Wilayah Adat

Wanua Kolori

 Terverifikasi

Nama Komunitas To Bada to Kolori
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Barat
Desa Kolori dan Lelio
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.100 Ha
Satuan Wanua Kolori
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan Desa Lengkeka. Mulai dari Sungai Lairiang, Sungai Lambongo, Bulu Lambongo, sampai di Bulu Tamburake.
Batas Selatan Berbatasan dengan Desa Dewa, Desa Pada, dan Desa Bomba. Mengikuti aliran Sungai Lairian.
Batas Timur Berbatasan dengan Kecamatan Lore Selatan (Hutan Lindung). Mulai drai Sungai Taba, Sungai Kalaiko, Sungai Topotitido 1, Sungai Tomolemo, Sungai Homoleda 1, Sungai Homoleda 2, Sungai Towiora, Sungai Dungkararu, Sungai Handolai, Sungai Mangilu, Sungai Makoko, Sungai Topotitido 2, Sungai Tanaono, Sungai Lebuka, Sungai Waroawu, Sungai Tamahingki, sampai di Sungai Lairiang.
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Doda, Desa Bariri, Desa Desa Hangira, dan Desa Baleura Kecamatan Lore Tengah. Mulai dari Bulu Tamburake, ungai Betauwa sampai di Sungai Taba.

Kependudukan

Jumlah KK 148
Jumlah Laki-laki 292
Jumlah Perempuan 264
Mata Pencaharian utama Pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada mulanya masyarakat kolori lelio tinggal di Bulu Pointoa (Gunung Pointoa). Seiring dengan bertambahnya masyarakat maka seorang yang di tuakan di antara masyarakat tersebut melihat ada dataran yang baik untuk di jadikan perkampungan. Maka mereka turun dan membuat satu perkumpulan yang baru. Tempat itu bernama Pada Sepe(Padang Sepe), sehingga masyarakat yang tadinya turun ke lembah tersebut di kenal dengan sebutan orang Sepe. Padawaktu masyarakat masi tinggal bersama di Padang Sepe terjadi perselisihan antara Sepe dan Gintu. Orang tua di Gintu memintahkan bantuan dari orang Kulawi untuk berperang melawan orang Sepe. Tetapi pada waktu orang Kulawi datang menyerang, orang sepe masi beradah di kebun maka orang Kulawi hanya membakar perkampungan tersebut. Maka penduduk melihat asap membumbung, mereka pun sadar bahwa perkampungan mereka telah di serang. Merekapun mengejar orang-orang yang memporak-porandakan perkampungan tersebut dan terjadilah peperangan. Karena melihat perkampungan sudah porak-poranda dan tak mungkin dihuni lagi maka tercerai berailah kelompok tersebut. Sebagian ke Kanda, ke Bangkoilo (pada), dan Bomba. Yang dari kanda inilah yang membangun desa kolori.Kampung kanda diduduki dari sisa-sisa orang sepe seperti yang tercantum pada riwayat Sepe. Pada waktu sepe tidak didiami lagi, bangsa sepe berusaha membangu kanda/ polamba’a. Tanah Kanda sekeliling itu sebenarnya cuma Delta saja. Terjadi perselisihan antara Bapa dan Anak, yaitu Tekai dan Mengkiso. Maka Mengkiso berangkat dari kanda dan bermukim di betaua. Lambat laut Mengkiso dan Bapaknya berbaikan Kembali. Mengkisopun kembali ke kanda. Tinggal anak dari Mengkiso yang bernama Bambari yang hanya Berpindah dari betaua ke kolori. Dan Bambari inilah yang mendirikan pemukiman di Kolori, sampai meninggal di Kolori. Tetapi karena Sungai Lairiang yang terus menerus menggerus perkampunan Kanda, mereka pun kembali ke Kolori dan membangun Kolori sampai sekarang.
Masyarakat yang dari sepe juga ada yang berpindah ke Bomba, tidak bergabung di Kanda. Tetapi lama kelamaan mereka pun ingin memisahkan diri dari masyarakat Bomba. Maka mereka pindah ke Bomba dan menyeberang kembali sungai Lairiang dan ke arah timur Bulu Pointoa tempat yang namanya Lelio. Mereka pun membangun satu perkampungan baru. Mereka menyebut diri mereka sebagai orang Lelio seperti tempat yang mereka tinggali. Pada tahun 1963 ketika Distrik Lore berkunjung ke Lelio dan kolori. Melihat ada lokasi yang baik untuk di jadikan perkampungan yang namanya Parakai yaitu daerah antara Kolori dan Lelio. Kepala Distrik Tomas Gembu melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat kolori sehingga memberikan daerah tersebut kepada orang-orang lelio. Orang-orang Lelio pun turun membuat perkampungan di tempat baru dan menjadi perkampungan Lelio sampai sekarang. Nama Deso Kolori diambil dari nama jenis burung yang tidak pernah berpisah satu dengan yang lain, senantiasa bersatu dalam satu tujuan itu melambangkan rasa kebersamaan dalam kehidupan antar sesama.
Mulanya semua lahan yang ada di Wilayah adat Kolori berupa kebun. Awal mulanya mulai ada cetak sawah sekitar tahun 1950. Lahan pertama yang dibuka adalah lahan yang di tondo. Waktu itu sudah ada irigasi tetapi dimantapkan lagi pada tahun 2000. Adapun jenis-jenis padi yang ditanam pada waktu itu adalah: Tope buni, siraka dan bonda. Jenis padi tersebut bukan merupakan padi local yang berasal dari Kolori, tetapi dibawa oleh pemerintah melalui program pertanian.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Wumbu Wana
Merupakan Kawasan puncak gunung yang ditumbuhi pepohonan berdiameter kecil dan ditumbuhi lumut, daerah ini merupakan daerah larangan/keramat. Selain dikeramatkan, fungsi lain dari Wumbu Wana adalah merupakan daerah mata air. Menurut aturan adat zona ini sama sekali tidak boleh dijamah oleh manusia.

2. Wana
Merupakan wilayah yang dilindungi adat karena merupakan daerah penyangga jika dikelola akan mendatangkan banjir. Tipe wilayah ini kayunya besar-besar.

3. Pandulu :
Merupakn Hutan sekunder tempat hidup hewan endemik seperti Anoa dan Babi Rusa. Zona ini juga menjadi tempat mengambil hasil hutan non kayu seperti obat-obatan dan rotan.

4. Bonde
Merupakan wilayah perkebunan masyarakat yang diolah secara berkelanjutan

5. Polida”a adalah : wilayah persawahan masyarakat

6. Powanua adalah : wilayah pemukiman/perkampungan masyarakat
 
Sistem Penguasaan Tanah Adat di Wanua Kolori dibagi menjadi dua yaitu: Kepemilikan indivdual yaitu bahwa tanah tersebutmerupakan tanah Adat yang telah diwariskan dan atau diberikan oleh leluhur untuk seseorang atau keluarga tertentu agar dijaga dan di kelola. Dan Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimilki secara bersama oleh kelompok dan dimanfaatkan serta diatur penggunaan dan pengawasannya secara bersama juga termasuk aturan dan pembagian hasilnya jika dikelola.yang merupakan kepemilikan secara individu yaitu: Bonde, Polida”a dan Powanua. Sedangkan yang dikelola secara komunal yaitu: Wumbu Wana, Wana, Pandulu,  

Kelembagaan Adat

Nama Tu’ana lwanua Kolori
Struktur Tu’ana Mahile Iwanue = Ketua Tengkuona = Wakil ketua Topouki Sura = Sekretaris Topamboli = Bendahara Sulewata = anggota Proses pemilihan pemangku adat dilakukan secara umum berdasarkan suara terbanyak yang kemudian 7 orang pemeroleh suara terbanyak melakukan musyawarah khusus atau rapat internal untuk menentukan ketua dan jajarannya (didampingi pemerintah desa). Periode jabatan dari pemangku adat berlangsung selama 5 tahun.
Ketua : Mengadakan rapat atas perkara baik maupun tidak baik yang terjadi, apabila berhalangan memberikan tugas atau menunjuk anggotanya untuk menyelesaikan perkara serta bertanggung jawab atas perkara tersebut
Wakil Ketua : Membantu tugas dari ketua atau menggantikan ketua pada saat berhalangan serta bertanggung jawab kepada ketua dan anggotanya.
Sekretaris : Menjadi notulen. Menuliskan semua kejadian yang baik maupun tidak baik di desa.
Bendahara : Menyimpan uang atau harta benda yang diperoleh dari sanksi adat
 
Mekanisme dalam mengambil keputusan dilakukan dengan cara Musyawarah Adat atau yang disebut dengan Megombo Ada
Musyawarah adat dihadiri oleh semua masyarakat yang terlibat. Adapun tujuan dilakukannya Megombo ada antara lain:
1. Pada saat akan melaksanakan peradilan adat.
2. Pelaksanaan ritual adat seperti kelahiran, perkawinan , kematian, kecelakaan, penyambutan tamu
3. Saat akan melakukan bercock tanam.
Musyawarah adat biasanya dilakukan di Balai Pertemuan Baruga. Adapun tahapan pengambilan keputusan sbb :
- Memberi informasi kepada masyarakat disebut dengan “ mepopabuinau” ini biasanya dilakukan oleh ketua adat dan anggota yang ditunjuk oleh ketua.
- Pembukaan acara disebut dengan “Mosonararuta ada” ini dilakukan oleh ketua adat dan sekretaris
- Proses Diskusi yang disebut dengan “Molalutaingi ada” ini dilakukan oleh ketua adat dan peserta musyawarah
- Kesimpulan yang disebut dengan “Kabotua molatuingi” yang dibacakan oleh ketua adat dan disepakati oleh masyarakat peserta megombo ada.
Proses Pengambilan Keputusan di Wanau Kolori dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat.
 

Hukum Adat

1. Giwu Aroh Awa (pengganti) adalah sanksi orang yang melukai ternak orang lain yang menyebabkan hewan itu mati, maka oknum yang melukai hewan tersebut dikenakan sanksi adat membayar jenis hewan itu dua ekor, satu ekor untuk membangkitkan yang mati (moaro) dan satu ekor untuk mengganti yang mati, dan hewan yang mati diambil oleh yang melukai.
2. Mowahe’Boso : dimaksudkan adalah sebagai upacara motinuwu; Baula berasal dari upacara Ritual Primitif tentang korban “Kucuran darah” yang bermakna agar kesehatan dan perkembangbiakan kerbau meningkat setelah menginjak darah dan juga percikan ramuan obat yang dipercikkan dengan sejenis dedaunan pohon beringin dan yang lainnya dikunyah lalu disemburkan ke arah kerbau oleh sejumlah gadis-gadis yang bertugas untuk itu.
3. Mopalala: Upacara pengucapan syukur panenan di sawah/ladang dilaksanakan dalam ibadah pengucapan syukur pane.
4. Mowahe’boso’baula: Upacara untuk urusan pengairan.
5. Morambai: Menggiring kerbau ke sawah
 
1. Penganiyayaan dikenakan adat Metinuwu’i dengan satu ekor kerbau atau satu ekor babi atau satu ekor ayam menurut kadar kasusnya ditambah dengan Petombo’bela 2 meter kain putih dan ongkos perawatan.
2. Pemerkosa dikenakan saksi adat 3 (tiga) ekor kerbau yaitu rawa’ (harkat wanita) 2 (dua) ekor kerbau, satu ekor kerbau tinuwu’ ditambah dengan biaya perawatan dan satu ekor babi popobaho’i wanua.
3. Kekerasan guru terhadapa anak di sekolah sanksi adat tetap dikenakan terhadap guru tersebut menurut tingkat kekerasannya. Jika anak tersebut sampai berdarah maka wajib dikenakan sanksi ‘ujud doa keselamatan (Petinuwu’i) berupa satu ekor ayam dan beras satu bakul, kain putih pembalut luka 2 meter serta biaya perawatan.
4. Memasuki kamar/pelaminan orang berkeluarga dikenakan sanksi 1 (satu) ekor kerbau, jika ditebus dengan uang sebesar 5.000.000 (lima juta rupiah)
5. Memasuki dan tidur di kamar gadis/janda dikenakan sanksi 1 (satu) ekor kerbau atau tebusan (kamba) sebesar 5.000.000 (lima juta rupiah).
6. Bertemu dengan sengaja pada orang berbeda jenis kelamin dan sudah kawin tanpa saksi dikenakan sanksi 1 (satu) ekor kerbau atau kamba sebesar 5.000.000 (lima juta rupiah).
7. Persetubuhan kakak beradik kandung disanksi 1 (satu) ekor kerbau masing-masing diserahkan kepada Ketua Adat senilai Rp. 7.000.000 (tujuh juta rupiah) ditambah satu ekor babi merah untuk pemulihan dalam ibadah/ritual agama.
8. Persetubuhan ayah/ibu dengan anak kandung atau anak mantu masing-masing kena sanksi 2 (dua) ekor kerbau senilai Rp. 7.000.000 (tujuh juta rupiah) dan satu ekor babi merah untuk acara pemulihan desa dalam upacara-upacara ritual agama mohon pengampunan.
9. Pencurian kena sanksi 1 (satu) ekor kebau atau 1 (satu) ekor babi atau satu mata parang menurut kasusnya.
10. Kabongko’ Nganga adalah sanksi 1 (satu) ekor kerbau ketika seseorang mengambil kesempatan menagih hutang sementara orang yang ditagih sedang berduka cita.
11. KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) memukul sampai berdarah pasangan hidupnya atau anak-anaknya dikenakan sanksi adat berupa 1 ekor kerbau atau 1 ekor babi menurut kadarnya.
Memukul orang tuanya atau saudaranya disanksi 1 ekor kerbau atau uang sebesar 3.500.000.
 
Mampohiola Tonaboko di maksudkan adalah berjalan seiring secara sengaja dengan seseorang yang telah berumah tangga dan berbeda jenis kelamin tanpa saksi dan bukan saudara kandungnnya, dikenakan Giwu 1 ekor Kerbau atau Rp. 1.000.000. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Pagi, Ubi kayu,sagu, Jagung Buah = pisang,langsat,papaya,mangga,timun,alpokat Sayur = bayam,sawi,kacang panjang,labu,paria,pakis,rebung Kacang-kacangan = kacang tanah dan buncis. Hewan = ikan (mas,mujair,lele),udang,ayam,babi,sapi,kerbau
Sumber Kesehatan & Kecantikan Jahe untuk mengobati masuk angin Temulawak untuk mengobati sakit maag Kunyit untuk Mengobati luka organ hati Daun sirsak untuk mengobati kolestrol Daun sambiloto untuk mengobati malaria Daun paria untuk mengobati batuk Daun balacai untuk mengobati demam Daun pinahong untuk mengobati luka dalam
Papan dan Bahan Infrastruktur Bambu= untuk atap rumah Rumbia = untuk atap rumah Ilalang =sebagai atap rumah Pohon Nantu = untuk tiang rumah Pohon cempaka = untuk tiang rumah Pohon tohiti = untuk tiang rumah Pohon rambutan = untuk tiang rumah
Sumber Sandang Tanaman tiu = sebagai bahan pembuatan tikar Bea = sebagai bahan pembuatan kain
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Merica, daun sereh, daun pandan, lengkuas, kemangi, lemon, daun salam
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, kakau, Alpukat