Wilayah Adat

Baranusa

 Teregistrasi

Nama Komunitas Baranusa
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota ALOR
Kecamatan Pantar Barat
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.000 Ha
Satuan Baranusa
Kondisi Fisik Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata
Batas Selatan Kecamatan Pantar Barat
Batas Timur Kecamatan Pantar
Batas Utara Laut Flores

Kependudukan

Jumlah KK 1148
Jumlah Laki-laki 2395
Jumlah Perempuan 2632
Mata Pencaharian utama Pembudidaya Rumput Laut, Nelayan dan bertani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kerajaan Baranusa memiliki cerita sejarah yang panjang dan menarik. Cerita bermula dari masuknya kerajaan majapahit di wilayah Kabupaten Alor. Pada saat itu datanglah dua orang lelaki dari Pulau Jawa yang bernama Akiai dan Maja. Mereka ini merupakan kakak - adik, Akiai sebagai kakak dan Maja sebagai adik. Mereka melakukan perjalanan dari Pulau Jawa dengan membawa neraca atau timbangan yang berisi tanah yang berasal dari Pulau Jawa. Perjalanan dimulai dari Pulau Jawa, Bali, Lombok hingga di Alor (Baranusa). Dalam setiap persinggahan di berbagai tempat, mereka mengambil tanah dari tempat tersebut kemudian mereka bandingkan beratnya dengan tanah yang mereka bawa dari Pulau Jawa. Ketika mereka sampai di Pulau Bali, tanah Bali ditemukan beratnya lebih ringan. Kondisi serupa juga terjadi ketika mereka singgah di daratan Lombok dan Flores, tanah yang ditemukan lebih ringan beratnya. Namun, sesampainya mereka di daratan Pantar (yang kemudian disebut Kerajaan Baranusa) mereka menemukan hal yang berbeda. Berat tanah di wilayah tersebut lebih berat daripada tanah yang mereka bawa dari Pulau Jawa setelah mereka ukur dengan neraca. Merekapun memustukan untuk tinggal sementara waktu di wilayah tersebut. Suatu hari, dua kakak adik ini (Akiai dan Maja) mengisi waktu untuk pergi memancing ikan di lautan. Tiba-tiba Maja menemukan peti yang berada di permukaan laut. Peti tersebut mereka buka. Dan tanpa disangka, peti tersebut berisi seorang nona cantik. Mata mereka terbelalak, sambil mencoba memastikan kembali bahwa yang mereka lihat adalah benar-benar seorang manusia. Wanita ini kemudian berucap “siapa diantara kalian tadi yang menemukanku?, bagi siapa yang menemukanku maka itulah yang akan kujadikan suamiku”. Dengan spontan Akiai berbisik kepada Maja, sang adik. “Adik, aku ini adalah kakakmu. Maka biarkanlah aku yang membawa perempuan ini pergi, agar aku bisa menjadi suaminya”. Kemudian Maja menjawab, “baiklah kakak jika itu memang keinginanmu”. Singkat cerita, dibawalah peti berisi perempuan cantik tersebut oleh Akiai untuk Pulang ke Pulau Jawa. Sedangkan sang adik, Maja memilih tinggal di Baranusa. Di keesokan harinya, Maja bersiap – siap untuk mencari makan di hutan. Tiba-tiba dia kaget karena menemukan berbagai macam makanan yang berada dalam periuk. Sambil berfikir, dia memandang langit. Menjadi semakin kaget karena dilihat ada burung besar yang datang menghampirinya. Semakin mendekat dan mendekat. Ternyata itu adalah Wuno Sore, perempuan cantik yang ditemukan tempo hari.” Kenapa engkau disini?, bukankah engkau sudah pergi dengan kakakku”, Maja bertanya keheranan. “Aku telah menipu kakakmu, aku tidak berada di dalam peti tersebut yang ia bawa. Karena aku tau, bahwa engkaulah yang sebenarnya menemukanku pertamakalinya di dalam peti”. Jawab sang perempuan. Singkat cerita mereka kemudian akhirnya menikah, dan dikaruniai tujuh anak. Namun anak mereka tersebut bukan dilahirkan, tapi dalam bentuk telur. Tujuh anak tersebut terdiri dari lima anak laki-laki dan dua anak perempuan. Lima anak laki-laki tersebut adalah:

1. Dai Mau Wolang (Raja dari Pandai, wilayah Pantar Timur)
2. Bara Mau Wolang (Kemudian menjadi Raja pertama di Kerajaan Baranusa)
3. Tuli Mau Wolang (Raja Bunga Bali)
4. Telu Mau Wolang (Raja dari Lomblen (Lewoleba) yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Lembata)
5. Gang Mau Wolang (Raja dari daratan Seram (Maluku) )
Dan dua anak perempuan, yaitu:
1. Mone Kei (Menikah dengan Raja Munaseli, Siram Babu)
2. Ati Kei (Menikah dengan Kapitan Munaseli, Kosang Bala)
Suku Kerajaan Baranusa
Dalam Kerajaan Baranusa, terdapat berbagai macam suku di dalamnya. Baik dari suku asli, maupun dari suku pendatang. Komposisi suku tersebut adalah:
1. Suku Uma Kakang
Uma yang berarti rumah, dan Kakang yang berarti Kakak. Suku Uma Kakang merupakan suku yang dianggap dituakan dalam entitas masyarakat adat Kerajaan Baranusa. Selain itu, suku ini disebut juga dengan Suku Raja, karena suku ini merupakan suku yang menjadi trah para Raja yang ada di Kerajaan Baranusa. Dalam suku ini terdapat tiga komponen tingkat saudara. Yang pertama adalah Umamanung. Umamnung merupakan suku kakak tertua dari suku Uma Kakang. Kemudian ada suku Umakisu, suku ini merupakan urutan Kakak kedua. Selanjutnya, sebagai tingkat suku bungsu ada suku Uma Peing. Ketiga suku tersebut berasal dari dua rahim ibu yang berbeda. Suku Uma Kisu dan Uma Peing merupakan anak suku yang lahir dari istri kedua Raja. Sedangkan suku Uma Manung merupakan anak suku yang lahir dari istri pertama Raja. Meskipun lahir terakhir, suku Uma Manung berhak menjadi kakak tertua dalam suku Uma Kakang karena berasal dari rahim permaisuri Raja yang pertama.
2. Suku Hali Wekang
Suku Hali Wekang merupakan suku pendatang yang masuk ke wilayah kerajaan Baranusa. Mereka ini berasal dari berbagai macam wilayah. Diantaranya Pantar Timur dan Alor Kecil. Suku Hali Wekang sendiri terdiri dari berbagai turunan suku di dalamnya. Diantaranya adalah:
- Suku Haliweka
- Suku Manglolong
- Suku Lampoho
- Suku Gewulaya
- Suku Toda Ise
- Suku Paliwala
- Suku Kater
- Suku Bealasing
- Suku Hanjawa
- Suku Lakatuli
- Suku Bugis Bonerate
- Suku Terong Lamahala
- Suku Watobatta
- Suku Wato Wutung
- Suku Tonu Lelang
- Suku Maloku Tosiwo

3. Suku Sandiata
Suku Sandiata ini merupakan suku yang bertugas dalam memimpin ritual adat dalam pengelolaan sumberdaya laut yang di kenal dengan istilah Hadingmulung. Suku Sandiata juga dikenal dengan nama lain, yaitu Suku Senjata. Mereka bertuga membantu raja dalam mengamankan wilayah Kerajaan Baranusa. Suku Sandiata sendiri terdiri dari berbagai turunan suku di dalamnya. Diantaranya adalah:
- Suku Uma Kaka Tua
- Suku Umabeba
- Suku Umakukong
- Suku Waeboho
- Suku Uma Tukong
4. Suku Maloku
Suku Maloku merupakan suku pembawa ajaran Islam. Suku ini berasal dari wilayah Maluku yang mulai masuk ke dalam Kerajaan Baranusa pada Abad Ke – 16. Suku Maloku ini terdiri dari dua bagian. Yaitu Suku Maloku Uma Deduang (yaitu suku Maloku yang berasal dari Imam Masjid). Kemudian juga ada Suku Maloku Being Uma (yaitu suku Maloku yang berasal dari Penguasa yang ada di wilayah Maluku).
5. Suku Wutung Wala
Suku Wutung Wala merupakan suku yang masih memiliki hubungan persaudaraan dengan Suku Uma Kakang. Suku Wutung Wala adik dari Suku Uma Kakang.
6. Suku Ilu
Suku Ilu merupakan suku tuan tanah di Kerajaan Baranusa.
7. Suku Kae Moring
Sama seperti Suku Ilu, Suku Kae Moring merupakan suku tuan tanah di Kerajaan Baranusa.
8. Suku Hukung Uma/ Uma Haring
Suku Hukung Uma/ Uma Haring ini merupakan adik dari Suku Uma Kakang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Lokasi Hading Mulung: Lokasi perairan laut di wilayah ulayat adat yang disepakati untuk tidak dilakukan aktivitas pemanfaatan semua jenis hasil laut dengan alat tangkap apapun dalam waktu tertentu yang disepakati oleh Masyarakat Hukum Adat Baranusa

Lokasi buka Hoba Mulung: Lokasi perairan laut di wilayah ulayat adat yang diperbolehkan untuk dilakukan aktivitas pemanfaatan hasil laut (budidaya rumput laut dan perikanan tangkap) dengan alat tangkap yang ramah lingkungan
 
Hak Komunal : Hak yang di kelola bersama di perairan laut  

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Baranusa
Struktur 1. Kepala Suku Umakakang (Pimpinanan tertinggi Adat dan Pemerintahan) 2. Kapitan (Kepala Suku Hali Wekang dan Kepala Suku Sandiata) 3. Dewan Adat Suku Hali Wekang (Wakil Suku Uma Kakang, Wakil Suku Hali Wekang, Wakil Suku Sandiata, Wakil Suku Maloku) 4. Dewan Adat Suku Sandiata (Wakil Suku Wutung Wala, Wakil Suku Ilu, Wakil Kae Moring, Wakil Hukung Umar/ Uma) 5. Rakyat Kerajaan Baranusa
Raja: Sebagai pemimpin tertinggi dan pengambil keputusan di tataran Masyarakat Hukum Adat Baranusa.

Dibantu oleh empat Kepala Kabilah (Suku Besar):
1. Umakakang : Penasehat kebijakan Raja
2. Sandiata: Sebagai pemimpin dalam ritual Hading Mulung (kelola sumberdaya laut)
3. Wutungwala: Memberikan masukan dalam kebijakan masalah sosial Masyarakat Hukum Adat Baranusa
4. Haliweka : Memberikan masukan dalam kebijakan masalah sosial Masyarakat Hukum Adat Baranusa 
Musyawarah anatara Raja, Ketua Suku, anggota suku dan Pemerintah Kecamatan serta Desa di wilayah ulayat adat 

Hukum Adat

Dalam wilayah perairan laut yang disepakati dilakukan Hading Mulung, tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun didalamnya. Terutama aktivitas pemanfaatan sumberdaya hasil laut di perairan (Aktivitas perikanan tangkap, budidaya rumput laut, wisata). Hal ini berlaku untuk semua orang. Baik Masyarakat Hukum Adat Baranusa maupun Masyarakat di luar (kecuali diluar Mulung).

Bagi siapapun yang melanggar, dipercayai akan mendapatkan hukuman atau kemalangan dari arwah leluhur yang menjaga wilayah Hading Mulung.
 
Kawin-mawin.Tidak boleh kawin mawin dalam suku, tetapi antar suku 
1. Laki-laki dari Suku Umakakang tidak boleh kawin dengan seorang perempuan dari suku Umakakang ataupun sebaliknya
2. Laki-laki dari Suku Sandiata bole menikah dengan perempuan dari suku Umakakang dan sebaliknya
Sangsi bagi yang melanggar:
Jika melanggar, maka yang bersangkytan dikucilkan, diasingkan dengan tujuan agar generasi lain tidak mengikuti jejak mereka.

 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat : Umbi-Umbian, Jagung, padi, kacang-kacangan Protein : ikan, ayam, kambing Vitamin : Pepaya, Jambu Mente , pisang, mangga
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing, kunyit, Mengkudu
Papan dan Bahan Infrastruktur Jawi, Tongke
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kemiri, Serai, Kunyit, Jahe dan Kencur.
Sumber Pendapatan Ekonomi Rumput Laut, Ikan Karang, Jambu Mente, kelapa