Wilayah Adat

Lonca

 Terverifikasi

Nama Komunitas Powatua Lonca
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi
Desa Lonca
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 7.158 Ha
Satuan Lonca
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan desa Tobaku, berbatas alam dengan gunung/bulu Nampo, gunung/bulu Tovalango
Batas Selatan Berbatasan dengan desa Winatu, berbatas alam dengan sungai/uwe Uma, sungai/uwe Lomuri, sungai/uwe Tua
Batas Timur Berbatasan dengan desa Sungku, berbatas alam dengan gunung/bulu Tobebe, gunung/bulu Kapapua ike, Puncak Parale
Batas Utara Berbatasan dengan desa Boladangko, berbatas alam dengan sungai/uwe Manga, sungai/uwe Hilolo, sungai/uwe Ntamulajo, gunung/bulu Popu

Kependudukan

Jumlah KK 154
Jumlah Laki-laki 267
Jumlah Perempuan 238
Mata Pencaharian utama Bertani ( ladang basah dan Kering ), Wiraswata dan Pns.

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat desa Lonca berasal dari rumpun sub suku Powatua. Dan kata Powatua itu terdapat beberapa jenis batu misal lumbang batu. Karena pertambahan jumlah penduduk dan keterbatasan lahan pertanian, maka beberapa masyarakat adat Powatua kemudian mencari tempat baru untuk membuka ladang pertanian. Sekelompok masyarakat adat Powatua mulai berjalan kearah barat Kulawi, dan akhirnya menemukan tempat di Hulu Sungai Miu. Sebagian masyarakat adat Powatua tersebut membuka ladang di Wilayah Ue Susu dan sebagian lagi ke Bulu Langa. Sekitar tahun 1900-an, tujuh kepala keluarga yang berladang di Bulu Langa pindah tempat ke gunung sebelah barat dan menetap diatas bukit tersebut sampai akhirnya membentuk komunitas baru, dan tempat disebut dengan Bolahae.

Lonca sendiri berasal dari sekelompok orang yang hidup di bulu langa (yang berbatasan dengan winatu) dan berpindah ke ue susu (winatu), sebagian lagi ke daerah kulawi dan ue powatua (lonca) setelah itu mereka ke bolahae dari bolahae mereka turun kedaerah yang lebih datar dipinggiran sungai kecil yang disebut Ue lonca tempat dimana orang mandi dan mengambil air untuk kehidupan sehari hari

