Wilayah Adat

Ngapa Silanga

 Teregistrasi

Nama Komunitas Silanga
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota PARIGI MOUTONG
Kecamatan Siniu
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.563 Ha
Satuan Ngapa Silanga
Kondisi Fisik Pegunungan,Pesisir
Batas Barat WA Kec. Sindue
Batas Selatan WA Marantale
Batas Timur Teluk Tomini
Batas Utara WA Siniu

Kependudukan

Jumlah KK 374
Jumlah Laki-laki 541
Jumlah Perempuan 542
Mata Pencaharian utama Petani kebun dan nelayan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Silanga berasal dari kata SILA yang berarti DASAR HUKUM dan ngaa yang berarti RINGAN. Jadi arti dari silanga adalah dasar hukum yang ringan. Selain itu SI berarti DI SINI dan LANGA berarti TINGGI sehingga arti silanga adalah kedudukan yang tinggi. Karena pada zaman dahulu para petinggi selalu singgah di sini. Dari zaman nenek moyang silanga sudah berada di sana mendiami wilayah/Ngapa Silanga dengan kepala kampung pertama yaitu ARU BIRU yang dikenal dengan PUE BOKU. hingga saat ini wilayah adat komunitas silanga telah dipimpin oleh 15 kepala desa/ kepala kampung

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pangale: hutan
Talua/Bonde: kebun
Ngapa: pemukiman/ kampung
 
tanah komunal dan individu 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga adat silanga
Struktur Tomaoge Pemanaa Galara Pabisara Poumpu Topetande Topeondongi Pebila Pasobo Kapitalau Pesalara
Tomaoge: kepala asat yang paling disegani
Pemanaa: pengurus masalah perdata dan budel
Galara: penerang, terutama dalam pelaksanaan acara penerimaan tamu dari luar, urusan perkawinan dan perceraian
Pabisara: menyelesaikan urusan/ sengketa masyarakat desa dengan desa lain baik yang terjadi di dalam desa sendiri maupun di desa lain
Poumpu: membina masyarakat agar selalu dalam keadaan aman dan selalu berperasaan persaudaraan
Topetande: menyiapkan kedatangan tamu dan menghargai tamu yang hadir
Topeondongi: melindungi dan menghargai anak dan remaja terutama yang terlantar
Pebila: mengatur dan memperisapkan segala sesuatu terutama tata cara berpakaian adat dalam penerimaan tamu
Pasobo: menentukan waktu tanam dalam bidang pertanian kemudian diikuti oleh orang banyak atau tompatimaka adat ntana
Kapitalau: di laut dan segi-segi keamanan dan penanganan tentang kerusakan batu dan pasir serta penebangan pohon di sekitar pantai
Pesalara: diambil dari beberapa suku yang ada dalam wilayah tersebut dengan tidak membeda-bedakan suku dan agama dalam berkedudukan adat dan kesemuanya dianggap bersaudara
 
Musyawarah 

Hukum Adat

dilarang melewati daerah persawahan pada waktu mendekati panen.
Saat pembukaan dilakukan ritual (Nompakoni ridayo barata pade noave, dan melakukan syukuran adat dan melakukan Vunja setelah itu noavemo, tidak diperbolehkan ada aktivitas pembangunan di area perkebunan sebelum waktu panen.
 
1. Salanguju/ salamfibi adalah satu bentuk pelanggaran yang berkaitan dengan etika sopan santun dalam hubungan sosial. Pelanggaran dianggap terjadi dan menjadi masalah karena dari isi ucapan atau yang menjadi pembicaraan seseorang yang menjadi objek pembicaraan tersebut merasa terganggu, tercoreng citranya, atau martabat nama baiknya. Pelanggaran tersebut adalah bentuk fitnah atau disebut Nosintutu atau Nosikeni-keni Jarita yang sifatnya merugikan orang lain disebut Salanguju atau salamfibi.
Pelaku tersebut diberikan gifu sebagai berikut:
- Sambaa Kambi/ 1 ekor kambing
- Sambuli Punti/ 1 tandan pisang
- Sabumbu tule / 1 ruas bambu saguer (nira enau) diganti dengan 1 kaleng susu dan 1 kg gula
Hasil gifu diserahkan kepada adat

2. Salampale/ nagarere: tindakan seseorang menodai citra orang lain karena sikap dan perilakunya membuat orang lain terhina, tersinggung, tersingkir oleh lingkungannya. Sikap ini bisa dalam bentuk mengganggu istri orang lain atau gadis misalnya memegang atau menyentuk dengan sikap tidak biasanya. Pelaku akan diberikan gifu samba kambi/ 1 ekor kambing

3. Silampua/ nesuaki: berlaku mesum, suka masuk ke kamar orang lain tanpa sepengetahuan keluarga atau izin dari pemilik rumah. Pelaku diberi gifu 1 ekor kambing

4. Kafola/ kaura: memtuska atau menggagalkan sepihak atas perkawinan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dan telah diputuskan oelh forum adat dalam acara peminangan dengan cara melarikan diri. Pelaku akan diberi gifu dengan ketentuan berikut:
a. Jika pelangar adalah pihak perempuan maka pembawaan laki-laki yang telah disepakati pada waktu peminangan dan telah diantar ke pihak perempuan maka harus dikembalikan seluruhnya tanpa kurang sedikitpun. Serta ditambahkan 1 ekor sapi dan sapi tersebut diserahkan kepada adat.
b. Jika pelaku dari pihak laki-laki dikenakan gifu sebagai berikut: apabila seluruh pembawaan laki-laki yang sudah disepakati pada wakyu peminangan telah diantar maka tidak boleh dikembalikan sehingga menjadi hak pihak perempuan seluruhnya. Selain itu pihak laki-laki juga diberikan gifu 1 ekor sapi dan diserahkan kepada adat.
c. Apabila pembawaan laki-laki belum diantar kepada pihak perempuan namun telah ada kesepakatan dalam peminangan tetapi salah satu dari mereka melakukan pelanggaran sebagaimana disebutkan pada poin ke 4 maka dikenakan gifu 1 ekor sapi dan diserahkan kepada adat.

5. Bualo Mate/ bualo Mbuku: pelanggaran yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang salah satu dari mereka telah meninggal dan yang masih hidup telah menikah sebelum selesai masa idahnya selama 104 hsri dan belum selesai diakikah. Jika yang melanggar perempuan maka dikenakan gifu 1 ekor kambing untuk akikah, jika yang melanggar laki-laki dikenakan gifu 1 ekor kambing diserahkan kepada adat untuk memotong.

6. Kabore/ petianasi: perbuatan menghamili perempuan di luar nikah dan perempuan tersebut melapor kepada adat. Pelanggar diberikan gifu 1 ekor kambing setelah itu baru diproses perkawinannya. Laki-laki yang menghamili akan diberi gifu:
a. Sambaa bengga/ 1 ekor kerbau
b. Patampulu Pata ntonga suraya/ 44 buah piring batu
c. Sengayu Gandisi/ 44 meter kain putih
d. samata tavala nu ada (sidupa palo namanya)/ 1 buah tombak adat

7. Bualo tuvu/ bualo afu atau salanggoro: pelanggaran yang dilakukan oleh perempuan bersuami sah sesuai hukum yang berlaku kemudian melakukan perselingkuhan/ njalapi dengan laki-laki lain. Jika terjadi maka perempuan tersbeut jamoi tulusi nekai ayng artinya turun dari rumah dengan pakaian di badan. Selanjutnya diberikan gifu sebagai berikut:
a. Sambaa bengga/ 1 ekor kerbau
b. Samata guma/ satu buah parang adat
c. Santongan suaraya tubu/ buah piring adat
d. Sanggayu gandisi/ 44 meter kain putih
e. Doi sadukana 5 real/ Rp.500.000
f. Pakeya bulafa sanggoro
Kecuali naria pengile atau ada kebijakan / perasaan kasihan dari suaminya dan suaminya masih ingin bersama.

8. Nisasa atai Nosimpogau: perbuatan asusila yang dilakukan antara bapak dan anak kandung, sesama anak kandung. Urusan ini diserahkan ke pihak berwajib (polisi)

9. Gumpate/ nosintutu atau petunai: perbuatan seorang laki-laki terhadap perempuan yang mengakibatkan perempuan malu (aib), sehingga terjadi pertikaian yang menimbulkan pertumpahan darah. Misalnya mengeluarkan kalimat "iko Njajapa katufuamu" atau "isema iko". Pelaku tersbeut diberi gifu sambaa bengga/ 1 ekor kerbau diserahkan kepada adat.

10. Pemakodi atau nositunai: perbuatan pandang enteng/ penghinaan kepada seseorang baik dari segi agama, suku, bahasa, maupun dalam rumah tangga. Bila hal ini terjadi maka pelaku akan diberi gifu sambaa bengga/ 1 ekor kerbaudan diserahkan kepada adat.
 
Silampua/ nesuaki: berlaku mesum, suka masuk ke kamar orang lain tanpa sepengetahuan keluarga atau izin dari pemilik rumah. Pelaku diberi gifu 1 ekor kambing 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan umbi-umbian, jagung, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan
Sumber Kesehatan & Kecantikan daun sirikaya: obat penurun panas panuntu: obat penyaklit dalam kumis kucing: obat kencing batu daun siri: obat mata daun manuru: untuk kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur kayu, bambu, pasir, batu kali, daun rumbia, rotan, batang kelapa, daun kelapa
Sumber Sandang kulit kayu ivo: dijadikan pakaian geta kayu mambeti: dijadikan pewarna pakaian
Sumber Rempah-rempah & Bumbu rica, tomat, bawang putih, bawang, bawang merah, ketumbar, merica, jahe, lengkuasm daun kemangi, jeruk nipis
Sumber Pendapatan Ekonomi kelapa/ kopra, coklat, kapuk, kopi, cengkeh, ubi, jagung, ikan laut dari nelayan