Wilayah Adat

Lipu Barati (Palande)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Barati (Palande)
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Pamona tenggara
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.062 Ha
Satuan Lipu Barati (Palande)
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Wayura
Batas Selatan Desa Daemba dan Desa Amporiwo
Batas Timur Kecamatan Pamona Timur dan Kecamatan Mori Atas
Batas Utara Desa Salindu

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 2040
Jumlah Perempuan 2074
Mata Pencaharian utama Bertani (ladang basah dan kerng) dan wiraswasta

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada awal berdirinya desa Barati yaitu pada tahun 1895 ketika kedatangan bangsa Belanda, adapun asal Desa Barati terbentuk dari beberapa lipu (kampung), yaitu:
1. Lipu Sudopeli
2. Lipu Langoranindi
3. Lipu Salae
4. Lipu Moyonggu
5. Lipu Peganci
6. Lipu Moenggo
7. Lipu Talise
Hingga pada akhirnya bangsa Belanda menamakan Desa Barati yang artinya angin barat yang berhembus ke arah timur.
Daerah atau wilayah yang ditinggali msayarakat pada saat itu adalah peuyu, yaitu salah satu wilayah pegunungan yang ada di dalam wilayah Desa Barati saat ini. Pada tanggal 7 Juli bulan 7 tahu 1977, maka secara resmi masyaraat Desa Barati berpindah ke daerah yang didiami sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tana Moada: Hutan adat atau huitan yang dikeramatkan, hutan yang digunakan untuk acara ritual adat. Misalnya meminta hujan atau panas, permintaan izin untuk membuka kebun, pekuburan tua, dan sumber mata air yang khusus diminum

Lambi: dianggap hutan yang keramat berdasarkan kepercayaan warga setempat. Hutan tersebut sangat dilarang untuk diolah atau diambil hasil hutannya

Pangale: hutan lebat disiapkan untuk perkebunan

Nawu: Kebun yang memiliki luasan lebih dari 1 Ha

Bonde: hutan yang memiliki luasan kurang dari 1 Ha

Wakanawu dan wakabonde: bekas kebun

Yopongura: bekas kebun yang berumur sekitar 3 tahun

Yopoya'u: bekas kebun yang berumur sekitar 20 tahun

Yopoya'yo: bekas kebun yang berumur sekitar 30 tahun 
Kepemilikan individual dengan sebuah prinsip yang telah dipercayai oleh orang Barati berdasarkan hukum adat bahwa kebun atau bekas kebun ditandai dengan patok kayu yang disebut dengan Tida. Penggunaan oleh pihak lain baik keluarga atau orang lain terhadap bekas kebun dibicarakan di dewan adat. Jika ada pihak tanpa sepengetahuan pengolah pertama maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku (Salampale).
Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimiliki secara kelompok dan dimanfaatkan serta diatur penggunaan dan pengawasannya oleh kelompok. Hak perolehannya juga melalui kelompok artinya pada saat membuka lahan penggarapannya dilakukan secara kelompok. Jenis kepemilikan ini juga berkaitan dengan pembagian hasilnya.
Kepemilikan komunal jenis lainnya adalah kandang kerbau dan sapi yang diperuntukkan buat semua msayarakat adat Barati yang terdiri dari beberapa desa yang dikenal dengan nama Lambara (tem,pat penggembalaan ternak seperti kerbau dan sapi). Semua kerbau atau sapi akan dikandangkan kembali setelah selesai membajak tanah sawah. 

Kelembagaan Adat

Nama Pabisara Ada
Struktur Pomatu'a Ada Pomo Uki Poma Niu Voko
Pomatu'a Ada: ketua
Pomo Uki: sekretaris
Poma Niu: bendahara
Voko: anggota penasehat dan sekaligus menjadi pembantu anggota yang lain jika berhalangan 
mogombo (musyawarah dan pengambilan keputusan) 

Hukum Adat

Movaya: panen
Padungku: upacara adat panen
Proses yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah adat dilakukan dengan aturan adat yang berlaku (kearifan lokal). Proses pembukaan lahan dilakukan dngan gilir balik, yaitu:
1. Pangale menjadi Nawu atau Bonde (dari hutan menjadi kebun)
2. Nawu atau bonde menjadi wakanawu (dari kebun menjadi bekas kebun)
3. wakabonde menjadi yopongura (dari bekas kebun menjadi hutan yang sudah berumur 3 tahun)
4. Yopongura menjadi yopoya'u (hutan yang berumur 3 tahun menjadi hutan yang berumur 20 tahun)
5. yopoya'u menjadi yopoya'yo (hutan yang berumur 20 tahun menjadi hutan yang berumur 30 tahun)
Kemudian dari yopoya'yo merubah fungsi menjadi pangale yaitu hutan yang lebat yang dipersiapkan untuk perkebunan kembali 
1. Ada Mpojama: pengaturan kerja, baik kerja bakti desa ataupun kerja kebun
2. Ada Mpompinaturu: aturan penggembalaan, baik kelompok maupun peseroangan. Penggembalaan komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut Lambara. Hal itu juga mengatur perselisihan ternak.
3. Ada Mpopanta: aturan mekanisme pembagian harta baik harta orangtua maupun suami istri.
4. Ada Mpobetuvuri: mengatur tatanan sosisl seperti gotongroyong dan saling menolong
5. Ada Mporongo: aturan mengatur perkawinan
6. Ada Mpampontumpu: mengatur kepemilikan lahan atau tanah. 
Givu: denda
berlaku untuk semua pelanggaran yang sudah diatur oelh dfewan adat. Aturan itu juga berlaku bagi semua orang yang sudah masuk dalam wilayah adat teresbut.
Contohnya:
1. Masuk ke dalam kamar wanita yang belum kawin tanpa permisi atau persetujuan tuan rumah (orang tua wanita) dan wanita tersebut. Pelaku dikenakan denda 1 ekor kerbau/babi. Sanksi yang akan dikenakan tergantun gberat ringannya pelanggaran yang dilakukan.
2. Mosalara (berzina): dikenakan denda 4 ekor kerbau.

Mosalara: aturan adat yang mengatur perxinahan.

Contohnya: Jika seseorang yang masing-masing sudah berumah tangga diketahhui melakukan perzinahan atau biasa disebut selingkuh maka akan dikenakan sanksi atau givu berupa 4 ekor kerbau. Masing-masing dari 4 ekor kerbau akan dibagi ke 3 ekor untuk istri pelaku dan 1 ekor untuk suami pelaku. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu, ubi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tainyara: untuk penyaki tdalam Tavo'o penuurun panas (bisa diminum semua usia) Pakumba: penyembuh bisul dan panas tinggi Katumbara: untuk luka dalam Tomanara: diperuntukkan bagi ibu yang selesai melahirkan untuk percepatan penyembuhan, pengeringan, dan anti racun atau bakteri.. caranya: 1. daun tomanara dihangatkan di atas api lalu ditempelkan pada alat kelamin wanita 2. daun tomanara dimasak lalu diminum airnya
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun rumbia
Sumber Sandang pakaian adat: dari kulit kayu umayo kulit kayu umayo dan kuva kemudian diolah menajdi baju yang disebut inodo Pewarna: menggunakan buah pohon ula yang menghasilkan warna cokelat. Bisa cokelat tua maupun muda.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu arogo, onco, rampantobu, bombo seluruuhnya sebagau penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi cokelat, kelapa, padi, cengkeh