Wilayah Adat

Keturunan Ama Raja Medang Simamora

 Teregistrasi

Nama Komunitas Keturunan Ama Raja Medang Simamora
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota HUMBANG HASUNDUTAN
Kecamatan Dolok Sanggul
Desa Aek Lung
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 150 Ha
Satuan Keturunan Ama Raja Medang Simamora
Kondisi Fisik
Batas Barat Berbatasan dengan Aeklung dan Batu Najagar
Batas Selatan Berbatasan dengan Batu Najagar dengan batas berupa ladang kemenyan milik Sosor Tolong, Batu Najagar
Batas Timur Berbatasan dengan Batu Najagar
Batas Utara Berbatasan dengan Lumbun Purba

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Ompung Raja Medang Simamora kurang lebih 250 tahun yang lalu tinggal di Aek Laklak dekat Batu Najagar. Batu Najagar dulu berada di kawasan kecamatan Onan Ganjang - Tapanuli Utara. Saat ini, setelah pemekaran dari Tapanuli Utara menjadi dikawasan Kec. Sijama Polang – Kab. Humbang Hasundutan yang berjarak 1,5 km lebih kurang dari Aek Laklak. Ia memiliki dua anak yang dikenal dengan nama Ama Raja Medang dan Op. Batu Godang. Ama Raja Medang selanjutnya Tinggal bersama Op. Raja Medang dan Op. Batu Godang merantau dari Aek Laklak dengan membuka kampung di Huta Tinggi Golat. Huta Tinggi Golat ini berada di daerah Parmanonangan-Kabupaten Tapanuli Utara. Hubungan adat antara keturunan Ama Raja Medang Simamora dengan Op. Batu Godang sampai saat ini adalah dalam pelaksanaan ritual adat berupa pertemuan besar dan syukuran keturunan dari Ama Raja Medang Simamora. Contohnya, ketika memugar kuburan Op. Raja Medang Simamora yang ada di Aek Laklak. Acara tersebut diberi nama memotong hoda na ni miahan (kuda yang bertuah). Kegiatan ini awalnya dilakukan satu kali lima tahun, walaupun belakangan ini kurang lebih telah 10 tahun tidak lagi dilakukan. Yang menjadi bolahan amak (tuan rumah) dilakukan secara berganti-ganti. Bukti lainnya hubungan kekeluargaan dari keturunan Op. Raja Medang Simamora tersebut, yaitu kepemilikan kuda yang bertuah. Satu dipelihara oleh keturunan Ama Raja Medang, yaitu keturunan Op. Batu Gumba saat ini dan satu laginya dipelihara keturunan Op. Batu Godang di Parmonangan.

Proses Perpindahan Huta (Perkampungan)
Sejak Op. Raja Medang Simamora tinggal di Aek Laklak, sudah mengusahai Tombak Sitakkubak menjadi lahan pertanian dan lahan pengembalaan ternak (panjampalan/ulaman) dan area pekuburan/tanah wakaf. Aek Laklak sebelumnya berada di kawasan kecamatan Onan Ganjang - Tapanuli Utara. Saat ini, Aek Laklak setelah pemekaran berada dikawasan Kec. Sijama Polang – Kab. Humbang Hasundutan. Tombak Sitakkubak ditanami dengan padi dan jeruk, Kopi yang dapat dijadikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta kemenyan. Jarak dari Aek Laklak ke Tombak Sitakkubak kurang lebih 1,5 km. Bukti perkampungan masih dapat ditemui dalam bentuk perkampungan tua yang sudah tidak ditempati lagi yang didalamnya masih ada patung batu berbentuk manusia. Batas kampung yang terbuat dari benteng tanah atau istilah masyarakat parik. Di Aek Laklak, masih ada kuburan Op. Raja Medang Simamora orang tua dari Ama Raja Medang Simamora yang dapat dijadikan bukti bagaimana dulunya kedetakatan tempat tinggal Op. Raja Medang dengan Tombak Sittakkubak.

Bukti lain kepemilikan Tombak Sitakkubak oleh keturunan Ama Raja Medang Simamora adalah adanya 3 kuburan di daerah perbukitan yang ada di Tombak Sitakkubak. Kuburan itu dipercaya adalah kuburan dari keluarga Ama Raja Medang Simamora.
Setelah Ompung Raja Medang meninggal dunia, Ama Raja Medang pindah dan membuka huta di Hinandang kurang lebih 6 km dari Aek Laklak. Hinandang berada dikawasan Kec. Dolok Sanggul – Kab. Humbang Hasundutan, sebelumnya tetap Kec. Dolok Sanggul-Kab. Tapanuli Utara. Tetapi Ama Raja Medang Simamora kembali berpindah dengan membuka kampung baru dan diberi nama Pangambatan. Jarak huta Hinandang dengan Pangambatan kurang lebih 1,5 km. Jarak Pangambatan dengan Tombak Sitakkubak kurang kurang lebih 6 km sama halnya dengan Hinandang. Proses perpindahan Ama Raja Medang ke Hinandang dan kemudian ke Pangambatan berdasarkan cerita yang ada secara turun temurun adalah karena adanya situasi sulit. Apa yang menjadi masa sulit tersebut menurut masyarakat seperti, penyakit Lepra atau istilah masyarakat nahuliton. Selain itu perpindahan terkait kepercayaan dulu jika kampung itu tidak memberikan tuah atau kehidupan yang diinginkan, dalam budaya Batak sering orang berpindah-pindah tempat tinggal. Saat sampai ke Pangambatan belum ada satu margapun di tempat itu. Pada dasarnya Ama Raja Medang Simamora membuka hutan untuk dijadikan perkampungan yang kemudian diberikan nama Pangambatan.
Huta Hinandang saat ini dikelola oleh keturunan Ama Raja Medang sebagai lahan persawahan. Menurut kepercayaan Masyarakat, keturunan Ama Raja Medang Simamora bahwa huta Hinandang sampai sekarang tidak dapat diperjualbelikan kepada siapapun bahkan diusahai orang lain kecuali keturunan Ama Raja Medang Simamora dalam hal ini hanya keturunan laki-laki saja. Hal ini masih dipercayai oleh keturunan Ama Raja Medang Simamora dan bisa dikisahkan secara lugas.

Keturunan Ama Raja Medang
Ama Raja Medang Simamora memiliki lima orang anak. Anak laki-lakinya bernama Op. Raja Naiang dan Op. Batu Gumba. Sedangkan ketiga borunya dinikahi oleh marga-marga Simanullang, Purba dan Samosir sebagai marga boru. Simanullang tinggal di Parbuntian, Purba tinggal di Pangambatan, Samosir tinggal di Lumban Samosir. Semua wilayah diatas masih berada di daerah Pangambatan - Desa Aek Lung, Kec. Dolok Sanggul-Kab. Humbang Hasundutan. Dari dulu sampai sekarang daerah tersebut disebut dengan Pangambatan. Banyaknya nama kampung baru terkait persebaran penududuk dari berbagai marga dan adanya pendirian desa termasuk setelah pemek aran Humbang Hasundutan menjadi Kabupaten.
Saat ini Kuburan Ama Raja Medang ada di daerah Pangambatan yang disebut Tambak Hatopan. Tambak Hatopan maksudnya adalah tanah yang di sepakati bersama mejadi area pekuburan untuk nenek moyang dan keturunannya yang sudah di kategorikan memilki cucu dan cicit.

Lumbang Naiang
Op. Raja Naiang memiliki anak 2 orang, yaitu Op. Tangkas Dihuta dan Marsada Tahi dan tetap tinggal di Pangambatan, serta berladang ke Tombak Sitakkubak. Keturunan Op. Tangkas Dihuta dan Marsada Tahi membuka kampung baru setelah berkeluarga, yaitu Op. Bonar Simamora, Op. Kasan Simomora, dan Op. Baginda Simamora. Kampung baru tersebut diberi nama Lumban Naiang dari nama Kakek mereka Op. Raja Naiang Simamora. Pemilihan nama ini menurut masyarakat agar tetap mengingat asal usul mereka dari keturunan Op. Raja Naiang yang tinggal di Pangambatan.

Setelah tinggal di Lumban Naiang, Op. Bonar Simamora, Op. Kasan Simomora, dan Op. Baginda Simamora tetap menjadikan Tombak Sitakkubak menjadi lahan pertanian dan untuk lahan persawahan di Hinandang sampai pada keturunannya sekarang. Lumban Naiang sejak didirikan hanya untuk perkampungan tempat tinggal saja. Tidak ada tanah yang dijadikan lahan pertanian. Jika ada saat ini beberapa keluarga memiliki tanah pertanian di sekitar perkampungan Lumban Naiang, dibeli oleh keturunan Op. Raja Naiang dari Marga Simamora lainnya yang berasal dari Aek Lung. Marga Simamora yang ada di Aek Lung merupakan keturunan Simamora dari Marhite Ombun.

1975 tanah adat yang bernama Sitakkubak yang terdiri dari tanah Parpolasan, Hite Tano, Pas/Rabi, dan Parlogologoan, dijadikan areal penghijauan/rehabilitasi daerah aliran sungai dan tanah kritis untuk waktu 30 tahun, dengan perjanjian bahwa tanah tetap menjadi milik masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan isi berita acara gabungan serah terima bibit/biji dan pertanian penghijauan antara Kepala Bagian Kesatuan Pemangku Hutan Silindung (saat Humbang Silindung belum mekar dari Kabupaten Tapanuli Utara), sebagai pihak Pertama dengan Kepala Kampung Sait ni Huta, sebagai pihak Kedua pada tanggal 15 Pebruari 1975 untuk penghijauan tanah rakyat di kampung Sait ni Huta seluas ±153 Ha (termasuk didalamnya Sitakkubak/Berita Acara---Terlampir) untuk kegunaan penghijauan/rehabilitasi daerah aliran sungai dan tanah kritis. Dalam perjanjian ini dinyatakan bahwa hak kepemilikan atas tanah adalah tetap milik masyarakat.

1994, tanaman pinus hasil penghijauan tersebut dipanen/ditebang. Namun pada tahun 1996 areal ini langsung ditanami oleh PT. Inti Indorayon Utama (sebelum berganti nama menjadi PT. TPL, Tbk) dengan eukalyptus tanpa persetujuan keturunan Ama Raja Medang Simamora, dengan alasan bahwa tanah tersebut sudah menjadi areal HPH/TI PT.TPL

11 Januari 2010 salah seorang warga (Suddung Simamora) mendapat surat panggilan dari pihak Polsek Kecamatan Doloksanggul atas pengaduan pihak TPL dengan tuduhan melakukan pencurian kayu eucalyptus milik TPL. Atas adanya pemanggilan ini, maka pada hari itu juga, masyarakat melakukan audiensi ke DPRD Kabupaten Humbang Hasundutan. Selanjutnya diadakan pertemuan di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa) yaitu di Sitakkubak dengan pihak Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan yang diwakili Dinas Kehutanan, Camat dan Kepala Desa Aeklung, juga oleh pihak TPL untuk membicarakan solusi atas tuntutan masyarakat.

Upaya dilakukan oleh masyarakat
2006-2009
• Atas tindakan TPL mengadukan Suddung Simamora ke pihak kepolisian, warga keturunan Ama Raja Medang SImamora berulangkali mengajukan keberatan dan melarang pihak TPL, khususnya sejak tahun 2006 sampai 2009 setelah eukalyptus dipanen. Namun pihak TPL dibantu aparat keamanan selalu melakukan intimidasi dan kekerasan kepada warga yang mengusahai kembali Tombak Sitakkubak. Pihak TPL memaksa warga untuk menandatangani surat perjanjian. TPL juga merusak, mencabut dan menyemprot racun terhadap tanaman kami serta merusak/membakar gubuk-gubuk kami yang berada di areal tersebut.
• Melaporkan perusakan tanaman warga kepada Camat Dolok Sanggul tetapi tidak mendapat taggapan.
• September 2009, salah satu keturunan Ama Raja Medang Simamora yang telah kenal KSPPM melalalui kelompok Credit Union (CU) mengajak KSPPM untuk berdiskusi di kampung tentang permasalahan tanah adat mereka dan akhirnya ada kesepakatan serta kesepahaman dalam perjuangan tanah adat Tombak Sitakkubak.

2010
• Melakukan protes terhadap Pemkab Humbang Hasundutan melalui surat atas perampasan tanah adat Tombak Sitakkubak yang dilakukan oleh TPL.
• Beraudiensi ke kantor Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup untuk menyampaikan perampasan tanah adat Tombak Sitakkubak kepada dinas terkait dan memperjelas status tanah adat mereka.
• Beraudiensi ke Dewan Kehutanan Nasioal, Kemeterian Kehutanan, Komnas HAM dan Perempuan terkait perampasan tanah adat Tombak Sitakkubak, belum ada hasil atau keputusan yang mendukung peleasan tanah adat dari konsesi TPL.
• Melakukan berbagai diskusi untuk penguatan masyarakat adat terkait perjuangan mereka.

2011
• Melakukan aksi bersama dengan masyarakat adat Kecamatan Pollung mendesak Pemerintah Kabupaten dan DPRD Humbang Hasundutan untuk melepaskan tanah adat dari konsesi TPL.
• Menyurati Komnas HAM terkait dengan surat Komnas HAM kepada masyarakat yang berisikan informasi bahwa tidak ada pelanggaran HAM pada kasus yang mereka alami.
• Melakukan berbagai diskusi untuk penguatan masyarakat adat terkait perjuangan mereka
• Melakukan pemetaan tanah adat secara partisipatif bersama KSPPM, Petra Bersama dan KPHSU.

2012
• Membagi tanah adat kepada setiap kepala keluarga yang ikut berjuang agar tanah adat tersebut dikelola.
• Sebagian kecil kepala keluarga dari keturuanan Ama Raja Medang mulai mengolah tanah adat yang ada di Tombak Sitakkubak.
• Menolak pemetaan yang dilakukan DPRD Humbang Hasundutan, TPL dan Dinas Kehutanan dan Lingungan Hidup Humbang Hasundutan karena tidak sesuai dengan pemetaan partisipatif yang telah dilakukan sesuai sejarah yang mereka miliki.
• Mengusir beberapa kali pekerja TPl yang berupaya merusak lahan pertanian/kebun yang mereka kelola di Tombak Sitakkubak.
• Dibuatnya aturan bersama dalam pengelolaan Tombak Sitakkubak.
• Ikut membentuk AMAN Tano Batak sebagai media perjuangan masyarakat adat di tanah Batak melawan perampasan hak-hak atas tanah adat.

2016
• Mencek ulang titik ordinat wilayah adat untuk memastikan tumpang tindih dengan peta milik kehutanan lampiran SK 579 tahun 2014
• Hingga kini ada 36 KK masyarakat yang mengelola tanah di Sitakkubak
• Mengusir beberapa kali pekerja TPl yang berupaya merusak lahan pertanian/kebun yang mereka kelola di Tombak Sitakkubak.
• Verifikasi yang difasilitasi oleh Kantor Staf Presiden (Noer Fauzi), PSKL dan Kehutanan Medan

Kondisi Terakhir
 Anggota kelompok telah mengelola tanah di Sitakkubak, dan menanam tanaman muda seperti cabai, kol dan sayuran.
 Melakukan konsolidasi organisasi untuk membangun kekuatan perjuangan bersama kembali.

• Pada pertengahan februari 2017 KLHK bersama KSP melakukan verifikasi terhadap keberadaan masyarakat adat dan wilayah adat milik Turunan Ama Raja Medang Simamora.
• Oktober 2017, perwakilan masyarakat Turunan Ama Raja Medang Simamora bersama 10 kasus masyarakat adat lainya mendatangi KLHK untuk mempercepat upaya penyelesaian konflik mereka
• 19 Maret 2018 Perwakilan masyarakat Turunan Ama Raja Medang Simamora mengikuti pertemuan dengan direktur penanganan konflik tenurial dan Hutan adat di KSPPM Parapat
• 3 mey 2018, masyarakat Perwakilan masyarakat Turunan Ama Raja Medang Simamora mengikuti pertemuan multi pihak bersama Direktur PKTHA,Perusahaan TPL,Pemkab Humbang Hasunsutan di medan,
• Secara de facto , masyarakat telah menguasai 148 Hektar tanah tersebut dari total 153 Hektar luas tanah yang diperjuangkan. Namun demikian masyarakat masih berharap KLHK secepat nya dapat mengeluarkan SK Hutan adat masyarakat agar lebih terjamin dari potensi ancaman perusahaan.
• Perkembangan perda PPMHA sendiri untuk Kabupaten Humbang Hasundutan masih dalam tahap pembahasan di internal Legislatif dan Eksekutif Humbang Hasundutan

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Fungsi Tombak Sitakkubak bagi keturunan Ama Raja Medang Simamora sesuai dengan penjelasan masyarakat dapat dibagi dalam 3 fungsi, yaitu: bagian Utara/atas dari Tombak Sitakkubak dinamai dengan Parlogologoan dulunya difungsikan sebagai sawah dan untuk menanam bayoun/pandan untuk tikar. Saat ini bagian utara tetap dikelola keturunan Ama Raja Naiang dari Op. Bonar Simamora, Op. Kasan Simomora, dan Op. Baginda Simamora dan borunya Simanullang (marga boru) menjadi areal perladangan dan tanaman Pohon Pinus yang ada, ditanami oleh keturunan Ama Raja Medang dari Op. Kasan Simamora.

Bagian tengah dari Tombak Sitakkubak diberi nama Aek Nabolon/Hite Tano diperuntukkan sebagai panjampalan/ tempat pengembalaan kuda dan kerbau. Tahun 1975 bagian tengah dari Tombak Sitakkubak beralih fungsi menjadi lahan penanaman pinus. Penanaman pinus ini merupakan program dari pemerintah dan saat itu penggunaan lahan adalah perjanjian pinjam pakai selama 30 tahun. Pinus memasuki masa panen pada tahun 1994 dan ditebangi oleh pengusaha. Setelah selesai penebangan, Keturunan Ama Raja Medang berharap tanah tersebut kembali tetapi langsung ditanami dengan Eukaliptus. Ketika proses penanaman Eukaliptus tersebut keturunan Ama Raja Medang tidak dapat berbuat apa-apa disekitar lahan karena banyak Brimob yang melakukan pengawalan. Lahan bekas pinus tersebut merupakan milik keturunan ama Raja Naiang dari keturunan Op. Bonar Simamora, Op. Kasan Simomora, dan Op. Baginda Simamora dan juga keturunan dari Op. Batu Gumba (sebagian kecil dari tanah).

Sedangkan bagian selatan diberi nama Sitakkubak Parpolasan dulu merupakan Perladangan utama yang ditanami dengan Jeruk, Kopi dan Kemenyan. Pada Zaman penjajahan Belanda, Tombak Sitakkubak ditanami kopi dan Jeruk. Sedangkan di daerah lembah yang ada di sekitar Sitakkubak Parpolasan dimanfaatkan untuk menanam padi sawah. Bukti bekas persawahan masih bisa kita lihat dengan masih adanya petak-petak sawah yang sudah tidak dikelola lagi.

Setelah berakhirnya pendudukan Belanda dan diambil alih oleh Jepang, keturunan Ama Raja Medang tetap mengelola areal tersebut sebagai perladangan dengan menanami Kopi, Jeruk serta Tembakau. Tembakau ditanam ketika itu merupakan sesuai dengan kebutuhan pasar pada masa itu. Saat ini areal Sitakkubak Parpolasan tidak lagi dijadikan lahan perladangan karena topografinya yang berlembah.
 

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur -

Hukum Adat

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi