Wilayah Adat

Bua' Patongloan

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Patongloan
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Baroko
Desa Desa Patongloan, Benteng Alla, Benteng Alla Utara
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.289 Ha
Satuan Bua' Patongloan
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wilayah Adat Rano (Kabupaten Tana toraja), buntu pongkamisi, buntu ku'kuk
Batas Selatan Wilayah adat Baroko ( lentenan ulu, salu marengko, to sadipe, to pamenta, pasa' dalle, litak riri, tombang, tondon lo'ko', Buntu (Gunung) ku'kuk.
Batas Timur Wilayah adat Pana (buntu/gunung currik, kajoak (situs tondok tojolo), (situs,buntu/gunung pokporan, kandean lakpak, untu/gunung kuruk-kuruk),
Batas Utara Wilayah Adat Tangsa, (Buntu Kalando, Buntu Massila, Buntu Pasang, karumisik (sungai)

Kependudukan

Jumlah KK 1182
Jumlah Laki-laki 2800
Jumlah Perempuan 3100
Mata Pencaharian utama Petani, beternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Istilah Patongloan dapatkita dapatkan dari beberapa pengertian antara lain ; Patongloan berasal dari kata UNTO'LONGNGI yang artinya silaturrahmi/silaturrahim atau saling mengunjungi antara satu dengan yang lain (sikamalik). Dikisahkan bahwa "Suatu ketika ada seseorang yang merasa sudah lama tidak bertemu dengan kerabatnya dalam satu komunitas, karena pad.a jaman dahulu masyarakat masih sangat sedikit dan letak rumah antara satu dengan yang lain saling berjauhan sehingga jika sampai tiga hari tidak bertemu maka dianggap sudah terlalu lama tidak bertemu, kemudian muncul dalam benaknya untuk mengunjungi kerabatnya tersebut dan membawakan sejumlah bahan pangan (beras dan umbi-umbian sebagai ole-ole dalam kunjungannya tersebut). Sebelum berangkat orang tersebut menyucapkan kata-kata sebagai berikut: LAMALE PA' UN TO'LONGNGI SIUNU'KU, MASAIMO TAE' KU SITIRO (bahasa lokal)". Dari kata UN TO'LONGNGI itulah muncul istilah Patongloan yang bisa diartikan mengunjungi, saling bersilaturahim.
Ada juga cerita versi lain tentang istilah Patongloan yaitu"pada suatu ketika ada seseorang yang mendengar seseorang yang lain sedang bernyanyi disuatu tempat, tempat itu namanya Penyanyian (masuk dalam wilayah adat patongloan), muncul dalam benak seseorang yang mendengar nyanyian tadi untuk melihat/mengunjungi seseorang yang sedang bernyanyi tersebut, akan tetapi dia masih dalam keadaan berduka karena anaknya baru saja meninggal dunia. Orang yang mendengar nyanyian tersebut berkata "LAMALE PA' UN TO'LONGNGI TO'TOMENY ANYI" (bahasa lokal, yang artinya saya mau melihat/mengunjungi orang yang sedang bemyayi tersebut) kemudian dia berangkat ke tempat yang letaknya agak tinggi/gunung, setelah sampai ditempat tersebut dia kembali memandang ke tempat seseorang bernyanyi tadi, kemudian dia berkata: " YA KENNA TUO TODA PATU ANAKKU, LAMENYANYI-NYANYI TODA MO' INTO'JIONGNGO (bahasa lokal), kemudian dia lompat dari ketinggian tersebut dan meninggal dunia. Kembali ke istilah Patongloan, berasal darikata UN TO'LONGNGI yang artinya melihat/ mengunjungi/ silaturrahim,
Kemudian versi yang lain yaitu Patongloan berasal dari kata Pantolo' berarti tali yang digunakan untuk mengikat/ atau mengumpulkan sesuatu, sehingga Patongloan dapat diartikan sebagai persatuan, pemersatu atau mempersatukan. Sampai saat sekarang ini masyarakat adat Patongloan sangat memegang teguh prinsip silaturrahim clan gotong royong/saling membantu tanpa imbalan.
Sejarah asal usul leluhur masyarakat adat Patongloan bermula dari perkawinan antara Palondongan dengan Embong Bulan clan dari perkawinan itu melahirkan 6 orang anak yaitu ;
I. Lambe' Susu ke Baroko,
2. Salla' Bonga ke Gowa,
3. Sarong Mal ea ke Luwu,
4. Barre ke Tondok, Bonggakaradeng
5. Sanono'na ke Lerno /Pa'buaran Tana Toraja,
6. Mangngallo tinggal di Pebulian .
Sebelum terbentuknya lembaga adat/wilayah hukum adat Patongloanpemukiman berada di Pa 'buntubatuan, disebut demikian karena letaknya ada di gunung batu. Mereka yang mendiami tempat tersebut ada empat orang, dua disebelah selatan adalah Mangngallo clan Pong Bakkulak , clan dua disebalah utara yaitu Tandigau clan Pamilean. Setelah orang sudah bertambah banyak muncullah prinsip prinsib kebersamaan, keterikatan, keteraturan dsb maka pada waktu itu mereka sudah membutukan aturan/ hukum adat clan orang yang akan menegakkan aturan/hukum adat itu yaitu pemimpin.
Pada awalnya di wilayah ini semua pangngadaran yang diadakan, sorongan bingka'na male sau'i Baroko/Lisunna Umbu', sehingga suatu ketika, karena atas dorongan kebersamaan maka orang ditempat ini mau meninggalkan tempat ini. Atas inisiatif clan kemampuan para tokoh termasuk Datu, Pongbekkulak dan Ponglumembang, sesingga masyarakat tidak jadi meninggalkan tempat ( male sisarak sarak) clan sorongan bingka' pangngadaran tidak semuanya diserahkan ke Baroko/Lisunna Umbu tetapi nanti kalau sampai delapan ekor kerbau yang dipotong, maka satu kepala kerbau dibawa ke Baroko/ lisunna umbu'.
Setelah itu mereka langsung mengadakan perjanjian (basse) untuk mereka masing masing komitmen atas tugas, fungsi dan keberadaannya dengan membuat ongan ongan clan menghadirkan seekor karbau pakelo/Tekken langi' dimana satu tanduknya turun kebawa dan tanduk yang satu mengarah keatas, lalu mereka mengadakan perjanjian(basse) dengan bunyi sebagai beriku : " Barang siapa diantara kita yang tidak konsiten atas tugas, fungsi dan perananya masing masing maka akan kering keperti ongan ongan ini dan semakin turun seperti tanduk kerbau ini sampai ke anak cucunya di kemudian hari, dan barang siapa yang tetap konsisten atas tugas fungsi dan peranannya maka akan tetap hijau, segar seperti ongan ongan sekarang dan semakin naik keatas seperti tanduk kerbau ini sampai ke anak cucunya."
Setelah Perjanjian/Basse itu diadakan maka barulah jabatan adat disepakati, hukum adat mulai berjalan clan wilayah kekuasaan/ wilayah adat ditentukan, disinilah baru muncul istilah Patongloan yang berarti menyatukan/ mengikat orang orang yang perna hampir bercerai berai tadi, disinilah baru muncul istilah ada' Patongloan, Tongkonan/Pemangku ada' Patongloan dan wilayah ada 'Patongloan. " hal ini di kutip dari penuturan Almarhum So' Oran pemangku adat XI dari tongkonan Banua Kasalle pada tahun 1987 "
Untuk memperjelas batas wilayah Adat Patongloan pada waktu itu maka Pong Bakkulak dari Katongkonan ditemani oleh Pong Lumembang dari Buntu bertugas pergi mematok/menentukan tapal batas wilayah adat Patongloan dan mengadakan perjanjian (basse) dengan wilayah adat tetangga. Dengan perkembangan dan kebutuhan pelayanan dalam Komunitas Masyarakat Adat Patongloan sehingga Kelembagaan Adat ini bertambah menjadi 12 (duabelas) diantaranya ada yang mengurusi Kerohanian (Allo solo' dan Allotuka'), Sosial Kemasyarakatan dan Kepemudaan

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Gantanan, yaitu wilayah daratan yang diperuntukkan untuk bara'ba (kebun), pangngala (hutan) dan petondokan (pemukiman), pekuburan (lamunan).
2. Padang Kawaian (lahan basa), yaitu wilayah yang diperuntukkan untuk uma (persawahan)  
1. Padang Kalena (tanah pribadi), yaitu tanah yang didapat oleh seseorang karena pemberian/warisan keluarga dan pembelian dikelola secara perorangan, untuk perumahan, pertanian.
2. Padang mana' (tanah pusaka = warisan), tanah yang dimiliki oleh rumpun keluarga dalam satu garis keturunan pengelolannya secara bergiliran sesuai dengan kesepakatan keluarga.
3. Padang ada' /tanah adat, yaitu tanah yang pengelolaannya dan peruntukannya diatur oleh pemangku adat dan di kelola oleh pemangku adat.  

Kelembagaan Adat

Nama Tongkonan Sampulo Tallu
Struktur 1. Tongkonan Katongkonan (To Bara'/Pekaamberan) 2. Tongkonan Banua kasalle (Pekaindoran) 3. Tongkonan Buntu 4. Tongkonan Rampunan 5. Tongkonan Pebulian 6. Tongkonan Tondon Redak 7. Tongkonan To'panga' 8. Tongkonan Lombok 9. Tongkonan To'lemo 10. Tongkonan To Mentaun 11. Tongkonan To Ma'nyemu 12. Tongkonan To Manyampan
1. Tongkonan Pebulian; bertugas sebagai Toma'mammang yaitu berdoa kepada yang maha kuasa dalam ritual tertentu yang diadakan.
2. Tongkonan Tondon Redak/ totingo lako , bertugas untuk membantu to pebulian I menyiapkan segala sesuatunya untu acara berdoa/ ma 'mammang.
3. Tongkonan To'panga'/ totingo lako ; yang juga bertugas membantu to pebulian untuk pelaksanaan doa/ ma'mammang.
4. Tongkonan Lombok/ toma 'rauk ; bertugas untuk menyembeli hewan dan bersama dengan am be' peamuane untuk menyelesaikan kerja kerja kelembagaan.
5. Tongkonan To Ma' nyemu; yang diberi tugas untuk mendoakan orang orang yang sudah lama meninggal ritual itu biasa disebut dengan istilah ma' tojolo
6. Tongkonan Ambe' Peamoane/To'lemo ; bertugas mengurus urusan kepemudaan dan kerja kerja kelembagan lainnya.
7. Tongkonan Tomentaun ; bertugas untuk intiro allo, melihat perbintangan untuk memulai awal musim tananam clan urusan lain yang sejenis atau untuk mengurusi urusan pertanian.
8. Tongkonan To Manyampan; bertugas untuk membagi daging (pangngadaran) yang akan diberikan kepada orang/ pemangku adat yang berhak.  
1. Musyawarah/mufakat diadakan oleh para pemangku adat dengan menghadirkan orang yang bersangkutan ( yang bermasaalah)
2. diadakan keputusan berdasarkan hukum adat (aluk anna pemali)
3.Kalau keputusan tidak diterima oleh salah satu pihak, maka
4. diadakan yang namanya kapuran pangngan ( bahasa lokal)  

Hukum Adat

1. Mangkaro kalo'; yaitu ritual yang diadakan untuk memulai membuka sawah agar usaha pertanian yang akan diadakan diberkati oleh yang maha kuasa sehingga mendapatkan hasil yang melimpah.
2. Ma' pakande Dewata; yaitu ritual yang diadakan karena ada sesuatu musibah yang menimpah masyarakat ( tau buda) dengan harapan semoga musiba itu tidak berkelanjutan dan tidak berulang kembali. 
a. Aluk pea (pesta)
b. Rampanan kapak (perkawinan):
1. sorongan sepu
2. penentuan waktu
3. kapa 'I peporinna tananan dapo'  
1. Hukuman kepada orang yang sengaja menebang, Karopik (pohon yang dibawah akarnya sebagai kuburan leluhur dan dikeramatkan) adalah memotong/mengorbankan 1 kor babi dengan ritual khusus
2. Berzinah, didenda memotong/mengorbankan I ekor kerbau
3. berkelahi (sampai mengeluarkan darah), didenda memotong/mengorbankan 1 ekor babi
4. Berkelahi (tidak sampai mengeluarkan darah) hanya didamaikan saja  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi,kol,ubi jalar, ubi kayu, kacang merah,talas, pisang, tomat, mangga jambu, kol buncis, wortel sawi tomat, kentang, kacang merah, bawang bombai dsb
Sumber Kesehatan & Kecantikan • Jahe : batuk, panas dingin • Daun Jambu, : diare • Daun ambojong/benalu batu : obat usus buntu • daun siri : obat kangker • pinang, : Ginjal • akar pinang : obat lemah sahwat • kunyit, : obat Iuka. kista • daun paria : batuk, cacar • sa'ku/kencur : obat Iuka, mengurangi pembengkakang, caku dicampur beras, jadi bedak • daun jarak : obat tekanan, sariawan • lengkuas : panu (diparuk+ minyak tanah) • daun nyarang nyarang : obat mimisan, obat Iuka , obat sakit kepala • daun lemo taji : panas dingin, kolestrol, obat kembung perut • Pune : obat Iuka
Papan dan Bahan Infrastruktur Jati putih, suren mahoni, nangka, pin us, kani, bambu, dll
Sumber Sandang sutera
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bawang merah, merica, cabai, bawang prey, jahe, lengkuas, kunyit, serei, dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Perkebunan kopi, cengkeh, coklat (dalam jumlah sedang), umbi-umbian, kacang-kacangan clan semua tanaman horticultura

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Enrekang Nomor 1 Tahun 2016 Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat Masenrempulu Enrekang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen