Wilayah Adat

Masyarakat adat balusu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Masyarakat adat balusu
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota TANA TORAJA
Kecamatan Balusu
Desa LEMBANG PALANGI’ , LEMBANG KARUA , LEMBANG LILI’KIRA’ AO’ GADING, LEMBANG AWAK KAWASIK, LEMBANG TAGARI , KELURAHAN BALUSU. LEMBANG Balusu bangun lipu, Lembang lili kira
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.683 Ha
Satuan Masyarakat adat balusu
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat WA Tikala
Batas Selatan WA Tondon dan WA Nanggala
Batas Timur Kabupaten Luwu
Batas Utara WA Sa’dan

Kependudukan

Jumlah KK 3007
Jumlah Laki-laki 7373
Jumlah Perempuan 6792
Mata Pencaharian utama Petani, peternak, Pegawai PNS /Swasta

Sejarah Singkat Masyarakat adat

5. Sejarah Singkat Masyarakat Adat (Sejarah asal-usul, suku)
Tongkonan Kollo-kollo dibangun oleh Cucu Polo Padang dengan Puang Gading yang bernama Ampang Allo (Randa Langi’ sekitar 350 tahun yang lalu). Tongkonan ini sudah dikenal sejak dahulu sebagai tongkonan Kapuangan (Bangsawan) di Distrik Balusu. Sebagai tongkonan Kapuangan, maka tongkonan ini mempunyai ciri khas seperti KATIK yang berbentuk kepala Naga yang melambangkan kebangsawanan, kebijaksanaan dan keberanian pemiliknya. Tanduk Kerbau yang tersusun pada tiang Tulak Somba’ yang menandakan kemampuan pemilik tongkonan tersebut melaksanakan upacara adat rambu solo’. Selain itu pada tongkonan ini masih ada disimpan benda-benda pusaka, seperti gayang (keris) cincin permata ake’ (Alik) kandaure dan lain-lain. Di depan tongkonan ini dibangun sederatan Lumbung untuk tempat menyimpan padi yang menandakan bahwa pemilik tongkonan ini memiliki talah pertanian yang luas. Diantara lumbung-lumbung tersebut ada satu lumbung yang tersebar di daerah Balusu sampai saat ini. Sederetan lumbung ini menandakan bahwa pemiliknya di daerah Balusu sampai saat yang luas seperti ; Tulak Langi’, Pong Palallung dan lain-lain.
Tongkonan Kollo-kollo, Tongkonan Liungkasaile, Tongkonan Beloraya, Tongkonan Rantewai merupakan tongkonan yang great hubungannya satu sama lain karena pemiliknya adalah merupakan keturunan dari tongkonan Lingkaasaile / Beloraya yaitu Puang Takke Buku.
Keempat tongkonan tersebut diatas, semuanya adalah tongkonan kapuangin dan pada umumnya di daerah Tana Toraja sebuah Tongkonan kalangan bangsawan tidak terlepas dari adanya Rante dan Liang. Apabila ada keluarga dari keempat tongkonan ini yang meninggal maka diupacarakan di Rante Tendan, kemudian makamkan di Liang Tondon.
Gelar Puang di Balusu tidak diberikan begitu saja kepada seseorang tetapi terlebih dahulu di musyawarakan oleh keluarga dan masyarakat Tomantawa Tallu (Lili’na Balusu). Kemudian Puang terebut dinobatkan dalam suatu upacara Massura’ Tallang. Pengngkatan Puang memenuhi beberapa kriteria antara lain :
1. Garis keturunan bangsawan
2. Bijaksana mampu memimpin
3. Kaya
4. Bertanggung jawab untuk mengayomi, melindungi dan memikirkan kesejahteraan rakyat.
Dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Puang mengajak dan memotivasi masyarakat untuk bertani, beternak, memupuk dan memelihara adat dan budaya Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. Salah seorang Puang Balusu yang terkenal pada abad ke-18 ialah PUANG NE’MATANDUNG (=SAKKA’) sebagai Puang Balusu ke-6. Puang Ne’ Matandung terkenal karena kebijaksanaannya dalam memerintah dan keberaniannya dalam melindungi masyarakat Balusu.
Puang Ne’ Matandung yang beristrikan Puang Lai’ Bamba mempunyai 3 orang putri yaitu
1. Lai’ Paga yang kawin denga Pong Sitandeng putra Puang dari Sa’dan
2. Lai’ Pirade’ kawin dengan Opu Balirante (Andi Pangiu’) bangsawan dari Luwu’
3. Lai’ Minangaa kawin dengan kawin Puang Bato’ Limbong putra Puang Pangalinan.

Puang ne’ Matandung bersama dengan kedua menantunya yaitu Puang Bato’ Limbong dan Opu Balirante melawan musuh yang datang dari luar. Opu Balirante membawa persenjataan dari Luwu’ (Mattambukki, Malloso’) dan bala bantuan, memudahkan Puang Ne’Matandung mengalahkan musuhnya. Sejak saat itu Balusu merupakan daerah yang kuat pertahannya dan tidak dapat ditaklukkannya dan tidak daapt ditaklukkan oleh musuh.
Pada tahun 1906 Belanda mendarat di Luwu’ dan memperluas expansinya ke daerah Tana Toraja melalui Balusu pada tahun 1907. Setelah sampai di Balusu Belanda mengangkat Puang Ne’ Matandung sebagai Kepala Distrik Balusu yang pertama yang wilayahnya meliputi : Sanglonga’, Tagari, Malakiri’ Karua, dan daerah Tomantawa Tallu (Buntu La’bi’, Awa’, Kawasik. Solo’, Kalumpang, Mallerara, Lili’kira’ dan Doa’). Belanda mengangkat Puang Ne’ Matandung sebagai kepada Distrik saat itu dengan maksud supaya bisa diajak kerjasama dengan Belanda tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pada waktu pendudukan Belanda di Balusu mereka melakukan tindakan yang semena-mena terdapat rakyat. Melihat tindakan dan perlakuan Belanda seperti ini Puang Ne’ Matandung memberontak melawan Belanda. Puncak pemberontakannya terjadi di Buntu Pia Balusu yang mengakibatkan beberapa pemberani dan rakyat korban karena saat itu Belanda sudah mempunyai persenjataan yang sangat modern. Apabila perlawanan ini dilanjutkan maka akan mengakibatkan korban yang lebih banyak sehingga Puang Ne’ Matandung menyerahkan diri dan ditawan ke Nusa Kambangan pada tahun 1917 kemudian dipindahkan ke Bogor sampai akhir hayatnya. Sedangkan anak menantunya yaitu Puang Bato’ Limbong ditawan ke daearh Tanah Merah = Boven Digul (Irian). Dalam pembuangannya di Nusa Kambangan Puang Ne’ Matandung sempat diadadikan (Foto) bersama dengan beberapa rekannya dalam keadaan tangan yang diborgol.
Pada tahun 1923 jenazah Puang Ne’ Matandung dipindahkan dari Bogor ke Balusu yang kemudian diupacarakan secara adat di Rante Tendan dan disemayamkan dalam kuburan yang sudah dibuat khusus untuk beliau disamping lapangan Balusu. Begitulah kisah perjuangan Puang Ne’ Matandung melawan Belanda namun sampai saat ini beliau belum diakui sebagai pejuang.
Setelah Puang Ne’ Matandung ditawan ke Nusa Kambangan maka kaparengngesan / pemerintahan dijabat oleh putrinya yaitu Lai’ Minanga istri dari Puang Bato’ Limbong. Dalam kememimpinan Lai’ Minanga yang walaupun seoarang wanita namun beliau mampu memimpin seperti ayahnya. Puang Ne’ Matandung arif dan bijaksana. Sekalipun pada saat itu kemimpinan masih langkah dipercayakan kepada seorang wanita beliau mampu menunjukkan dan menyakinkan bahwa sanggup jadi pemimpin dan merupakan salah seorang dari Dua Parengnge’ Wanita yang ada di Tana Toraja yaitu Parengnge’ Puang Lai’ Ranteali dari Rantebua. Pada tahun 1926 Puang Bato’ Limbong (suami Lai’ Minanga) kembali dari kawanan maka kaparengngesan yang dijabat Lai’ Minanga kemudian diserahkan kepada Putranya yaitu Somba’. Setelah selesai jabatan Kaparengngesan Somba’ diserahkan lagi kepada adiknya yaitu Tangngaran dan kemudian diserahkan lagi kepada adiknya yaitu Paliling sampai adanya penataan pemerintahan oleh pemerintah. Pada saat melepaskan kaparengngesan maka Kapuanan belum digantikan oleh anaknya pada saat itu beliau masih hidup. Setelah Puang Bato’ Limbong meninggal maka gelar Puang secara otomatis dipegang oleh istrinya (Puang Lai Minanga’).
Pada tanggal 29 Juni 1990 Puang Lai’ Minanga meninggal dunia dan mayatnya dirapai’ (disimpan) selama + 2 tahun. Dan pada bulan September-Nopember 1992 dilaksanakan upacara pemakamannya secara adat.
Setelah pemakaman Puang Lai’ Minanga maka diadakan musyawarah keluarga dan musyawarah Lili’na Tomantawa Tallu, maka diangkatlah Seli’ Matandung sebagai Puang Balusu (Puang VII). Pada bulan Nopember 1992 Seli’ Matandung dinobatkan sebagai Puang Balusu dalam suatu upacara adat Toraja yang disebut Upacara Massuru’ Tallang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Lokasi pemukiman
2. AREAL PERKEBUNAN
3. AREAL PERSAWAHAN
4. RANTE/ LOKASI UPACARA ADAT
5. AREAL PENGGEMBALAAN
6. LOKASI PEKUBURAN
7. KOMBONG TONGKONAN
8. Hutan (Pangala’ Tamman 

Kelembagaan Adat

Nama Komunitas masyarakat balusu
Struktur Singgi’: “To tangdiola boko’na tang dilamban tingayona. Tongkonan-tongkonan yang berpengaruh serta peran dan fungsinya adalah: 1. Tongkonan Lombok Tongkonan Bunga’ Lalan 2. Tongkonana To’ Nagka’ Tongkonan Kaparengesan 3. Tongkonan Kira’ Tongkonan Pa’ Lili’ 4. Tongkonan Pa’ Matawai Tongkonan Kaparengesan
Tongkonan-tongkonan yang berpengaruh serta peran dan fungsinya adalah:
1. Tongkonan Lombok Tongkonan Bunga’ Lalan
2. Tongkonana To’ Nangka’ Tongkonan Kaparengesan
3. Tongkonan Kira’ Tongkonan Pa’ Lili’
4. Tongkonan Pa’ Matawai Tongkonan Kaparengesan  
KOMBONGAN  

Hukum Adat

Siarak
Suatu pertemuan yang dihadiri seluruh penduduk kampung yang telah dewasa di halaman Tongkonan terpadang, saat pada mulai bunting. Maksud Siarak agar padi yang mulai bunting tidak terserang hama penyakit.

Teknik Pelaksanaan
a. Setiap kepala rumah tangga ditanyai oleh pemangku adapt, apakah ada aluk dan pemali yang yang dilanggarnya atau tidak.
b. Secara jujur setiap Kepala rumah tangga mengemukakan aluk dan pemali. yang telah dilanggarnya, ataukah sama sekali tidak melakukan pelanggaran.
c. Bila ada aluk dan pemali yang dilanggarnya  
Panda ri bolong
Panda ri pasa’
Hukum perkawinan adat 
Apabila ada pelanggaran adat dan berdampak pada terserangnya hama terhadap tanaman padi maka akan didenda sesuai kesalahannya dengan memotong babi 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Padi, jagung, dan umbi-umbian ,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tabang, Jahe pana’, bangle, sirri2
Papan dan Bahan Infrastruktur Tallang, pattung, pune, sendana, uru, Kaluku, buangin. Batang induk karurung, Tagari, Ao`, Kalosi, Baulu
Sumber Sandang Kapas, dan serat nenas (pondan daa)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu jahe, laos, sereh, lada, daun jambu ,
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi, kopi, coklat, ternak babi, ternak kerbau,

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No.1 Tahun 2019 tentang pengakuan dan perlindungan MHA No.1 Tahun 2019 tentang pengakuan dan perlindungan MHA Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen