Wilayah Adat

Kampong Pattallassang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Pattalassang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota GOWA
Kecamatan Tomnolo Pao
Desa Pao, dusun: Pattalassang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 570 Ha
Satuan Kampong Pattallassang
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Sungai kecil, berbatasan dengan Desa Erelembang
Batas Selatan Sungai Tanggara, kampung Pao dan Lembang
Batas Timur Sungai kecil, berbatasan dengan Desa Tabbinjai
Batas Utara Pegunungan, berbatasan dengan kab. Bone

Kependudukan

Jumlah KK 156
Jumlah Laki-laki 360
Jumlah Perempuan 334
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas Masyarakat Pattallassang merupakan salah satu dari sekian banyak Komunitas Adat di Kabupaten Gowa. Komunitas Patallasang mengelola sumber daya alam terutama hutan sebagai ruang hidup masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sekaligus mengembangkan Tatanan sosial Budaya mereka.
Komunitas Masyarakat Pattallasang merupakan Etnis Konjo Pegunungan dengan mayoritas penduduknya menganut agama islam.
Pattallassang dalam arti bahasa Lokal berarti “Kehidupan” dimana sumber mata pencaharian utama masyarakat menggarap lahan pertanian dan memanfaatkan hutan dan Hasil-hasil Hutan “Hutan Adat”
Kampung Patallasang sudah ada sejak kerajaan Pao, namun masyarakat tidak mengetahui secara pasti pada tahun berapa. Kerajaan Pao merupakan salah satu anggota federasi Pitu Limpoe yaitu kerajaan-kerajaan yang berada di daratan tinggi .
Komunitas adat Pattallassang memiliki keragam budaya dan peniggalan budaya yang masih di lestarikan sampai saat ini seperti hal :
Komuinitas Pattallassang memiliki rumah adat dengan benda benda pusaka didalamnya seperti : Keris, pedang, Tombok, Parang dan Alat – alat dapur, Lontora ( sejarah Komunitas dan silsilah ) Gendang dan bendera Adat yang memiliki keajaiban tidak bisa terekam oleh Kamera. Semua ini tidak ada yang mengetahui pada tahun berapa barang-barang ini ada ,yang setiap saat masyarakat adat Pattallassang – Pao harus mengingat kepada rumah adat tersebut karena apabila tidak mengingat dan melakukan ritual maka maka akan kena teguran dari leluhur meraka, cara masyarakat adat Pattllassang Pao mengingat pada lalehurnya dengan membawa sesajen khusus yaitu : nasi dari Beras Ketan Hitam dan Nasi Beras Ketan Putih dengan ayam Pallu Likku ( Ayam dimasak dengan Lengkuas ) dengan ditambah dengan Pisang dan Baje’ dan Onde- onde inilah cara masyarakat adat Pattallasang Pao berhubungan dengan leluhurya. Jenis – jenis teguran yang biasa didapat oleh komunitas adat Pattallassang adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh Dokter. yang istimewahnya yang berasal dari komunitas Adat Pattallassang – Pao meskipun berada di Negeri orang atau dirantau kalau tidak mengingat kepada Komunitas Pattallassag atau dengan Kata Lain Leluhur yang ada di Pattallassang Pao, dia akan tetap diberi teguran, dan sudah ditegur dia harus kembali ke Asal Komunitasnya dan yang datang. dalam kurung waktu dua tahun ini kurang lebih dari dua ribu pengunjung yang mengatakan bahwa dia berasal dari Pattallassang Pao, tetapi tinggal di perantauan masyarakat yang datang berasal dari Sulawesi bahkan dari luar sulawesi bahkan ada yang membawa Kerbau dan sapi untuk acara ritualnya.
Kebiasan kebiasan ritual dan mengingat kepada leluhur dan maha pencipta Allah SWT. Biasanya pada habis Panen raya Sukses dalam Usaha, hakikat sunatan, saat pesta pernikahan sebelum acara resepsi pernikahan ada ritual – ritual yang dilakukan kepada lelur dan sesudahnya banyak ritual lain seperti Anggolo ri Kalibirang ( mengingat kepada benda – benda peninggalan leluhur ( naung riere’ ) turun keair tanda untuk mengingat bahwa kita tercipa dari air ( naik ribulu’ ) naik kegunung pertanda kita dijadikan dari angin dan tanah dan semua rangkaian acara ritual adat semuanya menggunakan sesajen yang terbuat dari beras biasa , beras Ketan Merah, beras ketan Hitam, ayam yang dicampur dengan Lengkuas dan memakai telur ayam. apabila ini tidak dilakukan maka akan ada teguran dari leluhur.
Jenis makan ini itu adalah sokkolo pare pulu’ Lotong(nasi beras ketan hitam), Sokkolo parepulu’ pute(nasi Beras ketan Putih) , songkolo pare pulu eja( nasi beras ketan merah) dan pallu likku ( ayam campur lengkuas ) dan jenis makanan yang tidak kena hawa api untuk sesajen leluhur yang di Angin seperti pisang dan buah-buahan lainnya dan dalam sesajen tersebut biasa disajikan makanan yang manis – manis supaya kehidupan masyarakat Adat bejalan dengan baik seperti Baje dan Onde- onde .
Komunitas Adat Pattallassang memiliki pula peninggalan sejarah Kuno yaitu tiang rumah yang tidak pernah runtuh yang usia konon ribuan tahun, yang dijadikan simbol masyarakat Adat Pattallassang – Pao yang diberi nama Benteng Tateppo’na Pao Tonasa Tanrabbaiya rilino ( Tiang Kehidupan yang tak akan rapuh dan kekuatan yang tidak akan guling didunia simbol ini yang dijadiakan pengangang hidup masyarakat Adat Pattallassang Pao. Dan kayu ini biasa di ambil oleh Komunitas untuk dijadiakan jimat penambah kekuatan dalam bekerja.
Komunitas adat pattallassang – Pao memiliki benda pusaka yang tidak ada duanya dan dihargai dan dihormati oleh semua komunitas adat yang di Sulawesi Selatan menurut keyakinan Komunitas Adat Pattallassang – Pao, benda pusaka ini sangat dikeramatkan dan memiliki kasiat yang sangat luar biasa yang diberi nama TABBARA’ IPO (obat Penawar ) obat ini terbuat dari tanah liat yang diambil dengan cara ritual Adat dengan memotong Kerbau dan sesajen lainnya lalu diambilah tanah ini yang bisa mengobati semua jenis penyakit yang ada didunia dan penyakit – penyakit santet dari orang lain, atas berkah dari leluhur dan isin dan pertolongan tuhan yang maha kuasa. Dan diamping itu pula air kehidupan yang dijadiakan obat yang di beri nama Je’ne Tallassa; ( air Kehidupan ).


Masyarakat berperan dan dilibatkan dalam penguasaan dan pengaturan SDA. Masyarakat menggunakan lahan untuk Lahan Pertanian padi dan sayuran

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Hutan
Hutan diwilayah adat pattallassang dulu adalah sebahagian adalah hutan adat yang dikelolah oleh masyarakat adat, tetapi dengan masuknya kehutan menenunjukkan tatabatas secara sepihak hutan tidak lagi kelola oleh masyarakat, sistim pengelolaannya melalui dinas Kehutanan, dan komunitas dilarang masuk hutan lagi, sehingga lahan mereka semakin sempit karena biarpun bukan hutan meraka tanami kayu lalu ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung.

Sungai
Diwilayah adat pattallassang memiliki kekayaan sungai yang terdapat beberapa sungai diantaranya sungai tanggara’, sungai inilah yang membatasi wilayah adat pattallasang dengan dengan wilayah dusun Pao, dan Dusun Lembang, sungai laburekeng, sungai salassara’ sungai mapung, sungai pattingalloang dan sungai ahangkajua, sungai inilah yang menjadi kekayaan alam komunitas adat pattallasang.

Lahan
Lahan yang aa di wilayah komunitas pattallassang merupakan lahan untuk perkebunan jangkah panjang dan pendek, sebahagian lahan ditanami dengan tanaman coklat dan tanaman cengkeh, mereka menanam secara tradisional dan sebahagian lahan masih lahan yang tidak produktif karena belum ditanami dengan tanaman, adapula lahan digunakan sebagai lahan holtikultura seperti tanaman tomat, cabe dan tanaman tembakau.

Air Terjun
Terdapat pesona alam yang sangat indah di komunitas Pattallassang, yaitu air terjun eresolaningia, air terjun ini menurut keyakinan masyarakat adat bahwa disamping keindahannya air terjun ini menurut kekayaan komunitas dapat menyembuhkan beberapa penyakit diantara penyakit mata.
Air terjun Bantimurungna Gallang, air terjun ini merupakan salah satu yang percayai masyarakat Adat di Gowa sebagai Air Terjun yang ajaib karena menghadap ke Timur tempat matahari terbit ,air terjun ini merupakan bukti bahwa sejarah hubungan antara Adat Tanah Luwu dan Kerajaan Pao. Masyarakat adat Pattallassang mempercayai bahwa pertama ada pemangku adat di Wilayah Adat Pao dan Pattallassang berasal dari tanah Luwu, yang melakukan perjalanan Kearah Matahari terbit, karena konon ceritanya raja dari Luwuk ini kecewa karena ada pemelihan Ppayung RiLuwu dan bukan dia terpilih. Akhirnya meninggalkan Tanah Luwu membawa semua barang- barang adat yang ada di Tanah Luwu, sebelum Beliau berangkat seorang Pemangku Adat di Tanah Luwu Berpesan bahwa kamu berhenti melakukan perjalanan ketika engkau menemukan Air Terjung yang menghadap langsung ke matahari maka disitu engakau membuat pemukiman inilah pertama kali Bantimurungna Gallang di ketahui dan adat di tanah Pao dan Pattallassang di kuatkan, hingga sekarang pengunjung ke Bantimurungna Gallang ramai dikunjungi. Tetapi air terjun ini belum dikelola dengan baik dan pasilitas belum ada.

Sawah
wilayah adat Pattallassang merupakan daerah persawahan, seperdua dari wilayah Komunitas Adat Pattallassang adalah areal persawahan yang merupakan sawah irigasi yang digarap dua kali dalam setahun tetapi terkadang dimusim kemarau tiba areal persawahan kering karena belum ada Irigasi permanen

Gunung
Daereh Komunitas adat Pattallassang merupakan daerah pengunungan dan ada beberapa gunung yang tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat adat Pattallassang seperti Gunug Bulu’ Barani , Gunung Bowonglangit , gunung inilah yang membatasi wilayah adat Pattallassang dan Kabupaten Bone.

Ternak
Jenis ternak yang dikembang biakkan masyarakat adat Pattallassng adalah sapi, Kambing ayam , Itik dan Kuda tetapi pepulsai yang terbanyak adalah peternakan sapi, yang menjadi pendapatan tambahan warga, karena setiap tahun populasi ternak sapi bertambah.

Perikanan
Perikanan diwilayah adat Pattallassang adalah perikanan tumpang sari dan perikanan disungai, jenis kekayaan masyarakat adalah ikan mas dan beberapa jenis yang hiudp di sungai.
 
Penggunaan tanah Komunitas Pattallassang yaitu Cuma hak garap karena warga masyarakat mengunakan Tanah secara bergilir . Tanah tersebut digilir satu Tahun ada yang puluhan tahun yang diatur secara adat, Tanah tanah tersebut ditanami padi dan sayuran.

Sistem kekerabatan Pembagian warisan komunitas Adat Pattalassang merupakan entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan patrilinear dalam urusan pembagian warisan, dan dalam urusan perkawinan , begitupun dengan pengambilan keputusan menggunakan sistem patriarki dan identitas agama Islam.

Pada komunitas adat Pattalassang tersebut sistem patrilinear dan patriarki yang mereka merupakan suatu sistem yang di anut secara turung temurung dalam sebuah keluarga. Dalam sistem Komunitas Adat Buluttana yang bertugas memberikan pengajaran kepada anak bukanlah ibu, melainkan ayah.

Cara orang dapat memiliki tanah pada masa dulu dan sekarang melalui pemberian oleh puangta lalu diakui sampai sekarang oleh masyarakat. Seseorang diakui memiliki tanah oleh orang lain berdasarkan pesan-pesan orang tua dan mereka berpatokan bukti pembayara pajak yang merupakan warisan dari orang tua.
Orang diluar kampung atau desa tidak boleh memiliki lahan dalam skala kecil seperti aturan yang ada. Kecuali orang tersebut memiliki nenek moyang atau orang tua yang tinggal di daerah tersebut. Namun ada juga sebagian masyarakat menjual tanahnya kepada orang dari luar desa.

 

Kelembagaan Adat

Nama Pnngadakkan Pattalassang
Struktur Pattallassang Asal Kata, Katallassang-Asal Dari Penghidupan-Jahi-Jahiah,-Bentengia,-Matto Angin  Kepala kampong  Sariang  Imam Kampong  Anrong Guru  Sanro
• Kepala kampong
Kepala wilayah yang bertanggung jawab atas wilayah dan seluruh keanekaragaman hayati didalamnya
• Sariang
Sebagai pembantu kepala kampong
• Imam Kampong
Tugas dan fungsi Mengurusu segala urusan yangberkaitandengan keimanan, perkawinan, pernikahan, dan kematian.
• Anrong Guru
Bertanggung jawab untuk mengurusi segala urusan ritual
• Sanro
Pemangku adat yang membidangi kesehatan

maitoangin 
Musyawarah Adat dan Rapat Adat. Tempat diadakan musyawarah adat di Balla kalompoan. Rapat bersama tokoh-tokoh adat terkait sanksi atas pelanggaran yang akan dikeluarkan.

Tahapan penyelesaian persolan sengketa selalu melalui musyawarah dengan mendatankan para saksi dan pihak yang merasa dirugikan . apabila korban terbukti bersalah maka akan dikenakan sanksi moral maupun ganti rugi.

 

Hukum Adat

Dengan aturan perihal bercocok tanam di lahan perkebunan maupun sawah, masyarat harus mengikuti perhitungan bulan, hari dan waktu yang telah di tentukan oleh para pemangku adat, danjikalau slah seorang melakukan kegiatan bercocoktanam dengan tidak memperhatikan regulasi tersebut pasti akan dapat teguran langsung dari leluhur. Imbasnya hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan. 
Pranata kesehatan terbentuk oleh kesadaran yang dimiliki masyarakat terkait pentingnya menjaga keadaan jasmani maupun rohani setiap masyarakar adat, salah satu contohnya ketika ada kelurga yang menderita penyakit harus di bawa ke ahli penyakit tersebut “nierangi mae ri sanroa“
Salah Satu Contoh


 Acara Peminangan.
Acara peminangan merupakan proses awal dalam pelaksanaan upacara perkawinan. Acara peminangan dimulai dengan melihat atau mencari jalan sebagai penyelidik. Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui secara rahasiakemampuan dalam hal pendidikan dan keterampilan sebagai bekal dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak.
Bentuk perkawinan dalam masyarakat Muslim Buluttana berdasarkan survei penulis, ada dua bentuk perkawinan yaitu: perkawinan melalui peminangan. Yaitu bentuk kesepakatan antara kedua calon pengantin yang disebut (bertunangan) atas restu orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Ini salah satu bentuk perkawinan secara damai yang diterima secara adat untuk menjamin terciptanya suasana harmonis baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Bentuk lain dalam perkawinan adalah assilariang (kawin lari). artinya berbuat salah karena tidak mengikuti aturan adat atau prosesi perkawinan menurut adat. Assilariang diwujudkan perkawinan dengan kawin lari, sehingga pihak keluarga perempuan menanggung malu (sirik), menyebabkan keluarga perempuan (to masirik) harus menegakkan malu (ampaentengi sirik) dengan membunuh laki-laki yang membawa lari gadis tersebut. Kecuali apabila laki-laki itu telah berada dalam rumah atau dalam pekarangan, maka tidak boleh diganggu karena sudah masuk dalam lingkungan adat, maka tugas imam menikahkan sambil menunggu proses selanjutnya yaitu proses yang disebut appabaji (mendamaikan keluarga kedua belah pihak).
b. hari penentuan
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengambil keputusan dan kesepakatan antara keluarga laki-laki dan perempuan, termasuk berapa jumlah uang panaik, jumlah mahar dan waktu pelaksanaan akad nikah. Pemberian emas kawin atau sunrang dalam bahasa Makassar merupakan salah satu syarat sahnya perkawinan menurut agama Islam. Sedangkan dalam waktu-waktu yang lain juga dilaksanakan upacara akkorongtigi dan pembacaan barzanji serta khataman Alquran yang dipimpin oleh Imam setempat. Pembacaan Alquran yang dihadiri oleh kedua pengantin merupakan pertanda bahwa calon pengantin telah menamatkan bacaan Alquran. Acara malam akkorongtigi dalam bahasa Indonesia disebut malam pacar. Masyarakat Muslim Buluttana meyakini bahwa daun pacar memiliki nilai magis dan digunakan sebagai lambang kesucian dan kemuliaan. Acara akkorongtigi dilaksanakan satu malam sebelum akad nikah dilangsungkan yang dimaksudkan sebagai malam mensucikan diri sebelum ke pelaminan.

c. Acara Pernikahan.
Proses pernikahan dimulai dengan acara naik kalenna, saat pengantin lelaki berikut perlengkapannya dikenal dengan leko lompo diarak ke rumah mempelai perempuan. mahar yang sudah disepakati dimasukkan dalam sebuah kampu, semacam wadah dari besi yang dibungkus dengan kain putih digendong orang tua yang berpakaian adat. Pada saat sampai ke rumah mempelai perempuan, arak-arakan disambut oleh orang yang berpakaian adat yang diiringi dengan gendang. Setelah sampai di depan tangga, keluarlahseorang perempuan setengah baya yang berpakaian adat baju bodo lalu memanggil pengantin dengan ungkapan syair pakkio bunting (panggilan pengantin) sambil menghamburkan beras. Proses selanjutnya adalah akad nikah yang dilakukan oleh imam setelah perwalian diperwakilkan kepada pak imam dari orang tua calom mempelai wanita dan disaksikan oleh orang tua atau wali mempelai perempuan. Sesudah itu dilakukan menyampaikan nikah oleh pengantin pria. Ketika proses perkawinan berlangsung di pintu kamar pengantin perempuan yang dijaga oleh orang tertentu, baru diloloskan setelah memberi sejumlah uang tebusan yang disebut pembuka kamar. Jika laki-laki berasal dari luar kampung maka ia harus membayar tebusan yang lebih tinggi.

d. Nilekka
Nilekka artinya mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai pria. Acara ini merupakan acara penting dalam prosesi perkawinan bagi masyarakat muslim Bulutana. Acara lekka dilakukan biasanya sehari sesudah pesta perkawinan di rumah mempelai perempuan berakhir dengan mengundang kembali keluarga terdekat untuk mengantar pengantin perempuan ke rumah pengantin pria, sementara pengantin perempuan siap dirumah bersama keluarganya. Pada acara ini terjadi tukar menukar pemberian berupa sarung antara pihak laki-laki dan pengantin perempuan yang dalam adat diistilahkan pappisalingi. Acara ini disebut “makkasiwiang” yang biasanya dilakukan dalam kamar pengantin laki-laki dan perempuan dan di dampingi anrong Bunting, beserta kedua mertua laki-laki serta saudara-saudara dari mempelai pria. Demikianlah sekilas upacara prosesi perkawinan berdasarkan budaya Adat Sampulo Rua. Masyarakat Buluttana, yang memiliki kemiripan dengan suku Makassar lainnya di Sulawesi Selatan, yang sarat dengan ritual adat dan keagamaan

 Berpulang kerahmatullah
berpulang kerahmatullah adalah orang yang Prosesi penyelenggaraan jenazah bagi masyarakat Buluttana dapat dikaji dari dua aspek, baik dari aspek budaya maupun dari aspek agama. Berdasarkan survei penulis dan keterangan yang diperoleh, dalam upacara kematian adat masyarakat Buluttana ditemukan beberapa tahap:

a. Appanai mare-mare, yaitu membawa ayam kepada pemangku adat, untuk menyampaikan tentang kematian seseorang, kemudian ayam tersebut dipotong, oleh salah seorang pemangku adat kemudian diserahkan kembali kepada yang membawa dan diberi beras. untuk dibawa kembali bersama-sama ayam yang telah dipotong. Selanjutnya, memberitahukan kepada semua keluarga, baik keluarga dekat maupun keluarga jauh.

b. Ni je’ne salai (mandi salah). Pelaksanaan jene salah ini pada awalnya hanya dilakukan pada mayat tertentu, misalnya mayat yang sakit bertahun-tahun sehingga mengeluarkan bau tidak sedap atau akibat kecelakaan yang menyebabkan luka parah yang menyebabkan perdarahan. Proses ajje’ne salai dilakukan oleh pegawai sarak (imam kampung) atau anrong guru mayat ketika masih hidup dibantu oleh sanak keluarga. Atau seseorang yang profesinya khusus a’je’ne salah pada kampung tersebut. c. Ni unjuruki (diterlentangkan di atas kasur atau tikar lalu ditutup dengan kain panjang atau sarung). Ini dilakukan setelah mayat ni jene salai kemudian ditaruh dupa di dekat kepala agar dapat mengusir bau mayat yang dapat mengganggu pelayat. Di samping itu, diletakkan parang besar di atas pusar mayat.

d. Nirokoki (Mengkafani), sesuai dengan tutunan syariat Islam, yaitu Jenazah laki-laki tiga lapis kain, jenazah prempuan lima lapis kain kafan yag terdiri atas pembungkus luar, pembungkus dalam, kerudung, baju kurung dan sarung.

e. Nisambayangngi (disalatkan), sesuai syariat Islam yaitu empat takbir, dengan tata cara: Takbir pertama membaca Q.S. Al-Fatihah, Takbir kedua membaca salawat. Takbir ketiga membaca doa, Takbir keempat doa dan salam.

f. Menguburkan Sesudah penguburan, dilanjutkan dengan kegiatan:
a). Membaca ayat suci Al-Quran di rumah keluarga duka,

b). Membaca hidangan yang disediakan oleh keluarga duka.

Kegiatan yang disebutkan di atas, adalah suatu kebiasaan masyarakat muslim Buluttana sebelum mayat dikuburkan, para keluarga atau tetangga berkumpul sebagai tanda solidaritas untuk ikut membagi duka khususnya dimalam hari. Untuk menemani keluarga duka dalam rangka membagi duka sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak terlalu dalam kesedihannya. Hal ini dilakukan karena menurut kepercayaan masyarakat sekitar Pra-Islam, seorang yang meninggal dunia, mayatnya harus dijaga dengan harapan agar

rohnya tidak gentayangan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Berdasarkan survei penulis, setelah mayat dikuburkan masih terdapat serangkaian prosesi seperti ammaca kanre (menyiapkan sajian kemudian berdoa). dan ammaca-maca pattumateang dilaksanakan mulai malam pertama sampai malam ke-40 pada malam-malam tertentu yaitu malam ketiga, malam ketujuh, malam kesepulu, malam kelimabelas, malam keempat pulunya, dan malam seratusnya.


 
Penerapan hukum adat yang dulunya apabilah ada salah seorang melakukan pelanggaran norma pidana maupun perdata akan dikenakan denda dan di diusir dari kampong. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Pare eja, Pare leklen, Pare Punuk, Pare Biasa ; protein : Kacang tanah, vitamin: raun campek, gelang, paku, leko bojo, campe, paria Protein hewani: Sapi, Kuda, Ayam dan Ikan Air Tawar
Sumber Kesehatan & Kecantikan Wilayah adat pattallassang, tidak memiliki sarana kesehatan tetapi untuk jadi apabila masyarakat mengalami ganguan kesehatan lebih memilih berobat di dukun yang dalam bahasa Masyarakat Adat adalah Sanro, terkadang penyakit yang tidak dapat ditolong oleh Sanro lalu dibawa ke Dinas Kesehatan yang ada diwilayah Kecamatan Tombolopao. Penyakit yan sering diderita oleh masyarakat adalah muntaber, sakit kepala, panas dingin, tapi pennyakit bisa disembuh sekitar 80% oleh sanro, dengan mengandalkan ramuan-ramuan dari alam, sekitar 20 jenis tanaman obat yang ada diwilayah adat Pattallassang, tanaman tersebut ada yang tumbuh liar di hutan ada khusus di kembangkan oleh komunitas, jenis tanaman obatan – obatan ini bisa digunakan mulai dari akar, daun dan batang serta akar.
Papan dan Bahan Infrastruktur -
Sumber Sandang Tidak ada
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, sereh, lengkuas, dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Penduduk Masyarakat Adat Pattallassang pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sawah dan petani sayuran disamping itu pula mereka berternak. Sebagian kecil warga berdagang hasil tanaman seperti berdagang enceran dipasar dan sebahagian pedangang antar Kabupaten dan sampai keluar Propinsi. Komposisi mata pencaharian komunitas adat Pattallasang terdiri dari ; petani (108 KK), sisanya menjadi buruh (46 KK), tukang batu (1 KK) dan Wieaswasta (1 KK) . Sebagian masyarakat Pattallasang memiliki 2 pekerjaan (pokok dan sampingan) yakni ada yang bekerja sebagai petani sawah dan beternak sapi. Ternak di Pattallasang memiliki populasi sapi 215 ekor, kuda 20 ekor dan banyak pula yang berternak ayam. Kegiatan peternakan ini sangat menunjang perekonomian masyarakat Adat Pao, karna dari ternak tersebut menjadi pendapatan pertahun masyarakat.Pertanian yang ada berupa sawah dan perkebunan dengan cara pengelolaan pertanian secara tradisional. Pekerjaan utama komomitas Adat Pattallassang adalah petani padi, dan sayuran, yang terlibat dalam pekerjaaan pokok ini adalah kepala keluarga dan dibantu oleh anak dan istri, pada musim tanam sudah selesai, sebahagian masyarakat mencari pekerjaan sampinagan yaitu mencari rotan dan madu dihutan, kegiatan ini dilakukan pada musim kemarau, mereka berkelompok masuk kehutan mencari madu dan rotan