Wilayah Adat

Kenegerian Aur Kuning

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kenegerian Aur Kuning
Propinsi Riau
Kabupaten/Kota KAMPAR
Kecamatan KAMPAR KIRI HULU
Desa Aur Kuning
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.795 Ha
Satuan Kenegerian Aur Kuning
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan wilayah adat Kenegerian Terusan meliputi batas : (Bukik Kandi)
Batas Selatan Berbatasan dengan wilayah adat Kuansing meliputi batas : (Bukik Tolang Ulu Biawuik)
Batas Timur Berbatasan dengan wilayah adat Kenegerian Gajah Bertalut meliputi batas : (Sebelah kiri subayang sungai kombuik, sabolah kanan subayang panti botuang badagha)
Batas Utara Berbatasan dengan wilayah adat Kenegerian Miring meliputi batas : (Bukik Tolang Ulu Sungai Lansek)

Kependudukan

Jumlah KK 167
Jumlah Laki-laki 334
Jumlah Perempuan 313
Mata Pencaharian utama Petani Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kenegerian Aur Kuning Merupakan salah satu Kenegerian yang ada didalam Kekhalifahan Batu Sanggan yang berada arah ke hulu Sungai Subayang, posisinya terletak bersebelahan dengan Kenegerian Gajah Bertalut
Kekhalifahan Batu Sanggan, dipimpin oleh seorang khalifah yang berasal dari kenegerian Batu Sanggan, disetiap negeri terdapat pucuk negeri dan pucuk rantau yang disebut Andiko Besar duo sekato artinya yang memimpin daratan dan air disetiap negeri”. Di kekhalifahan Batu sanggan ada orang besar raja yaitu Datuk Bendaharo Hitam yang tinggal di pangkalan serai yang menunda kaparsesak di rantau lubuk sago sewaktu Raja hilir, rantau lubuk sago dihilir lubuk cimpur disebut rantau Datuk Bendaharo Hitam Pangkalan Serai. Kekhalifahan batu sanggan terdiri dari enam negeri atau Kotak Nan Onam, kenegerian yang berada di dalam Kotak Nan Onam yaitu Batu Sanggan, Miring, Gajah Bertalut, Terusan, Aur Kuning dan Pangkalan Serai.
Datuk Khalifah Batu Sanggan berasal dari suku Domo. Peran dari datuk khalifah batu songgan mencakup wilayah 6 nagari, (Batu Sanggan, miring/Tg. beringin, Gajah Betalut, Aur Kuning, Terusan dan Pangkalan Serai). Datuk Khalifah berlokasi di Negeri Batu Sanggan

Sejarah Adat
Dahulunya Nenek Moyang Kenegerian Aur kuning berasal dari Pagaruyung, (Minang kabau Sumatra barat) pada masa itu mereka melakukan perjalanan untuk mencari tempat untuk di
jadikan kampung sebagai tempat menetap. Perjalanan itu di tempuh dalam waktu yang lama dengan berbagai macam rintangan. Perjalanan dari pagaruyung di mulai dari menurun
ke Nganti (nama tempat) lalu nenek moyang Kenegerian Aur Kuning mendaki ke pematang Bukit Seribu, kemudian menurun ke Air Batang Kujano. Sampai di Air Batang Kujano di dirikan lah sebuah negri (kampung) oleh nenek moyang Kenegerian Aur Kuning.

Suatu ketika di tangkap seekor anak harimau lalu di bakar oleh masyarakat, kemudian pada masa itu harimau lain menjadi ganas, sehingga berjatuhan masyarakat di makan harimau. Mengingat keadaan kampung yang tidak aman, bermufakat lah untuk pindah mencari tempat bermukim yang baru, maka di daki pematang hulu sungai Bewuik (nama tempat), di dalam
perjalajan maka di temukan seekor harimau yang terjerat oleh akar. Dengan berbaik hati masyarakat Aur Kuning, segera melepaskan harimau dari akar tersebut dengan imbalan tidak ada lagi seekor harimau pun yang akan mengganggu anak cucu nenek moyang Kenegerian Aur Kuning. Masyarakat terus melanjutkan perjalanan melewati Pematang Ulu Baleng terus berjalan sampai ke Batang Santan (nama tempat). Di Batang Santan, masyarakat istirahat sambil memasak, maka di Batang Santan diparutlah sebuah kelapa, ampas kelapa yang sudah tidak di pakai itupun di buang ke hulu sungai Batang Santan, maka dari situlah asal muasal
nama dari Sungai Hulu Batang Santan.
Selesai sudah masyarakat beristirahat maka perjalanan dilanjutkan menyelusuri hilir Sungai Batang Santan sampai ke muara sungai. Sesampai di muara sungai berinisiatif masyarakat untuk berkebun di muara Sungai Santan. Maka bermufakat dua datuk Kenegerian Terusan, Datuk nan Kanciu (nama datuk) dan Datuk Pamenan Mencari tempat bermukim yang layak buat masyarakat Aur Kuning, dapatlah keputusan oleh dua orang datuk untuk menyelusuri Sungai Bewuik dan membawa seekor ayam, satu buah pahat dan satu buah lesung (losuang/tempat penumbuk padi), di tengah perjalanan, masyarakat Aur Kuning menemukan batu karang sebela kiri dan kanan sungai, di bawah batu karang itu terdapat sebuah air terjun, mengingat perjalanan yang sangat lama, dua datuk dari aur kuning meletakan ayam di sebuah akar, meletakan lesung di sebuah tempat, dan memahat batu. Setelah beberapa lama, maka datang Raja Koto Muaro. Anak dari Raja Koto Muaro mandi di tepian sungai Bewuik. Tak lama kemudian datang kemalangan kepada anak sang raja, lemas karena air masuk ke dalam hidung anak raja, sampai akhirnya anak sang raja Koto Muaro meninggal dunia. Maka dinamakan di tepian tempat anak raja meninggal dengan tepian Koto Muaro. Di sana jugalah di tempatkan (di kubur) anak sang raja. Raja berinisiatif meminta tanah kepada ninik mamak dari Kenegerian Terusan, dengan berbaik hati ninik mamak terusan memberikan sebagian tanahnya. Setelah memahat batu, Datuk nan Kanciu dan Datuk Pamenan membuang lesung ke dasar air terjun dengan tujuan agar tidak ada anak dari cucu esok nya bertengkar karena tanah.
Setelah dijatuhkan lesung, dua datuk dan masyarakat menyusuri Sungai Bewuik hingga sampai ke muara. Di muara sungai Bewui mereka mendirikan sebuah negeri (kampung). Sebelah kiri menghadap ke hilir Rona Kandi (nama tempat) sebelah kanan menghadap ke hilir Sungai Kasok (nama tempat) maka raja
mengantarkan tongkatnya ke Sungai Kasok maka di sana tumbuhlah sebuah bambu kuning dengan bahasa daerah (Aur Kuning). Dari situlah asal muasal dinamakan Kenegerian Aur Kuning.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Rimbo adalah sebutan untuk hutan secara umum. Belukar adalah sebutan untuk wilayah yang tidak di kelola lagi, atau bekas kebun yang sudah di tinggalkan 
 Kawasan hutan adalah kawasan dengan kepemilikan Komunal
 Kawasan Pemukiman dan perkebunan adalah kawasan dengan kepemilikan pribadi yang diturunkan berdasarkan keturunan
 Kawasan sungai adalah kawasan yang kepemilikannya berkelompok dan komunal, seperti lubuk larangan yang di inisiasi oleh pemuda dan ninik mamak
 

Kelembagaan Adat

Nama Kenegerian Aur Kuning
Struktur DatukPucuk GodangkaNagori/rantau, Para Ninik Mamak, Mamak Kampung,Tunganai Kenegerian aur kuning di pimpin oleh datuk pucuk yang berasal dari suku melayu,(datuk caniago) , yang menguasai tanah dan isi dalam kenegerian aur kuning. Di kenegerian aur kuning terdapat tiga jumlah suku - Suku Melayu di pimpin oleh Datuk Pucuk (Datuk Caniago) - Suku Domo di pimpin oleh Datuk Mudo - Suku Domo Kampai di pimpin Datuk Mangkuto Jalelo
Tugas dan fungsi:
1. Datuk Pucuk berfungsi sebagai yang memegang kuasa
dalam suatu acara adat dalam negeri (kampuang)
2. Datuk Lelo Baso berfungsi sebagai penyelesai sengketa
antara mamak didalam negeri (kampuang)
3. Datuk Mangkuto Julelo berfungsi sebagai penyelesai
sengketa antara mamak didalam negeri (kampung)
4. Mamak Kampung berfungsi melaksanakan perintah dari
Datuk Pucuk
5. Dubalang berfungsi melaksanankan perintah dari para
Datuk/Ninik Mamak 
MUSYAWARAH MUFAKAT 

Hukum Adat

Wilayah Adat adalah milik persukuan , dapat dikelolah oleh masyarakat namun tidak boleh di perjual belikan 
Tidak di perbolehkan Kawin satu suku. Jika ada yang melanggar akan dikenakan sangsi sesuai yang sudah di atur dalam aturan hukum adat yang sudah ditetapka 
Jika melanggar hokum adat yang sudah ditetapkan maka akan dikenakan sangsi berupa orang tersebutakan di usir dari kampung 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, jagung,umbi-umbian, sayur-sayuran dll
Sumber Kesehatan & Kecantikan  DaunMpikladang,daun capo, ( untuk obat demam ).  Sirih, (obat sakit perut)  dll
Papan dan Bahan Infrastruktur  Rumbio(untuk atap rumah lading)  Daun Pandan (untuk bahan membuat tikar)  Rotan (Buat tikat rotan)  dll
Sumber Sandang  Kulit Torok ( untuk penyumpal sampan )  Damar (untukpenjejal sampan)  Rotan (bisa dibuat lemari dan kursi )
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daunsalam, lingkuas,kunyit,asam kandis,dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Menderet Karet

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Kampar Nomor 12 Tahun 1999 Hak Tanah Ulayat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen