Wilayah Adat

Lowu Rangan Hiran

 Teregistrasi

Nama Komunitas Lowu Rangan Hiran
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Miri Manasa
Desa Rangan Hiran
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.781 Ha
Satuan Lowu Rangan Hiran
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat lowu Tumbang Masuldh (Tumbang S.Diwung,dan Tumbang S.Sopan)
Batas Selatan lowu Tumbang Masukih (lawang Pait,S. lawang Pait (jalan antar Desa), Desa Tumbang Masukih (Sungai Tondan dan Tumbang Sungai Tohup Kuwung)
Batas Timur lowuTumbang Bukoi Kabupaten Kapuas
Batas Utara Lowu Haruwo (Jalan antar Desa Bukit Hulu S. lawang Baco, HuluSungai Pari dan Puruk Batu Karung)

Kependudukan

Jumlah KK 100
Jumlah Laki-laki 145
Jumlah Perempuan 186
Mata Pencaharian utama Berladang, Menyedot emas dan berkebun Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Oesa Rangan Hiran terbentuk, berawal dari Singa Keting yang mendirikan Betang sekitar tahun 1750 Di Tumbang Soa di Muara Sungai Oanum Pari anak Sungai Miri yang waktu itu Tumbang Soa merupakan daerah Persinggahan (Bahasa Ot Oanum "Soa" terminal /tempat berjumpa). Kala itu Betang atau Rumah Panjang yang di bangun oleh Singa Keting dan keluarganya yang di huni secara komunal atau di huni oleh 5 - 10 kepala keluarga), seperti :
1. Manan Beneng / Tatu Bacung Bakan
2. Teweng/Tatu Pandung OT
3. Kenting{Tatu Teluk Bua
4. sandi/Tatu Aler Ringkai
5. Laka/TatuTitit Bondung
6. Boli/tatu Ucan Kamis
Pada zaman itu juga Singa Keting melakukan upacara Manenung /Manajah Antang (minta Petunjuk ) untuk mencari nama kampungnya, dari hasil petunjuk tersebut maka nama Kampung berganti nama menjadi RanganHiran (Rangan =Batu Kerikil), sedangkan Hiran diambil dari nama sungai.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Himba (Hutan Alami);
2. Taja Himba (Hutan lokasi untuk Malan/Berladang/Ummo (1 kali), selama 42 tahun habis dari Taja Himba sebutanya menjadi Himba Baliang karena tidak lagi digunakan;
3. Bahu Lahkao lokasi untuk malan tetapi usianya sekitar ± 15 tahun setelah malan 1 di lokasi Taja Himba sebutannya menjadi Bahu Lahkao;
4. Bahu Lambot untuk Iokasi berkebun setelah malan/bertadang di Bahu Lahkao Uaraknya 1 - 3 tahun) sepert] menanam Karet, Buah buahan dan rotan tetapi kadang jadi satu menjaid kebun campuran;
5. Lowu (Kampung), Kolohkak Dukuh (Bekas Dukuh) adalah lokasi untuk malan/berladang/Ummo dengan cirinya kebun buah buahan; 
Status kepemilikan lahan yang dimiliki masyarakat kampungRangan Hiran adalah tanah pemberian atau warisan, masyarakat suku Ot Danum di hulu sungai, pola kepemilikan mereka atur dalamkehidupan sehari-hari dengan saling mempercayai dan mengetahui diantara komunitas tersebut. Dalam pola kepemilikan lahan ditandai dengan adanya jenis tanaman sepertidurian, tengkawang, karet,rotan dll.
Wilayah peninggalan nenek moyang atau orang terdahulu mereka vang merupakan kebun buah buahan,khususnya durian wilayah ini juga dikeramatkan oleh masyaraket desa Rangan Hiran, Haruwo dan desa Masukih, berdasarkan peraturan adat setempat daerah ini tidak diperbolehkan untuk dimiliki oleh individu. Berikut adalah peta tata guna lahan desa Harowu, seperti Puruk Ruap, Puruk Sendukui, dan Datah Garantung. 

Kelembagaan Adat

Nama Kedamangan Miri Manasa
Struktur Ketua Dewan Adat (Kepala Desa) 1. Ketua Mantir Adat 2. Sekretaris adat; dan 3. Bendahara Adat
Berdasarkan Perda 16 Tahun 2008 Kelembagaan Adat
Ketua Dewan Adat : sebagai koordinasi (masukan) saja bukan yang memutuskan masalah kalau mantir tingkat desa belum bisa memutuskan.
Ketua Mantir Adat : Memimpin dalam rapat forum kerapatan mantir adat ;
Sekretaris Adat mencatat segala keputusan dalam perkara hukum adat;
Bendahara Adat : membantu dalam penentuan singer atau jipen yang akan diputuskan dalam sanksi adat;
Dalam memimpin rapat misalkan ketua Mantir Adat tidak ada ditempat bisa dipimpin oleh Sekretaris adat dan kalau tidak ada juga secara tidak langsung bendahara adat bisa memimpin perkara dalam pemenuhan hukum adat tergantung masalah yang ditangani perlu cepat atau tidak keputusannya, kalau tidak menunggu kedatangan Ketua Mantir Adat.
Seperti 1. Kawin Adat; 2. Kawin Rampas/Lari/Hatamput; 3. Dusa Salah/Habandung/Perjinahan; 4. Perceraian; 5. Kawin Sala Hurui/Sumbang;
6. Hapatei/Pembunuhan; 7. Pencurian, Penipuan dan Penggelapan;
8. Singer Kapaut, Kabantah, Kalahi, Pakara (Perbantahan. Perke&ahian;. dan Perkara); 9. Gawin Pamalan (Pekerjaan Berladang); 10. Tandah/Dawa (Fitn~han)  
Kerapatan Mantir Adat Perdamaian 

Hukum Adat

Sebelum diadakan pembukaan lahan, masyarakat desa Rangan Hiran terlebih dahulu melakukan Ritual Nyari/Nyenguk Petak, apabila sudah mendapat petunjuk yang positif barulah masyarakat yang ingin membuka ladangnya dengan mamanggul atau mangasah parang dan memberi salam kepada penguasa alam raya dengan cara memecahkan telur ayam. Setelah semua proses/ritual selesai sampai lahan siap untuk di tanam padi,semua warga desa dengan antusias bergotong royong untuk menanam padi yang di kenai dengan istilah Handep (Gotong Royong). Bila selepas habis panen juga di lakukan upacara syukuran dengan atau Nongang
 
Wilayah yang dikelola oleh masyrakat
Rangan Hiran, beberapa upacara yang
dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Tiwah : adalah sebuah acara kematian, tiwah dilaksanakan terakhir di Lowu pada tahun 2003, diperkirakan Rangan sekitar 5 kali Tiwah dari mulai terbentuknya lowu Rangan Hiran, adapun prosesnya antara lain
- Membuat balai
- Pengantung tiwah
- Pamuhun gandang garantung ~ ,.-­
- Urunan/patungan membeli babi & ayam
- Mendirikan sandung
- Trwah dilaksanakan
2. Adat Bayar Hajat (Malukut Hajat);
3.Adat Kelahiran : bergotong royong dan memaIas Bidan/manahunan (Nyaki Dirit, Ngantau Anak, Nahunan: Panduy
4. Adat kesembuhan : dengan cara sangiang kepada arwah leluhur untuk minta kesembuhan pada pemyakit yang di derita
5. Adat Harobuh : hanya bersipat gotong royong masyarakat setempat.
6. Adat perkawinan: kejujuran / Palaku 1 Jipen = Rp 100.000,- palaku buat penganten kena 52 Jipen atau 500 Kg;  
1. Perselisihan masalah rumah tangga(salah paham), memutuskan perdamaian membayar sesuai dengan kesalahan berdasarkan hukum adat yang berlaku 1 singer Rp 100.000 (singer 8 atausebesarRp. 800.000,-)
2. Perceraian, berdasarkan surat perjanjian kawin adat yang pernah diputuskan pihak yang melanggar membayar singer sebesarRp. 15.000,000;
3. Perkelahian dengan penerapan berdasarkanhukumadatdikenakan singer
pasal 47 ayat 1 sub a dan ayat 2 diputuskan sebesar Rp. 5.000.00 (1 kati dihargai
I juta);  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, umbi-umbian, Jagung, kacang panjang, kacang tanah, Lombok, sayuran (Ucau, Paku undang, Paku Banu),Singkah Diwung, Singkah Janan,Singkah Ruo, Singkah Nango,. Singkah Umbut, Paku Poit, Bantal Kajang), Daun Sopang, Daun Papan, Daun Beken, Bua Aai, Singkah Upon, buah buahan, Kulat Bitak, Kulat Kulang, Kulat Pun, Kulat Torok, Kulat Diwung,Kulat Bongo, Kulat Lowu, Kulat Korup, Kulat Maharu, Kulat Sipa, Kulat Nyamuk, Kulat KatoIuh, Kulat Karamu, Kulat Buhok, dan Kulat lalawi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tekang Siou, Kayu Besi, Paniti Hara, Kumis Kucing, Gingseng, Saluang Bolum, Borut Maung. Iru Puti dan iru bahandang, Panawar Gantung, akar kuning, uhat sungkai, uhat tabalien, kaju otak/tabat barito, pamalit utt, uhat rahwana,penawar pari, Uhat Tawar seribu, Kulat Pal; Obat kecantikan Panarak Baputi dan Bahandang(Kayu Tara), Dawei shiren,
Papan dan Bahan Infrastruktur Tobulion, banuas, paropok, lotang/meranti, lopeng, balawang, mahadirang, dan bacan/keruing
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Henda, !iyo, Sadorai, Lakuah, Suna, Bawang Lomba sahang Masih, Siikun, Sokai
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani (Berladang dan Berkebun), Menyedot Emas,Mendulang Emas/Mandulang Bulo, Melauk, berburu (Mehandup dan manjarat)