Wilayah Adat

Polak Muttogat Suku Mentawai

 Teregistrasi

Nama Komunitas Matobe
Propinsi Sumatera Barat
Kabupaten/Kota KEPULAUAN MENTAWAI
Kecamatan Sipora Selatan
Desa Matobek
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 888 Ha
Satuan Polak Muttogat Suku Mentawai
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat - Tirit Lugai Koat (Hulu Sungai) - Patakkekat (Punggung Gunung)
Batas Selatan - Takkik Oinan (Hulu Sungai) -Tunang Karai (Tanjung) - Tirit bakubakup (Hulu Sungai)
Batas Timur Laut
Batas Utara - Mongan Mapelekak (Muara Sungai) - Leleu Siparat (Punggung Gunung) - Tirit Siniang Sijokjok (Hulu Sungai)

Kependudukan

Jumlah KK 179
Jumlah Laki-laki 371
Jumlah Perempuan 326
Mata Pencaharian utama Petani dan Nelayan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas adat matobe terletak di Desa Matobe Kecamatan Sipora Selatan Kepulauan Mentawai. Masyarakat Matobe pada dasarnya berasal dari Saureinu’. Pertama sekali suku yang masuk adalah suku Taikatubut Oinan. Saat itu ada pula yang diajak dari Pulau yang berbeda yaitu dari Sikakap ( Matobe ) yang bernama si Girit. Dasar nama yang diberikan oleh nenek moyang orang Matobe di wilayah ini adalah Usut Ngaik.
Perubahan nama wilayah adat dari Usut ngaik menjadi Matobe adalah karena adanya suku pendatang yang mendiami wilayah Usut Ngaik yang berasal dari Matobe sikakap, maka diganti lah namanya menjadi Matobe.
Matobe terdiri dari beberapa wilayah yaitu Sosoroat, Usut Ngaik, Maosa dan Panepuat. Sistem kepemimpinan di wilayah adat Matobe adalah Kepala kampung itu pada saat nenek moyang membuka perkampungan yang baru. Yang menjadai kepala kampung pertama adalah Lasa Toilak Leleu.

Nama Matobe sebelum nya adalah Usut Ngaik, komunitas Usut Ngaik (Matobe) pada dasar nya berasal dari Matobe Sikakap. Yang awal nya Taket Labak keturunan dari Sipajolaik merantau ke Matobe Sikakap dan berkeluarga di tempat itu. Dan pada saat itu pula tanaman mereka di serang oleh hama tanaman. Maka beberapa muntougat yaitu diantaranya muntougat Matan Asaan Saogo ,Tabbirak Saogo, Amban Saogo, dan keponakan Paole Ngenget Saleleu Bajak merencakan pindah ke Gulu-guluk. Ketika Takket Labak mengetahui rencana mereka dia menawar kan agar tidak pindah ke Gulu-guluk dengan alasan di Gulu-guluk juga ada hama tanaman . Dia pun mengajak mereka ke tanah nenek moyang nya di ” Bagat Usut Ngaik “. Namun sebelum berangkat keempat muntougat itu bertanya kepada Takket Labak , jika mereka pindah kesana apakah mereka akan mendapat kan status tuan tanah (sibakkat laggai)? lalu Takket Labak menjawab iya pada pertanyaan keempat muntougat tersebut. Dan berangkat lah mereka bersama-sama menuju Usut Ngaik, sesampai nya di Usut Ngaik mereka mendirikan pondok sementara, tepat nya di seberang sungai yang sekarang. Setelah itu Takket Labak pergi menemui bapak nya Pajolaik Taikatubut Oinan untuk memohon izin agar boleh tinggal menetap dan mengelolah tanah di Usut Ngaik yang berlokasi di Matobe sekarang ini. Kemudian Takket Labak kembali menemui keempat muntougat itu dan menceritakan tentang apa hasil musyawarah mereka di Saureinu’ , keempat muntougat itu bertanya kembali kepada Takket Labak apakah pada saat tinggal di Saureinu’ nanti nya akan dapat status yang sama seperti sibakkat laggai. Takket Labak pun menjawab bahwa permasalahan dan pertanyaan itu belum dikasi tau kepada bapak nya Pajolaik Taikatubut Oinan dan Takket Keliu Taikatubut Oinan. Kemudian Takket Labak kembali menemui Pajolaik dan Takket Keliu untuk menyampaikan pesan dari sigirit nia dari Matobe Sikakap. Pajolaik dan Takket Keliu mengatakan kepada Takket Labak bahwa tidak dapat lagi status yang sama untuk mereka. Lalu Takket Labak menjawab mereka dengan memutus kan untuk kembali lagi ke Gulu-guluk, Pajolaik dan Takket Keliu mengatakan kepada Takket Labak agar tidak kembali lagi ke Gulu-guluk, tetapi biarlah keempat muntougat beserta Takket Labak sendiri tinggal dan menempati Usut Ngaik yang skarang dengan status seperti yang telah di sepakati dari awal berangkat dari Matobe Sikakap. Adapun wilayah yang di berikan kepada mereka yaitu Tunang Karai, Takket Oinan, Patakkekat dan Lugai Koat (Batas wilayah dulu dan sekarang). Perkampungan pertama yang didiami oleh keempat muntougat yang di bawa oleh Takket Labak adalah “MONGAN BARUK”. Kemudian mereka pindah lagi ke Jaratet yang sekarang namanya adalah laggai siburuk Usut Ngaik pindah dari Mongan Baruk ke Jaratet karena Uma yg mereka bangun di bakar oleh Belanda. Kemudian mereka membangun kembali di Jaratet yaitu Beu Uma. Dalam perkembangan nya mereka membangun lagi Uma yang di nama kan Uma Taikasuruk. Yang memimpin pada saat itu adalah Rimata yang bernama Matan Asaan dari Beu Uma di Usut Ngaik (Matobe) di kuasai oleh keempat keturunan dari Matan Asaan Saogo’, Tabbirak Saogo’, Amban Saogo’ dan Takket Labak Taikatubut Oinan.

Artefak
• Ngoong
• Tuddukat
• Bakkat kaccailak
• Jejeineng

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Leleu adalah hutan yang belum dikelolah, biasanya jika dikelolah akan ditanami oleh tanaman tua
• Onaja adalah daerah rawa yang cocok untuk ditanami tanaman sagu, keladi dan lain sejenisnya. Biasanya dikelolah oleh kaum ibu
• Baruk adalah daerah pesisir yang cocok ditanami kelapa
• Suksuk adalah dataran rendah yang cocok untuk dibuka perladangan misalnya ditanami tanaman pisang, pala, gaharu dan lain – lain

• Dataran rendah (suksuk)
• Rawa (onaja)
• Leleu (gunung)
• Oinan (sungai)
• Babak (danau)
• Koat (laut)
• Potensi wilayah adat dari hutan (leleu)
Potensi kayu : kruing, maranti, marsawa, gaharu
Potensi non kayu : rotan, obat-obatan, satwa, tanaman cengkeh, pala, petai
• Potensi wilayah adat dari dataran rendah (suksuk)
tanaman pisang, buah-buahan, sagu, talas, bambu, perkampungan (inpra struktur/sarana prasarana), kuburan, tanaman pinang dan obat-obatan
• Potensi wilayah adat dari pesisisr pantai (baruk)
pasir, ikan, batu, tanaman kelapa, pohon bakau, nipa(bolak)
• Potensi wilayah adat dari rawa (onaja)
• keladi, padi, bahan kerajinan (tikai), sagu

• Uma
Uma adalah bangunan yang ukurannya lebih besar dari rumah di huni oleh gabungan beberapa suku dalam satu komunitas. Fungsi uma tempat musyawarah, tempat upacara adat, (kondisi sekarang dalam bentuk fisik bangunan tidak ada lagi)
• Lalep
Lalep/ rumah adalah tempat tinggal berdasarkan hitungan satu keluarga
• Sapou
Sapou satu bangunan yang di bangun pada suatu tempat di luar pemukiman atau di ladang, aktifitas di dalam sapou sebagai tempat peristirahatan dan tempat tinggal di luar pemukiman
• Payud
Payud bangun yang ukuran lebih kecil dari sapou sebagai tempat untuk gantungan ayam peliharaan yang bahan bangunannya rata-rata dari bambu
• Kalu
Kalu bangunan gantung dengan kaki kayu hidup yang di pahat untuk gantungan ayam peliharaan sekaligus kayu tersebut menjadi tempat peristirahatan ayam peliharaan pada malam hari
• Lung-lung
Lung-lung adalah bahan bangunan yang terbuat dari dedaunan (daun pisang hutan,sejenis pelepah aren, dan daun sagu) dengan rangka anak-anak kayu yang ukuran sangat kecil, yang di tempati satu sampai tiga orang dengan pemakaian pada situasi dan kondisi tertentu
• Geli
Bangunan untuk kandang peliharaan ternak babi.


• Pulaggaijat (pemukiman)
• Ratei (kuburan)
• Leleu (hutan adat)
• Onaja (rawa khusus ruang kelola perempuan)
Babak (danau khusus perempuan)

 
Komunal adalah wilayah yang dikelolah oleh semua anggota suku, yang dihibahkan oleh pemilik tanah. Tidak bisa sewenang – wenang mengalikan statusnya kepada pihak lain.
Keineng ( perorangan ) adalah wilayah adat yang dikelolah tanpa intervensi siapapun yang bebas dikelolah

• Sisiau (klaim)
Sisiau(klaim) temuan wilayah yang masih kosong ada tanda klaim .
• Simoneakenen
Tanah yang di berikan dengan sistim atau di minta kepada pemilik tanah.
• Sinaki
Tanah yang di peroleh atas nilai jual beli yang di sepakati.
• Pasailiat
Tanah yang di peroleh dengan cara tukar barang (barter)
• Utak
Tanah yang di peroleh yang sistim denda adat
 

Kelembagaan Adat

Nama Uma
Struktur Rimata Sikautet Lulak Sikerei Sikebbukat

1. Rimata
Merupakan pempinan dalam sebuah uma/muntogat dan berperan memimpin seluruh acara atau kegaiatan yang diadakan didalam uma seperti yang menyangkut dalam pengelolaan wilayah adat, acara pernikahan, dan lain – lain
2. Sikerei
Merupakan seorang tabib didala uma. Berperan membuat ramuan obat untuk orang yang sakit, memimpin acara ritual adat seperti pesta sebelum berburu, mendirikan uma yang baru, membuka lahan baru dan lain –lain. Sikerei juga berperan dalam membuat pagar wilayah agar terhindar dari bahaya yang mengancam
3. Sikautet lulak
Berperan dalam membantu rimata dalam menjalankan tugas didalam uma, sebagai mediasi antara suku yang lain, member tahu masalah kepada rimata, dan ikut dalam pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang terjadi didalam uma
4. Sikebbukat
Berperan sebagai tetua adat yang membimbing para anak muda didalam uma sekaligus membantu seorang rimata dalam mendapatkan informasi – informasi didalam uma. Berperan juga dalam musyawarah adat didalam uma


• Rimata adalah pimpinan uma dalam segala aspek kehidupan sosial seperti pengelolahan wilayah adat, ritual adat, acara-acara adat, aktivitas berburu, muiba dan lain nya. Setiap acara Rimata disebut sebagai sikautet lulak, karena dalam acara adat dia berada pada posisi dibagian kepala lulak (kautet lulak). Rimata bertugas untuk berpantang (masitangoani) seluruh anggota uma.
• Paipokat Rimata berjumlah dua orang, karena bertugas untuk membantu Rimata dalam tugas-tugas nya . di sebut sebagai Paipokat Rimata karena posisi mereka berada di bagian tengah lulak yang saling berhadapan.
• Sikamuri sebagai pembantu Rimata dalam mengarah kan kegiatan di uma juga turut dalam membantu Rimata dalam penyelesaian konflik. Dalam acara Ritual adat Sikamuri berfungsi untuk mengarah kan seluru anggota untuk mutangoan/mukeikei (berpantang).
• Paipokat Sikamuri berjumlah dua orang yang bertugas membantu Sikamuri dalam menjalan kan tugas yang di berikan oleh Rimata
 
Musyawarah adat
Pimpinan peradilan dalam lembaga adat membuka ruang pemaparan kepada pihak yang bersengketa kemudian memberikan tanggapan kepada semua unsur yang terlibat di dalam proses peradilan adat setelah itu pimpinan peradilan adat mengambil satu keputusan.

Pihak yang bersengketa terutama pihak yang keberatan memberitahukan keberatannya kepada pimpinan uma yaitu Rimata kemudian pimpinan memberitahukan kepada unsur pembantu kelembaga adat untuk melakukan identifikasi sumber masalah nya kepada kedua belah pihak yang bersengketa. Lalu kemudian menyampaikan hasil identifikasi masalah kepada pimpinan lembaga adat bahwa masalah tersebut harus di proses melalui peradilan adat. Rimata atau pimpinan lembaga adat melalui pembantunya memberitahukan waktu atau jadwal peradilan adat kepada pihak yang bersengketa dan perwakilan suku sekaligus ketua adat lain nya yang di anggap sangat berpotensi memberikan pertimbangan dan keputusan dalam suatu peradilan adat untuk proses selanjutnya Rimata mengambil keputusan sesuai aturan adat yang berlaku dan keputusan tersebut di sah dan final.

Tempat diadakan peradilan/muswayarah adalah Uma
 

Hukum Adat

a. Leleu tidak boleh diolah secara sembarangan dan tidak boleh digunduli
b. Daerah hulu sungai tidak boleh dikotori
c. Wilayah adat yang diberikan kepada sitoi oleh sibakkat laggai tidak boleh diperjualbelikan
d. Sebelum mengolah wilayah adat, sitoi harus meminta ijin dahulu kepada sibakkat polak
e. Suksuk dapat dijadikan sebagai areal perkampungan


• laut (Koat)
Salah satu aturan adat nya itu harus melihat kondisi bulan dan musim hujan ketika banjir dalam pemanfaatan panen ikan. dia hanya menyisir di sekitar pinggiran pantai dan kegiatan ini di lakukan khusus perempuan.
• Tanah (polak)
Dalam sistim pengeloaan menurut aturan adat harus mempertimbangkan kondisi ekosistim juga pembukaan lahan ada kearifan lokal tebang pilih dan tidak boleh sistim bakar jika lahan yang di anggap sakral terlebih dahulu melakukan ritual adat untuk izin.
• Sungai (oinan)
Dalam sistim pengolahan sungai tidak boleh melakukan aktivitas mencari ikan dengan cara menggunakan racun juga ada waktu atau musim tertentu berdasarkan pengetahuan lokal berpedoman kepada kondisi bulan sehingga ada musim tertentu dalam aktivitas pemanfaatan potensi sungai


transportasi.
b. Pinggir sungai wajib ditanami pepohonan
yang berakar kuat untuk menjaga longsor
c. Boleleu adalah tempat keramat, tempat
roh leluhur yang tidak bisa dikelolah
d. Leleu tempat sikerei mengambil ramuan
obat tidak boleh sembarangan dimasuki
 
a. Seorang anak muda yang ingin menikah harus mempersiapkan semuanya, diantaranya harus memiliki lading atau kebun yang sudah ada tanaman untuk kebutuhan hidup.
b. Sitoi harus meminta ijin dulu kepada sibakkat laggai ketika ingin mengolah suatu tanah dan tanah yang diberikan oleh sibakkat laggai tidak boleh diperjualbelikan dan apabila kedapatan dijual maka sibakkat polak akan menarik kembali tanah yang diberikan tersebut tanpa imbalan apapun


