Wilayah Adat

Huta Balian

 Teregistrasi

Nama Komunitas Huta Balian
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota SAMOSIR
Kecamatan -
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Huta Balian
Kondisi Fisik
Batas Barat Partungko Naginjang
Batas Selatan Huta Urat
Batas Timur Huta Bagas
Batas Utara Huta Gurgur

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 201
Jumlah Perempuan 199
Mata Pencaharian utama Petani, dan pegawai pemerintahan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Desa Huta Balian secara adat masuk Bius Huta Bagas, huta Balian dalam pemerintahan masuk dalam pemerintahan Sianjur Mulamula. Pada masa pemerintahan Belanda desa huta Bagas dan Huta balian itu masih satu kampung, Sebelum digabungkan sekitar tahun 1990 menjadi desa Sianjur Mulamula.

Marga di kampung ini adalah Marga sagala, Sagala Raja ada tiga yaitu:

1. Anak pertama si Raja HutaNoa
2. Anak kedua Raja Huta Bagas
3. Anak ketiga Raja Huta Urat

Dari anak kedua yaitu Raja Huta Bagas memiliki empat orang anak yaitu:

1. Raja Huta Bagas
2. Tuan Sapiri
3. Tuan Pangarahap
4. Batu Anduhur

Kemudian dari anak ke 4 Batu Anduhur dua anak yaitu:
1. Batu Anduhur
2. Baluan Pande ni Raja

Dari anak kedua mempunyai dua anak yaitu:
1. Tunggal Nahotar
2. Gaja Lumutta

Gaja Lumutta mempunyai tiga orang anak yaitu:
1. Si Lumban Tonga-tonga
2. Toga Lumban Bulu
3. Si Lumban Janji

Pada masa kehidupan ompung bertiga ini, yaitu keturunan ompung Gaja Lumutta mereka melaksanakan satu pekerjaan ( sisada ulaon) satu keluarga ( sisada anak, sisada boru) di desa huta Bagas. Seiring berjalannya waktu semakin bertambah pula keturunan mereka, dan pekerjaan tangan mereka diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, baik dalam pertanian dan ternak mereka, huta Balian sebelumnya adalah Hutan, tempat mengembalakan (harangan) ternak disana banyak ternak seperti kerbau dan lembu milik mereka dilepaskankan di hamparan rumput di Huta Bagas Limbong, jumlah ternak mereka semakin hari semakin bertambah , saking banyak nya kerbau dan lembu tersebut ada yang dimakan Harimau, untuk mengatasi supaya ternak mereka tidak dimakan harimau, akhirnya Ompung Appangasi menjaga ternaknya, dari pagi sampai malam hari, karena terlalu lelah bolak-balik ke Huta Bagas hanya untuk menjaga ternaknya akhirnya Ompung Appangasi mendirikan sebuah gubuk (sopo-sopo) yang dinamakan sekarang Parlumbangan.

Tuhan memberkati apa yang dikerjakan tangan mereka, hasil penen mereka melimpah dan ternak mereka tumbuh sehat dan semakin banyak jumlahnya, kemudian Ompung Appangasi mengajak keluarganya untuk ikut bertani dan beternak bersamanya ke Bagas Limbong, namun saudaranya menolak, “ ah… ngapain kita kesana, disinilah kita lahan kita dekat”, “disana ada Sawah dan tempat mengembalakan ternak juga sangat luas” kata Ompung Appangasi. Kemudian Ompung Apangasi mengajak mereka untuk datang berkunjung sesekali ke Huta Bagas Limbong, akhirnya beberapa orang saudaranya datang berkunjung ke Huta Bagas Limbong untuk melihat-lihat kondisi huta Bagas Limbong, saat berjalan-jalan salah seorang dari mereka ada yang menemukan mata air yang namanya Bulu Gading, kemudian ada lagi yang menemukan mata air adapun nama mata air tersebut adalah Gala-gala Siara, salah satu dari mereka juga menemukan mata air yang diberi nama Simata Nihuting, mereka mulai membandingkan dengan kondisi di kampung mereka, kalau di kampung
mereka harus mengambil air jauh ke sungai sementara disini ada beberapa mata air bening dan dekat pula. Akhirnya beberapa tahun kemudian mereka memutuskan untuk bertani disana , dan membuat sawah, lahan yang semakin hari semakin luas, akhirnya mereka pindah ke Huta Balian dan mendirikan gubuk-gubuk (sopo-sopo) di lahan mereka di Balian, Tuhan memberkati setiap usaha mereka, hasil pertanian yang melimpah begitu juga ternak mereka yang semakin hari bertambah-tambah jumlahnya, Sehingga Ompung Apangasi tinggal di Huta Balian. Salah satu dari saudara (Haha Anggi) Ompung Appangasi membuka perkampungan dan tetap disebut sebagai Huta Balian di Pandan Limbong, kemudian salah satu dari mereka juga ada yang membuka perkampungan ke Dairi di Pangiringan, dan kalau di tanya di Pangiringan , apakah ini Huta Balian? Pasti akan di jawab “ ya, ini Huta Balian”, begitu juga di Huta Pandan Limbong, jika di Tanya ini Huta Balian ? jawaban mereka pasti sama “ ya, ini Huta Balian”. Kemudian ditemukan lagi satu perkampungan Ompung di Limbong Sian Saholo, akan tetapi belum di resmikan menjadi huta Balian tetapi sudah ada rumah Sagala di Huta Balian, dulu keluarga Ompung ini memiliki satu adat ( sisada ulaon) meraka sama-sama mempunyai anak laki-laki, dan anak perempuan ( sisada anak, sisada boru), bersama dengan keluarga mereka di Huta Bagas, dan Ompung juga berharap seluruh anggota keluarga dapat saling menghormati dan saling tegur sapa, tidak ada pertikaian atau konflik di antara keluarga mereka. Atas berkat Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk hasil panen dan ternak yang melimpah ( gabe naniula. Sinur napinahan) sebagai ucapan syukur Ompung membuat persiapan acara ritual adat Horja mangalahat kerbau di tengah-tengah halaman dikampung pertama yaitu huta Bagas, baiklah jika kita ingin mengadakan pesta Horja, kita sama-sama menjalani dengan baik, kita buat acara adat dan kita saling mengundang antara huta Bagas dan huta Balian, huta Urat dengan Huta Balian, begitu juga dengan kampung yang lain, dalam acara ritual adat Horja ini kemudian Huta Balian resmi ditetapkan menjadi Huta Balian. Setelah menjadi Huta Balian, sebelumnya sudah ada satu huta yaitu huta Bagas Limbong, kemudian dibuka lagi satu huta yaitu Huta Balian Galung. Kemudian dilaksanakan lagi acara ritual adat Horja Mangalahat Kerbau ditengah-tengah halaman, dalam acara ini di undang keluarga (namarhaha maranggi) dan penatuah Kampung ( Raja Ni Huta) dan tetap nama desa itu sebagai Huta Balian, pada masa terakhir, kira-kira serkitar tahun
kurang lebih1900, dibuka lagi satu desa yaitu Huta Banjar Galung. Kemudian dilaksanakan lagi acara ritual adat Marhorja Mangalahat Kerbau ditengah- tengah halaman, mengundang Turpuk Huta Bagas, nama Huta Balian ini masih tetap sebagai Huta Balian, kemudian dibuat perjanjian setiap anggota keluarga (Namarhaha Maranggi) harus saling membantu, rukun ,damai dan harus saling mengundang dalam setiap pesta baik Ritual adat Marhorja, Margondang atau pun adat yang lain.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tata guna lahan
• Persawahan
• Pemukiman
• Perladangan
• Pengembalaan ternak
• Tombak Raja (tempat mengambil getah kemenyan, kayu bakar, papan untuk rumah)
 
Pangumpolan (pemilikan secara keturunan) diatur
secara kekeluargaan :
Tanah untuk anak (laki-laki) : panjaean
Tanah untuk boru (perempuan) : sibangunan atau ulos nasoraburuk atau pauseang

Pengaturan tanah dengan marga lain (diluar komunitas) :
a. Disawah : Tuho (patok berbentuk kayu yang ditanam)
b. Di darat : Parit
 

Kelembagaan Adat

Nama Suhi Ampang Na Opat
Struktur Raja Hulahula Dongan Tubu Boru
Raja Huta : Marga pemilik wilayah adat yang mengatur pengelolaan SDA dan pengambil keputusan yang menyangkut dengan kehidupan di huta
Hulahula : memberikan keputusan pada setiap kegiatan adat
Dongan tubu : mengatur pelaksanaan kegiatan adat
Boru :mempersiapkan segala sesuatu keperluan adat
 

Hukum Adat

Sistem peradilan adat ditentukan oleh Natuatua
huta
Contoh

• Jika ternak kerbau atau kambing merusak ladang maka pemiliknya akan didenda sesuai dengan kerugian yang diderita oleh pemilik ladang
• Dalam Hal perselisihan batas tanah maka proses penyelesaiannya dilakukan oleh Tetua Adat dimana kedua belah pihak yang berselisih diwajibkan saling memaafkan dan berdamai
• Terjadi suatu sengketa/peristiwa
• Mempertemukan kedua belah pihak
Membuat keputusan oleh penatua adat
 
a. Mangamotamoti : ritual keluarga bersyukur atas
padi yang baru dipanen
b. Pesta gotilon : membawa hasil panen ke gereja untuk ucapan syukur atas panen
c. Pesta Panaburnaburon : membawa benih ke gereja untuk didoakan agar hasil panen berlipat ganda
d. Marsadapari : bekerjasama sesama komunitas melakukan pekerjaan di persawahan/perladangan
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi PINUS, KOPI, cabai dan bawang

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 DRAFT RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT BATAK TOBA SAMOSIR Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen