Wilayah Adat

Mukim Sarah Raya

 Teregistrasi

Nama Komunitas Mukim Sarah Raya
Propinsi Aceh
Kabupaten/Kota ACEH JAYA
Kecamatan Pasie Raya
Desa Sarah Raya, Alue Jang, Buket Keumuneng, Ceuraceu, Alue Punti, Tuwi Peuriya
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 18.900 Ha
Satuan Mukim Sarah Raya
Kondisi Fisik
Batas Barat Dengan Gampong Pungkie, Mukim Darul Ihsan, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat
Batas Selatan Dengan Gampong Lhok Guci dan Gampong Tuwi Kareung, Mukim Pasie Teubee
Batas Timur Dengan Gampong Alue Meuraksa, Mukim Keude Teunom, Kecamatan Teunom
Batas Utara Bayah meucabeng - Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie

Kependudukan

Jumlah KK 667
Jumlah Laki-laki 2173
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani sawah/ladang, petani kebun buah, ternak, buruh tani, nelayan sungai

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal-Usul Mukim Sarah Raya
Nama Mukim Sarah Raya diambil dari Sarah yang artinya endapan pasir dan batu sungai yang airnya sangat deras sedangkan Raya artinya besar terbukti sungai ini mempunyai lebar kurang lebih 270 meter.

Masyarakat Sarah Raya berasal dari Pidie. Orang-orang pertama yang mendiami Mukim Sarah Raya antara lain adalah: 1. Banta Taleb (Pejuang Aceh) sebagai kepala rombongan; 2. Teuku Rangkoh (Abdullah) anak Banta Taleb; dan 3. Tengku Trieng (dari Kutaraja/Banda Aceh) sehingga mereka beranak pinak di Gampong Sarah Raya.

Pada dasarnya masyarakat Sarah Raya mendiami atau membangun rumah di sepanjang Kreung Teunom. Ada salah satu dusun yang telah hilang di Gampong Sarah Raya yaitu Dusun Sawang atau masyarakat sering menyebutnya dengan nama Gampong Sawang yang sekarang telah menjadi lahan ladang/kebun. Hilangnya Gampong Sawang dan juga fasilitas disepanjang sungai diakibatkan oleh adanya banjir pada tahun 1978 dan setelah enam bulan rentan waktu banjir kembali terjadi sehingga masyarakat pindah ke tempat yang lebih jauh dari Krueng Teunom.

Nama-Nama Imuem Mukim

1. Teuku Rangkoh (Masa Belanda)
Teuku Husen atau Teuku Ranto Paneuk, beliau syahid saat melawan Belanda (dipotong leher oleh belanda), makamnya berada di Rantau Paneuk, Mukim Sarah Raya.

Pada masa ini perkara-perkara masih diselesaikan secara adat, tidak dibawa ke polisi atau ke luar mukim.

2. Teuku Imuem Muda (Masa Jepang)
Pada masa ini perkara-perkara masih diselesaikan secara adat, tidak dibawa ke polisi atau ke luar mukim.

Ada kejadian banyak ikan yang mati di Krueng Teunom. Dan juga ada wabah penyakit ni (cacar) lebih setengah masyarakat Sarah Raya meninggal akibat wabah ini.

3. Teuku Muhammad
Pada masa ini banyak masyarakat Sarah Raya yang meninggal karena kelaparan akibat gagal panen.

Masa ini perkara-perkara masih diselesaikan secara adat, tidak dibawa ke polisi atau ke luar mukim.

4. Abdul Jalil (tahun 1950an)
Saat Abdul Jalil menjadi Imuem Mukim Sarah Raya ada beberapa kejadian, yaitu: Daud Beureueh menyatakan Proklamasi berdirinya Negara Islam Indonesia dan menyatakan diri bahwa Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia. Kemudian terjadi pemberontakan PKI.

Tahun 1975 mulai masuk HPH (Hak Penguasaan Hutan) ke Mukim Sarah Raya, akibatnya hutan rusak, banjir, longsor, perkebunan dan persawahan rusak, harimau turun ke gampong, gajah turun ke pemukiman menyebabkan satu orang meninggal, masyarakat kelaparan.

Perkara-perkara juga masih diselesaikan secara adat, tidak dibawa ke polisi atau ke luar mukim.

5. Teungku Abdul Hamid (sekitar tahun 1978)
Saat Teungku Abdul Hamid memimpin ada kejadian banjir besar di Sarah Raya dan sepanjang Krueng Teunom.

Peran dan aturan mukim masih diikuti walaupun ada Undang-Undang No 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang diberlakukan pada saat itu.

Tahun 1980 transmigrasi (PIR) masuk ke Sarah Raya, akibatnya matapencaharian masyarakat berkurang, hutan semakin gundul akibat pembukaan lahan baru, harga panen berkurang, maling merajalela dan tanah penduduk diambil tanpa ganti rugi.

Tahun 1985 masuk PT Tiga Mitra, tanah masyarakat diambil tanpa ganti rugi, saluran air jadi rusak, gajah kembali masuk ke pemukiman karena PT Tiga Mitra tidak lagi beroperasi dan jalan jadi rusak karena dilewati angkutan berat.

Tahun 1995 harga nilam naik, sehingga banyak tanaman tua seperti karet, pinang, pala, kopi, coklat dan lain-lain ditebang.

6. Teuku Syamsuddin
Saat Teuku Syamsuddin memimpin Mukim Sarah Raya, tahun 2000 Aceh masih dilanda konflik GAM-RI, banyak masyarakat yang mengungsi, lahan pertanian dan perumahan ditinggalkan, harta benda hilang, masyarakat tidak bekerja karena tidak aman, dan korban jiwa masyarakat.

Kejadian gempa dan tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 menyebabkan sebagian rumah warga roboh akibat gempa serta hancurnya harta benda.

Kemudian pada tahun 2005 terjadi perdamaian antara GAM dan RI.

Pada masa ini ada gangguan dari gajah di Mukim Sarah Raya, pada tahun 2009 di Gampong Buket Keumuneng ada satu orang meninggal akibat konflik dengan gajah.

Pada masa beliau, dilakukan pemetaan secara partisipatif untuk wilayah Mukim Sarah Raya yang menghasilkan dokumen Peta Manual dan Digital yang menggunakan GIS.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Permukiman: perumahan, tempat ibadah, sekolah dan lain-lain (tempat masyarakat beraktifitas sosial).

- Persawahan: tempat menanam padi, ada yang menggunakan air dari irigasi dan saluran air.

- Perkebunan: tempat menanam buah-buahn, sayuran, obat-obatan dan lain-lain.

- Rawa:

- Tambak: tempat budi daya ikan, udang, kepiting dan lain-lain.

- Sungai: sumber air dan mata pencaharian, juga sebagai sarana transportasi

- Uteun: Hutan
 
- Permukiman: Gampong-gampong dipimpin keuchik.

- Persawahan: ada yang dikuasai pribadi, diatur oleh keujrun blang.

- Perkebunan: ada yang dikuasai pribadi, diatur peutua seuneubok.

- Sungai diatur oleh panglima krueng.

- Uteun (hutan) dikuasai mukim melalui peutua uteun (glee).
 

Kelembagaan Adat

Nama Mukim
Struktur Imuem Mukim Imuem Chik Tuha Peut Mukim Tuha Lapan Mukim Peutua Seuneubok Peutua Uteun (Glee) Keujrun Blang Haria Peukan Panglima Krueng Keuchik
Imuem Mukim
Penyelenggara Pemerintahan Mukim, Pembinaan Mukim dan Gampong, Koordinasi kegiatan pemberdayaan masyarakat, ketertiban umum, perlindungan masyarakat, penerapan dan penegakan peraturan, penanganan bencana alam.

Imuem Chik
Mengkoordinir kegiatan perayaan hari besar Islam dan membina remaja mesjid, melaksanakan pernikahan dan rujuk, menyelesaikan faraid, hibah dan wasiat, menerima dan mengelola zakat, infaq dan sadaqah, menyelesaikan sengketa suami isteri.

Tuha Peut Mukim
Bersama imum mukim dan keuchik melakukan penyelesaian perselisihan/sengketa di masyarakat, menyelenggarakan musyawarah pembangunan di segala bidang, membuat pemilihan dan seleksi imum mukim, mengawasi kinerja mukim dan perangkatnya.

Tuha Lapan Mukim
Menetapkan hukum/sanksi dalam penyelesaian perkara sesuai hukum adat, mengusulkan rencana pembangunan.

Peutua Seuneubok
Mengatur dan mengawasi kebun, menyelesaikan sengketa yang terjadi di kebun.

Peutua Uteun (Glee)
Melakukan perlindungan hutan, menjaga pohon kayu sarang lebah dan di sepanjang sungai, mengkoordinir pemanfaatan hasil hutan.

Keujrun Blang
Mengkoordinir dan menjadwalkan pelaksanaan turun sawah dan gotong royong terkait sawah, menyelesaikan sengketa di sawah, membagi air untuk sawah, mengawasi irigasi di kawasan persawahan

Haria Peukan
mengumpulan hak-hak adat dari pedagang di hari peukan untuk kas mukim, pelayanan kebersihan peukan (pasar), mengatur/menertibkan tata letak posisi pedagang di hari peukan, mendapat persentase yang disepakati bersama imum mukim dan perangkatnya.

Panglima Krueng
Melakukan pengawasan daerah aliran sungai, mendata dan mengawasi galian C, menyelesaikan sengketa/perselisihan di wilayah aliran sungai.

Keuchik
Memimpin pemerintahan gampong, membina kehidupan beragama dan pelaksanaan syariat Islam, menjadi hakim perdamaian antar penduduk dalam gampong, membuat perencanaan gampong, menegakkan aturan adat di wilayah gampong.
 
Majelis musyawarah mukim 

Hukum Adat

Kenduri Blang: Kebiasaan warga Sarah Raya melakukan kenduri blang atau sawah pada saat padi menguning atau tiba masa potong padi. Masyarakat Sarah Raya bersama-sama membawa bekal makanan ke sebuah makam Teungku (tidak ada nama) yang bertempat di Alue Minyeuk Sapi, warga bersama-sama menyantap makanan melakukan doa bersama selama semalam suntuk. 
Hari jumat: kebiasaan masyarakat Sarah Raya pada hari jumat tidak melakukan kegiatan apapun termasuk ke ladang dan pada hari ini kaum ibu melakukan shalat jumat dirumah muslimah akan tetapi sekarang sudah jarang dilakukan. Kebiasaan lain adalah masyarakat melakukan gotong-royong. seperti dalam pembangunan mesjid baru.

Peleuh Kaoy (Nazar): Melepaskan nazar atau menepati janji, contohnya seorang bapak bernazar untuk anaknya supaya lulus sekolah dan apabila anaknya lulus maka sang bapak harus melepas kaoy atau melaksanakan nazar tersebut.

Kenduri Kematian: Kenduri Kematian biasanya dilakukan pada saat salah satu warga meninggal. Kenduri biasanya dilakukan pada hari ketiga, kelima dan kemudian kenduri kembali dilakukan pada hari keempat belas serta kenduri diakhiri pada empat puluh hari kematian atau warga yang meninggal.

Kenduri Perkawinan: kenduri ini dilakukan pada saat warga melaksanakan perkawinan anak mereka. Kebisaan masyarakat Sarah Raya apabila kedua mempelai berasal dari Gampong sendiri maka kenduri dilakukan oleh kedua pihak pula. Pada pagi hari kenduri dilakukan pada rumah pihak mempelai perempuan dan pada siang hari kenduri dilaksanakan pada rumah mempelai laki-laki kemudian kedua mempelai kembali kerumah pihak pengantin perempuan.

Tron Tanoh (Turun Tanah): Kebiasaan turun tanah biasanya dilakukan pada kelahiran anak pertama, kenduri ini dilakukan pada hari 44 kelahiran akan tetapi kebiasaan masyarakat melakukan kenduri pada satu bulan umur anak bahkan ada yang melakukan kenduri pada umur dua tahun anak.

Kenduri Maulid: Di Sarah Raya biasanya dilakukan kenduri untuk menyambut bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW yang biasanya dilaksanakan pada hari yang ditetapkan oleh masyarakat dalam musyawarah gampong. Setelah hari ditetapkan maka warga bersama-sama bergotong-royong menyiapkan kenduri mereka juga secara bersama-sama menyiapkan pondok-pondok untuk para undangan, biasanya yang diundang adalah tamu dari gampong tetangga.

Kenduri Tolak Bala: kenduri tolak bala biasanya dilakukan pada bulan safar (hitungan bulan Islam) di mana masyarakat membawa bekal makanan ke tepi sungai dan melakukan doa bersama.

Peusijuk (Menepungtawari): Kebiasaan masyarakat Gampong Sarah Raya peusijuk pada saat kepulangan warga dari haji dan saat-saat besar lainnya.
 
Sanksi Hukum

Bagi masyarakat dari seluruh komponen yang melanggar atau sengaja melakukan pelanggaran terhadap hukum adat/reusam yang telah disepakati bersama dan telah dituangkan dalam Buku Aturan Adat ini makan akan disidangkan/diselesaikan di tingkat gampong masing-masing, oleh geuchik dan aparatur gampong sesuai dengan aturan gampong yang berlaku.

Apabila di tingkat gampong tidak mampu menyelesaikan, maka akan diselesaikan/disidangkan di hadapan Mahkamah Mukim, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Tersangka berkewajiban membayar denda sebesar Rp500.000 (Lima Ratus Ribu Rupiah) yang disetorkan ke kas mukim.

b. Bagi yang terbukti bersalah berkewajiban membayar kerugian pihak orang lain baik yang menyangkut dengan harta maupun martabat (harga diri) sebesar yang diputuskan dalam persidangan di tingkat mukim.

c. Bagi yang terbukti bersalah berkewajiban melakukan Peusijuek apabila memukul dan atau melukai pihak orang lain.

d. Bagi yang terbukti bersalah berkewajiban menanggung biaya kanduri apabila melakukan pembunuhan (mematikan) pihak orang lain, sekurang-kurangnya 1 (satu) kali/hari kanduri, seberat-beratnya 7 (tujuh) kali/hari kanduri.

e. Membuat pernyataan tidak akan mengulangi melakukan pelanggaran terhadap hukum adat yang telah disepakati.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Padi sawah, Kelapa, Kopi, Coklat, Rusa, Kambing Batu, Glueh, Pelandok, Madu, Ikan Lele, Ikan Gabus, Ikan Sepat, Ikan Kruep, Belut, Ikan Mas, Udang, Kepiting, Cue, Lokan, Durian, Manggis, Rambutan, Langsat, Mangga, Belimbing, Pinang, Rambee, Muen, Mancang, Kuini, Kacang, Ketimun, Jagung, Ubi, Pisang, Labu
Sumber Kesehatan & Kecantikan Nilam, Pala, pineung, on ranup (sirih), ie unoe (madu), Gambir
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Semantok, Merante, Krueng, Dammar, Keundang, Kamariah, Kuli, Meudang, Mangkireng, Rotan, Beuto, Duku, Jeureunang
Sumber Sandang On meria (daun rumbia), on seuke (daun pandan)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kelapa, Pala, Kacang, Cabai, Tomat, Kunyit, Belimbing, Rumbia
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi sawah, Karet, Kelapa, Nilam, Kopi, Sarang Burung Walet, Coklat, Pala, Durian, Manggis, Rambutan, Langsat, Mangga, Belimbing, Pinang, Rambee, Muen, Mancang, Kuini, Bak Jok (Enau), Kacang.