Ada aturan adat berpatokan kepada bentuk kekerabatan sehingga secara tidak langsung maupun langsung akan muncul etika atau perilaku seseorang terhadap orang lain dalam berinteraksi sosial

Siklus kehidupan:
• punen putuktukat mata
• punen eneget
• panounougat
• putalimougat
• pasiratei
• acara punen koirik
• punen laggai
 punen pasibuka laggai(pemukiman baru)
 punen laggai dalam konts musim penyakit
punen pasibujai oinan
 
a. Jika seseorang terbukti mengguna – gunai anggota sukunya maupun suku lain yang mengakibatkan orang lain menderita bahkan menghilangkan nyawa seseorang maka pihak tersebut akan diusir ataupun dibunuh dengan digantung ataupun dibakar hidup – hidup
b. Jika seseorang terbukti berselingkuh dengan anggota sukunya maupun anggota suku lain ,maka pihak tersebut akan dikenai sanksi baik berupa denda maupun bentuk lain seperti menyuruh membersihkan wilayah kampung dan ada juga yang diusir jika memang tidak ada maaf lagi bagi pihak tersebut.
c. Jika terbukti mencuri maka pihak tersebut akan didenda ataupun ditulou dengan tulou alak mone ( ladangnya diambil)
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan - Sagai (sagu) - bago (pisang) - Gette (keladi) - jalanjang (talas putih) - Luju - Singkong
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Sumber kesehatan dan kecantikan - Kesehatan - Sikopuk - Sirua bua - Aileppet - Sibulagat - Pelekak - Bekeu - Surak - Kainau - Amumunen - Laigak - Papai - Kiniu Saiuluk - Kecantikan - Kainau - Simanda - Takkuku - Boblo - Sumber papan dan bahan infrastruktur: - Tumung - Elagat - Mancemi - Karai - Kakatdut - Balina - Baru - Panese - Katuka
Papan dan Bahan Infrastruktur - Kayu (koka, katuka, maccemi, kaboi, karai, manai sikerei, atipat, pulelekket, bulu totonan, labbeng) - Rotan (pelege, sasa, rangou, pakatoili, gigiok, ruttu, moinang) - Nibung - Daun sagu - Bambu (boagga, maggeak, surat saggak, obbuk, metuk, abre)
Sumber Sandang - Kulit baiko/ Kabit - Kulit karai - Kulit bake - Kulit tobe - Rotan - Lappaet sagai - Topi (toban leleu/turok/daun-daun) - Tas (baklu) - Lapek - Luwat - Inu - Lekkau - Baju/leppei (daun pisang yang kering/lakok)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu - Cengkeh - Pala - Cabe - Laigak - Kiniu - Sikopuk - Baglai - Sarei
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati No. 385 Tahun 2019 Tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Uma Usut Ngaik No. 385 Tahun 2019 Tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA Uma Usut Ngaik SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 PERDA Bupati Kepulauan Mentawai Nomor 12 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Pengakuan dan Perlindungan UMA Sebagai Kesatuan Masyarakat Nomor 12 Tahun 2019 PERDA Bupati Kepulauan Mentawai Nomor 12 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Pengakuan dan Perlindungan UMA Sebagai Kesatuan Masyarakat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
3 SK Bupati Kepulauan Mentawai Nomor 162 Tahun 2019 Tentang Panitia Penetapan Pengakuan dan Perlindungan UMA Sebagai Kesatuan masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Kepulauan Mentawai Nomor 162 Tahun 2019 SK Bupati Kepulauan Mentawai Nomor 162 Tahun 2019 Tentang Panitia Penetapan Pengakuan dan Perlindungan UMA Sebagai Kesatuan masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Kepulauan Mentawai SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen