Wilayah Adat

Wanua Pekurehua Boya Watutau

 Terverifikasi

Nama Komunitas Pekurehua Boya Watutau
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota DONGGALA
Kecamatan Lore Peore
Desa WATUTAU
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Wanua Pekurehua Boya Watutau
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan kec. Kulawi, Gunung(bulu) Mangku Desa Katu sungai Mungku, Desa Talabosa tanda batasnya: sungai Halukoa, Desa Betue sungai Haluwua
Batas Selatan Berbatasan dengan Desa Talabosa Tanda batas: sungai Urana, Desa Bomba kec. Lore Selatan (hulu sungai Malei)
Batas Timur Berbatasan dengan Desa Sanggihora kec. poso pesisir selatan, Tanda batas: Sungai (owai) Halumomi, Karatu wimbi
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Wanga, Tanda batas: Sungai Tandu baula, Desa Maholo, Padang (pada) Oni, Desa Winowanga (peternakan), Gunung(bulu) Tuturore, dan Desa Kahiono.

Kependudukan

Jumlah KK 463
Jumlah Laki-laki 1020
Jumlah Perempuan 832
Mata Pencaharian utama BERTANI (sawah dan kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Desa Watutau sudah di huni oleh manusia sejak jaman prasejarah yang dapat di buktikan dengan patung-patung megalit dan Kori Bengki atau Periuk yang di gunakan sebagai alat memasak dan tempat pemakaman.Usia patung Watu tau diperkirakan ± 3000 SM. Watutau adalah anak tertua dari Datu Tambolo. Sebelum menjadi sebuah desa,masih berbentuk Wanua/tempat berkumpulnya puluhan KK dalam 1 rumah dan di pimpin oleh seorang Tuana (bangsawan). Dibuktikan dengan adanya: Tiang rumah yang terbuat dari batu ada di gunung Bangkebalu, Mbanga adalah kuburan, juga patung berbentuk peti mati, Leboni ada pekuburan, Mpadali adalah batu orang, Gumora adalah batu orang, Watumolindo adalah batu orang, Halukoi/haluwua dalah batu orang dan pekuburan.
Semua penduduk yang tersebar di wanua-wanua dipimpin oleh seorang bangsawan yang berkedudukan di Boea Lamba (kampong lamba) yang sekarang menjadi lokasi KTM tampo lore tahun 2008. Kampong Lamba dulunya adalah tempat orang-orang tua (bangsawan) bermusyawarah untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan. Pada abat ke 19 terjadi wabah penyakit yang mengakibatkan banyak masyarakat yang meninggal, sehingga masyarakat pindah di kampung Watutau sampai sekarang. Kampung Watutau dipimpin oleh Tuana (bangsawan) bernama Ama alias Umana soli. Tahun 1907 terjadi perang Peore, perang antara masyarakat watutau melawan penjajahan belanda, yang mengakibatkan gugurnya Ama serta Koloni-koloninya.
Di abad ke 20 dikuasai oleh pemerintahan kompeni belanda. Sejak itulah pemerintahan seluruh tampo Ada Lore dipegang oleh Kabo sebagai Raja/magao pada tahun 1913 yang pada kemudian wafat pada tahun 1946. Kemudian pemerintahan tersebut dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Sudara Kabo dan masa kepemimpinannya berkisar 1946-1953. Selanjutnya Berobah istilah pemerintahan dan bukan lagi Raja tetapi menjadi Suap Raja yang dipimpin oleh YONTO PELIMA dari 1954-1957. Pada tahun 1958, 1959 hingga tahun 1961 berubah istilah pemerintahan menjadi kecamatan Lore yang berkedudukan diwatutau yang dipimpin oleh Tomas Gembu. Wilayah Desa Watutau selain dihuni oleh masyarakat asli Watutau, dikampung ini juga terdapat beberapa suku pendatang antara lain suku Pamona, Jawa, Bugis, Toraja, Kaili, Bali, Manado dan Gorontalo.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

WanaNgkiri : Daerah puncak gunung yang ditumbuhi pepohonan berdiameter kecil dan ditumbuhi lumut, daerah ini merupakan daerah larangan/keramat. Selain dikeramatkan, fungsi lain dari Wumbu Wana adalah merupakan daerah mata air. Menurut aturan adat zona ini sama sekali tidak boleh dijamah oleh manusia. Kepemilikan wilayah ini adalah komuna

Wana : wilayah yang dilindungi adat karena merupakan daerah penyangga jika dikelola akan mendatangkan banjir. Tipe wilayah ini kayunya besar-besar dan kepemilikan wilayah adat ini adalah komunal.

Pandulu : Hutan sekunder, merupakan habitat tempat hidup hewan endemik seperti Anoa dan Babi Rusa. Zona ini juga menjadi tempat mengambil hasil hutan non kayu seperti obat-obatan dan rotan. Kepemilikan wilayah adat ini adalah Komunal.

Pobondea dan Holua : bekas kebun masyarakat yang ditinggalkan selama kurun waktu 5 – 25 tahun dan kembali berhutan lagi, hal ini dilakukan masyarakat sebagai rotasi pengelolaan sumberdaya alam dan akan dikelola kembali tempat ini penanaman pohon damar, kayu manis, kopi, kayu yang tumbuh diwilayah ini akan menjadi pelindung tanaman produksi masyarakat.

Bonde: wilayah perkebunan masyarakat yang diolah secara berkelanjutan

Lida: wilayah persawahan masyarakat

Pada : padang ilalang yang tidak ditumbuhi kayu.

Porivua : Wilayah pengembalaan ternak

Wanua Sae: Perkampungan lama

Rano: Wilayah tempat masyarakat mengambil ikan untuk dikonsumsi.

Powanua: Wilayah pemukian/perkampungan masyarakat
 
Tanah adat di kuasai dan di kelolah baik secara Kelompok/komunal maupun individu yang sudah di atur sejak nenek moyang yang mendiami wilayah ini hingga sekarang. Dengan status kepemilikan baik secara kelompok maupun individu di atur oleh aturan adat secara turun temurun.
Yang dikelola secara individu dan komunal adalah pampa dan pobonde, sedangkan dikelolah adat adalah pobondea, holua
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Watutau
Struktur Ketua = Topolemo Ada Wakil ketua = Topehuga Sekretaris = guru tulisi Bendahara = Topamboli Anu-Anu
Ketua = Memutuskan/memipin rapat, Mengatur Ritual adat
Wakil ketua = menggantikan ketua apabila berhalangan
Sekretaris = menulis/membicarakan keputusan rapat
Bendahara = menyimpan uang, mengatur asset adat.
 
Mekanisme dalam mengambil keputusan dilakukan dengan cara Musyawarah Adat atau yang disebut dengan Topolemo Ada.
Musyawarah adat dihadiri oleh semua masyarakat yang terlibat. Adapun tujuan dilakukannya Megombo ada antara lain:
1. Pada saat akan melaksanakan peradilan adat.
2. Pelaksanaan ritual adat seperti kelahiran, perkawinan , kematian, kecelakaan, penyambutan tamu
3. Saat akan melakukan bercocok tanam.
Musyawarah adat biasanya dilakukan di Balai Pertemuan. Adapun tahapan pengambilan keputusan sbb:
- Pemamai = ritual
- Mopahave pongku lolita = membahas masalah
- Mogombukukoi = diskusi
- Kobotua lolita = pengambilan keputusan ketua
Proses Pengambilan Keputusan di Wanua Wanua Pekurehua Boya Watutau dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat.
 

Hukum Adat

1. Tidak diperbolehkannya ada aktifitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah di tentukan, sperti wanangkiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan Wanangkiki dan Wana.
2. Memperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan oleh lembaga adat. Proses diperbolehkannya mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Tidak untuk diperjualbelikan ( hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat ).
b. Tidak berada pada kemiringan tertentu.
c. Tidak menyebabkan kerusakan yang besar, misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
d. Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua.
 
1. Pelanggaran hukum Perkawinan, dimana seseorang yang (MOKARA-KARA, HALOLO KANDUPA DARA, ): bagi siapa yang secara sadar melakukan zina maka akan disidang dibalai desa dengan syarat: Mengadakan babi 1 ekor untuk perempuan yang dipotong pada saat sidang berlangsung, Satu ekor babi untuk laki-laki yang diuangkan dengan nilai Rp.2000.000, Mengadakan uang duduk sidang sebesar 2500.000, Menjamin makan dan minum peserta sidang. Apabila, kedua yang bersangkutan tidak sepakat untuk menyatu (Kawin) maka, Pihak laki-laki akan dikenakan sanksi 3 ekor kerbau. 1. Satu ekor sebagai pengganti suami. 2. Satu ekor sebagai pemulihan nama baik keluarga pihak wanita. 3. Satu ekor sebagai pemeliharaan apabilah sudah hamil. Kesemuanya ini diberi jangka waktu 1 bulan per satu ekor.
2. Sala mate (Pelanggaran mata): Pelanggaran mata dikarenakan orang yang melakukan pelanggaran telah menginginkan sesuatu dari hasil penglihatannya.
3. Salahume (Pelanggaran Mulut) dikarenakan sesorang yang melakukan pelanggaran ini telah membicarakan dan menceritakan aib orang lain
4. Salataye (salah tangan) adalahh perbuatan yang yang secara langsung mengambil milik orang lain sehingga perbuatan ini melanggar hukum karena dianggap sengaja mengambil milik orang dan dianggap telah memasuki lahan orang lain.
5. Salah uma wata : (pelanggaran seluruh tubuh) pelanggaran yang dilakukan secara sadar dan terbukti/terang-terangan atau kedapatan mencuri dilahan orang lain.
 
Pada tanggal 20 agustus 2019 ada kasus hamil diluar nikah dan pihak wanita mengadu pada lembaga adat setelah itu wilayah adat dan keluarga melakukan sidang bersama, putusan dari Lembaga adat yang bersangkutan harus menikah dan membayar denda sesuai dengan adat yang berlaku 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ladang, jagung, ubi, kol, tomat, sawit, rica, singkong, kacang tanah, ikan mas, mujair, gabus, lele, mangga, durian, rambutan, jambu, pisang
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Bada (Kunyit) untuk mengobati sakit maag - Bada ntomate (Tumulawak) untuk mengobati sakit pinggang - Hehi Tobehoa (Sese Putih) untuk mengobati sakit magh - Harao (Pinang Hutan) untuk mengobati sakit magh - Handutu atau pangana (Pinang Kampung) untuk mengobati sakit gigi - Peda (Kapur sirih) untuk pengiat gigi - Tabako (Daun Tembakau) untuk mengobati sakit perut - Hinuntu (Rumput Dukun Anak) untuk mengobati sakit kuning - Humpi Meo (Kumis Kucing) untuk menurunkan demam - Lolo Gambu (Pucuk Daun Jambu) untuk mengobati sakit perut - Lite Loka (Geta Pisang) untuk obat luka
Papan dan Bahan Infrastruktur Uru (Cempaka), Roa (Damar Babi), Koronia (Kayu cina), Leda (Ekaliptus), Tala (Bambu), Nahe (Pandan Hutan) Lauro(Rotan), Bono (Kulit Kayu), Hulo Kau (Damar)
Sumber Sandang Tea (Jenis Beringin yg ditanam) Koli Katewu (Kulit Kayu Beringin) Nahe (Pandan Hutan)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Beau (Kemiri), Kula Pare (Jahe), Kula Goa (Rica), Bada (Kunyit), Huku (Kencur), Seledri (Serei), Bala Kama (Daun Kemangi), Tangkada (Solasi), Lengkuas Hare, (daun Sere)
Sumber Pendapatan Ekonomi coklat, padi, karet, rotan