Wilayah Adat

Bua' Patongloan

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Patongloan
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Baroko
Desa Desa Patongloan, Benteng Alla, Benteng Alla Utara
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.289 Ha
Satuan Bua' Patongloan
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wilayah Adat Rano (Kabupaten Tana toraja), buntu pongkamisi, buntu ku'kuk
Batas Selatan Wilayah adat Baroko ( lentenan ulu, salu marengko, to sadipe, to pamenta, pasa' dalle, litak riri, tombang, tondon lo'ko', Buntu (Gunung) ku'kuk.
Batas Timur Wilayah adat Pana (buntu/gunung currik, kajoak (situs tondok tojolo), (situs,buntu/gunung pokporan, kandean lakpak, untu/gunung kuruk-kuruk),
Batas Utara Wilayah Adat Tangsa, (Buntu Kalando, Buntu Massila, Buntu Pasang, karumisik (sungai)

Kependudukan

Jumlah KK 1266
Jumlah Laki-laki 2693
Jumlah Perempuan 2524
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah asal usul nenek moyang orang patongloan adalah berasal dari sejarah Totiba'tu Ritallang dan Tokombong Bura. Konon sejarahnya bahwa Totiba'tu Ritallang adalah seorang laki laki yang berasal dari dalam bambu, sedangkan Tokombong Sura adalah seorang perempuan yang berasal dari dalam mata air. Kedua orang ini kawin sebagai suami isteri dan tinggal disuatu tempat yang namanya Rombeao', dari perkawinannya, lahir tiga (3) orang anak yakni; Palondongan, Timbandiao' dan Ma' dika Bulano. Palondongan kawin dengan Em bong
Bulan dari Tangsa melahirkan enam (6) orang anak yakni; Lambe' Susu kawin dengan Tammasseong dari Baroko (Lisunna Umbu'), Mangngallo ke pebulian kawin dengan Tulak, Barre ke Tondok, Sanono'na ke Lemo/Palesan, Sarong/songkok Malea (topi merah) ke Luwu, dan Salla' Bonga ke Bone. Dari anak cicit Totiba'tu Ritallang dan Tokombong Bura

inilah yang berkembang biak sampai sekarang di komunitas Patongloan dan bahkan sampai ke Komunitas lain/ daerah sekitarnya. Komunitas Masyarakat Adat Patongloan terbentuk ketika Cucu Palondongan dan Embong Bulan yakni Datu ingin memperjelas Wilayah Kakuasaannya yang telah mendapat restu dari orang tuanya di Lisunna Umbu' maka dia mengajak orang-orang yang ada di sekitarnya dan memberinya tugas sesuai dengan kebutuhan Komunitas pada waktu itu. Pertama dia mengajak orang yang berada di Katongkonan (salah satu tempat diwilayah Patongloan) untuk mengurusi semua urusan Komunitas, kemudian mengajak orang yang berada di Buntu ( salah satu tempat diwilayah Patongloan) untuk membantu orang dari katongkonan tersebut, kemudian mengajak orang yang berada di Rampunan (salah satu tempat diwilayah Patongloan) untuk mewakili Datu dalam hal proses penyelesaian tugas tugas Komunitas, lalu mereka bersepakat mengenai tugas tugas dan kewenangan dalam satu ikatan kelembagaan yakni Komunitas Adat Patongloan. Datu dalam hal ini sebagai pucuk pimpinan adalah tempat untuk melaporkan seluruh kegiatan dalam Komunitas Adat Patongloan.

Sebagai awal dari pada pekerjaan mereka adalah Datu memerintahkan kepada ketiga orang tersebut untuk mematok/menentukan seluruh batas Wilayah Komunitas adat Patongloan dari seluruh penjuru dan mengadakan Basse/perjanjian dengan Komunitas Adat tetangga. Ketiga orang itulah yang diberi tugas kelembagaan sehingga terbentuklah struktur kelembagaan adat Patongloan yang pertama terdiri dari :

1. Datu sebagai pucuk pimpinan pada waktu itu yang diberi gelar To dipa'paelei, to torro Ian pangnguluan, to tangna iri angin tang na simbo lalinding yang bertahta di Banua Kasalle yang
biasa disebut Tongkonan Banua Kasalle sebagai pusat Pemerintahan Adat Patongloan.
2. Katongkonan, yang diberi tugas untuk mengurusi tugas Kelembagaan baik kedalam maupun keluar (urusan Pemerintahan Adat). 3. Buntu, yang diberi tugas untuk membantu dan bekerja sama dengan Katongkonan dalam hal menjalankan tugas tugas kelembagaan.
4. Rampunan, yang diberi tugas untuk mewakili/ atau mendampingi Datu/ Banua Kasalle dalam hal tugas tugas kelembagaan. Dengan perkembangan dan kebutuhan pelayanan dalam Komunitas Masyarakat Adat Patongloan sehingga Kelembagaan Adat ini bertambah menjadi 13 (tiga belas diantaranya ada yang mengurusi Kerohanian (Allo solo' dan Allo tuka'), Sosial Kemasyarakatan dan Kepemudaan.

Komunitas Masyarakat Adat Patongloan ini didirikan kira kira Tahun seribu sampai dengan seribu seratus Masehi. Patongloan secara magnawia mengandung arti : Persatuan, Pemersatu, atau menyatukan karena orang-orang ditempat ini pada waktu itu bermaksud untuk mau bercerai berai (Lasisarak sarakmi tau) karena pada waktu itu belum ada aturan /pimpinan yang mengikat mereka, mereka masih tetap diatur dari lisunna umbu', semua sorongan bingka/ pangngadaran diserahkan ke Lisunna Umbu'. Kata Patongloan itu berasal dari kata Pantolo' yang mendapat imbuhan dan akhiran. Pantolo bisa berarti tali yang dipakai untuk mengumpul atau menyatukan sesuatu barang, itulah yang mendasari sehingga komunitas ini diberi nama Komunitas Patongloan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Gantanan, yaitu wilayah daratan yang diperuntukkan untuk bara'ba (kebun), pangngala (hutan) dan petondokan (pemukiman), pekuburan (lamunan).
2. Padang Kawaian (lahan basa), yaitu wilayah yang diperuntukkan untuk uma (persawahan)  
1. Padang Kalena (tanah pribadi), yaitu tanah yang didapat oleh seseorang karena pemberian/warisan keluarga dan pembelian dikelola secara perorangan, untuk perumahan, pertanian.
2. Padang mana' (tanah pusaka = warisan), tanah yang dimiliki oleh rumpun keluarga dalam satu garis keturunan pengelolannya secara bergiliran sesuai dengan kesepakatan keluarga.
3. Padang ada' /tanah adat, yaitu tanah yang pengelolaannya dan peruntukannya diatur oleh pemangku adat dan di kelola oleh pemangku adat.  

Kelembagaan Adat

Nama Tongkonan Sampulo Tallu
Struktur 1. Katongkonan 2. Bola Kasalle 3. Burrtii · · 4. Rampunan 5. Pebulian 6. Tondon redak 7. To'panga 8. lombok 9. Ambe' peamuane/ To' lemo 10. To 'mayemu 11. To'mentaun 12. Tomanyampan Redak 13. Tomanyampan Lo' ko Tolemo
1. Katongkonan, yang diberi tugas untuk mengurusi tugas Kelembagaan baik kedalam maupun keluar (urusan Pemerintahan Adat). To' ma' irandang
2. Bola Kasalle sebagai pusat Pemerintahan Adat Patongloan, diberi gelar To dipa'paelei, to torro Ian pangnguluan, to tangna iri angin tang na simbo lalinding
3. Buntu, yang diberi tugas untuk membantu dan bekerja sama dengan Katongkonan dalam menjalankan tugas-tugas kelembagaan.
4. Rampunan, yang diberi tugas untuk mewakili/ atau mendampingi Datu/ Banua Kasalle dalam hal tugas tugas kelembagaan.

Dengan perkembangan dan kebutuhan pelayanan dalam Komunitas Masyarakat Adat Patongloan sehingga Kelembagaan Adat ini bertambah menjadi 13 (tiga belas) diantaranya ada yang mengurusi Kerohanian (Alla solo' dan Allo tuka'), Sosial Kemasyarakatan dan Kepemudaan. Pemangku ini di bawah koordinasi Buntu
5. Pebulian (Toma'mamang) menyampaikan doa
6. Ton don redak (totingngo lako) pendamping toma'mamang (menyiapkan kebutuhan ritual)
7. To'panga (Totingngo tama) pendamping toma'mamang (menyiapkan kebutuhan ritual)
8. lombok (Toma'rauk) penyembilih hewan
9. Ambe' peamuane (Kepemudaan) kerja bakti
10. To 'ma'nyemu (ma'tojolo) berdoa keselamatan roh-roh leluhur
11. To'mentaun (intiro allo) perbintangan
12. Tomanyampan Redak (pembagian daging)
13. Tomanyampan Lo' ko Tolemo (pembagian daging) 
1. Dibicara, yaitu membahas/bermusyawarah tentang sesuatu hal yang akan dilakukan, dan
2. Kapuran pangngan/ putusan, yaitu mengambil sumpah kepada kedua bela pihak bahwa apa yang disampaikan adalah sesuatu kebenaran dan kalau ternyata itu adalah sesuatu kebohongan maka itu akan berdapak buruk bagi dirinya dan bahkan sampai kepada anak cucunya.

 

Hukum Adat

Tidak boleh menebang pohon/meramba hutan di kawasan hutan adat tanpa seisin pemangku adat, kalau melanggar hukumannya adalah "Mattunu Bai" atau menyembelih babi dan akan jadi budak selamanya
 
Aturan adat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia salah satunya adalah hukuman potong ternak dan diusir dari kampung, ini hukuman untuk orang yang berzina hubungan antara orang tua dengan anak kandungnya), karena dampaknya akan berpengaruh terhadap sumber daya alam " tangna potuo tallu lolona" (manuasi binasa, tanaman dan hewan binasa) Untuk perkelahian akan di damaikan secara adat, namun ketika perkelahian tersebut mengeluarkan darah, maka akan di Hukum dengan denda potong babi
 
Dilea, adalah diarak keliling kampung dan ditarik oleh seekor anjing yang berwarna merah, karena pelanggaran adat yaitu sepasang suami istri bercerai, kemudian masing-masing telah menikah dengan orang lain, dan kemudian, mereka sepakat akan baikan (yang sebelumnya
bercerai) Terjadi pada jaman penjajahan belanda
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi,kol,ubi jalar, ubi kayu, kacang merah,talas, pisang, tomat, mangga jambu, kol buncis, wortel sawi tomat, kentang, kacang merah, bawang bombai dsb
Sumber Kesehatan & Kecantikan • Jahe : batuk, panas dingin • Daun Jambu, : diare • Daun ambojong/benalu batu : obat usus buntu • daun siri : obat kangker • pinang, : Ginjal • akar pinang : obat lemah sahwat • kunyit, : obat Iuka. kista • daun paria : batuk, cacar • sa'ku/kencur : obat Iuka, mengurangi pembengkakang, caku dicampur beras, jadi bedak • daun jarak : obat tekanan, sariawan • lengkuas : panu (diparuk+ minyak tanah) • daun nyarang nyarang : obat mimisan, obat Iuka , obat sakit kepala • daun lemo taji : panas dingin, kolestrol, obat kembung perut • Pune : obat Iuka
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu suren, pinus, kayu nangka, bambu, enau dan pune,cendana
Sumber Sandang Kulit daun nenas, kulit kayu lambung (celana)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Jahe, cengkeh, lombok, lengkuas, serei, daun jeruk nipis, merica, bawang merah, bawang pperey, gonad (buncai), daun sop (seledri)dsb
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, cengke, Coklat, ayam kampung, kambing, sapi, kerbau dan palawija.