Wilayah Adat

Gendang Ngkiong

 Terverifikasi

Nama Komunitas Ngkiong
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Poco Ranaka Timur
Desa Ngkiong Dora dan Urung Dora
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 857 Ha
Satuan Gendang Ngkiong
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Kampung Racang dan Kampung Mamba. Dengan batas berupa Tengkel Deruk, Wae Nunung, Wae Lui, Jembatan Deker.
Batas Selatan Berbatasan dengan Wilayah adat Gelarang Colol dengan batas berupa Tango Colol, Golo Nenes, Bea Galang, Jembatan (deker)
Batas Timur Wilayah adat Lawi dengan batas berupa Tango Colol (puncak gunung), Wae Lantar
Batas Utara Berbatasan dengan Wilayah Adat Kate dengan batas berupa Golo Kantar, Golo Jong, Cunga Buk, dan Wae Lantar

Kependudukan

Jumlah KK 243
Jumlah Laki-laki 800
Jumlah Perempuan 1200
Mata Pencaharian utama Bertani (, kopi, padi) Ternak (kambing, babi, kerbau, kuda)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Menurut sejarahnya asal mulanya Komunitas Ngkiong berasal dari Racang (satu tempat di kampung colol) . Pada tahun 1600, ada dua (2) orang datang pertama yaitu Daro dan Wehang. Waktu kedua orang itu tiba di tempat itu sunyi sepi hanya dengan bunyi burung yang bunyinya Ngkiong-Ngkiong Sehingga oleh mereka tempat itu diberi nama tempat itu Ngkiong. Dari 2 orang tersebut akhirnya menjadi 8 suku besar. Dari keturunan Daro, silsilahnya: Daro mbo Mboro, mbongo, Mbonto, Mbolong. Sedangkan dari keturunan Wehang, silsilahnya: Waheng  Raden  Hana, Selek, Hanu, Pampu. Daro dan Waheng merupakan saudara kandung kakak beradik dari satu ayah dan 1 ibu. Sehingga antara suku-suku yang ada mereka semua saling mempunyai hubungan darah satu sama lainnya. Selain 8 suku besar diatas ada juga 4 suku berambang yang merupakan hubungan kekerabatan akibat kawin mawin, seperti: Pengkam, Nderu, Tadok, Arus. Dari racang tidak ada tempat persinggahan lagi, langsung menempati ngkiong. Jadi tidak ada kampung lama. Dari suku-suku yang ada saat ini akhirnya mereka membentuk satu Gelarang yang bernama Gelarang Racang. Dimana nama Rancang itu sendiri diambil dari nama kampung asal sebelum mereka menetap di Ngkiong. Dalam Gelarang Racang terdapat enam kampung yang disebut dengan Beo, adapun keenam Beo tersebut diantaranya: Beo Lando, Beo Nao, Beo Rendang, Beo Godong, Beo Kate, dan Beo Tobo.masing-masing Beo ditempati oleh sebaran dari suku-suku yang ada.
Saat memutuskan untuk menetap, mereka memulai melakukan aktivitas dengan bercocok tanam. Adapun tanaman yang pertama kali mereka tanam adalah tanaman padi, jagung dan kopi. Ini mereka lakukan secara gilir balik dalam lingko-lingko yang sudah terbagi. Tidak ada aktivitas berburu dari dahulu sampai sekarang. Ritual adat berjalan dari dahulu sampai sekarang. Kegiatannya biasanya dilakukan di Compang, Golo Cigir, Dangka Korong, Golo Purang, Lok Pahar. Ritual adat yang dilakukan adalah melakukan pemujaan terhadap roh leluhur. Ini dilakukan dengan cara melakukan persembahan-persembahan. Kegiatan ini sampai sekarang masih dilakukan oleh generasi keturunannya.
Masuknya ajaran agama baru terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Disebarkan oleh seorang pastor yang berasal dari Belanda bernama Yansen. Agama yang masuk pada waktu itu adalah agama khatolik. Sehingga semua masyarakat pada saat ini menerima ajaran agama baru tersebut. Walaupun agama Khatolik sudah masuk di Komunitas Ngkiong, namun masyarakat adat setempat juga masih melakukan ritual-ritual adat. Masuknya ajaran agama itu tidak menghilangkan ritual-ritual adat yang sudah ada. Antara agama dan ritual adat saling berjalan beriringan. Pada Zaman penjajahan Belanda, ada beberapa peristiwa yang terjadi seperti Penetapan hutan tutupan :tanggal 2 juni 1936 oleh kepala Daerah Flores yang saat itu disebut dengan PAL Belanda. Pada saat itu masyarakat mengatakan bahwa lahan tersebut merupakan ulayat nya, tetapi masyarakat tidak berani melakukan perlawanan.
Pasca kemerdekaan Indonesia, berkembanglah konsep desa gaya baru. Secara administratif Komunitas Ngkiong masuk di Desa Ngkiong Dora. Kemudian Desa Ngkiong Dora mekar lagi menjadi Desa Urung Dora. Sehingga saat ini Komunitas Ngkiong berada di dua Desa administrasi.
Beberapa permasalahan yang terjadi pada komunitas Ngkiong antara lain:
1. Rekontruksi tapal batas PAL RI tgl 8 November 1980.
2. Perubahan status hutan lindung dan hutan produksi menjadi ‘Hutan Taman Wisata Alam” (TWA) yang di beri nama Taman Wisata Alam Ruteng (TWA AR). Pada tanggal 24 agustus 1993, melalui : SK MENHUT No. 456/KPTS/-11/1993 yang di bawah pengawasan Balai Konservasi sumber daya alam (BKSDA), sebagai penanggung jawab dengan luas 32.248,60 Ha berada di kabupaten manggarai timur.
3. Penetapan PAL Republik Indonesia pada tanggal 28 oktober 1998. Dengan adanya penetapan ini mengakibatkan Lahan pertanian semakin sempit sedangakan kawasan hutan menjadi semakin luas. Terjadi penetapan tapal batas hutan dengan lahan pertanian semakin tidak jelas. Ada ancaman dari petugas kehutanan terhadap masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan.Kalau ada yang protes maka di ancam masuk penjara. Terjadi masalah hutan yang sangat serius sejak itu sampai sekarang, bahkan sampai terjadi kekerasan.
Adapun kronologis kasus-kasusnya adalah sebagai berikut: Tahun 2013 terjadi Lingko Manta Wara/Wae Langga, yaitu:
1. Tgl 4-12-2013 Hari sabtu Cabut kopi dan bakar Pondok milik Blasius Narsi
2. Tgl 4-12-2013 Hari sabtu Cabut kopi milik Bernadus Pisen di lingko Golo Purang
3. Tgl 4-12-2013 Hari sabtu babat kopi sebanyak 77 pohon yang suda produktif dan juga pembakaran pondok
4. Tgl 4-12-2013 Hari sabtu Bakar pondok milik Wensislaus Nanja
5. Tgl 4-12-2013 Hari sabtu Bakar pondok millik Budi Ombo
6. Tgl 4-12-2013 Hari Sabtu Bakar Pondol milik Gondo Fus Danis
7. Tgl 4-12-2013 Hari Sabtu Bakar Pondok milik Nober Soni Di Golo Rongkong
8. Tgl 4-12-2013 Hari Sabtu Bakar Pondok milik Goris Barus Di Golo Rongkong
9. Tgl 4-12-2013 Hari Sabtu Bakar Pondok milik Blasius Jehatu
10. Tgl 4-12-2013 hari Sabtu Bakar pondok milik Donatus Ono
11. Tgl 5-8 -2014 babat Kopi sat kebun dan bakar pondok milik Martinus Adon
12. Tgl 5-8-2014 Cabut Anakan Kopi dan Bakar pondok milik Kelitus Kaus
13. Tgl 2-5-2014 Cabut kopi dan Bakar pondok milik zakarius Nanja
14. Tgl 2-5-2015 bakar Pondok dan cabut Anakan Kopi milik Simon Rando
15. Tgl 1-2-2015 Bakar pondok Dan Caput Kopi milik Anton Saup
16. Tgl 1-2-2015 Bongkar Kolam Ikan dan Bakar Pondok milk Arnol Rono
17. Tgl 1-2-2015 Bakar Pondok dan Cabut Anakan Kopi milik Lasarus Ruji
18. Tgl 1-2-2015 Bakar Pondok milik Benediktus Afer
19. Tgl 1-2-2015 Bakar Pondok milik Plipus Ambus
20. Tgl 1-2-1015 Bakar pondok milik Rofinus Rodes
21. Tgl 1-3-2016 Cabut Anakan Kopisesuda di cabut lalu di Potong bagi dua habis itu buang ke jalan milik Mikael Ane.
22. Tgl 8-3-2016 di cabut lagi Anakan Kopi sebanyak 525 pohon milik Mikael Ane.
23. Tgl 16 Mei 2017 Pencurian Papan tebal Ole BKSDA sebanyak 42 lembar dan bakar pondok Yosep Dong dan Babat Kopi sebanyak 550 pohon milik Yosep Dong
24. Tgl 23-2-2018 Ada pembakaran pondok milik Rofinus Husen dan Ferdi Melkos dan Ignasius Jebarus di Lingko Golo Rongko
25. Tgl 8-8-2012 Ada Tim Terpadu masuk di kebun /di pondok milik Mikael Ane di lingko Ninong, pada saat kejadian,Mikael Ane tidak ada di tempat,yang ada hanya istri nya yang bernama: Marta Ses dan anaknya yang bernama Wilfrido Fandi Masko Umur 7 Tahun dan adik nya masi di bawa umur satu tahun, ibu Marta Ses di usir oleh Tim Terpadu dengan kekerasan untuk keluar dari pondok, setelah mereka keluar dari pondok, semua Petugas masuk di dalam pondok, dan mereka mengambil barang-barang di dalam pondok berupa: Mesin Sensor dua (2) biji merek STIl dan uang sebesar RP 28 jt 850 000 dan parang panjang satu, 2 lembar kain songke Adat Manggarai, dan Alat-Alat mesin seperti kunci-kunci dll. dan Bensin campur 5 Liter,1 Botol Oli bersih Mesran. Setelah Barang2 di sita, lalu petugas mendesak kepada istri Marta Ses untuk Tanda tangan penyerahan mesin dan penjara 25 tahun, karena takut di ancam maka tanda tangan. Setelah itu mereka pulang, ibu Marta Ses lari ke kampung ledu, Desa Compang Wunis, Kecamatan Sambirapas. Tanggal 9 – 9 - 2012 Mikael Ane pulang caci lansung ke pondok, lalu Mikael Ane telpon ke istri jawab: istri pulang ke kampung orang tua di Ledu. Tanggal 10 – 09 – 2012 ibu pulang ke pondok hanya dengan menangis karena barang barang hilang. Tanggal 21 – 12 – 2012 Mikael Ane di panggil oleh Kapolres untuk menghadap Kapolres , yang antar surat adalah sekertaris Desa Ngkiong Dora atas nama Yosep Kasim. Mikael Ane langsung menghadap tanpa di dampingi oleh penasihat hukum/ lembaga dampingan Ketemu kasat reskrim pertanyaan: petugas minta keterangan di atas. Ada periksa barang barang di gudang BKSDA, yang ada : Papan 189 lembar, Sensor 2 biji dll, Uangnya tidak ada tetapi tempat simpan Uang ada. Tanggal 24 – 2 – 2013 panggil lagi oleh Jaksa (JPU). Tanggal 25 – 2 – 2013 menghadap ke Jaksa. Suruh baca ulang keterangan karena semua barang-barang yang hilang tidak ada dalam surat mereka, maka pihak korban menolak. Langsung Tahanan jaksa untuk beberapa jam, selanjutnya selanjutnya bawa ke lembaga. Satu bulan setelah itu, Buat pembelaan diri di lembaga. Namun Hakim tidak memberi tanggapan, selanjutnya putus penjara 1 tahun 2 bulan. Setelah sidang, saksi di panggil 5 orang tidak ada yang mau menjadi saksi.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Komunitas Ngkiong dalam membentuk ruang hidup berlandas pada 5 (lima) unsur, yaitu:
a) Mbaru bate Ka’eng adalah rumah sebagai tempat tinggal.
b) Uma Bate duat adalah lahan pertanian, lingko / tanah persekutuan adat sebagai sumber kehidupan dan kebutuhan sehari dan sumber makanan.
c) Natas bate labar adalah halaman untuk bermain juga untuk melakukan ritual adat dan aktivitas lainnya termasuk pertunjukan tarian-tarian adat.
d) Wae bate kaeng adalah: air salah satu unsur kehidupan yang dipakai untuk keperluan mandi, cuci, minum, dan mengairi lahan, sawah yang membutuhkan air.
e) Compang adalah tempat yang merupakan ritus-ritus adat yang menghubungkan manusia dengan alam, manusia dengan sang pencipta dan manusian dengan sesama manusia.
Adapun pembagian ruangnya adalah sebagai berikut:

a. Pong (Hutan)
- Pong sengit: merupakan kawasan terlarang termasuk kawasan yang ada mata air, maka di larang hutan jenis ini di jamah oleh manusia
- Pong merupakan kawasan hutan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, tetapi tidak diperjualbelikan perdagangan kayu, tetapi dapat digunakan kayunya untuk bangun rumah pribadi dan kepentingan umumBekas Kebun/Puar: kawasan yang di pergunakan untuk ladang (tanam padi, jagung, ubi-ubian serta kacang-kacangan) tanam semusim. Hutan jenis di sebut hutan adat dan untuk kebun (tanaman perdagangan)
b. Satar adalah kawasan penggalaan ternak,hewan piaraan dan berada di pong dan puar tutupan lahannya berupa rumput
c. Uma/kebun adalah lahan yang ditanam. Tanaman umur panjang (tanaman perdagangan) seperti: kopi, coklat, cengkeh, kemiri, dan lain-lain.
d. Galung (sawah) merupakan lahan basah yang membutuhkan air yang dapat digenangi sepanjang tahun guna ditanami padi yang cocok tanam di sawah.
Di dalam galung atau sawah terdapat lingko-lingko. Pembagian lingko/tanah adat berdasarkan masing-masing gendang dengan nama lingkonya masing-masing. Di komunitas Ngkiong sama dengan sistem penataan ruang dan hal lain berkaitan dengan adat istiadat. Ada Pun Nama Lingko sbb:
a. Lingko Lantar dengan batas luarnya (cicing) satar pahar dan maro.
b. Lingko ninong dengan batas luarnya (cicing) golo purang.
c. Lingko lela dengan batas luarnya (cicing) lengko ara, wae langsa.
d. Lingko bosa dengan batas luarnya (cicing) wae liwu kole 
Sistem Pengelolaan wilayah ada yang dikelola secara komunal dan individu. Adapun wilayah yang dikelola secara komunal seperti: Pong Sengit, Pong, Satar. Sedangkan yang dikelola secara Individu adalah: Uma dan Galung.
Penguasaaan tanah adat adalah tua golo melimpahkan kuasanya kepada tua teno, untuk membuka satu lingko (sebidang tanah adat). Tua teno inilah yang mengatur ‘’ GENDANG ONE, LINGKO PE’ANG ‘’ yang artinya mulai dari rumah adat, sampai pembagian tanah serta struktur lembaga dan aturan upeti (wono) diatur oleh tua teno, sebelum suatu tanah adat (lingko) dibagi. Tua teno yang mendiami rumah adat (mbaru gendang), yang rumah gendang itu dibangun bersama-sama oleh komunitas.
Sebelum tanah adat (lingko) dibagi tua teno yang mendiami rumah gendang didahulukan rapat /musyawarah adat (kebor) lonto leok, untuk mengatur pembagian tanah, secarah adil dan bijaksana kepada semua warga.

Dalam pengelolaan lingko-lingko terdapat 3 (tiga) mekanisme pembagian:
1. Makanisme lodok: berbentuk moso/sarang laba-laba yang dibuka di dalam kawasan hutan adat.
2. Mekanisme pembagian berbentuk segitiga.tua teno dapat melakukan pembagian seperti ini berada di titik pusat tanah tersebut dan mengatur pembagian dari dalam, keluar, dan dari dalam kecil,semakin keluar besar sampai di pinggir luar ( disebut cicicng ),tana sisa.
3. Pembagian berbentuk NEOL yaitu pembagian tanah adat oleh beberapa warga secara adil dan bijaksana dengan bentuk segitiga dalam areal yang kecil dengan mendapatkan persetujuan TUA TENO DAN TUA GOLO.
Pembagian berbentuk TOBOK: mekanisme pembagian tanah sisa oleh beberapa orang warga di luar batas lingko/Tanah adat/cicing, pembagian di atas persetujuan Tua Teno.
 

Kelembagaan Adat

Nama Gendang Ngkiong
Struktur Tua Teno (Kepala Hakim Adat) Tua Golo (Kepala Kampung) Tua Panga (Kepala Suku) Tua Kilo (Kepala Keluarga)
Tugas Tua Teno: menyelesaikan masalah tanah, membagi tanah, melaksanakan acara-acara adat.

Tugas Tua Golo: Mengayom dan membimbing masyarakat adat Paang olo ngaung musi, Bersama Tua Teno dan Tua Panga melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan adat, Bersama Tua Teno dan Tua Panga menyelesaikan permasalahan sosial maupun sengketa lahan.

Tugas Tua Panga: Memimpin masyarakat di tingkat panga, menyelesaikan permasalahan di tingkat panga.

Tugas Tua Kilo: Memimpin Keluarga Besar
- Membantu urusan yang berkaitan dalam lingkup keluarga besar (kelahiran, perkawinan, dan kematian)


Tugas Tua Teno: menyelesaikan masalah tanah, membagi tanah, melaksanakan acara-acara adat.

Tugas Tua Golo: Mengayom dan membimbing masyarakat adat Paang olo ngaung musi, Bersama Tua Teno dan Tua Panga melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan adat, Bersama Tua Teno dan Tua Panga menyelesaikan permasalahan sosial maupun sengketa lahan.

Tugas Tua Panga: Memimpin masyarakat di tingkat panga, menyelesaikan permasalahan di tingkat panga.

Tugas Tua Kilo: Memimpin Keluarga Besar
- Membantu urusan yang berkaitan dalam lingkup keluarga besar (kelahiran, perkawinan, dan kematian)



Tugas Tua Teno: menyelesaikan masalah tanah, membagi tanah, melaksanakan acara-acara adat.

Tugas Tua Golo: Mengayom dan membimbing masyarakat adat Paang olo ngaung musi, Bersama Tua Teno dan Tua Panga melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan adat, Bersama Tua Teno dan Tua Panga menyelesaikan permasalahan sosial maupun sengketa lahan.

Tugas Tua Panga: Memimpin masyarakat di tingkat panga, menyelesaikan permasalahan di tingkat panga.

Tugas Tua Kilo: Memimpin Keluarga Besar
- Membantu urusan yang berkaitan dalam lingkup keluarga besar (kelahiran, perkawinan, dan kematian)
 
Melalui Lonto Leok atau Musyawarah Mufakat yang dihadiri oleh unsur-unsur adat sesuai dengan tingkatan Lonto Leok yang dilakukan di rumah gendang
Adapun tujuan dari Lonto Leok bagi Masyarakat Adat Ngkiong antara lain: Menyelesaikan sengketa dan permasalahan secara adat, Mengadakan suatu peradilan adat, Membahas pernikahan (di tingkat Kilo), dan lain-lain. Setiap melaksanakan Lonto Leok diawali oleh pembicaraaan awal dengan memegang Tuak dan rokok
 

Hukum Adat

Setiap tahun suatu komonitas Ngkiong selalu membuat acara penting (acara syukur panen) agar pesta ini dapat teselenggarakan dengan baik, maka tua teno mengatur pembagian upeti (wono) berupa: uang,beras,ayam,tuak/rokok kepada setiap pemilik tanah.uang itu di pungut untuk beli babi dan fasilitas lainnya, biasanya dalam acara penting ini,komonitas masyarakat adat akan mengadakan ritual adat antara lain:
a. Barong wae adalah suatu komonitas wae/beo dapat melakukan upacarah adat di mata air tempat warga tempat warga menibah, ini merupakan ungkapan syukur kepada tuhan dan alam yang memberikan air tempat warga memanfaatkannya. Biasahnya mengorbankan satu (1) ekor ayam putih, sekaligus meminta agar roh air bisa memberi air hujan kalo terjadi kemarou panjang,maka dengan demikian air hujan turun mendadak tiba-tiba
b. Torok ela wa’e penti.
Setelah warga pulang dari mata air, langsung mengadakan ritual adat di rumah gendang (rumah adat) acara ini dibuat untuk menghormati dan mengadakan para leluhur yang telah meninggal dunia dan acara ini mengorbankan 1(satu ) ekor babi.
c. Karong Lodok.
Semua warga turun kelingko rame,acara di lingko (lahan pertanian) jenis ini diringi musik adat yaitu gendang gong,dan melakukan ritual adat dengan korban satu ekor babi di pusat moso atau di titik tenga tanah adat sebagai ungkapan “syukur kepada tuhan” yang memberikan warga hasil dari tana yang mereka kerja kan.
d. Torok Ela One Compang
Setelah melakukan ritual karong lodok,warga kembali berkumpul ditengah kampung (beo) dengan mengorban kan 1 (satu) ekor babi sebagai ungkapan syukur atas kemurahan tuhan dan leluhur yang telah menjaga, melindungi dan membri kelansungan hidup warga komonitas masyarakat adat disitu, Antara tua golo, tua teno, ruma gendang dan lingko merupakan satu-kesatuan kehidupan masyarakat adat di wilayah ini dan telah membetuk satu-kesatuan sosial politik dan spiritual. Istilah juga berarti bukit dan juga kampung karena nenek moyang memilih untuk kampung di atas bukit (golo) atau gunung.

 
- Perkelahian: dendanya tuak, ayam, babi (wunis pehe)
- Pencurian: dendanya tergantung dari besar kecilnya perbuatan. Apabila pelanggarannya besar dendanya berupa: kerbau, sapi, kuda. Sedangkan apabila pelanggarannya kecil dendanya berupa ayam, babi, tuak, rokok.
- Peselingkuhan: Dengkolenae: sama-sama punya pasangan dendanya kuda, babi, kambing, uang. Pedengweol: dendanya uang, babi, kambing. Panawateleso: kerbau.
- Perkawinan: anak saudara dengan anak saudari/tungkucu. Tesusura/ menikah dengan paman atau bibi. Sanksinya: polamuraki ponobuwaki: kerbau, kambing, babi, uang
- Kelahiran (Delap): syukuran 5 hari setelah anak lahir.
- kematian (Pineng)
Tokongbaku: jenazah masih di dalam rumah. Apabila ada pelanggaran dikenakan sanksi berupa beras, babi, uang
 
Pada bulan September tahun 2019 ada kasus pinjam uang antar sesame warga. Penyelesaiannya dengan cara damai membayar uang lip sebesar Rp. 500.000 dan yang memnjam berjanji akan segera mengembalikan sesuai dengan batas waktu yang telah disepakati.
Pada tahun 2018 terjadi perkelahian. Dendanya wuit pelang dengan membayar uang, babi, tuak rokok.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Padi, , ubi tatas, singkong, keladi Protein Nabati: buncis, brendi bon, kacang bali, kacang tanah, kedelai. Protein Hewani: ayam, bebek, kambing, sapi, babi, ikan karpel, nila, belut, kepiting, katak. Sayur-sayuran: labu, daun singkong, daun papaya, daun pea, Markis, paku, bayam, kol, pucai, kangkong. Buah-buahan: alpukat, pisang, jeruk, jambu, kelengkeng, Nangka, markisa
Sumber Kesehatan & Kecantikan Halia: batuk, sakit perut Cengkeh, kumis kucing, kunyit, temulawak, kajoli, kayu sita, daun jambu, bawang putih, binahong, daun afrika, daun sirsak
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang:Manii, Nangka, ampufu, wuar, worong, pinis Papan: pinis, lumu, wuhar, worong, sengon, redong, kayu jati Atap: Alang-alang:, ijuk, anyaman bambu
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Lengkuas, kunyit, merica, halia, serei, salam, pala, ketumbar, jinten
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Cengkeh, Pinang, Kemiri, Vanili, Merica, coklat

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda No.1 Tahun 2018 Tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen