Wilayah Adat

Ngata Kaili Inde Gia Wisolo

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kaili Inde Gia Wisolo
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Dolo Selatan
Desa Wisolo
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.609 Ha
Satuan Ngata Kaili Inde Gia Wisolo
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat tbd
Batas Selatan tbd
Batas Timur tbd
Batas Utara tbd

Kependudukan

Jumlah KK 316
Jumlah Laki-laki 560
Jumlah Perempuan 507
Mata Pencaharian utama Buruh Tani, Petani/Peladang/Pekebun, Pemanjat Kelapa, dsb.

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Suku Kaili Inde Gia yang menjadi penduduk mayoritas Desa Wisolo pada awalnya adalah kelompok-kelompok kecil berbasis keluarga yang bermukim di Boya-boya (kampung) yang tersebar di kaki Gunung Wisolo dan aliran sungai di sekitarnya. Beberapa Boya itu adalah Boya Tabaro dan Boya Parigi yang terletak di sekitar aliran Kuala Ombi (Sungai), Boya Tompu yang terletak di seberang Kuala Sambo, sedangkan Boya Wisolo, Boya Dele, Boya Barangga, Boya Kamande, dan Boya Daeruwa tersebar di kaki Gunung Wisolo. Keluarga-keluarga dari tiap-tiap Boya itu saling berinteraksi dan berkerabat serta memiliki petinggi yaitu Tetu’a Ngata yang biasa dipanggil dengan sebutan Pue. Sehari-harinya, mereka mencari penghidupan dengan berburu hewan, berladang berpindah, dan mengumpulkan hasil hutan. Pada saat berladang berpindah, Masyarakat Adat Kaili Inde Gia mendirikan pondok-pondok di dekat ladang/kebun yang disebut Lompu.

Masyarakat Adat Kaili Inde Gia memiliki “Cerita Tanah Segenggam” yang berisikan pembabakan sejarah yang diturunkan secara lisan kepada orang-orang tertentu. Adapun Pue yang paling diingat oleh Masyarakat Adat Kaili Inde Gia bernama Mijupau yang hidup pada zaman kolonial Belanda. Sedangkan ada dua Pue pendahulu sebelum Mijupau yang diyakini dan masih diingat yakni Pue Sompolemba (zaman kolonial) dan Rimba (sebelum zaman kolonial). Pada zaman Pue Sompolemba, Belanda mendirikan sebuah sekolah rakyat pertama di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Desa Bobo. Selain mendirikan sekolah, Belanda juga menyebarkan ajaran Nasrani Bala Keselamatan yang akhirnya menyesuaikan dengan hukum adat secara damai. Para Pemimpin Kampung itu pada perkembangan sejarahnya dipilih oleh Madika (Raja), penguasa sebuah wilayah yang lebih luas dan terdiri dari beberapa Ngata (kampung). Selain Belanda, masyarakat Kaili Inde Gia juga berinteraksi dengan toke-toke Cina untuk urusan perdagangan damar dan rotan.

Sebelum tahun 1960, Madika Bengge Tai atau Bapak Datu Mamusu memindahkan Masyarakat Kaili Inde Gia dari boya-boya lama ke sebuah wilayah dataran yang saat ini dikenal sebagai Desa Wisolo dengan kepala kampung pertama yaitu Pue Mujipau. Penamaan Wisolo berasal dari nama sebuah pohon yang amat besar yang dulu banyak tumbuh di wilayah gunung. Secara bertahap anggota masyarakatt di boya-boya lama itu membangun rumah di wilayah dataran hingga pada 1960 masyarakat berpindah menetap ke pemukiman baru tersebut. Hanya 1-2 keluarga yang kini bertahan di beberapa Boya Lama seperti di Tabaro dan Parigi. Selain itu, ada juga sebagian masyarakat Kaili Inde Gia yang berpindah ke wilayah lain yaitu sebagian masyarakat Boya Parigi ke Desa Poi dan sebagian masyarakat Boya Daeruwa ke dusun Kora di Desa Sejahtera yang hidup berdampingan dengan masyarakat Kaili Da’a hingga kini. Sejak masa Pue Mijupau, tercatat 14 Kepala Kampung/Desa Wisolo hingga tahun 2018.

Wilayah Desa Wisolo saat ini ditempati juga oleh suku lain seperti Kaili Ledo, Jawa, Bugis, Poso, dan lain-lain. Mereka tetap terikat dengan aturan dan hak sesuai adat Kaili Inde Gia dengan penyesuaian-penyesuaian.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pantalu: Wilayah yang menjadi kebun baik yang menetap maupun masih berpindah.
Ova: Wilayah hutan yang sudah digarap dan ditinggalkan 1-2 tahun, biasanya ditumbuhi rumput dan tumbuhan liar lainnya.
Pangale: Wilayah hutan yang sudah digarap dan ditinggalkan 10 tahun ke atas, biasanya ditumbuhi pohon kayu.
Wana Nggiki: Dalam hutan rimba yang belum dijamah dan dijaga untuk tempat berburu.
Ngata/Boya: Wilayah yang dijadikan pemukiman. 
Kepemilikan tanah atau lahan di Wilayah Adat Wisolo diperoleh dengan cara membuka lahan. Mereka yang pertama membuka lahan adalah pemilik dari lahan tersebut. Kepemilikan lahan itu diwariskan turun-temurun ke pada generasi berikutnya secara lisan.

Kepemilikan lahan itu tidak hanya mencakup pada tanah tetapi juga tanaman di atasnya. Berbagai pohon dari tanaman kebun tahunan seperti coklat, kemiri, dsb juga diwariskan turun temurun secara lisan.

Konsep kepemilikan lahan di Wilayah Adat Wisolo pada dasarnya tidak tertutup untuk anggota lain. Tiap-tiap anggota masyarakat adat Wisolo dapat memperoleh akses untuk memanfaatkan lahan anggota masyarakat adat lain melalui pemintaan izin (secara adat) kepada pemilik asalnya. 

Kelembagaan Adat

Nama Tetu’a Ngata
Struktur Tetu’a Ngata: Kepala Topotulisi: Juru tulis Pombolo Doi: Bendahara Anabua: Anggota Tina Ngata/Tetu’a Ngata Besi: Tokoh Adat Perempuan
Fungsi lembaga: melindungi dan mengayomi masyarakat di desa, serta menyelesaikan masalah adat terkait pengolahan hutan maupun hubungan antar-manusia.
Tetu’a Ngata: Melakukan pengambilan keputusan adat
Topotulisi: Menulis dan mencatat keputusan adat
Pombolo Doi: Mengelola denda adat dan kepemilikan harta-benda adat.
Anabua: Membantu kepala adat, menyebarkan berita tentang keputusan adat, dan memberikan masukan saat musyawarah.
Tina Ngata/Tetu’a Ngata Besi: Membantu kepala adat dalam beberapa urusan yaitu: 1. Menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi kepada sesama perempuan dengan pendekatan persuasif (penyejut), 2. Melakukan pengambilan keputusan terkait masalah yang berhubungan dengan perempuan, dan 3. Berperan sentral pada tradisi atau ritual adat tertentu, misal terkait kelahiran. 
Pengambilan keputusan dibicarakan dan dilakukan dalam suatu musyawarah adat yang dihadiri oleh para pejabat lembaga adat, pejabat desa, dan pihak-pihak yang bersangkutan dengan urusan adat tersebut. 

Hukum Adat

Ada konsensus bahwa lahan atau tanah yang ada di Wilayah Adat di Desa Wisolo tidak untuk diperjual-belikan.

Tidak boleh memaras dan membuka lahan di tanah yang miring dan menyebabkan bahaya. Melanggar itu dikenakan Givu Berat (Vaya) yaitu Babi/Kambing 1 ekor, Parang 1 buah, dan Baki 1 buah.

Pohon yang ada di hulu dan sepanjang aliran sungai tidak boleh ditebang. Lahan boleh ditanami tanaman keras. Melanggar dikenakan Givu Berat (Vaya) yaitu Babi/Kambing 1 ekor dan Parang 1 buah.

Jika sedang masa tanam padi, tidak boleh menebang kayu di sekitarnya. Melanggar akan dikenakan peringatan, jika diulangi/area yang ditebang luas maka Givu Berat (Vaya). Givunya adalah I. 1 Ekor Ayam (Peringatan), II. Babi/Kambing 1 ekor jika diulangi.

Buka kebun/ladang baru harus melalui ritual adat Mumpesule dengan memasak Ayam dan menyediakan Sambulugana (Sirih, Kapur, Tembakau) dibawa ke lokasi calon kebun dan didoakan. 
Sala Bualo: Perampasan pasangan dan perselingkuhan: Jika lelaki ambil istri orang lain dan berteriak (paksaan) maka Givu dikenakan kepada pihak laki-laki. Jika tidak berteriak (suka sama suka), Givu dibagi dua pihak laki-laki dan perempuan. Givu: 1 ekor kerbau/sapi atau Babi/Kambing 7 ekor, Piring Putih 30 buah, Parang 5 buah. Dibayarkan 70% untuk suami, 15% untuk ngata, dan 15% untuk administrasi Tetu’a Ngata. Paling cepat 2 minggu, paling lambat 4 minggu.

Sala Mbive (Salah Bibir) termasuk memfitnah, menghina, dan lain-lain: Givu dimulai dari yang paling ringan (Sompo), jika diulangi maka Givu berat (Vaya). Givunya yaitu I. Ayam 1 ekor dan Piring putih 1 buah, II. Babi/Kambing 1 ekor dan Piring putih 3 buah, III. Kelipatan Vaya.

Penggarapan lahan dengan izin memiliki ketentuan bahwa hasil dari tanaman sebagian 50% menjadi hak pemilik lahan. Penggarapan lahan tanpa meminta izin kepada pemilik dikenakan Givu Berat (Vaya) yaitu Babi/Kambing 1 ekor dan Parang 1 buah.

Pengambilan hasil tanaman tanpa meminta izin kepada pemilik dikenakan Givu bertingkat yaitu I. 1 Ekor Ayam (Peringatan), II. Babi/Kambing 1 ekor jika diulangi.
Jika ada perkelahian, maka dikenakan Givu Berat (Vaya) yaitu: 1 babi/kambing, 12 meter kain putih, 30 piring, 1 baki.

Terdapat tradisi kelahiran anak Pohaya Kula, Anak didoakan dan dibuatkan Kaveve Enau (ketupat daun enau) dan Ketupat oleh Tokoh Perempuan Adat dan dimakan bersama-sama. Si anak memperoleh status gender sebagai laki-laki (Bo’o) dan perempuan (Dei).

Pada saat ada kematian, tidak boleh memakan Kelor dan Terong (Pali/Pantangan) dan dilarang bekerja sebelum melayat dan dilarang berisik memutar musik dan motor (Larangan/Netagi) 
Pada Desember 2016, terjadi kasus perselingkuhan (suka sama suka). Pihak-pihak yang terlibat diputuskan untuk membayar Givu Berat yaitu Babi/Kambing 7 ekor dan Piring Putih 7 buah yang dibagi dua (pihak lelaki dan perempuan) dibayarkan kepada pihak suami. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Suksesi
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Jagung, Ubi, Singkong, Keladi, Talas, dan Padi ladang sedikit (Pulut, Banjampoa) Protein: Daging Babi, Ayam, Kambing, Sapi, Anoa. Sayuran:Daun Paku (Pakis), Daun Ganemo, Kangkung, Daun Kelor, Terong, Umbut Rotan, Umbut Kelapa, Daun Singkong, Daun Pepaya, Labu Kuning, Nangka Muda, Jantung Pisang, Jamur, Kacang Panjang, Tomat. Buah: Pisang, Pepaya, Mangga, Langsat, Duku. Nangka, Kamonji (seperti sukun).
Sumber Kesehatan & Kecantikan Beras dan kunyit ditumbuk (Bedak), Sirih, Jahe, Daun Valamboa (batuk dan panas), Daun Botedala (panas dan batuk), Daun Kena (panas), Pucuk Jambu Biji (sakit perut), Gali (Brotowali), Kulit Kayu Jawa (Tetes Mata dan Sakit Gula).
Papan dan Bahan Infrastruktur Pohon Lepa, Pohon Palapi, Pohon Vayu, Rumbia Daun Sagu, Rumbia Daun Kelapa, Daun Rotan (untuk Lompu), Alang-alang (tidak ada).
Sumber Sandang Kulit Kayu Malo dan Kayu Lari (dulu)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, Sereh, Merica, Kemiri, Jahe, Lengkuas, Daun jeruk nipis
Sumber Pendapatan Ekonomi Kelapa (Kopra, Bijian, Tempurung, Ijuk), Coklat, Kemiri, Pisang, Jagung, Sayuran (Jamur, Kacang Panjang, Tomat)

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sigi Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen