Wilayah Adat

Tabam Rae Roo Mana Baho

 Teregistrasi

Nama Komunitas Rae Mana Ro Baho (Masyarakat Hukum Adat Marga Baho Suku Aifat Maybrat)
Propinsi Papua Barat
Kabupaten/Kota MAYBRAT
Kecamatan Aifat
Desa Aisyo
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.916 Ha
Satuan Tabam Rae Roo Mana Baho
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Frahapan, Kali Vasim Berbatasan dengan Marga Kocu; Kali Aisyam, Kali Wair Berbatasan dengan Marga Wafom – Aisyam; Tuhkau Berbatasan dengan Marga Tubur dan Marga Atanay
Batas Selatan Tebing Sosoho berbatasan dengan Marga Atanay dan Marga Faan
Batas Timur Sungai Kamundan, Muara Kali Ainot, Muara Kali Buane dan Muara Kali Aisyam Berbatasan dengan Tanah Adat Marga Assem dan Marga Faan
Batas Utara Fane Mawe, Berbatasan dengan Tanah Adat Marga Kocu, Fane Mawe berbatasan dengan Tanah Adat Marga Safuf Kampung Kumurkek dan Marga Assem Kampung Ainot

Kependudukan

Jumlah KK 56
Jumlah Laki-laki 100
Jumlah Perempuan 88
Mata Pencaharian utama Petani, Berburu, Meramu, tukang/Buruh Lepas dan PNS

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat adat Rae Ro Mana Baho diyakini berasal dari dua leluhur kakak beradik yaitu Main Baho dan Krok Amot yang mencari makan dengan cara berburu, mengumpulkan hasil hutan, dan meramu di beberapa lokasi seperti Lembah Swase, Lembah Emo Aimekot Aya, dan di sepanjang aliran Aya Ayfat. Wilayah tanah mereka menjadi dua bagian yaitu Baho Uu yaitu tanah marga Baho bagian atas yang di tempati oleh Krok Kambot dan Baho Totee yaitu tanah baho bagian bawah yang ditempati oleh Main Baho.

Pada saat itu, leluhur Baho melakukan budidaya beberapa tanaman pangan penting seperti Aof (Sagu), Afa (Daun Gatal), Ubah (Sayur Bambu), dan Awiat (Buah Merah). Di masa lalu, mereka tinggal di Samu yang dibangun di atas tanah dan Harit (Rumah Kaki Seribu) yang berkonsep seperti rumah panggung dengan banyak kayu penyangga. Mereka memiliki kepercayaan kepada yaitu kekuatan di luar kuasa manusia yang disebut Wuon kepada dua kuasa yaitu Shiwa (Keselamatan Nyawa) dan Mafif (Berkat Kehidupan). Di masa lalu, leluhur orang Baho menguasai areal tersebut sebagai orang yang pertama yang lahir dan berkembang di sana melalui bukti pusaka kain timur dan tengkorak leluhur yang diletakkan di Totor. Mereka juga memiliki beberapa tempat keramat yang diyakini sebagai alam tempat berpulangnya roh leluhur yang disebut sebagai Mos yang berjumlah tiga yaitu Moss Anemana, Moss Ske, dan Moss Menis.

Orang-orang Marga Baho di masa lalu hidup berdampingan dengan marga-marga lain seperti Wafom, Kocu, Safuf, Tubur, Atanay, Faan, dan Assem yang juga berasal dari Suku Aifat.
Marga-marga itu saling berinteraksi hingga tidak sedikit terjadi kawin mawin sehingga membentuk suatu jaringan kekerabatan di antara mereka. Meskipun demikian, marga-marga tersebut tetap menghormati hak penguasaan tanah ulayat masing-masing. Bahkan, seringkali antar marga itu saling memberikan bantuan saat terjadi penyerangan dari pihak lawan.

Pada masa kolonial Belanda, orang-orang Baho dipaksa untuk bekerja mengumpulkan hasil bumi getah damar untuk dibawa dari Ayfat ke Ayamaru. Tanah marga Baho saat itu kemudian masuk secara administratif Belanda ke dalam Distrik Fuog. Seiring perkembangan zaman, Belanda memindahkan ibukota distrik dari Fuog ke Distrik Aifat yang berlokasi di Kumurkek. Orang-orang Marga Baho yang hidup bermukim tersebar di tanah marganya dipindahkan secara terpusat ke Kumurkek.

Pada tahun 1960an saat masa peralihan, ada seorang Marga Baho yang dibaptis pertama kali yaitu bernama Daud Baho yang saat itu merupakan Ketua Marga saat ini. Pada sekitar tahun 2018an, diketahui bahwa sebagian Tanah Marga Baho dibebani izin konsesi dari perusahaan Bangun Kayu Irian. Masyarakat adat Marga Baho tidak mengetahui atau tidak dikomunikasikan terkait izin konsesi tersebut. Hingga saat ini belum ada operasi penebangan kayu di Tanah Marga Baho. Untuk itu, masyarakat adat segera mengamankan tanah marganya melalui beberapa langkah yaitu: pemetaan partisipatif, memperoleh pengakuan wilayah adat, dan dalam proses pengusulan hutan adat serta pendaftaran konsep Atrow sebagai konsep kelola lindung yang harus dilestarikan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Ruf adalah areal hutan basah dengan kemiringan landai yang diambil manfaatnya secara bebas baik berupa kayu maupun non kayu dengan tutupan berupa tanaman pohon besar dan tanaman pangan seperti sagu, bambu, enau, dan lain-lain. Ruf juga sebagai cadangan kebun di masa depan.

Riboh adalah areal hutan dengan kemiringan cenderung curam dan dengan tutupan berupa pohon sejenis jambu-jambuan, cemara, gaharu, palem-paleman, dan kelompok-kelompok litocarpus yang dapat diambil manfaatnya secara bebas baik kayu maupun non kayu serta menjadi cadangan kebun di masa depan.

Atrow atau At adalah terjauh/terisolasi dan Row adalah tempat/hutan. Atrow adalah areal hutan yang dilindungi oleh karena terdapat Aya Taef (badan air), Aka Off (dusun sagu), dan Moss (tempat keramat). Selain dilindungi, Atrow juga diambil manfaatnya secara terbatas untuk hasil hutan terutama yang bukan kayu.

Mbair/Tuoh adalah areal pemukiman masyarakat adat dengan pekarangan di sekitarnya.

Ora: adalah areal garapan berupa kebun dengan tutupan lahan berupa tanaman pangan dan tanaman komoditas seperti durian, cempedak, sagu, rambutan, keladi, pisang, dan lain-lain. Adapun bekas kebun yang sudah ditinggalkan disebut dengan Tain.

Masyarakat Adat Marga Baho mengenal konsep Sre yaitu spot-spot hutan dengan tutupan vegetasi yang sama seperti Sre Hyuot (Agatis), dsb.

 
Uraian tentang jenis dan sistem penguasaan dan pengelolaan yang dianut komunitas Marga Baho dalam lingkup wilayah adat yaitu : ·

Tanah Individu: Tanah yang dikuasai dan dikelola oleh perorangan (individu)  Mbair/Tuoh, Ora.

Tanah Arin Ramu: Tanah yang dikuasai dan dikelola bersama-sama dalam satu keluarga/marga, kepemilikan bersama (Komunal)  Atrow (musyawarah bersama atau izin. Panen kelelawar), Tain (bebas pertama buka lahan), Riboh, Ruf.

Tanah Soyak: Tanah yang diperoleh dari hasil tebusan atau pengorbanan sumber daya tertentu kepada pemilik asli tanah tersebut.

 

Kelembagaan Adat

Nama Masyarakat Hukum Adat Marga Baho Suku Aifat Maybrat
Struktur Susunan lembaga adat komunitas yang berkaitan dengan pengabilan keputusan (pemangku adat) Yaitu : 1. Raja/kepala adat (Raa Manes) 2. Tokoh Marga (Raa Ati) 3. Masyarakat Kecil Marga Baho (Raa Kinyah)
Uraian tugas dan fungsi pemangku adat
Contoh:
Raa Manes (Tetua Marga) : Bertugas untuk mengurusi pemerintahan adat serta persoalan sosial dalam Marga Baho
Raa Ati (Tokoh Marga) : Bertugas untuk membantu Raa Manes
Raa Kinyah (Masyarakat Kecil) : Masyarakat Kecil bertugas membantu Raa Ati dan Raa Manes
 
Tata cara yang digunakan oleh komunitas MHA Marga Baho untuk mengambil keputusan (memutuskan suatu permasalahan) yaitu :
Hreen O Sau : Musyawarah adat yang dihadiri oleh Raa Manes, Raa Ati bersama Rae Kinyah dari Marga Baho untuk menentukan Ketua Adat, Waktu Berburu, Waktu Berkebun maupun penyelesaian sengketa/masalah dalam internal marga maupun dengan marga lain di luarnya.
 

Hukum Adat

Sistem Klasifikasi / Tipe Hutan secara Tradisional Oleh Marga Baho Suku Ayfat yaitu :
- Tain : Bekas kebun (hutan sekunder) / tahap suksesi
- Ruf : Hutan dataran rendah kondisi reliefnya ringan sampai sedang dan lahan cenderung basah
- Riboh : Hutan dataran tinggi lahan kering yang reliefnya cenderung kasar atau berat
- Sre : Hutan yang di dominasi atau dicirikan oleh tumbuhan dan jenis hewan tertentu / hutan damar
- Atrow : Hutan terjauh / terisolasi untuk kegiatan perburuan dan meramu hasil hutan (kawasan lindung tradisional)
Contoh :
Sistem Zonasi Adat pada Kawasan Atrow : yaitu Zona Budidaya / Pemanfaatan (Sub Sistem), Zona Larangan (Moss) dan Zona di Luar Kawasan Atrow.

 
Prayarat utama pengangkatan dan penunjukan para pimpinan / Tua Marga (Ra Manes, Ra Popot) harus mampu menjaga harmonisasi nilai-nilai luhur (adat-istiadat) dan dapat beradaptasi dengan nilai-nilai dari luar 
Pemanfaatan atau Kegiatan Sub Sistem di Kawasan Atrow pada Zona Larangan (Moss) yang tidak mengikuti kaidah maupun norma adat yang telah ditetapkan bersama.
Contoh :
Kegiatan menangkap ikan pada Sungai / Telaga Larangan (Moss) , maka yang bersangkutan akan di berikan ganjaran atau hukuman adat berupa pembayaran Kain Timur serta Babi sebagai wujud memperbaiki hubungan dengan para leluhur dan alam sekitarnya.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan - Bahan Makanan yang berasal dari Hewan : Babi (Fane), Rusa (Kak Ita), Kus-kus Pohon (Tiftiah), Ular (Aban), Kelelawar (Wafu), Burung Maleo (Kawia) dan Biawak (Skum). - Bahan Makan yang berasal dari Tumbuhan : Sagu (Aof), Buah Merah (Awiat), Gnemo (Arus), Paku-pakuan/Pakis (main), Jamur Kayu (Apah Katu), Cempedak (Soraf), Sukun Hutan (Nawe), Sayur Bambu (Ubah), Ara (Biah) dan Palem (Wai)
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Daun Gatal (Afa) : Berfungsi sebagai penghilang rasa sakit dan melancarkan sirkulasi darah. - Buah Merah (Awiat) : Berfungsi sebagai suplemen penambah kekuatan dan memperbaiki sistem pencernaan.
Papan dan Bahan Infrastruktur Bahan-bahan dari alam yang digunakan untuk membangun infratruktur (bangunan) yang berkaitan dengan adat-istiadat Contoh : Rumbia / Daun Sagu : untuk atap rumah (adat) Gagar / Batang Palem (Wai) : Batang Pohon Palem untuk lantai rumah adat Tali Rotan (Too Hyuoh) : Sebagai Tali-talian untuk Mengikat Rumah Adat
Sumber Sandang Bahan-bahan dari alam yang digunakan untuk membuat pakaian-pakaian adat Contoh : - Kulit pohon Mutet / Alphitonia : untuk membuat pakaian (adat) - Getah pohon Pawiah / Pala Hutan : Untuk pewarna pakaian Bulu ekor burung Casuari : untuk hiasan ikat kepala
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bahan-bahan dari alam yang digunakan untuk membuat/memasak makanan tradisional Contoh : Pohon Namoo (Prunus Arborea) : Bagian kulit kayu yang digunakan untuk membungkus makanan (daging) sebagai penyedap dan memberikan cita rasa melalui aroma.
Sumber Pendapatan Ekonomi Sumber-sumber yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat adat Marga Baho (komoditi yang ada di wilayah adat berdasarkan hasil Local Use Value (LUV) sebagaimana terlampir dalam Profil MHA Marga Baho) yaitu : Sagu (Aof), Buah Merah (Awiat), Gnemo (Arus), Paku-pakuan / Pakis (Main), Jamur Kayu (Apah Katu), Cempedak (Soraf), Tali Ramuan (Tiak), Bambu Sayur (Ubah), Ara (Biah) dan Gaharu (Acu).

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERDASUS NOMOR 23 THN 2008 TENTANG HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT ATAS TANAH 23 Tahun 2008 PERDASUS NOMOR 23 THN 2008 TENTANG HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT ATAS TANAH Perda Provinsi Daerah  Dokumen
2 Inpres Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Prov Papua dan Papua Barat 9 Tahun 2020 Inpres Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Prov Papua dan Papua Barat Instruksi Presiden Nasional  Dokumen