Sekitar tahun 1970 terjadi bencana alam tanah longsor yang merusak dan mengubur pemukiman masyarakat Lonca. Hingga akhirnya mereka berpindah menetap didaerah yang baru seberang Sungai Miu sampai sekarang dan nama tempat yang baru tersebut tetap disebut Lonca.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruang menurut aturan adat yang berlaku di komunitas Powatua ( Desa Lonca ) sendiri meliputi :
1. Wanangkiki
Wanangkiki adalah Hutan lebat yang berada sangat jauh dari pemukiman penduduk.
2. Wana
Wana adalah Hutan lebat yang berada kurang lebih dari 5 kilometer dari pemukiman penduduk. Wana diyakini adalah hutan yang memberi penghidupan bagi masyarakat dan harus dijaga kelestariannya. yang mana pemanfaatannya adalah sebagai sumber mata air, untuk mencari damar, mengambil kayu untuk pembangunan rumah, mengambil rotan dan obat-obatan.
3. Panulu
Panulu adalah hutan lebat yang diperuntukan buat persiapan pembukaan kebun nantinya.
4. Bonea
Bonea adalah kebun atau ladang
5. Balingkea
Balingkea adalah bekas kebun yang masih baru dan belum sepenuhnya ditinggalkan oleh pemiliknya karena masih ada tanaman yang mungkin masih berbuah, seperti rica, tomat, terung dan kacang panjang.
6. Oma Nete
Oma nete adalah bekas kebun yang sudah mulai berumur 1 sampai 5 tahun.
7. Oma Ntua
Oma ntua adalah bekas kebun yang sudah mulai berumur 6 sampai 12 tahun.
8. Pahawa Pongko
Pahawa pongko adalah bekas kebun yang sudah berumur 12 sampai 25 tahun dan sudah kembali menjadi hutan lebat, yang mana disebut atau dikenal dengan sebutan pangale.
 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat Desa Lonca dibagi menjadi beberapa bagian yakni :
1. Nanuta Hadua dan Pepunulua
Nanuta Hadua dan Pepunulua adalah kepemilikan secara pribadi, beberapa keluarga atau satu keluarga saja.
Misalnya pembukaan kebun atau ladang yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa keluarga atau satu keluarga saja dan pembagian hasilnya dibagi secara merata. Akan tetapi jika dikemudaian hari bekas kebun tersebut dibuka kembali menjadi kebun atau ladang, maka yang berhak mengerjakannya adalah bagian dari keluarga itu sendiri saja.
2. Anuta Hingkani
Anuta Hingkani adalah kepemilikan suatu lahan secara bersama-sama dan berlaku umum dalam hal ini biasa dikenal dengan sebutan Komunal.
Misalnya pembukaan kebun atau ladang yang dilakukan secara bersama-sama yang terdiri dari 5 sampai 6 kelompok dan satu kelompok terdiri dari 7 sampai 9 orang. Sebelum dilakukan pembukaan kebun atau ladang, maka akan selalu diawali dengan pengumpulan semua kelompok untuk diskusi. Proses diskusi yang dilakukan guna untuk mendapatkan kesepakatan secara bersama yang dipimpin oleh orang yang dipercayakan, yakni orang yang umur paling tua, punya pengalaman dan dapat dipercaya. Kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan untuk menentukan letak lahan, memulai dari sisi mana, luasan lahan yang akan digarap dan pembagian hasil panen. Akan tetapi kepemilikan lahan tidak mengikat atau tidak ada larangan bagi orang lain atau kelompok lain yang akan menggarap kembali bekas kebun atau bekas ladang tersebut.
3. Molamara
Molamara adalah kepemilikan secara bersama-sama secara umum dan semua masyarakat adat Powatua berhak atas kepemilikannya. Molamara yang dimaksud adalah sebuah kandang ternak.

Jika ada masyarakat dari luar komunitas itu yang ingin membuka lahan di perbolehkan akan tetapi hanya untuk sekedar ditanami saja bukan untuk dimilki
Proses pembukaan lahan itu sendiri dengan menggunakan ritual (mpekae) dengan cara sipembuka lahan mencari waktu yang baik untuk membersihkan sedikit lahan tersebut dan setelah itu semua bergantung pada mimpinya, jika mimpinya baik maka dia akan meneruskan lahan itu jika sebaliknya maka dia akan mencari lahan yang lain (dan ini dilakukan sebelum masuk agama). Dan yang menentukan untuk pembagian lahan biasa disebut pemangu.
 

Kelembagaan Adat

Nama Totua Ada
Struktur Struktur kelembagaan adat terdiri dari : 1. Hulu Ada = pemimpin adat 2. Tadulako = tentara 3. Galara = utusan 4. Tapo rangara = pembicara 5. Tondo = keamanan
Tugas dan fungsi masing-masing adat adalah :
1. Tadulako
Tadulako adalah pengawal dan sekaligus orang yang dipercayakan untuk mengatur perkara.
2. Galara
Galara adalah orang yang dipercayakan sebagai penghubung dan komunikasi.
3. Pabisara
Pabisara adalah orang yang dipercayakan sebagai pembicara dalam proses peradilan sampai pembacaan kuputusan.
4. Tondo
Tondo adalah orang yang dipercayakan sebagai penjaga keamanan, baik dalam proses sidang adat maupun kemanan Ngata ( desa ) 
Mengundang = meoka
Membicarakan = molibu
Pengambilan keputusan/kesepakatan = pampo kahintuvua polibua

Pada bulan agustus 2019 terjadi kasus asusila dan mendapat pelanggaran yang biasa disebut Tora Eo, dengan denda 1 ekor babi yang disembelih disungai yang mengalir gunanya untuk membersihkan kampung. 

Hukum Adat

Dilakukan secara arif dan bijaksana sebagaimana yang telah diatur dalam aturan adat dan disepakati bersama. Aturan adat yang dimaksud dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah atau kawasan dan pengelolaan sumber daya alam adala :
a. Tidak diperbolehkannya ada aktifitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah di tentukan, sperti wanangkiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan Wanangkiki dan Wana.
b. Memperbolehakn mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan oleh lembaga adat. Proses diperbolehkannya mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Tidak untuk diperjualbelikan ( hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat ).
b. Tidak berada pada kemiringan tertentu.
c. Tidak menyebabkan kerusakan yang besar, misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
d. Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua. 
1. Ada Hintuvu/
Yaitu pengaturan kerja, Baik itu kerja bakti desa atau kerja kebun
2. Ada Poevua
Yaitu aturan untuk penggembelaan, baik secara kelompok maupun secara perseorangan. Penggembelaan secara komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut dengan Lambara. Juga mengatur perselisihan kepemilikan hewan ternak.
3. Ada Motibo gagu
Yaitu aturan untuk mekanisme pembagian harta, baik harta orang tua maupun harta suami istriAda Mporongo
Yaitu aturan yang mengatur perkawinan
4. Ada Ria puena
Yaitu aturan yang mengatur tentang kepemilikan lahan atau tanah
5. Ada Mponjamoko yaitu yang mengatur tentang perkawinan 
Givu: Denda
Penamaan Givu atau denda bisa berlaku untuk semua pelanggaran yang sudah diatur oleh dewan adat. Aturan itu juga berlaku bagi semua orang yang sudah masuk dalam wilayah adat tersebut.

Contohnya :
1. Mengambil kayu tanpa permintaan izin terlebih dahulu kepada dewan adat akan dikenakan sanksi, yakni 1 ekor kerbau/uang dan piring 10 buah, 1 sarung dan Semua peralatan yang dipakai untuk menebang pohon seperti kampak dan sensor akan disita untuk dijadikan jaminan.
2. Mosalara ( berzina ) : akan dikenakan denda 4 ekor kerbau

Mosalara :
Mosalara adalah aturan adat yang mengatur tentang perzinahan.

Contohnya :
Jika seseorang yang masing-masing sudah berumah tangga diketahui melakukan perzinahan atau disebut biasa dengan selingkuh, maka akan dikenakan sanksi atau givu berupa 4 ekor kerbau. Masing-masing dari 4 ekor kerbau tersebut akan dibagi yakni 3 ekor buat istri pelaku dan 1 ekor buat suami pelaku.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu, ubi, talas, sawi, kacang panjang, umbut, labu, daun ubi, terong, Buah : pisang, langsat, durian, manggis, kelapa, papaya, jambu biji, sirsak, nenas, markisa, manga Ikan mujair, kepiting, udang, katak besar (tumpa)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar kuning/wala kuning = untuk penyakit dalam Daun jarak/ntatanga =penurun panas Daun tomat kecil =obat bisul (kompres) Para lente/daun kecil seleguri = menghentikan pendarahan dan magh Motinaha (mandi uap), batu yang dibakar = ibu ibu melahirkan
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun rumbia dan kayu bundar
Sumber Sandang Pakaian adat: Pakaian adat yang digunakan masih berasal dari kulit kayu yang biasa disebut dengan kayu Umayo Kulit kayu umayo dan kuva, kemudian diolah menjadi baju yang disebut dengan Inodo Pewarna: Pewarna baju adat menggunakan pewarna alami dari buah pohon Ula. Warna yang dihasilkan adalah cokelat, bisa cokelat tua maupun cokelat muda
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun lemon = tawe munte, Rogo = tave Vili onco Rampantuvu = masakan bambu Jahe = kula Kunyit = kuni Lengkuas = bintua Serey = timpuvane Daun bawang = piavolo Bawang putih = piabula Bawang merah = pialei Kemiri = pello
Sumber Pendapatan Ekonomi Cokelat, kelapa, padi, dan cengkeh

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Sigi Nomor 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen