Wilayah Adat

Tondok (kampung) Buntu Bai (Minanga)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Buntu Bai (Minanga)
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Rongkong
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.225 Ha
Satuan Tondok (kampung) Buntu Bai (Minanga)
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Salu Buta, Salu Lelating, Buntu Malepong, Buntu Alloan Pala’, Salu Talukung pertama, Salu Lengko (pohoneang), Talukung kedua SAlu Kamiri, WA Kanandede, Kawalean, Salu Lengko, SAlu Pongremba’ Buntu Sirapi’, Salu Kamiri, Kawalean Seba, WA Lodang, Kec. Seko
Batas Selatan Tanete BUntu TAbuan, WA Uri
Batas Timur Salu BArrakan, Salu Sitodon, Lai’ tangga (kuang) Lombok WA Komba
Batas Utara Salu Malilin, Buntu TAgari, Salu Tarangko, WA Kanandede

Kependudukan

Jumlah KK 132
Jumlah Laki-laki 318
Jumlah Perempuan 320
Mata Pencaharian utama Bertani sawah (ma’tampang), dan berkebun (ma’bela)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal-usul keberadaan masyarakat adat minanga merupakan keturunan dari orang yang bernama Ne’ Teguni yang sedang berburu (manggasu) menyusuri salu (sungai) dan akhirnya ketiga pemburu tiba di sebuah kamung yang sekarang dikenal dengan Kampung Lowarang. Namun setibanya di Lowarang mereka belum mendapatkan apa-apa (hewan buruan), akhirnya ketiga pemburu kembali melanjutkan perjalanan menyusuri lereng gunung. Setelah perjalanan sudah jauh maka mereka meninggalkan Lowarang dan tiba di tempat yang begitu indah. Ketiga pemburu memutuskan istirahat di sana (Minang). Namun karena mereka tidak mampu lagi untuk kembali, akhirnya menetap dan tinggal di sana (Minanga). Keseharian mereka membuka pa’belaran (kebun), ma’tampang (sawah) , dan seiring berjalannya waktu proses perkembangan manusia begitu cepat. Akhirnya masyarakat yang menetap di wilayah ini menyebut tempat tersebut sebagai Tondok Minanga yang artinya pertemuan dua sungai besar (Kasitammuan daddua’ Salu Batoa). Adapun nama dari kedua sungai besar ini adalah Salu Beang dan Salu Rassassisi.

Setelah perkembangan manusia semakin hari semakin bertambah akhirnya masyarakat adat Minanga bersepakat untuk mengagkat pemimpin untuk menjadi pelindung, mengatur, dan menciptakan kedamaian. Pemimpin pertama bernama Ne’ Sanguni. Dia diangkat menjadi pemimpin karena merupakan orang pertama yang membuka tondok ada Buntu BAi (Minanga). Gelar seorang pemimpin disebut MAtua atau orang yang dihormati atau dituakan dalam WA.
Adapun susunan kepemimpinan (matua) sbb:
1. Ne’ Saguni
2. Ne’ Kamburruk
3. Ne’ Lopang
4. Ambe Padang
5. Ne’ Lismi
6. Ne’ Lison
7. Lison
Demikian susunan Matua Ada’ Minanga dan Matua yang masih menjabat sampai sekarang adalah Matua Lison.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Liang ada’ (hutan tempat kuburan leluhur): tidak bisa dialihfungsikan tapi masyarakat adat Minanga diperbolehkan untuk mengambi madu, damar yang ada di dalam liang ada’ dan letak liang ada’ berada di sebelah utara wilayah ada’ Minanga.
Panggala: hutan yang secara khusus hanya boleh dikelola oleh rumpun MAtua letak dari panggala ini berada di pinggir perkampungan.
Kurra’: lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan sampai jangka waktu 2-3 tahun lalu diolah kembali. Areal ini dimanfaatkan oleh masyarakat adat Minanga untuk ditanami palawija seperti sayur, padi, jagung, nama dari lokasi yang ada di dalam panggala kurra adalah beang (ladang), balombang (ladang), kanan (ladang), tuara’ (ladang).
Kurra matua: lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan sampai 15 tahun lalu diolah kembali untuk ditanami padi, cokelat, kopi, merica, dll.
Tamang (sawah): lahan persawahan secara turun temurun menjadi sumbe pangan yang diolah dengan sistem pengairan tradisional (taaliang, silii, manganan).
Polipuang (pemukiman) adalah areal perumahan penduduk beserta sumber mata pencaharian bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk kebutuhan pangan dan arealnya yaitu Buntu Bai' (perkampungan).

Mea (perkampungan), lianang (kebun), bongang (kebun), londoang (kebun), kariango (kebun), tandung (kebun), pongngasu (kebun), pottarung (kebun), suso (kebun), takkalako’ (kebun), miratte (kebun), lemo (kebun), karabaang (kebun), peppisang (kebun), pareli (kebun), tarootang (kebun), umbong-umbong (sawah), pangngisoang (sawah), tuyu (saah), siborang (sawah), katuhoanna (sawah), hassi (sawah), dll
 
Di dalam wilayah adat Minanga secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayahnya terbagi menjadi 3 bagian:
1. Individu, merupakan areal-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk tondok (hunian), tampang (sawah), dan bela’a (kebun).
2. Warisan (sampemanak) saudara atau sepupu dan tidak boleh dipindahtangankan ke pihak yang lain, dan apabila sudah tidak dikelola lagi, lahan tersebut kembali ke lembaga adat dan diberikan lagi ke orang yang akan mengelolanya (mana’).
3. Tanah yang dikelola secara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat seperti kayu, dll (sangrapuan).
 

Kelembagaan Adat

Nama Minanga Tanduk Matata’
Struktur Matua Tosiaja Pongngaraong Lantek padang
Matua: yang memimpin masyarakat adat setempat dan menjalankan hokum adat
Tosiaja: hakim adat
Pongngaraong: membangun kehidupan masyarakat adat
Lantek padang: bagian keamanan
 
Hampir semua pengambilan keputusan adat di tangan Matua sebagai pemimpin lembaga adat. Namun ada keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat (Ma'mesa-mesa) dengan para perangkat adat. Yang masuk dalam keputusan melalui musyawarah adat Minanga semisal terjadi pencurian, kasus tanah rumpun, asusila atau persinahan, uacara adat penguburan keturunan matua. Matua yang berhak memutuskan perkara tersebut.
 

Hukum Adat

Tampang massiaja’ ma’mesa iamplao bunga lalan (menghambur benih pertama): melaksanakan ritual adat setiap akan memulai turun sawah atau sebelum menghambur benih. Dilaksanakan di rumah pangngarong sendiri.
Ma’kurre sumanga/ ma’bua: melaksanakan upacara adat pada awal musim padi dan pada waktu selesai panen (syukuran).
Adapun hal yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat adat Minanga pada musim padi dimulai adalah mengumpulkan buah. Masyarakat dilarang menggali kubur. Apabila ada yang melanggar maka padi akan dimakan tikus dan mengakibatkan gagal panen.
 
Aturan adat ditetapkan dan disepakati secara bersama oleh masyarakat adat Minanga. Jika ada yang melanggar akan dikenakan sanksi. Aturan tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah adat Minanga. Aturan tersebut adalah:
1. Tidak boleh siremen (bersina)
2. Ma’pasiroso (provokator, tukang gossip)
3. Ma’boko (mencuri)
Jika ada yang melakukan hal di atas maka akan mendapatkan hukuman, ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya.

Denda Satu ekor kerbau untuk sanksi dari pelanggaran berat, yaitu: asusilah dan merendahkan derajat orang lain. Sedangkan denda ayam untuk pelanggaran ringan seperti pencurian. Semua itu terlebih dahulu dimusyawarahkan (Ma'mesa-mesa)
 
Peradilan adat dilaksanakan apabila terjadi pelanggaran adat, prosesnya dilaksanakan melalui musyawarah adat (ma’mesa mesa) untuk membuktikan kesalahan yang terjadi. La’te padang bertugas memanggil pihak yang melakukan pelanggaran untuk membuktikan pelanggaran untuk didengar keterangannya. Pada tahapan ini Tosiaja’ (hakim adat) memimpin proses persidangan, jika terbukti melakukan pelanggaran maka Tosiaja’ dan seluruh perangkat adat saling berembuk membicarakan sanksi yang akan dijatuhkan kepada pihak yang terbukti bersalah. Setelah para perangkat adat bersepakat maka Matua yang berhak untuk memutuskan.

Penetapan keputusan dinilai dengan ternak (kerbau) satu ekor untuk sireman (berzina). Khasus pa’boko (mencuri) dikenakan sanksi sesuai dengan barang yang dicuri, seperti membayar ganti rugi kepada korban. Kemudian dilanjutkan dengan proses perdamaian oleh kedua belah pihak dengan disaksikan seluruh peserta siding adat. Jika ada salah satu pihak yang tidak puas dengan keputusan peradilan adat, maka perkara diteruskan ke pemerintah untuk diproses dan diselesaikan sesuai dengan aturan hukum nasional.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi lokal (pare banjara, bandarata, bulan, lotong, beang, pare bulu bajan, sumorong, dll), ubi jalar, singkong, kacang panjang, daun battave, daun lavu, katarrung, pisang, langsat, durian, nangka
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing: obat ginjal; Revu Nippon: obat menyembuhkan luka; Lampujang: campuran bedak; Jahe, kencur: obat luka lebam; Daun sari kaja: obat hipertensi; Kunyit: obat penurun panas; Kunyit, beras, daun pandan: campuran bedak; Telapak kuda: lemah syahwat; Bosi-bosi: luka/ muntah darah/ maag;
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu uru: tiang rumah; Kayu kata: batang kayu bitti untuk dinding rumah; Londong, annaja, pangkulang, pinus, dll; Kayu merantatang kayu; Kayu cempaka: untuk rangka, dinding rumah; Batu: untuk alas tiang rumah;
Sumber Sandang Bambu: untuk nyiru; Daun pandan (nase): untuk bakul, tikar, tudung kepala;
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cabe, kencur, jahe, sereh, lengkuas, daun bawang, daun kemangi, kunyit: campuran bumbu masak; Mangga, belimbing, asam tuak, kedundung, dengen, patikala: penyedap masakan;
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, padi, cokelat, getah damar, dll