Wilayah Adat

Amballong

 Teregistrasi

Nama Komunitas Amballong
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Seko
Desa Desa Embona Tana
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 22 Ha
Satuan Amballong
Kondisi Fisik
Batas Barat Hatu Tau, Masura, haurrasalihahu sungai betue, tamenanga, tanete kayu sora, tanete horano, tandung Wilayah Adat Pohoneang
Batas Selatan Hatu Tau (Batu Orang), Tanetena Hakka Ladung imatina mareiran, Tendang Uru Wilayah Adat Kariango
Batas Timur Haung Hulo, Bahulu Passileang ,Hatu Tambolang wilavah adat Lodang
Batas Utara Haung Talei (sungai), Sakka-sakka (gunung) , tanete tandung (Gunung) wilayah adat hono dan turong

Kependudukan

Jumlah KK 329
Jumlah Laki-laki 690
Jumlah Perempuan 827
Mata Pencaharian utama Bertani (Morano),Berkebun (Mokada')

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas Adat Amballong secara historis berasal dari Daerah Talondo.
- Balong Adalah anak ke 3 (Tiga) dari 5 (Lima) Orang bersaudara. Mereka berburu babi dan memasang jerat untuk masapi. Amballong adalah istilah dari kanang tempat minumnya kerbau. Suatu saat balong beserta keluarga ada keinginan untuk berkampung dan membuat atau membuka kebun dan akhirnya balong membawa anak dan keluarganya untuk membuat perkampungan di amballong. Maka masyarakat kembali melakukan musyawarah (Tosiaya') untuk menentukan pemimpin yang di gelar Katobarasan dan pada saat itu masyarakat sepakat untuk mengangkat Tobara yang pertama yaitu Tobara yang dikenai oleh Masyarakat adat amballong yaitu:
1. Balong
2. lnnikahering
3. Ni balahulo
4. Bala tabang
5. Popasondong
6. Nene' Toroy
7. Kerreng
8. Y. Lada
9. R. Kondo Lada
Komunitas Adat Amballong sudah berada sejak berdirinya kampung Amballong yang masuk dalam Desa Embona Tana oleh Tobara pertama, sehinggga Masyarakat adat Amballong secara turun temurun mendiami kampung tersebut sampai sekarang dan menyebarluaskan adat istiadat sekaligus mengangkat perangkat adat Amballong.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Pangngala Mandalang
Kawasan hutan yang tidak bisa dialih fungsikanuntuk perkebunantetapi hutan ini hanya bisa diambil kayunya khusus untuk ramuan rumah dan bahan kayu bakar kebutuhan masyarakat untuk memasak, mengambilrotan.
• Pangngala Makarama':
Hutanyang dilindungi oleh masyarakatadat amballong, dan hutan ini tidak bisa di gangguoleh masyarakatadat .
• Kurra:
Lahan yang pernah diolah oleh masyarakat adat amballong, lalu ditinggalkan hanya 3 (tiga) tahun, kemudiandiolah kembali untuk ditanami palawija seperti sayur, padi dan jagung (bata) dll.
• Kurra Matua:
Lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan sampai 15 (lima belas) tahun kemudian diolah kembali untuk ditanami tanamanseperti merica,coklat dll.
• Po Ranoan (Persawah):
Lahan persawahan secara turun temurun
menjadi sumber pangan oleh masyarakat adat amballongyang diolah dengan system pengairantradisional yaitu Sae, lombanga, hombara, sambali, talimbo, pottodang, limbong, mate, hatu tando, pasoppuang , kanang, laune, tikala, beaseang, latta,
!elating,horroppo,hopareang.
• Polipuang (pemukiman)
Polipuang (pemukiman) adalah merupakan
areal perumahan penduduk beserta sumber mata pencaharian bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk_Kebutuhan pangan dan arealnya yaitu: Tanete Kakea', tanete Lamusoang, Tanete Keme', tanete horroppo, tanete taboyong, tanete matarianna, tanete porenedeang, tanete teratte, tanete bata, tanete karattehong,tanete hollekko, tanete talodo, tanete limbong bara, tanete pottodang, tanete pokkappu, tanete iki, tanete kanang, tanete hokkaladung, tanete hokkaso, tanete Hokkaso, Tanete Lo'ko, Tanete Hombanga. lipu' Palandoang (Perkampungan), Lipu' Lambiri (Perkampungan), Lipu Sae' (Perkampungan), Lipu Amballong
(Perkampungan).


 
- Di dalam wilayah adat Amballong, secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayahnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu individu, warisan dan komunal.
1. Wilayah inidividu ini merupakan area - area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Lipu (hunian), Rano (Sawah), dan Kada' (kebun). (lndividu)
2. Lahan yang dikelola secara turun temurun oleh satu rumpun atau satu garis keturunan (sampemanak) saudara atau sepupu, dan tidak boleh dipindah tangankan ke pihak yang lain, dan apabila sudah tidak dikelolah lagi lahan itu, maka lahan itu akan kembali ke lembaga adat dan diberikan lagi kepada orang yang akan mengelolahnya. (Warisan)
3. Tanah yang dikelolah secara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat adat seperti kayu dll (Tana Karapuan) Komunal
 

Kelembagaan Adat

Nama Amballong
Struktur • Tobara' • Ponggarong • Pokkalu Baak • Pokkalu Balulang • Porrapi • Pottapa • Porrere • Pombala • Toharani
• Tubara:
Merupakan pemimpin tertinggi dan atau pengambil keputusan tertinggi dalam Masyarakat dan kelembagaan adat Amballong.
Pongngarong:
menata masyarakat (Hakim)
Pokkalu Baak:
memungut kepala manusia apabila ada perang
Pokkalu balulang:
Tugasnya untuk memotong hewan apabila ada upacara adat dan melepaskan kerbau setelah selesai kerja di sawah (moleling)
. Porrapi (Pertanian):
memeriksa tanaman padi di rano (sawah) apabila padi dimakan tikus, berarti ada sesuatu di Lipu yang harus di cari penyebabnya, kenapa sampai terjadi hal demikian.
Pottappa: pande besi
Porrere:
seniman yang mengarahkan dan memandu upacara adat
Pombala: pembangunan
Toharani:
Pemimpin perang dan bertugas sebagai keamanan dalam masvarakat adat

 
- Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tobara sebagai pemimpinLembaga Adat.
- ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat (Tosiaya') dengan para perangkat adat
- Yang masuk dalam keputusan melalui Musyawarah adat Amballong semisal terjadi Perkelahian, Pencurian, Kasus Tanah, Asusila atau persinahan maka inilah yang akan melewati proses Musyawarah untuk membuktikan Informasi Tersebut.
 

Hukum Adat

- Turun kesawah (menggulu rapu kasipulungang) di tempat pandebesi dan berdo'a: prosesi penanaman padi disawah (rano) dan ladang (kada') Kebun.
- Potong Padi (Morakko) Panen Padi
- Nipotuttuikang i (Syukuran Panen) : ma'peong (lemang bambu), sebelum melakukan Nipottutui Kang I (Syukuran Panen) Pande besi memerintahkan kepada masyarakat adat untuk pergi berburu Babi atau rusa ,dan hasil buruan itu akan di peong dalam bambu untuk dimakan bersama tobara serta pemangku adat yang lain dan juga masyarakat adat.
- Apabila ada masyarakat adat yang menggali kuburan pada saat musim tanam padi di sawah, padi itu akan di makan tikus dan juga akan mengakibatkan gagal panen.
 
- Dan yang masuk dalam keputusan melalui musyawarahadat amballong semisal terjadi perkelahian, pencurian, kasus tanah, Asusila atau Persinahan maka inilah yang akan melewati proses musyawarah untuk membuktikan informasi tersebut.
- Mekumamalea= mengancam menggunakan barang tajam Hukumannya 1 (Satu) Ekor Kerbau di Potong dimakan bersama.
-Mobulangngi = berzina
Hukumannya potong kerbau untuk pemulihan kampong dan denda satu kerbau sampai ke 3 kali mengulangi perbuatannya maka orang tersebut diusir dari kampong itu di liba' dan dimasukkan dalam liang sampai mati.
- Sahu kakkang= mencuri
Hukumannya kenakan sangsi potong babi dan ayam
- Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya.
- Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Amballong dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut.


 
- Untuk pendatang yang masuk dalam Komunitas dan melakukan pelanggaran maka Hukum akan tetap diberlakukan, tanpa terkecuali sesuai dengan aturan yang berlaku didalamnya.
- Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain (Mobulangngi = berzina) Hukumannya Potong Kerbau untuk pemulihan Kampung dan denda satu kerbau. sampai ke 3 kali mengulangi perbuatannya maka orang tersebut diusir dari kampung itu di liba' dan dimasukkan dalam liang sampai mati.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan - Padi : Hea' Kada' dan Hea' Rano - Umbi-umbian: Ubi Jalar dan Singkong (hilolo lame dan hilolo Kayu) - Jagung (bata) - Kacang Hijau dan Kacang Panjang (kadong) - Sawi - Bayam - Terong (katarrung) - boe (labu) - lada barra' - Daunna Hilo Kayu (Daun Singkong) - Labu Siam (rabisa) - Pepaya - putti (pisang) - nangka(nakka) - pondang (nenas) - Hoa (timun) dll),
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Kumis kucing = obat Ginjal • Revu Nippon = Obat menyembuhkan Sakit Perut • Lampujang = campuran Bedak • Jahe , kencur Bara')= Obat Luka Lebam - Daun Sari kaja = Obat Hypertensi • Kunyit = Obat Penurun Panas • Bati-batti' (sarang Semut) = obat penyakit dalam • Kunyit, Beras, Daun Pandan = Campuran Bedak
Papan dan Bahan Infrastruktur - Kayu uru (Kayu Cemara) = Batang Kayu Uru Untuk Membuat Tiang Rumah Masyarakat Adat. • kayu Nato = Batang Kayu Nato Untuk Membuat Dinding Rumah • Kayu Betau (bance)= Batang Kayu Betau Untuk membuat dinding, dan tiang rumah • Kayu Cempaka = Untuk Mebuat Rangka, Dinding, Rumah • Kayu pakanane • Kayu cendana • Kayu maralitak • Batu = Untuk Alas Tiang Rumah dll.
Sumber Sandang - Bambu (pattuno)= Untuk membuat Nyiru • Daun Pandan (Nase)= untuk membuat Bakul, Tikar, Tudung Kepala
Sumber Rempah-rempah & Bumbu • Cabe, Kencur,Jahe, Sereh, Lengkuas, daun Bawang, Daun Kemangi, Kunyit = untuk campuran bumbu Masak • Mangga, Belimbing, Asam Tuak, Kedundung, Dengen, Patikala = digunakan untuk penyedap masakan
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani dan Berkebun