Wilayah Adat

Ngata Kinovaro

 Terverifikasi

Nama Komunitas Kinovaro
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kinovaro, Marawola Barat
Desa Rondingo, Bolobia, Kayumpian, Panasibaja
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 4.666 Ha
Satuan Ngata Kinovaro
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Bulu (Gunung) Panasibaja – Komunitas adat vanantongo Pinembani Kab.Donggala
Batas Selatan Bulu (Gunung) Nti Bts Wilayah Rompi Kec. Dolo Barat Kab. Sigi
Batas Timur Rano bts Wilayah Adat Vau Kec.Kinovaro
Batas Utara Binanggaue Tara - Binangga sombe dan salu vilao bts Wil.Adat Karavana (Dombu) Kec.Marawola Barat Kab.Sigi

Kependudukan

Jumlah KK 518
Jumlah Laki-laki 2663
Jumlah Perempuan 2404
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kinovaro adalah salah satu Sub komunitas masyarakat adat yang ada di wilayah ke adatan besar Kamalisi Sulawesi Tengah yang kini pada umumnya bermukim diwilayah lembah,lereng dan pegunungan Kamalisi.
Kinovaro merupakan salah komunitas adat di wilayah kamalisi,kinovaro sendirii berasal dari nama nenek moyang yang bernama Kino yang mendiami wilayah kinovaro bertempat kampong tua di sebut Jengi kemudian ia memiliki keturunan yang banyak terpencar di kamalisi atau di wilayah adat lainnya sehingga disebut varo (terpencar). sistem kepemimpinan di kinovaro di pimpin oleh madika, namun madika dikinovaro tidak banyak dikenal di wilayah adat lainya karena kinovaro merupakan komunitas yang sering dijadikan upacara adat oleh komunitas lainya ketika ada pelanggaran adat.
Komunitas masyarakat adat Kinovaro tersebut memiliki sejarah yang sama dan mereka hidup dari satu komunitas lainnya yang cukup besar di kamalisi secara adminitrasi berada di wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Madya Palu, bahkan wilayah adatnya kamilisi sampai kewilayah adminitrasi provinsi Sulawesi Barat. Dalam pengetahuan literatur antropologi dan etnokologi komunitas besar di Wialyah Adat Kamalisi tersebut adalah bahagian dari sub etnis kaili terdiri dari etnis Unde,Inde Tado dan Da’a. tapipada umumnya di sub kewilalayaan komunitas vaenumpu adalah menggunakan bahasa/suku da’a.
Dalam batasan teritori dan penyebaran etniknya, sub komunitas Masyarakat adat kamalisi ini tidak lepas dari bagian penyebaran wilayah adat yang ada di lembah, lereng pegunungan kamalisi, dengan kearifan identitas lokalnya dalam pemperlakukan alam sebagai subjek yang harus hidup dan memiliki hak yang sama seperti manusia serta memiliki tataruang adat yang sangat arif.
Sebaran Pembagian Besar Wilayah Adat Kamalisi terdiri dari Sub Wilayah Adatnya Yaitu. Komunitas Vaenumpu (Uwenumpu), Kinovaro Komunitas Pantapa, Vayanga, Nggolo bolonggima, Kasoloa (Ntoli), Lumbu Lama, Ona, Karavana (Dombu), Kinovaro, Vau (Mabere), Vugaga, Binggi dan Pakava
Pemberian wialayah ini tidak terpisahkan dari sejarah yang panjang to kamalisi dengan menggunakan bahasa Da’a secara turun temurun (kepercayaan) jauh sebelum penjajahan masuk di wilayah nusantara Indonesia mereka terbagi dan tersebar secara turun temurun dan membagi suatu wilayah kelolah secara arif, dari zama-kezaman sampai kemerdekaan di bagi secara adminitarsi (Hukum Negara) di beberapa desa, kecamatan kabupaten sigi (kecamatan marawola barat, dolo barat pesisir, dan marawola) sampai ke kota madya palu, akan tetapi ada juga sebagian besar wilayah komunitasnya masuk di kabupaten donggala (kec.Pinembani, Rio Pakava, banawa Selatan) sampai ke Sulawesi barat (Kab.Mamuju Utara).
pengalaman infestigasi lapangan dan pengakuan orang-orang da’a di vaenumpu mereka adalah etnis tersendiri yang mereka sebut To Ulujadi atau Ulunggatoka Pinandu-ongunja poamaya. Dengan penama’an ini orang da’a mempercayai bahwa dari puncak gunung inilah awalnya dari kehidupan manusia, biasa sebutan lainnya di kenal dengan Ulunggatoka Pinandu – Pinandu : Tananilemo Nggari Tanah Pinandu – di ciptakan dari tanah, adalah tanah di jadikan manusia dan menurut orang da’a pinandu itu pulahlah nama orang yang diciptakan dari tanah tersebut. Kemudian barulah dari tulang rusuk pinandu di ciptakan perempuan yang disebut “usukei”- usukei adalah perempuan pertama yang diciptakan dari tulang rusuk pinandu.

Dalam perkembangan manusia ini, orang da’a memprcayai belum ada adat atau aturan yang mengatur adat dalam kehidupan manusia nanti setelah diciptakannya orang yang mereka sebut sebagai “Tomanurung – Tobarakah “ dari sinilah barulah mereka mengenal system adat, yang kini tetap di jaga.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pangale : Hutan larangan adat (tidak boleh di olah) Ova : Lahan Bekas Garapan dan di tinggalkan selama 10-15 tahun dan menjadi hutan kembali ditumbuhi kayu-kayu relatih kecil, suatu saat bias di olah kembali secara adat/arif
Olo : bagian hutan yang di larang di olah karena merupakan zona penyediaan sumber air (mata air)
Pantalu : lahan hutan yang diperbolehkan dibuka sesuai aturan adat dan mejadi kebun
Ngata : pemukiman penduduk dijadikan ngata
 
1. Sistem penguasaan
Dalam penguasaannya, sumber daya alam di kuasai dan di manfaatka oleh kelompok komunitas adat ini di mana semua orang mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasan yang di maksud di sini adalah penguasaan komunal. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama..
2. Sistem Kepemilikan
Tanah dan Masyarakat hukum adat saling memiliki korelasi yang signifikan, ini menciptakan suatu hak untuk menggunakan, menguasai, memelihara sekaligus mempertahankannya. Hak-hak dan system kepemiliklah tanah di wilayah adat da’a juga seperti halnya beberapa wilayah adat
yang ada disulawesi tengah. Kepemilikan tersebut di dasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di percayai oleh orang da’a
bahwa tanah itu adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur” .
Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimiliki secara kelompok dan dimanfaatkan serta di atur penggunaan dan pengawasannya oleh kelompok. Hak perolehnya juga melalui kelompok artinya pada saat membuak lahan penggarapannya dilakukan secara kelompok. Jenis kepemilikan ini juga berkaitan dengan pembagian hasilnya. Jenis kepemilikan ini, dapat saja dimanfaatkan oleh individu yang ada didalam kelompok tersebut atau orang lain yang di luar kelompok garapan tersebut.dengan melalui:
1. Meminta izin dan mendapat persetujuan dari kelompok tersebut
2. Harus memberikan sedikit hasil pertanian dari tanah tersebut sesui dengan kerelaan untuk kelompok pemilkinya.
3. Tidak di perbolehkan menanam tanaman jangka panjang.
4. tanah tersebut tidak dalam masa istrahat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Komunitas Adat Kinovaro.
Struktur MAGAU GALARA POBISARA KAPITALAU JOGUGU
MAGAU : RAJA
GALARA :dewan adat
POBISARA : juru bicara dari MAGAU
KAPITALAU : hakim
JOGUGU : pesuruh
 
Mosiromu (Musyawarah Adat) 

Hukum Adat

- Aturan yang berlaku jika masyarakat yang membuka lahan hutan terlarang di pegunungan tanpa sepengetahuan totua ada buluna (hutan akan dilakukan sanksi)
- Jika selesai panen akan dilakukan upacara adat (Vunja) syukuran adat.
Nobanta merupakan upacara syukuran sebelum dan sesudah
melakukan panen
 
Givu artinya bentuk sanksi berat atau ringan
Vaya artinya aturan sanksi yang di berlakukan untuk tidak mengulangi perbuatan
Sompo artinya sanksi perbuatan yang tidak menyenangkan atau mempermalukan perempuan atau keluarga
 
Pemuda adat melakukan kesalahan dengan tindakan criminal (pemukulan) terhadap pemuda lainnya. Maka di lakukan givu (sangsi) dengan mengeluarkan denda adat yakni ayam, piring sebagai mana di tentukan oleh orang tua adat dan tidak akan mengulangi perbuatannya (Vaya) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan pertanian (Ubi, jagung, Talas, Ubi jalar, Kelapa,) kacang panjang, kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, kemiri, paku, jeruk, pisang, papaya, sirsak,maku, jambu mente, jambu air, jambu batu, jambu biasa,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kayumanuru : untuk memerawat kulit agar segar, bersih, indah, awet dan bercerah Kayu Kena : untuk menyembuhkan penyakit luka pada kulit Kulit kayu vula : untuk menyembuhkan iritasi sakit mata
Papan dan Bahan Infrastruktur Rumbia : untuk atap rumah (adat) Kayu Tavaili, akasia dan Nantu : untuk tiang membangun rumah maupun rumah adat bembatava, Vakava : untuk atap rumah
Sumber Sandang Kulit pohon lengaru : untuk membuat pakaian (adat) Getah Pohon kayujawa dan kayu kanuna : Untuk lem
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Rica, tomat, pia lei, kuni, kula, tumbavani,
Sumber Pendapatan Ekonomi Jagung, coklat, cengkeh, ubi-ubian (talas, ubi kayu, ubi jalar)

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Sigi Nomor 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen