Wilayah Adat

Ngata Lonca

 Terverifikasi

Nama Komunitas Powatua Lonca
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi
Desa Lonca
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 7.159 Ha
Satuan Ngata Lonca
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan Desa Tobaku, Tanda batasnya: gunung/bulu Nampo, gunung/bulu Tovalango
Batas Selatan Berbatasan dengan Desa Winatu, Tanda batasnya: sungai/uwe Uma, sungai/uwe Lomuri, sungai/uwe Tua
Batas Timur Berbatasan dengan Desa Sungku, Tanda batasnya: gunung/bulu Tobebe, gunung/bulu Kapapua ike, Puncak Parale
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Boladangko, Tanda batasnya: sungai/uwe Manga, sungai/uwe Hilolo, sungai/uwe Ntamulajo, gunung/bulu Popu

Kependudukan

Jumlah KK 154
Jumlah Laki-laki 267
Jumlah Perempuan 238
Mata Pencaharian utama Bertani ( ladang basah dan Kering )

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat desa Lonca berasal dari rumpun sub suku Powatua. Karena pertambahan jumlah penduduk dan keterbatasan lahan pertanian, maka beberapa masyarakat adat Powatua kemudian mencari tempat baru untuk membuka ladang pertanian. Sekelompok masyarakat adat Powatua mulai berjalan kearah barat Kulawi, dan akhirnya menemukan tempat di Hulu Sungai Miu. Sebagian masyarakat adat Powatua tersebut membuka ladang di Wilayah Ue Susu dan sebagian lagi ke Bulu Langa. Sekitar tahun 1900-an, tujuh kepala keluarga yang berladang di Bulu Langa pindah tempat ke gunung sebelah barat dan menetap diatas bukit tersebut sampai akhirnya membentuk komunitas baru, dan tempat disebut dengan Bolahae.
Lonca sendiri berasal dari sekelompok orang yang hidup di bulu langa (yang berbatasan dengan winatu) dan berpindah ke ue susu (winatu), sebagian lagi ke daerah kulawi dan ue powatua (lonca) setelah itu mereka ke bolahae dari bolahae mereka turun kedaerah yang lebih datar dipinggiran sungai kecil yang disebut Ue lonca tempat dimana orang mandi dan mengambil air untuk kehidupan sehari hari
Sekitar tahun 1970 terjadi bencana alam tanah longsor yang merusak dan mengubur pemukiman masyarakat Lonca. Hingga akhirnya mereka berpindah menetap didaerah yang baru seberang Sungai Miu sampai sekarang dan nama tempat yang baru tersebut tetap disebut Lonca.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruang menurut aturan adat yang berlaku di komunitas Powatua ( Desa Lonca ) sendiri meliputi :
Wanangkiki
Merupakan kawasan hutan primer di puncak gunung yang sebagiannya didominasi oleh rerumputan, lumut dan perdu. Kawasan ini dianggap amat penting sebagai sumber udara segar dan tidak boleh dijamah aktivitas manusia.

Wana
Wana adalah Hutan lebat yang berada kurang lebih dari 5 kilometer dari pemukiman penduduk. Wana diyakini adalah hutan yang memberi penghidupan bagi masyarakat dan harus dijaga kelestariannya. yang mana pemanfaatannya adalah sebagai sumber mata air, untuk mencari damar, mengambil kayu untuk pembangunan rumah, mengambil rotan dan obat-obatan.

Panulu: hutan lebat yang diperuntukan buat persiapan pembukaan kebun nantinya (cadangan lahan)

Bonea: lokasi perkebunan masyarakat yang sementara diolah yang tanamannya merupakan tanaman tahunan dan tanaman bulanan (jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran dll)

Balingkea: bekas kebun yang masih baru dan belum sepenuhnya ditinggalkan oleh pemiliknya karena masih ada tanaman yang mungkin masih berbuah, seperti rica, tomat, terung dan kacang panjang. Balingkea dibagi lagi menjadi 3 yaitu:
- Oma Nete: bekas kebun yang sudah mulai berumur 1 sampai 5 tahun.
- Oma Ntua: bekas kebun yang sudah mulai berumur 6 sampai 12 tahun.
- Pahawa Pongko.Pengale: bekas kebun yang sudah berumur 12 sampai 25 tahun dan sudah kembali menjadi hutan lebat
 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah adat Desa Lonca dibagi menjadi beberapa bagian yakni :
1. Nanuta Hadua dan Pepunulua
Nanuta Hadua dan Pepunulua adalah kepemilikan secara pribadi, beberapa keluarga atau satu keluarga saja.
Misalnya pembukaan kebun atau ladang yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa keluarga atau satu keluarga saja dan pembagian hasilnya dibagi secara merata. Akan tetapi jika dikemudaian hari bekas kebun tersebut dibuka kembali menjadi kebun atau ladang, maka yang berhak mengerjakannya adalah bagian dari keluarga itu sendiri saja.
2. Anuta Hingkani
Anuta Hingkani adalah kepemilikan suatu lahan secara bersama-sama dan berlaku umum dalam hal ini biasa dikenal dengan sebutan Komunal.
Misalnya pembukaan kebun atau ladang yang dilakukan secara bersama-sama yang terdiri dari 5 sampai 6 kelompok dan satu kelompok terdiri dari 7 sampai 9 orang. Sebelum dilakukan pembukaan kebun atau ladang, maka akan selalu diawali dengan pengumpulan semua kelompok untuk diskusi. Proses diskusi yang dilakukan guna untuk mendapatkan kesepakatan secara bersama yang dipimpin oleh orang yang dipercayakan, yakni orang yang umur paling tua, punya pengalaman dan dapat dipercaya. Kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan untuk menentukan letak lahan, memulai dari sisi mana, luasan lahan yang akan digarap dan pembagian hasil panen. Akan tetapi kepemilikan lahan tidak mengikat atau tidak ada larangan bagi orang lain atau kelompok lain yang akan menggarap kembali bekas kebun atau bekas ladang tersebut.
3. Molamara
Molamara adalah kepemilikan secara bersama-sama secara umum dan semua masyarakat adat Powatua berhak atas kepemilikannya. Molamara yang dimaksud adalah sebuah kandang ternak.

Jika ada masyarakat dari luar komunitas itu yang ingin membuka lahan di perbolehkan akan tetapi hanya untuk sekedar ditanami saja bukan untuk dimilki
Proses pembukaan lahan itu sendiri dengan menggunakan ritual (mpekae) dengan cara sipembuka lahan mencari waktu yang baik untuk membersihkan sedikit lahan tersebut dan setelah itu semua bergantung pada mimpinya, jika mimpinya baik maka dia akan meneruskan lahan itu jika sebaliknya maka dia akan mencari lahan yang lain (dan ini dilakukan sebelum masuk agama). Dan yang menentukan untuk pembagian lahan biasa disebut pemangu.

 

Kelembagaan Adat

Nama Totua Ada Lonca
Struktur Struktur kelembagaan adat terdiri dari : 1. Hulu Ada = pemimpin adat 2. Tadulako = tentara 3. Galara = utusan 4. Tapo rangara = pembicara 5. Tondo = keamanan
Tugas dan fungsi masing-masing adat adalah :
1. Tadulako: pengawal dan sekaligus orang yang dipercayakan untuk mengatur perkara.
2. Galara: orang yang dipercayakan sebagai penghubung dan komunikasi.
3. Pabisara: orang yang dipercayakan sebagai pembicara dalam proses peradilan sampai pembacaan kuputusan.
4. Tondo: orang yang dipercayakan sebagai penjaga keamanan, baik dalam proses sidang adat maupun kemanan Ngata ( desa )
 
Mekanisme dalam mengambil keputusan dilakukan dengan cara Musyawarah Adat atau yang disebut dengan Megombo Ada
Musyawarah adat dihadiri oleh semua masyarakat yang terlibat. Adapun tujuan dilakukannya Megombo ada antara lain:
1. Pada saat akan melaksanakan peradilan adat.
2. Pelaksanaan ritual adat seperti kelahiran, perkawinan , kematian, kecelakaan, penyambutan tamu
3. Saat akan melakukan bercock tanam.
Musyawarah adat biasanya dilakukan di Balai Pertemuan. Adapun tahapan pengambilan keputusan sbb :
- Meoka = Mengundang masyarakat pada saat akan dilaksanakan megombo ada
- Molibu = Pembukaan acara dan berdiskusi
- Pampo kahintuvua polibua= Penyampaian hasil atau keputusan yang diambil
Proses Pengambilan Keputusan di Ngata Lonca dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat.
 

Hukum Adat

1. Tidak diperbolehkannya ada aktifitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah di tentukan, sperti wanangkiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan Wanangkiki dan Wana.
2. Memperbolehakn mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan oleh lembaga adat. Proses diperbolehkannya mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Tidak untuk diperjualbelikan ( hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat ).
b. Tidak berada pada kemiringan tertentu.
c. Tidak menyebabkan kerusakan yang besar, misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
d. Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua.
 
1. Ada Hintuvu
Yaitu pengaturan kerja, Baik itu kerja bakti desa atau kerja kebun
2. Ada Poevua
Yaitu aturan untuk penggembelaan, baik secara kelompok maupun secara perseorangan. Penggembelaan secara komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut dengan Lambara. Juga mengatur perselisihan kepemilikan hewan ternak.
3. Ada Motibo gagu
Yaitu aturan untuk mekanisme pembagian harta, baik harta orang tua maupun harta suami istriAda Mporongo
Yaitu aturan yang mengatur perkawinan
4. Ada Ria puena
Yaitu aturan yang mengatur tentang kepemilikan lahan atau tanah
5. Ada Mponjamoko yaitu yang mengatur tentang perkawinan
 
Pada bulan agustus 2019 terjadi kasus asusila dan mendapat pelanggaran yang biasa disebut Tora Eo, dengan denda 1 ekor babi yang disembelih disungai yang mengalir gunanya untuk membersihkan kampung. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu, ubi, talas, sawi, kacang panjang, umbut, labu, daun ubi, terong, Buah : pisang, langsat, durian, manggis, kelapa, papaya, jambu biji, sirsak, nenas, markisa, manga Ikan mujair, kepiting, udang, katak besar (tumpa)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar kuning/wala kuning = untuk penyakit dalam Daun jarak/ntatanga =penurun panas Daun tomat kecil =obat bisul (kompres) Para lente/daun kecil seleguri = menghentikan pendarahan dan magh Motinaha (mandi uap), batu yang dibakar = ibu ibu melahirkan
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun Rumbia dan Kayu Bundar
Sumber Sandang Pakaian Adat : Pakaian adat yang digunakan masih berasal dari kulit kayu yang biasa disebut dengan kayu Umayo. Kulit kayu Umayo dan Kuva, kemudian diolah menjadi baju yang disebut dengan Inodo. Pewarna : Pewarna untuk baju adat masih menggunakan pewarna alami yaitu berasal dari buah pohon Ula. Warna yang dihasilkan adalah warna coklat. Warna yang dihasilkan juga bisa coklat tua dan coklat muda.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun lemon (tawe munte), Rogo (tave), Vili (onco), Rampantuvu (masakan bamboo), Jahe (kula), Kunyit (kuni), Lengkuas (bintua), Serey (timpuvane), Daun bawang (piavolo), Bawang putih (piabula) Bawang merah (pialei), Kemiri (pello).
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, kelapa, padi dan cengkeh

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Sigi Nomor 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen