Wilayah Adat

Wanua Hanggira To Behoa

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Behoa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Tengah
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 118 Ha
Satuan Wanua Hanggira To Behoa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat TNLL
Batas Selatan Wanua Lempe (uwai mbulio)
Batas Timur Wanua Bariri (uwai kalaena)
Batas Utara Katu (uwai halukana)

Kependudukan

Jumlah KK 252
Jumlah Laki-laki 512
Jumlah Perempuan 439
Mata Pencaharian utama bertani (sawah dan kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

bertani (sawah dan kebun)
Pada mulanya Wilayah Behoa masih berbentuk danau dan pegunungan hutan belantara. Awalnya wilayah Behoa hanya dihuni satu komunitas yang tinggal di perkampungan Rano. Wanua Rano dijadikan sebagai perkampungan lama Behoa. Wanua Rano pertama kali dibangun oleh sepasang suami istri dan dibantu oleh kedua pengikutnya. Suaminya bernama Kapita dan Istri bernama Katuno berasal dari Sigi Biromaru serta kedua pengikutnya adalah orang yang ada dui wilayah Behoa. Mereka bersama-sama membangun perkampungan Rano sebgaai pemukiman nuntuk membentuk kelompok keluarga. Seiring berjalannya waktu, masyarakat di Wanua Rano semakin banyak dan telah mengenal cara hidup berkelompok. Pada tahun 1500 telah dilakukan ekspedisi oleh Albert Kruyit yaitu pada tahun 1800 atau abad ke-20. Penjelajah tersbeut hanya mendapat kedua orang suami istri sedang membelah kayu. Penjelajah tersbeut mengambil sepenggal kayu dan bertanya kepada suami istri mengenai aktivitas membelah kayu dalam bahasan Behoa. Suami istri menjawan bahwa belahan kayu tersbeut adalah Behoa. Akhirnya penjelajah menyimpulkan tempat itu bernama Behoa dan nama itu dikenal hingga saat ini. Bukti lebih jelas keberadaan Behoa yaitu adanya kuburan lama suami istri yang tidak dikebumikan, keberadaanya masih utuh di atas tanah tanpa mengalami perubahan. Setelah wafatnya suam istri itui, masyarakat Rano mulai berpindah untuk membentuk perkampungan baru. Pada saat itu sepasang suami itri tersebut sudah dipandang oleh masyarakat Rano sebagai pemimpin atau orang yang sangat dihormati. Kematian mereka membuat bebrapa keluarga dari Wanua Rano memilih membangun pemukiman baru. Pada waktu yang bersamaan, Belanda mulai masuk dan membentuk satu distrik pemerintahan dengan membangun beberapa pemukiman di wilayah Behoa. Kedatangan BElanda di abawah pimpinan Albert Kruyit bertujuan untuk menyebarkan agama Kristen Protestan. Beberapa kampung dikoordinir oleh gerombolan Belanda. Perpecahan pertama dari Wanua Rano yaitu Wanua Longkea, lalu masyarakat Wanua Rano menyebar ke Wanua Katu dan Podondia yaitu Wanua Hanggira dan Bariri. Sebagian msayarakat Katu perpindah ke Wanua Doda.
Dalam sejarah penguasaan wilayah, orang memiliki sistem tersendiri yang bersifat komunal. Pada tahun 1920 pembagian wilayah menurut kebijakan kolonial Belanda yang dibagi atas distrik-distrik sehingga terbentuk menjadi beberapa wilayah. Dimaksudkan agar mempermudah teklanan Belanda. Setelah itu pada tahu 1921 pemerintah Belanda menerapkan sistem tanam paksa dan menajdi beberapa wilayah di dataran Behoa dimonopoli oleh Belanda. Mereka mendirikan kampung yang kemudian diberi nama Hanggira yang penduduknya dipimpin seorang kepala kampung.
Penduduk pertama yang ada di Hanggira adalah keluarga Marumpu, Matompi, Tomberi, Towelo, Todana, Pohadi, Topanga, Pokiro, Mentara, Lauro, Sanda'a, Pesoba, Taudu, Tosada, hingga saat ini terus berkembang menjadi besar. Pemukiman pertama orang Hanggira adalah: Wanua Rano, Podondia, Hanggira yang saat ini menjadi perkampungan orang Hanggira (To Hanggira)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kinta: lahan pemukiman warga
Wanua: perkampungan
Bonde: lahan persawahan masyarakat
Hinoe: Lahan perekebunan masyarakat
Wana: hutan rimba yang tidak pernah terjamah
Kakau: hutan
Bulu: gunung
Pada: padang rumput
Lambara: tempat perkumpulan hewan (kerbau, sapi, anoa)
Gimpu: kandang hewan
Halu: sungai kecil
Toma'ati: saungai kecil di perkampungan
Bangkeluho: perkampungan lama
Halukana: aliran sungai
Kalaena: aliran sungai kecil
Sumili: aliran sungai kecil
Uwai Hanggira: aliran sungai kuala
Uwai Lite: Aliran sungai
 
1. Wilayah Longkea: diperuntukkan sebagai wilayah kayu bahan ramuan, rotan, damar, dan lokasi perburuan tradisional
2. Wilayah Rano: merupakan wilayah perlindungan sumber air untuk kebutuhan pengairan sawa dan sumber air bersih bagi msyarakat desa Bariri, dan tidak dibenarkan ada aktivitas di sekitar wilayah ini.
3. Wilayah Podondia: merupakan sumber air untuk pengembangan pertanian
4. Wilayah Hanggira: tampat pemukiman warga.
 

Kelembagaan Adat

Nama Hondo Ada (Pemangku adat wilayah/ desa)
Struktur Ketua, sekretaris, nemdahara, anggota. Tu'una/ Katua Ada: Ketua LAD Topoanti laluta (sekretaris LAD)
1. Hondo ada: berkedudukan sebagai pemangku adat yang berfungsi memutuisakan dan menetapkan sanksi pada gelar perkara berdasarkan hukum adat.
2. Galara: berfungsi sebagai penutur jalannya peradilan. Galara adalah lembaga yudikatif yang memberikan input dan saran dan pertimbangan segala keputusan agar tercapai mufakat. Galara juga bertanggung jawab terhadap jalannya perkara serta bertugas menjadi penghubung/ pemediasi apabila terjadi konflik di tingkat wilayah.
3. Topoanti Laluta/ Tomompahawedarita: pemediasi perkara di tingkat desa dimana setiap pelaku perkara akan mengkomunikasikan kronologis masalahnya melalui interogasi yang dilakukan oleh lembaga adat yang ditugaskan untuk menggali informasi perkara. Informasi yang didapatkan akan disampaikanm pada saat gelar perkara.
4. Sekretaris: mendokumentasikan aturan adat.
5. Bendahara: mengelola anggaran sesuai hasil peradilan.
6. Anggota: membantu kegiatan dan tugas-tugas kelembagaan adat.
 
musyawarah adat 

Hukum Adat

Motona: upacar pengamatan alam
Mowunja; acar pemanenan dengan cara menggantungkan hasil panenan dan diperlombakan untuk diperebutkan.
Mapotoa: upacara untuk memulai pekerjaan
Mapokana: upacara panen yang dilakukan persatu keluarga
Mokatue'i: pesata menyelesaikan aktivitas bertani selama satu tahun yang dilakukan serentak
Mande Pare (acara pemanenan) yang pelaksanaannta dilakukan se kampung.
 
Waya: aturan ini ditegakkan pada seseorang yang melakukan tindakan kriminal
Ada Tampo (adat tanah): apabila seseorang melakukan pelanggaran baik tindakan kriminal maupun persinahan, maka pelaku akan dikenai denda ada tampo. Denda tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan kesucian tanah.
Potinuwu'i: pengembalian kerugian bagi seorang yang dikriminalisasi.
Giwu: Sanksi yang berlaku bagi pelanggar hukum adat
 
Giwu: Bila seseorangh terbukti melakukan persinahan, pencurian, kriminalisasi mendapatkan sanksi denda sesuai dengan perbuatannya. Pelaku tersebut akan membayar sesuai aturan adat yang berlaku. Mekanisme pembayaran melalui giwu (denda) yang telah disesuaikan dengan pelanggaran pelaku tersebut dan akan dibayar dengan kerbau. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan pertanian: Sawa dan kebun (padi, jagung, ubi kayu, ,merica) Tumbuhan hutan: luku, owu, banga, tangkidi, tambata, tangkoro tumbuhan padang: huhu gapi baru: air nira (minuman khas)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Bada (kunyit, lolo gambu (pucuk jambu), talipai, pudisese, rumpu karu, tangkada, hiha, wawaro, rumput tomate, bimbingkalo
Papan dan Bahan Infrastruktur Palili, uru (cempaka), kalise, taliti, beta'u ( bintangor), apuni (batang paku raksasa), kapa, tala ( bambu), uwe (rotan), tawiri ( kayu besi), dopi, pepolo, belante kuhe
Sumber Sandang jenis pakaian: ranta (pakaian dari kulit kayu) koli bea, koli kate
Sumber Rempah-rempah & Bumbu bada: kunyit kula: jahe pangka bau: daun kemangi ponda: daun pandan arogo hare: daun sere sederei: seledri pia: bawang palola: tomat marisa: rica
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani dan berternak