Wilayah Adat

Dayak Seberuang Ansok

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Seberuang Ansok
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Tempunak Hulu
Desa Benua Kencana
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.173 Ha
Satuan Dayak Seberuang Ansok
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Kampung Sungai Buaya, Desa Jaya Mentari, Kecamatan Tempunak (Bukit Emperkak)
Batas Selatan Kampung Jungkang, Dusun Balai Penembah,Desa Benua Kencana, Kecamatan Tempunak (Bukit Tebaring)
Batas Timur Kampung Pekulai Ulu, Desa Pekulai Bersatu, Kecamatan Tempunak (sepanjang aliran sungai Kedupai sampai sungai Kemunting)
Batas Utara 1) Utara Nanga Tenguli Sunsang, Tinting Emperkak, Ulu Pemanik, Temawang Rian Sawung, Tinting sungai Kandis, Tinting Sungai Kupan, Jembatan Kedupai, Tinting Muntik, Tinting Nyelutung, Petengahan Sungai Kajang, Simpang tiga sungai peludan, Tapang Pekesak, menjadi batas dengan Kampung Pekulai Ulu, Desa Pekulai Bersatu, Kecamatan Tempunak.

Kependudukan

Jumlah KK 105
Jumlah Laki-laki 309
Jumlah Perempuan 149
Mata Pencaharian utama Petani Ladang dan Petani Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Ansok telah menempati kampung Ansok secara turun temurun. Tidak ada referensi tertulis yang menunjukan dan mencatat secara persis sejak kapan proses migrasi pertama kali terjadi di Ansok. Namunpun demikian masih terdapat sumber sumber yang masih dapat digali informasinya, seperti tetau tetua di kampung.

Ansok adalah salah satu kampung tertua di wilayah kecamatan Tempunak Hulu dan merupakan pusat pemerintahan pada zaman dahulu (Temenggung Udap yang mengepalai 17 kampung tinggal di Ansok). Nenek moyang masyarakat Ansok adalah berasal dari suku Dayak Seberuang yang datang dari daerah sungai Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Konon Dayak Seberuang yang juga termasuk rumpun Dayak Iban, berasal dari tanah semula jadi Tampun Juah (Segumon, Sekayam Hulu) di hulu sungai Sekayam, kabupaten Sanggau berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Dari Tampun Juah terjadi migrasi salah satunya ke Batang Sungai Seberuang di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dari Kapuas Hulu, terjadi perpindahan ke daerah Sintang salah satunya ke daerah aliran sungai Tempunak.

Pada saat awal kedatangan Suku Dayak Seberuang dari Batang Seberuang Kapuas Hulu ke Tempunak, sedang terjadi peperangan antara suku asli di Tempunak yaitu Melayu Jelimpau dengan suku Silan Muntak (suku didaerah Keberak, Belimbing, Kabupaten Melawi). Peperangan mengakibatkan jumlah suku Melayu Jelimpau semakin sedikit. Dayak Seberuang datang dan membantu peperangan yang membuat suku Silan Muntak kalah. Sebagai imbalan oleh suku Melayu Jelimpau, kekayaan sumber daya termasuk tanah, kayu dan tapang tembawang dan kekayaan yang ada di daerah sungai Tempunak diberikan kepada suku Dayak Seberuang. Sejak saat itu suku Dayak Seberuang mendiami daerah Tempunak, dan terus berkembang sampai sekarang (suku Melayu Jelimpau mendiami desa Kuala dua, Kecamatan Tempunak dan menjadi suku minoritas).

Ansok berasal dari nama sebuah sungai yaitu sungai Ansok. Sungai Ansok mempunyai anak sungai yaitu sungai Kandis, sungai kemantan, sungai jingir, sungai leban sungai Ansok Remayan, sungai Ansok Berauh. Sungai Ansok bermuara ke sungai Tempunak dan sungai Tempunak bermuara ke Sungai Kapuas.

Manusia pertama penghuni sungai Ansok adalah Bapak Ujan dan istrinya Tawai, mempunyai anak bernama Patih dan Singa Macan. Keberadaan Patih dan Singa Macan yang dibuktikan dengan ada Tapang Patih didalam Hutan Adat di Emperekak dan Tembawang Singa Macan di Lebuk Lantang. Patih mempunyai istri bernama Linsau.

Kehidupan pertama kali di Kampung Ansok oleh Ujan dan Tawai berada didaerah Melaban (dekat dengan Rimba Bukit Emperkak) Tembawang Nambang. Tidak diketahu berapa lama tinggal dan menetap di Melawan, namun diperkirakan 2 -3 generasi. Dari Melaban pindah ke Ansok Saka Dua Pun Taba diperkirakan sejak tahun 1870 an yang dibuktikan dengan adanya Tembawang tua yang ada di Ansok dimana terdapat pohon durian Tajau dan tembawang Tengkawang. Dari Ansok saka dua kemudian pindah kampung / tembawang Gurung Biyu diperkiran perpindahan terjadi pada tahun 1910. Pada saat masih di Melaban, Ansok Saka Dua Pun Taba dan Gurung Biyu dipimpin oleh Temenggung Udap, oleh Temenggung Udap masyarakat diminta untuk pindah ke kawasan didekat aliran sungai Tempunak, hal ini untuk mempermudah akses jika harus turun ke kampung atau daerah lain melalui sungai Tempunak. Akhirnya pada tahun 1961 pindah ke Nanga Ansok ke arah kanan mudik sungai Tempunak. Namun karena kampung kampung di sekitarnya seperti Kampung Pekulai dan Jungkang berada disebelah kiri mudik sungai Tempunak, dan untuk mempermudah akses pemerintah kecamatan karena pada saat itu belum ada jembatan, maka pemukiman pindah ke seberang sungai, tempat kampung Ansok yang sekarang. Perpindahan ini terjadi pada tahun 1964.
Dikampung Ansok merupakan pusat pemerintahan adat 17 kampung (tempat Tinggal Temenggung Udap) ketujuh belas kampung tersebut yaitu : 1. Ansok, 2. Jungkang, 3. Sungai Kura, 4. Mulas, 5. Lanjau, 6. Lebuk lantang, 7. Pekulai, 8. Mansik, 9. Remiang, 10. Nanga Jengkuat, 11. Penyarak, 12. Tembak, 13. Sungai Buluh, 14. Sungai Belatuk, 15. Arai, 16. Sungai Buaya, 17. Serepang. Dahulu dibangun sebuah balai adat di kampung Ansok, oleh karena itu Ansok juga dikenal dengan nama balai Temenggung. Yang sekarang menjadi nama dusun secara administarsi kepemerintahan.

Sistem kepercayaan masyarakat Asok sebelum masuknya ajaran agama Katolik adalah kepercayaan lokal. Belum ditemukan istilah atau nama yang tepat untuk kepercayaan lokal. Namun dalam prakteknya masyarakat meyakini adanya suatu kekuatan yang mengatur kehidupan di luar batas kendali manusia, masing masing alam ada yang menguasai. Kekuatan itu terdapat pada benda (tanah, angin, hutan, air, kayu, binatang) dan meraka percaya sang pencipta yang disebut Petara.

Agama Katolik masuk pertama kali pada tahun 1964 hal ini ditandai dengan terbentuknya umat katolik yang memilik Kapel yang dimisonaris kan oleh seorang Pastor Adrianus Van Der Vlueten, SMM masuk kedalam wilayah keuskupan Sintang. Hingga sekarang agama Katolik tumbuh menjadi agama masyarakat di Ansok. Namun pun demikian adat kepercayaan lokal masil tetap dipertahankan dan dipegang teguh. Adat istiadat dan hukum adat termasuk macam macam kearifan lokal masih sangat dipegang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Masyarakat Adat Ansok membagi ruang wilayah adat menjadi, yaitu :
1. Rimba adalah areal hutan yang dilindungi dan diatur secara adat dengan tutupan vegetasi pohon-pohon besar yang merupakan daerah vital dan mempunyai banyak sumber daya alam penting (sumber mata air);
2. Tanah Puma / babas / Pemudak adalah areal khusus bisa berupa hutan atau lahan yang pernah dikelola sebelumnya yang dimanfaatkan secara berkala untuk membuat ladang;
3. Tembawang adalah kawasan khusus yang dimanfaatkan secara terbatas, tembawang adalah suatu kawasan bekas berladang yang kemudian ditanami berbagai macam jenis tumbuhan buah dan kayu yang berguna lainnya. Tembawang juga sebagai bentuk pengakuan kepemilikan akan tanah;
4. Kampung adalah kawasan untuk permukiman warga untuk mendirikan rumah atau membangun fasilitas umum;
5. Tanah Mali / Gupung adalah suatu kawasan yang dipercaya sebagai tempat keramat sehingga kawasan terebut tidak bolah diganggu (lindung);
6. Kebun adalah tanah yang telah ditanami jenis tumbuhan bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup.
 
Jenis-jenis hak kepemilikan tanah dan Subjek Haknya :

1. Tanah Menulin : Tanah yang dikuasi dan dikelola oleh pribadi (individu)
2. Tanah Kenturun : Tanah warisan yang dikuasi dan dikelola oleh ahli waris (keturunan). Tanah Kenturun biasa disebut Tembawang
3. Tanah Kampung : Tanah yang dimiliki dan dikelola bersama sama oleh komunitas.

Dengan proses peralohan hak atas tanah dapat melalui proses : Silih atau Surung Adat (bayar atas hukuman adat), Kempuli (meminta kepada orang lain), Pemerik (pemberian 0rang Lain / Warisan), Tukar dan Jual Beli (praktek jual beli tidak terjadi pada jaman dahulu).

Jika melalui proses silih atau surung adat maka yang harus mengetahui adalah pengurus adat dan pihak yang berpekara adat. Kempuli dan Pemerik dan tukar melalui persetujuan kedua belah pihak (baik pribadi maupun kenturun) dan diputuskan oleh kedua belah pihak. Jika terjadi melalui proses jual beli makan yang berhak memutuskan adalah kedua belah pihak dan diketahui oleh pemerintah desa dan atau pengurus adat.

 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan
Struktur 1. Temenggung -> A Bijak 2. Ketua Adat Desa -> S Peri 3. Ketua Adat Kampung -> Martinus
1. Temenggung memiliki kekuasaan dan kewenangan disatu wilayah adat baik dalam mengatur hukum adat (tingkah laku) maupun adat tentang pengelolaan sumber daya alam. Wilayah kekuasaan temenggung dapat lintas deerah (kampung / desa).Kepala Kampung
2. Ketua Adat Desa memilik kekuasaan dan kewenangan untuk menyelesaikan perkara adat ditingkat Desa.
3. Ketua Adat adalah pengurus adat tertinggi dalam satu kampung. Pengurus kampung memiliki tugas dan wewenang untuk mengatur, mengurus dan memutuskan perkara di tingkat kampung. Apabila terdapat hal yang tidak mampu atau dapat diselesaikan di tingkat kepala kampung, maka akan naik ke tingkat Desa dana tau Temenggung.
Ketua adat dusun hanya boleh menyelesaikan perkara dengan maksimal hukum adat adalah 80 Rial
 
Didalam mekanisme pengambilan keputusan masyarakat Ansok menggunakan Musyawarah Mufakat. Apabila menyangkut kepentingan bersama maka akan disepakati waktu berkumpul untuk membahasnya. Tempat yang digunakan adalah Balai Adat (dahulu) sekarang di Balai Dusun. Dengan memperhatikan keterwakilan-keterwakilan kaum (Laki-laki, perempuan dan pemuda).

Sedangkan untuk penyelesaian konflik terdapat aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Penyelesaian yang melibatkan pengurus adat, ada 7 tahapan (mekanisme) dalam penyelesainnya, yaitu :
1. Adanya laporan dari salah satu pihak kepada pengurus adat
2. Pengurus adat akan memanggil kedua belah pihak yang berselisih, bila yang berselisih adalah dari dua wilayah (kepengurusan berbeda) maka wajib membawa pengurus adat masing-masing.
3. Memberikan uang peserah (uang sidang pekara). Besarnya uang peserah berdasarkan tingkatan. Apabila pada tingkat penyelesaian Kepala Kampung sebesar 20 Real, apabila pada tingkatan Ketemenggungan sebesar 60 Real.
4. Bejerih. Kedua belah pihak yang berselisih akan menjelaskan alasan mengapa sampai terjadi perselisihan secara bergantian. Pada saat bejerih tidak boleh ada sanggah atau bantahan dari salah satu pihak.
5. Bebantah, yaitu proses penyanggahan oleh masing masing pihak terhadap jerihan yang disampaikan. Dan pandangan oleh pengurus adat dan pemutusan perkara serta menghitung real adat sesuai dengan pelanggaran adat yang dilakukan.
6. Besurung, adalah pembayaran adat kepada yang dijatuhkan hukum adat. Dalam Besurung, 30 % dari besaran surung diserahkan kepada Pengurus Adat
7. Besait, adalah laranagan untuk mengulang kembali konfilk yang terjadi, biasanya dalam sait disepakati dalam batasan waktu tertentu (bulan / tahun) bahkan selamanya tergantung jenis pekara. Apabila salah satu pihak melanggar sait, maka akan dikenakan adat pelangkah sait yang besarnya bisa dua kali lipah dari besar adat yang dijatuhkan sebelumnya. Didalam besait juga terdapat nasehat dan wejangan supayan tidak melakukan kejadian yang sama lagi.
Apabila didalam putusan tidak mencapai kesepakatan (ada salah satu pihak yang tidak menerima putusan) maka penyelesaian perselisiahan akan dilanjutkan pada tingkatan yang lebih tinggi secara struktur dengan mekanise penyelesaian yang sama. Ada ketentuan ketentuan tertentu pelanggaran adat yang boleh diselesaikan langsung oleh kepala kampung atau ketua adat dusun dan atau ketua adat desa, namun ada yang langsung naik ke tingkat Temenggung, diantaranya : Kampang (hamil diluar nikah), mali damping (meningkah dengan sepupu, keponakan, atau paman - bibi), Kerangkat (mengambil istri atau suami orang yang masih memiliki ikatan sah secara adat dan agama), Pati (menghilangkan nyawa seseorang), dan Pampas (setengah pati).
 

Hukum Adat

Perusakan perkarangan, nuba sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan dan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, be-uma di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat, mali tanah, Sengkelan batu dan aturan tentang tembawang.

 
Siklus Kehidupan :
1. Sengkelan Kandung, ketika kehamilan mencapai usia 3 bulan, maka sang suami akan melakukan pantang. Berpantang tidak berburu kehutan, meyembelih binatang dan menjaga perkataan (tidak berkata kotor) supaya bayi yang dilahirkan nanti sehat, selamat dan dan dalam kondisi baik.
2. Ngeruai / ngelangkah Batun, pada saat anak berusia 3 – 7 hari baru boleh membawa ke ruai (ruang tamu) dan biasanya bersamaan dengan memberi nama pada anak.
3. Ngemaik Manik, pada saat anak berusia 0 – 2 tahun anak diperkenalkan dengan alam dengan memandikan di sungai (air dianggap mewakili semua elemen yang ada di alam, karena telah mengalir melewati tanah, batu, pasir, kayu, dan udara)
4. Beransah Gigi (potong gigi) sebagai tanda anak menjelang dewasa, supaya dapat tumbuh dan berkembang dan siap lepas dari dunia anak-anak.
5. Matah Ricik adalah upacara pengesahan perkawinan, sebelum matah ricik ada empat tahapan yang harus dilewati, yaitu nyurung tembakau daun (titip pesan bahwa akan menjalin hubungan yang serius), mentanyak (melamar), tunangan, terakhir adalah matah ricik.
6. Diau atau upacara kematian, merupakan upacara berkabung sebagai bentuk duka cita kepada keluarga yang meninggal. Diau bisa berupa tuba mali, pantang, dan munuh padi seleman.
Hukum adat tentang pranata sosial dan hubungan sesama manusia meliputi: pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, balang betunang, cerai, berangkat kawin (jinah), basa kampung, fitnah (ngemulak, Mungkal, Muai, dusa, salah basa, ampang sida. Yang semuanya telah tertuang dalam buku Hukum Adat dan Adat Istiadat.
 
1. Jenis Kasus : Pembakaran lahan yang menyebabkan rusak tanam tumbuh milik orang lain
Nama Korban : A (Ansok)
Nama Pelanggar : B (Pekulai)
Penyelesaian Adat : 29 September 2019
Pesurung adat : 1 ekor Ayam, 1 batang besi, 1 mangkok beras, denda 4 Rial. Dan ganti Pati Tanah dan Kebun yang terbakar.
2. Jenis Kasus : Penebangan Kayu di Rimbak Emperkak.
Pesurung adat : (Salah Basa Kampung) Denda 20 Rial dan Kayu di Sita Kampung.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat : Padi, Pului, Jagung, Jawak, Keribang, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Keladi, Nyelik Lesit, Tebu Teluk. Proten Hewani : Kerubik, Ikan, Lelabi, Babi Hutan, Kijang, Ayam, Babi. Vitamin Buahan : mentawak, langsat, kemayau, durian, sibau, melanjau perut kelik, titidan, mantut, embak, benit, rambai, kemantan, raba pelam, mawang, kubal, urik, mantut, terap, teretung, dabung, empakan, tamang, berangan, pisang, nyur, mentelang, jambu, lengkuis. Sayuran : Kundur, Gambas, Lepang, Lengak, Kacang Kayu, Kacang Panjang, Kucai, Terong, Bayam Kampung, Sawi Kampung, Perenggi, Mentimun, Tebu Kandung.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Pasak bumi, jerangau, entemu, akar ridu, asam patah, bunga kensunsung, leban.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kelansau, keladan, tekam, mengkirai, resak, wi senggang, perupuk, ubah, meranti, Muntik, Pering, Mengkalat, Buluh, Temiang.
Sumber Sandang Kepuak, Tebelian, Kumpang.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sengkubak, daun lekau, kensinduk, jahe bumbu, jahe merah, jahe padi, asam cekalak, daun benit, Bawang Lembak, kunyit, lengkuas.
Sumber Pendapatan Ekonomi Tengkawang, Durian, Jengkol, Mentawak.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Sintang Nomor 660/1795/KEP-DLH/2019 Tentang Pembentukan Panitia Verifikasi dan Validasi Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Sintang Nomor 660/1795/KEP-DLH/2019 SK Bupati Sintang Nomor 660/1795/KEP-DLH/2019 Tentang Pembentukan Panitia Verifikasi dan Validasi Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Sintang SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen
2 PERDA Kabupaten Sintang Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kelembagaan Adat Nomor 12 Tahun 2015 PERDA Kabupaten Sintang Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Kelembagaan Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen