakat Kanayatn memiliki warisan leluhur. Hal ini berlaku terutama pada level keluarga, beberapa keluarga, warga se-kampung hingga warga dalam satu binua. Cara penguasaan tanah di dalam masyarakat Dayak Kanayatn terdiri dari: (1) warisan leluhur; (2) tukar-menukar; (3) Sewa-menyewa; (4) jual-beli. Warisan leluhur. ini lebih longgar berlaku bagi mereka yang tidak lagi tinggal bersama di dalam wilayah adat kampung Sakaro, baik karena mengikuti suami atau isteri atau tinggal menetap di daerah lain karena alasan pekerjaan maupun alasan merantau. Tukar-menukar. Masyarakat Kanayatn mengenal praktik pertukaran (barter) barang, seperti tukar-menukar beras dengan sayur-mayur atau dengan ikan, ayam dengan beras dan sebagainya. Ini masih berlangsung sampai sekarang. Pertukaran ini kadangkala juga berlaku dalam konteks tukar-menukar (penguasaan) tanah/lahan di antara warga setempat. Sewa-menyewa. Sewa-menyewa tanah/lahan dikenal di kalangan masyarakat Kanayatn. Akan tetapi, seorang warga atau keluarga dapat saja mengutarakan keinginannya kepada warga tetangganya untuk membuka ladang atau kebun di tanah/lahan warga tetangganya itu. Seperti biasanya, permintaan sewa-menyewa tersebut diijinkan. Dalam hubungan sewa-menyewa ini tidak ada keharusan bagi hasil antara si penggarap dengan si pemilik tanah/lahan itu kecuali ada pembicaraan sebelumnya. Bagi hasil di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn disebut “tasih”. Jual-beli. Masyarakat Dayak Kanayatn di kampung Sakaro adalah masyarakat yang terbuka dan dinamis. Oleh karena itu, penduduk tidak luput dari pengaruh ekonomi uang. Keadaan demikian membuka peluang bagi warga kepada hubungan jual-beli tanah meskipun bisa dikatakan hanya segelintir warga yang melakukannya. Pengaruh ekonomi uang, bila tanpa kendali yang bijaksana bisa menjadi ancaman bagi kepemilikan tanah dan lahan masyarakat berdasarkan hak ada.
 

Kelembagaan Adat

Nama Binua Soari Dalam konteks adat, kampung Kubu Jalutung bernaung di Binua Soari yang dipimpin oleh seorang Timanggong. Dalam pelaksanaannya ditingkat kampung dipimpin oleh seorang pengurus adat yang disebut Pasirah dan dibatu oleh seorang Pangaraga
Struktur Timanggong Pasirah Pangaraga Masyarakat
Timanggong: adalah pimpinan tertinggi di tingkat Binua yang membawahi beberapa pasirah. Timanggong Menangani perkara adat dengan nilai 5 tahil
(1 tahil = 8 singkap pingatn/piring putih, alasnya jalu dengan jumlah yang disesuaikan)
Pasirah: adalah pimpinan tertinggi di tingkat kampung. Pasirah menangani perkara adat dengan nilai 3 tahil (3 tahil alasnya jalu 20 kg)
Pangaraga: adalah orang yang mendapangi Pasirah dalam menyelesaikan perkara adat, bisa juga menangani perkara ada. Pangaraga menangani perkara adat dengan nilai sabuah siam.
(minimal 1½ tahil & 12½ kg jalu)
 
Bahaupm (duduk bersama untuk bersepakat/musyawarah mufakat) baik dalam permasalahan tingkat kampung maupun parene’atn/keluarga.
Tingkat pertama dengan cara kekeluargaan, jika tidak putus maka kemudian naik ke level kampung/Pasirah dengan sanksi yang sudah ditentukan, tidak selesai ditingkat Pasirah maka penyesesain naik ke Timanggong.
 

Hukum Adat

Pengelolaan wilayah adat harus berdasarkan hasil kesepakatan masyarakat adat di kampung tersebut (kearifan lokal), jika melangar maka akan ada sangsi adat. Misal; tidak boleh menebag pohon diareal hutan yang kepemilikannya komunal tanpa ijin dari Pasirah atau pemangku adat di kampung setemapat. Tidak boleh menuba, menjual hasil hutan keluar tanpa ijin, dll. 
Dalam pelaksanaannya, adat istiadat dapat dibagi sesuai urusannya yaitu adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia Dayak Kanayatn, di antaranya adalah adat kelahiran, adat bababak, adat perkawinan dan adat kematian. Selain itu, ada adat istiadat yang berkaitan erat dengan siklus perladangan dan adat istiadat terkait musim buah.
1. adat patahunan;
2. adat paridup;
3. adat karusakatn/kaseraatn/kamatian;
4. adat kasalahatn;
5. adat patunjuk, teguran, larangan atau pantangan.
 
Pada tahun.... ada perkara adat..... dengan nama sangsi adat... dengan jumlah sangsi adat yang diberikan sebesar... 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi (beras), singkong, umbi, jagung, daging babi, ayam, kambing, sapi, buah durian, lagsat, rambutan, cempedak, manggis, pekawai, pepaya, kamayo, sinto, kalawit, rambe, langir, sukun, kelapa, tampi, barangan, redan, kuranyi, Rebung, daun ubi/singkong, pakis, bermacam jenis umut, bermacam jenis jamur, petai, terong, buah labu, buah perengi, mentimun, daun mentimun, daun labu, daun perengi, kangkung, bayam, sawi, kacang-kacangan, jengkol
Sumber Kesehatan & Kecantikan Jahe, kunyit, sirih, buah pinag, limidikng, tubaakng, kambang bulu, rinyuakng, labatu, kaladi, jirak, sinahe, paku mamaruja, bambadi, tungari, pasak bumi, kumis kucing, kasamibit.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Takam, tengkawang, madang, ubah, keladan, nyato, malaban, pulai, natakng. Sekarang bahan bagunan (rumah, jembatan dll) sudh menggunakan material yang dijual dipasar seperti semen, pasir, paralon, besi dll.
Sumber Sandang Masyarakt sudah menggunakan bahan-bahan yang modern yang didapat dari pasar.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bumbu; jahe, kunyit, lengkuas, asam kandis, daun kandis, tepok, serai, daun salam, cabai
Sumber Pendapatan Ekonomi Bersawah, berkebun karet, sawit, berkebun buah maupun sayur, berternak, tukang, pegawai swasta, guru, PNS

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No. 15 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Kabupaten Landak No. 15 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Kabupaten Landak Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati No 292 2018 Landak_Pembentukan Panitia PPMHA No 292 2018 Landak Pembentukan Panitia PPMHA SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen