Wilayah Adat

Tondok (Kampung) Ada’ Kujan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kujan
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU
Kecamatan Walenrang Barat
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Tondok (Kampung) Ada’ Kujan
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wilayah Adat Bure Desa Lempe.
Batas Selatan Wilayah Adat Bure Desa Lempe dan Wilayah Adat Uru Desa Ilanbatu uru
Batas Timur Wilayah Adat Siteba Desa Siteba dan Wilayah adat Sangtandung Desa Sangtandung Kec. Walenrang Utara
Batas Utara Wilayah adat Kadinginan Desa Lempe Pasang Kec. Walenrang Barat

Kependudukan

Jumlah KK 215
Jumlah Laki-laki 395
Jumlah Perempuan 649
Mata Pencaharian utama Pada Umumnya masyarakat Adat Kujan Pariu (bertani) dari Tampang (sawah) dan Belak (Kebun).

Sejarah Singkat Masyarakat adat

-

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Titipan (Pangala Tamman)
Hutan yang dititipkan atau diwariskan oleh katurunan (rumpun) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan larangan yang tidak boleh diakses atau diambil sumberdaya yang ada didalamnya. Namun hutan ini boleh dipakai jika saatnya tiba, bagi Kampong Ada’ untuk menempatinya. Misalnya: Hutan Taranggai, Buntu Sutan, Buntu Puang, Buntu To’ Pao dan Buntu Taranggai.

- Hutan Tutupan (Kabo)
Hutan yang merupakan batas antara hutan titipan dan hutan garapan. Hutan ini juga dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan sumberdaya didalamnya kecuali hanya untuk kepentingan adat/Ada’. Lokasinya ; Pong Ka’pu, Pa’ Kaparan, Buntu Sarre, Sampean Bai, Kampung Kumua.

- Hutan Bukaan/Garapan (Pangala Dijama)
Hutan bukaan atau hutan garapan merupakan areal yang sudah dibuka maupun sebagian masih berupa hutan yang dipakai untuk pemukiman, persawahan, kebun dan juga boleh dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat Misalnya ; Kampung Pong Ka’pu, Kampung To’ Tikala, Kampung Tiku Tallu.

 
Di dalam wilayah adat Kujan, secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah adat terbagi menjadi dua yaitu wilayah komunal dan wilayah individu. Wilayah inidividu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Tondok (hunian), Tampang (Sawah), dan Bela’ (kebun). Proses pembagiannya pun harus diputuskan atas persetujuan Tomakaka. Biasanya di masing-masing Tondok ada ‘Matua’ yang akan menyampaikan informasi ke Tomakaka apabila ada warga yang membutuhkan area kelola untuk kehidupannya. Selain itu ada juga Nginan (Tempat) yang merupakan area yang digunakan untuk Tomakaka . Bentuknya ada sawah, kampung, Kabo (Belukar), Belak (kebun) dan lain-lain. 

Kelembagaan Adat

Nama Kujan
Struktur - Tomakaka - Baliara - Matua - Bunga Lalaln - Anak Tomakaka-Sando - Topetowe Kande/Tomantawa - Masyaraka’ Ada’ .
Para Perangkat Adat meliputi:
- Tomakaka ;
Sebagai Pemimpin tertinggi didalam masyarakat adat
- Baliara;
Membantu Tomakaka dalam menjalankan segala tugas dan fungsinya sebagai pemimpin tertinggi dalam masyarakat adat
- Matua ;
- Sebagai orang yang dituakan didalam masyarakat adat
- Bunga’ Lalan ;
Merencanakan Awal mula bercocok tanam.
- Anak Tomakaka ;
Menyampaikan informasi kepada Masyarakat adat dalam hal pelaksanaan musyawarah dan Memberikan teladan yang baik kepada generasi muda.
- Sando ;
Sebagai orang dipercayakan dalam hal keagamaan.
- Tomantawa ;
Mengatur dan mengelola pembagian makanan didalam setiap pesta adat yang akan dilaksanakan.
- Masyaraka’ Ada’ ;
Melaksanakan dan mematuhi peraturan Adat yang Berlaku Sesuai keputusan Lembaga Adat.

 
Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin Lembaga Adat. Tetapi ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat dengan para perangkat adat yaitu untuk hal-hal yang berkaitan dengan upacara adat, diantaranya :
- Terjadi sengketa lahan antara masyarakat adat
- Bersinah / selingkuh dengan istri orang lain.
 

Hukum Adat

Di Wilayah Adat Kujan pada umumnya masih dikelilingi oleh hutan. Tondo’ Ada’ Kujan sendiri berada di tengah pegunungan Buntu Sutan, Buntu Puang, Buntu Langda, Buntu Taranggai, Buntu Buntu To’ Pao dan Buntu Toding yang secara administratif berada dalam wilayah Desa Lempe, kec, Walenrang Barat, Kabupaten Luwu. dan juga termasuk kawasan hutan lindung. Sebagai masyarakat adat menjaga lingkungan merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar, karena kelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya merupakan indikator keberlangsungan adat dan tradisi itu sendiri serta sebagai penyangga air/salu Lamasi dan Kamassi.

Tomakaka juga memiliki kebijakan-kebijakan lokal dalam mengelola dan mengakses hutan, dengan melakukan pembagian yang sudah dilakukan sejak awal keberadaannya dan turun-temurun yaitu: Hutan Titipan, Hutan Bukaan/Kabo dan Hutan Garapan.

beberapa hal yang merupakan larangan adat yaitu;
1. Menanam padi tidak boleh lebih sekali dalam setahun.
2. Benih padi yang ditanam harus padi titipan leluhur khusus ditanam di ladang (Bela’).
3. Segala bentuk yang berhubungan dengan padi harus sesuai dengan tatanan tradisi leluhur
4. Tidak boleh Mengambil sesuatu dari hutan titipan dalam bentuk apapun. Kecuali seijin dari pemangku adat (Tomakaka).
5. Tidak boleh merusak sumber mata air.

Selain itu Tomakaka Kujan juga masih menjaga warisan tradisi dalam menanam padi yaitu hanya melakukan satu kali panen dalam satu tahun. Padi yang ditanam pun harus padi lokal yang diwariskan oleh leluhur yang dulunya ada 6 jenis bibit, dan sekarang masih tetap 6 jenis bibit padi.

 
Hukum yang diterapkan di masyarakat Adat Kujan, secara umum ada tiga macam, yaitu ;
• Hukum agama yaitu hukum yang mengacu pada kepercayaan masing-masing agama.
• Hukum Negara diterapkan apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana yang ditentukan dalam tatanan hukum Negara.
• Hukum adat adalah hukum atau sanksi yang tidak diputuskan oleh seseorang atau para petinggi adat, tetapi hukum ini berupa sanksi yang diberikan oleh para leluhur, dengan istilah “ didosa, ma’rambu langi dan dipalik” .

Hukum seperti;
- didosa, adalah pelanggaran yang termasuk pada semua tingkatan pelanggaran seperti tingkatan ringan (potong ayam), Sedang (potong babi khusus untuk beragama nasrani), Berat (potong kerbau).
- Dipalik/diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai tujuh turunan serta Ma’rambu langi , adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori berat (Potong kerbau). Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya.
Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Kujan dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah didosa ma’rambu langi, dipalik,Dipalulunni Jali’. (mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapatkan ijin, segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal, dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran).
 
Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti didosa dengan memotong satu ekor kerbau dan dimakan bersama masyarakat adat Kujan. Jika tidak mematuhi aturan dengan memotong satu ekor kerbau maka akan diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai mati. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan • Sumber karbohidrat (padi, umbi-umbian, jagung, sagu): Padi (Pare Bela’ dan Pare tampang). • sumber protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Kacang hijau dan Kacang panjang. • Sumber vitamin (sayuran dan buah): Buah (Durian, Pisang , Nangka, Mangga,Aren, Langsat, kopi, dll). Sayuran (Sawi, Bayam, Kacang panjang, Terong, Daun singkong, Daun Lotong, Dauan suka, Daun Bulu Nangko, Umbu Rotan dan Umbu Banga).
Sumber Kesehatan & Kecantikan • Tumbuhan obat: kumis kucing, lampujang, jahe, kencur, Daun Sualang, Daun Sari kaja, Kulit Kayu Jawa, Daun Maradda’, Daun Bulu Nangko, dll. • Tumbuhan kosmetik: Kunyit, Beras, Daun Pandan, kencur, Kemiri, Kaju Lange’, Kelapa, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu, kayu uru, kayu nato, kayu tariwan, kayu betao, kayu bitti, kayu sandana, kayu jabon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate, dll.
Sumber Sandang kapuk, kapas, nase dan rotan
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, sereh, daun bawang, daun cemangi, dengen, tikala, mangga, jarru, kunyit, merica, asam tuak, lengkuas, daun kedundung, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Cengkeh, Padi, Cokelat, Jagung, Sagu, Kayu, Rotan, Durian, Mangga, langsat, Rambutan, Cempedak, dll.