Wilayah Adat

Luhak Tambusai

 Teregistrasi

Nama Komunitas Masyarakat Adat Melayu Luhak Tambusai
Propinsi Riau
Kabupaten/Kota ROKAN HULU
Kecamatan Tambusai
Desa Tambusai Tengah ( Dalu – dalu )
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 192.324 Ha
Satuan Luhak Tambusai
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Kabupaten Padang Lawas
Batas Selatan Luhak Rambah
Batas Timur Luhak Kepenuhan dan Kabupaten Rokan Hilir
Batas Utara Kabupaten Labuhan Batu Selatan

Kependudukan

Jumlah KK 4385
Jumlah Laki-laki 10520
Jumlah Perempuan 15405
Mata Pencaharian utama Petani Karet, Sawit, dan Nelayan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sekitar penghujung abat IX, menjelang pertengahan abat ke - X penduduk Rokan Sekarang masih belum mempunyai ketetapan perkampungan atau Negeri. Kelompok manusia ini berasal dari semenanjung atau Malaya memasuki sungai Rokan yang bermuara di Bagan Si Api–api. Hidup mereka dari tahun ketahun berpindah–pindah, sebab keadaan tanah Berawa- rawa, Sungai Rokan dalam dan sering meluap. Menyusur sepanjang Sungai Rokan terus jauh kehulu dalam arti kata mencari tanah beku dan memasuki Sungai Batang Sosah terus pula Berpindah–pindah hingga sampailah disuatu tempat yang bernama Karang Besar. Puluhan tahun kemudian dari perkembangan penduduk, perumahan dan masyarakat mulai diatur. Keadaan tanahnya subur untuk perladangan, sungai dan danaunya kaya akan ikan, rimba belantara tempat berburu rusa dan binatang lainnya. Hidup aman damai berjalinkan rasa kekeluargaan dan setiap usaha yang agak berat dipikul bersama dengan pengertian gotong royong yang masih murni belaka. Silang sengketa, kemuskilan, segala sesuatu rencana usaha terlebih dahulu melalui permusyawarah beberapa orang cerdik pandai yang lazim disebut Datuk–datuk, permusyawaratan dan beberapa upacara negeri senantiasa dilangsungkan dirumah salah seorang datuk yang arif lagi bijaksana, dihormati dan disayangi penduduk. Sebagai suatu keistimewaan ialah bendul, rumahnya berukir demikian rupa dari pada kayu Aro. Oleh karena itu dengan sendirinya disebut rumah datuk Bendul Aro. Lama kelamaan menjadi datuk Benduaro [Bendaharo]. Pucuk pimpinan kerapatan Negeri menyusun dan mengendalikan masyarakat dalam proses perkembangannya. Barang siapa yang datang dari negeri atau daerah lain disambut baik dan oleh Datuk Bendaharo diberi petua dan nasehat seperlunya yang kesimpulannya” Pelihara dan hormatilah kebiasan penduduk, sebab lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya”. Pada suatu hari sebagai salah satu kegemaran dan kebiasan dimusim kemarau panjang, penduduk Ramai–ramai pergi” Mengacau” danau menangkap ikan. Pemuda pemudi ambil bagian menambah meriahnya suasana. Dekat kampong Karang Besar ada suatu danau- paya/Bencah yang dimusim penghujan merupakan danau yang dalam dan luas. Beberapa jam kemudian setelah air danau dikeruhkan, ada pula yang mengalirkan airnya kelain tempat, maka terdengarlah sorak sorai, diselingi dendang dan kelakar. Wanita–wanita asik mempermainkan tangguknya dengan hasil yang cukup memuaskan. Lebih heboh dan meriah lagi beberapa orang wanita Seolah–olah dipermaikan seekor ikan yang agak besar. Beberapa kali masuk tangguk, buat sekian kalinya lolos kembali dan serentak di iringi dengan pekik serta sorak-sorai. Asik menangkap ikan yang tak obahnya Jinak–jinak merpati itu, tiba–tiba seorang wanita tersentuh kakinya pada suatu benda. Setelah dikeluarkan, semua saling kebingungan, sebab tidak tahu apa gerangan nama benda itu. Dikampung Karang Besar benda ini ramai jadi buah mulut. Berbagai pendapat dan penjelasan yang simpang siur belaka. Ada yang mengatakan sekedar aneh ada pula yang mengatakan benda keramat. Kesimpulanya diserahkan pada Datuk Benduharo dan oleh beliau dibawa pada suatu kerapatan untuk mendengar pendapat orang cerdik pandainya.Salah seorang dari semenanjung Malaya, Negeri Sembilan menjelaskan, bahwa benda itu biasa dibawa orang dalam kapal layar untuk pemberi tanda atau Isyarat–isyarat bila perlu dipukul, dan namanya ialah Gong. Demikianlah untuk pertama kalinya di Karang Besar Gong tersebut dipalu silih berganti. Diluar dugaan, seluruh penduduk berdatangan kerumah datuk Benduharo, sebab bunyi Gong terdengar sekitar atau sepelembang Karang Besar. Peristiwa ini sungguh mengherankan dan bagaimanapun sebahagian besar penduduk beranggapan benda Sakti. Apakah ini benar dari peninggalan kapal layar tatkala sungainya masih dalam dan sebahagian tanah dalam arti kata belum beku. Bagai manapun Gong ini dijadikan bukti Kenang–kenangan dan disimpan Baik–baik. Tempatnya sengaja dibuat dalam lingkaran anyaman rotan halus oleh tukang yang terpandai. Keranjang tempat sarang dari rotan ini bernama Kudai. Semenjak itu dengan kata sepakat danau/bencah tempat yang beriwayat itu diberi nama Paya Ogung [Karang Julu atau Desa harang julu, Danau paya Ogung padang lawas sekarang]. Gong sesuai menurut peristiwanya sewaktu dipalu kedengaran sekitar atau selembang Karang Besar, Maka dinamailah Selembang Karang [Selimang Karang]. Perkampungan karang besar adalah dari kisah memudiki Sungai Rokan, pindah dari sutu tempat kesatu tempat sampai kehulu batang sosoh, kemudian lama berhenti. Perpindahan kehulu Berakhir ibaratkan kapal berlayar terhenti atau kandas pada suatu karang besar, maka dinamakan karang besar. Setelah karang Besar ditinggalkan kembali pindah kehilir, maka oleh orang Mandahiling sekarang Karang Besar yang letaknya dalam daerah Barumun Tapanuli selatan [Palas]-Karang besar dinamakan Negeri Hapung. Sultan Abdullah naik tahta susunan dan gelaran orang Besarnya. yaitu Datuk Mangkudum Sakti, dan seorang Datuk Setia Maharaja, dan seorang Sendaro Raja, dan seorang Datuk Maja Angsa Itulah adanya. Akan tetapi melihat keadaan perkembangan baru dan kebulatan mufakat, maka Negeri Karang Besar ditinggalkan. Perpindahan keseluruhannya terjadi, menghiliri batang Sosah dan menetap dimuara anak sungai yang sekarang bernama Kampung Kuala Tambusai. Diantara tiga orang putra Raja, dua perempuan bernama Paduko Siti dan Mercu Alam. Seorang Laki–laki bernama Sultan Syaifuddin itulah yang menggantikan ayahnya, dimuara anak sungai Kampung Tambusai ini pun tidak menjadi ketetapan dan kemudian pindah lagi kenegeri Lama agak kehilir jarak 3 km sebelah Barat Negeri Dalu–dalu sekarang. Sejak menetap disebelah Barat Dalu–dalu oleh Raja dan kerapatan menjadi suatu acara penting, bahwa hidup Berpindah–pindah banyak menimbulkan kerugian. Sedapat Mungkin tidak terulang lagi, hidup berkumpul, pindah dan berkumpul lagi, Maka dikatakan “TAMBUSAI”.
Tambun = berhimpun [Berkumpul]
Usai = Pindah/bersebar [Selesai bersebar]
Dalu-dalu = Nama pohan kayu yang banyak tumbuh disepanjang sungai batang sosah.
Dengan sendirinya Pengalaman–pengalaman sedemikian adalah Tambun-usai hingga penduduknya bernama orang Tambusai. Perkampungan pertama sesudah meninggalkan karang besar itulah dimuara anak sungai sekarang Kampung Tambusai. Luhak Tambusai adalah kesatuan masyarakat hukum Adat Melayu Tertua di antara 5 (Lima) Luhak yang ada dalam Wilayah Administratif Pemerintahan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau yang merupakan kelanjutan dari Wilayah bekas Kerajaan Tambusai yang berpusat di Dalu-dalu. Dalam sejarahnya Kerajaan Tambusai memiliki 20 (Dua puluh) Raja yang memerintah sejak Tahun 850 M (17 Ramadhan 271 H) secara Turun-temurun dan berkesinambungan sampai masa Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah Geografis kesatuan masyarakat Hukum Adat Melayu Luhak Tambusai meliputi Kecamatan Tambusai dan Kecamatan Tambusai Utara Sekarang. Di sebelah selatan berbatas dengan kecamatan Rambah Hilir dan Bangun Purba (Luhak Rambah), di sebelah utara berbatas dengan Provinsi Sumatra Utara dan Kabupaten Rokan Hilir, disebelah Barat berbatas dengan Provinsi Sumatra Utara, sedangkan di sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Kepenuhan dan Kepenuhan Hulu (Luhak Kepenuhan). Adapun warga kesatuan Masyarakat Hukum Adat Melayu Luhak Tambusai ialah Masyarakat Asli Etnis/Suku Melayu yang terdiri dari 9 (Sembilan) Persukuan, 5 (Lima) Induk dan 1 (Satu) Keluarga Bangsawan. Bahwa kesatuan masyarakat Hukum Adat Melayu Luhak Tambusai keberadaannya SAH dan diakui. Adat Melayu Luhak Tambusai yang telah berjalan dan di praktekkan Secara Turun-Temurun yang berlandaskan pada Adat Lamo Pusaku Usang ‘’Adat Bersandingkan Sarak, Syarak Bersandingkan Kitabullah’’. Selama pimpinan Sultan Syarifuddin dan kerapatan orang Besarnya membawa kemajuan pesat sekali. Kebijaksanaan dan kegiatan beliau memimpin rakyat, terbukti Negeri Lama segera ramai. Diantara penduduk yang sejak sekian lama hidup jauh mengasingkan diri membawa peruntungan kembali hidup berkampung halaman di Negeri Lama. Beliau adil lagi mashur, Orang–orang Besarnya bergelar Datuk Paduko Sendaro, Datuk Si Biji Rajo, Datuk Paduko Pahlawan dan Datuk Serimaharajo. Ketika itulah Ada perpecahan di Kerajaan Johor Malaya, hingga dau orang putra Raja dengan Pengikut–pengikutnya memasuki sungai Rokan, mereka menetap di Rokan Hilir, Negeri Siarang–arang setelah mendapat persetujuan Sultan Syarifuddin. Demikianlah Sultan Syarifuddin amalnya panjang, tapi umurnya pendek. Beliau mangkat tidak ada meninggalkan Putra.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Rimbo Larangan adalah Rimbo Simpanan Air
2. Hutan simpan Hutan tersebut sebagai bahan untuk Ramuan Rumah.
3. Hutan Karet adalah kebun karet dan bekas kebun/ladang yang sudah mempunyai hak milik individu.
4. Pemukiman.
5. Hutan perladangan adalah hutan untuk berladang anak kemenakan.
6. Lubuk larangan adalah areal sungai yang di manfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan konsumsi
7. Rawa seribu adalah habitat ikan arwana
 
1. Kawasan hutan adalah kawasan dengan kepemilikan komunal dan individu.
2. Kawasan pemukiman dan perkebunan adalah kawasan dengan kepemilikan pribadi yang di turunkan berdasarkan keturunan.
3. Kawasan sungai adalah kawasan yang kepemilikannya secara komunal.
4. Rawa seribu adalah kepemilikan komunal sebagai mata pencaharian masyarakat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Kerapatan Adat Melayu Luhak Tambusai
Struktur 1. Raja Luhak Sebagai Pimpinan Luhak Tambusai dan Hulu Sombah. 2. Kepala Lembaga Keraptan Adat melayu Luhak Tambusai. 3. Uyang Ompek di Balai : Datuk Bendaharo, Sutan Mahmud, uyang Bisa Nugori, Malin Nugori. 4. Sahabat Rundiang : Datuk Tumenggung dan Datuk Bandar. 5. Pucuk Suku dan Induk Suku. 6. Muntaru. 7. Hulu Balang.
1. Raja Luhak
1) Memimpin Luhak Tambusai dan Raja Adat
2) Sebagai Hulu Sembah
3) Melindungi dan menjaga Luhak Tambusai
4) Mengetahui semua permasalahan yang ada didalam Luhak Tambusai
5) Mumopek samu panjang, munimbang samu borek (Memutuskan hasil Musyawarah di dalam lembaga kerapatan Adat Melayu Luhak Tambusai apabila tidak bisa diselesaikan oleh Kepala Kerapatan Adat).
2. Kepala Lembaga Kerapatan Adat
Pogang putau :
1. Pimpinan kolektif ompek Dibalai
2. Memimpin lembaga kerapatan Adat Melayu Luhak Tambusai di sebut dengan Kepala Lembaga Kerapatan
3. Mengetahui semua permasalahan yang ada didalam lembaga kerepatan adat melayu Luhak Tambusai.
4. Mumopek samu panjang, munimbang samu borek (Memutuskan hasil musyawarah di dalam lembaga kerapatan adat melayu luhak Tambusai).
3. Ompek Dibalai
- Datuk Bendaharo
Pogang putau :
1. Pogang Putau Adat [Guruntong Adat]
2. Memimpin Suku Sembilan
3. Memimpin Musyawarah di Lembaga Kerapatan Adat
4. Datuk Bendaro Adalah Guruntong Adat Dalam Nugori [Tempat bertanya] dan berkedudukan sebagai koordinator dan penghubung antara Pucuk–pucuk [pimpinan] Sembilan Suku [Sibah Luar] dengan Kepala Kerapatan.
5. Memperhatikan mano yang benar dan mano yang salah di dalam 14 suku di Luhak Tambusai.
6. Seluruh Datuk–Datuk dan Induk–induk berada dibawah naungan Datuk Bendaharo dalam hal Adat istiadat.
7. Memutuskan perkara Datuk dengan Datuk, Induk dengan Induk kalau ada sebilang selisih.
8. Menghitam dan memutihkan Adat.
- Sutan Mahmud
Pogang putau :
1. Memimpin Induk nun limu
2. Tauladan Musyawarah Datuk Bendaharo dan berkedudukan sebagai koordinator dan penghubung antara 5 Induk [ sibah Dalam dengan Kepala Kerapatan (Rapat)
3. Memperhatikan mano yang benar dan mano yang salah di dalam Induk Nan 5 di Luhak Tambusai.
4. Seluruh Induk – induk berada dibawah naungan Sutan Mahmud dalam hal Adat istiadat.
5. Memutuskan perkara Induk dengan Induk kalau ada sebilang selisih.
- Uyang Bosa Nugori
Pogang putau :
Penengah dalam Sidang majelis dan Musyawarah adat di Lembaga Kerapatan Adat Melayu Luhak Tambusai. Melaporkan Hasil Musyawarah Yang dipimpin oleh ompek dibalai kepada Ulu Sombah :
1. Sombah Tujuh
2. Sombah limu
3. Sombah Tigo
- Malin Nugori
Pogang putau :
Malin nugori Luhak Tambusai [Tokoh Agama] dan berkedudukan sebagai Penanggung jawab kehidupan beragama dalam masyarakat adat Melayu Luhak Tambusai yaitu agama islam.
- Datuk Temenggung
Pogang putau :
1. keamanan Raja
2. Munyulosaikan nun kusuik di Lembaga kerapatan Adat melayu luhak Tambusai bersama Datuk Bandar bila diminta pimpinan Luhak atau Raja Luhak [Urusan adat Keluar]
3. Perpanjang tangan Pimpinan Bangsawan urusan Keluar.
- Datuk Bandar
Pogang putau :
1. Munyulosaikan nun kusuik bersama Datuk Temenggung dalam hal adat istiadat di Lembaga kerapatan Adat melayu luhak Tambusai [Urusan adat Keluar].
2. Munampong dan muncari dagang topatan
3. Mencari suku yang di inginkan oleh anak kupunakan dari luar luhak nun limu bagi yang belum punya suku, sedangkan yang sudah punya suku hanya mencari topatan di dampingi Datuk Bandar.
- pucuk Suku dan Induk – Induk
a. Pucuk Suku
Pogang putau :
1. Memimpin anak kemenakan
2. munyulosaikan nun kusuik di dalam anak kemenakan
- Mungabong batang nun mulintang
- Munjonihkan nun koruh
- munconcang unak nun munyulai
3. Munombuk yang biang
4. Mumutuih nun gontiang
5. Melindungi anak kemenakan
b. Tungkek Suku dan Tungkek Induk
Pogang putau :
Membantu Pucuk Suku dan membantu Induk dalam menjalankan tugas , seandainya pucuk Suku atau Induk berhalangan, maka tugas Pucuk dilaksanakan sepenuhnya oleh Tungkek suku atau tungkek Induk.
c. Uyang Tuo Tau
Pogang putau :
Memperbaiki kejanggalan – kejanggalan didalam suku serta kejanggalan pada waktu sidang suku (Memperbaiki sidang suku kalau ada sebilang selisih)
d. Codik Pandai dan Suku Induk
Pogang putau :
1. Menentukan Alur Dan Patut dalam pergantian perangkat Suku yang akan menduduki jabatan Pucuk dan Tungkek.
2. Memberikan pandangan yang lurus untuk kemajuan suku
e. Malin Suku dan Induk
Pogang putau :
1. Bertanggung jawab bidang kehidupan beragama di dalam suku, serta memperhatikan dan memperbaiki moralitas anak kemenakan.
2. Menabalkan Nama anak yang baru lahir sewaktu acara pemberian Nama.
3. Memimpin da’o dalam acara Suku
f. Dubalang Suku
Pogang putau :
1. Memelihara keamanan suku
2. Memelihara keamanan perangkat suku
3. memelihara keamanan anak kemenakan
- Muntaro [Mantra atau membaca] Pogang putau :
Mumanggiekan Gola (membacakan gelar di dalam 14 suku). Sedangkan untuk Raja Luhak Tambusai yang mumanggikan golanyo ialah adik kakuo yaitu Luhak Rambah.
- Hulu Balang Nugori
Pogang putau :
1. Hulu balang Umah godang, yaitu keamanan Rajuo dan permasalahan didalam lembaga. dari suku melayu
2. Hulu balang adat, yaitu keamanan majelis kerapatan adat [Sidang adat] dari Suku Ampu
3. Hulu balang nugori, yaitu keamanan nugori dari Suku Kuti
4. Hulu balang jalan, yaitu administrasi dari suku Kandang Kopuh
 
Duduk burundiang, Bermusyawarah untuk mufakat 

Hukum Adat

Pancong Aleh (Totok Lareh Kayu Subatang) Pembuaka Hutan Pertama 
1. Adat istiadat yang Melayu Luhak Tambusai Tambusai yang di urus Adat:
a. Nikah Kawin
b. Meruntuhkan rambuik simulo jadi [Cukur Rambut]
c. Khitan Tindik [baok kayie, memasang anting – anting anak perempuan]
d. Khatam Kaji [Tamat Al-Qur’an]
e. Angkek Gola [Pemberian Gelar]
f. Munjonihkan nun koruh [Mumpuelok Silang Sungketu]
g. Upah-upah
h. Tukuk Tambah [ Masuk Suku]
i. Tambun Tanah [Nambak Kubuo]
2. Urusan Sederhana Yang diatur Adat Istiadat :
a. Solang munyolang Anak Kemenakan [Pinjam- meninjam anak kemenakan]
b. Solang munyolang Umah [Pinjam-meninjam Rumah]
Menempati Bubungan Baru [Pindah ke Rumah Baru]
d. Pulang Memulangkan anak kemenakan [Si Perempuan Atau si Laki–laki kepada Datuk Adatnya] baik pisah kerena tembilang maupun pisah hidup.
e. Kotom Gigi [Merapikan Gigi]
f. Panen Mulimpah atau mendapat Rezeki yang Banyak [Busudokah makan]
 
1. Pertunangan Batal [Putunangan mu’ungkie]
Untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak didalam uluo jawek anta timu
[Susun bulopih] maka sanksi adat akan berlaku bila pertunangan batal.
a. Laki–laki yang mungkir janji
Pertunangan yang dibatalkan oleh pihak laki – laki itu sendiri, maka tanda yang ada
[Loka kacuo baih] itu hangus [Habis] dan tidak bisa dituntut sepanjang adat.
b. Perempuan yang mungkir janji
Pertunangan yang dibatalkan oleh pihak perempuan:
1. Tanda dibayar dua kali lipat
2. Pembayaran tanda dilakukan dirumah datuk adat pihak laki–laki
3. Potongkan kambing
4. Yang mengurusnya adalah anak kemenakan dan uyang sumondo kedua belah pihak
5. Di hadiri oleh kedua Datuk adat dan keluarga kedua belah pihak.
2. Membuat Serong (Perselingkuhan) Sanksi : Di pulaukan atau di usir dari kampong
3. Mencuri Diarak kelilling Kampung.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, Jagung, Ubi, Pisang, kacang-kacangan, Dll
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun Sirih, Serai wangi, Nilam, Capou, Salam, Dukung Anak, Junjong Langik, Kulik Sumaong, dingkek, mengkudu, kemenyan, Puleh Padi, lulotup
Papan dan Bahan Infrastruktur Bahan Rumah : Kayu Petata, Kulim, Meranti, Kayu Losa, Kayu Kompas, Kayu Tambusu, Kayu Bahan Tikar : Daun Pandan, Daun Umbai, Daun Logiang Bahan Atap : Daun Padang, Daun Pua, Daun Rotan,
Sumber Sandang Kulik Torok/Lawak (Untuk Dinding Rumah) Pelupuh (Bambu), Damar (Galo-galo untuk Sampan/perahu) Rotan untuk kursi dan keranjang (Jangki, Kutidiang, Lukah atau Perangkap Ikan)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun Salam, Lengkuas, Kunyit, Asam Kandis, Asam Gelugur, Daun Jeruk Purut (Daun Limau Mungkuo), Buah Kemiri,
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, Sawit, Nelayan