Wilayah Adat

Lipu Wana Posangke

 Tersertifikasi

Nama Komunitas To Posangke
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota MOROWALI
Kecamatan Bungku Utara
Desa Taronggo
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 30.566 Ha
Satuan Lipu Wana Posangke
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wilayah Wana Kayupoli (Sungai Tiworo)
Batas Selatan Wilayah Administrasi Desa Taronggo dan Uwemasi (Bulu Taronggo)
Batas Timur Wilayah Kondo (Pegunungan Tokala)
Batas Utara Wilayah Adat Wana Uewaju (Tongku Uba, Tongku Fotonso'u, Tongku Tamu-kubae dan Kabarubu)

Kependudukan

Jumlah KK 63
Jumlah Laki-laki 111
Jumlah Perempuan 134
Mata Pencaharian utama petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal usul tau taa Wana berasal dari sebuh tempat bernama Tundantane yang kini masuk dalam kawasan Cagar Alam Morowali. Dari tempat itulah manusia pertama turun dari langit menuju bumi kuasa Pue (tuhan). manusia pertama itu bernama Pololosong yang memiliki adik bernama Banggai yang dipercaya kemudian hari menjadi raja Banggai. Dari keturunan itu, lalu mereka menyebar mengikuti gerak perladangan berpindah ke arah Banggai disebut Burangas, dan Kayu Marangka. dan Kayupoli, hingga sepanjang aliran sungai Salato. Sungai memiliki peran penting menjadi lalu lintas mereka. Sub etnik yang tinggal sepanjang aliran sungai Salato itu yang seringkali diberi nama Posangke.

alam tuturan orang Taa di Posangke, umumnya mempercayai bahwa pada dasarnya masyarakat Taa, terutama di empat Lipu yakni. Salisarao, Viyautiro. Sumbol dan Puumbatu, berasal dari Posangke. Mereka percaya pada tuturan sejarah yang menceritakan: bahwa dahulu kala di Posangke itu hidup dua orang pria yang bersaudara. Saudara kakak memlliki kepercayaan halaik sedangkan yang adik beragama islam sehingga mereka membt.iat satu perjanjian bahwa diantara mereka tidak boleh saling mempengaruhi keturunannya. Biarkanlah mereka memilih kepercayaan masing-masing. Peranjian ini dilambangkan dengan pohon bambu yang mereka tanam bersama-sama. Pohon bambu sang kakak adalah pohon balo fuyu (bulu tul) sedangkan sang adik menanam balo kojo bambu jaha. Dalam kesepakatan itu, dibuat suatu sumpah 'karma' apabila diantara mereka ada yang memaksakan agamanya, maka kelak, pohon yang mereka tanam akan mati. Sampai saat ini pohon yang ditanam itu masih tumbuh dan biasanya menjadi tempat mereka untuk meminta pertolongan apabila ada semacam ancaman terhadap lipu. Biasanya mereka akan datang membuat ritual dan memohon bantuan.

Menurut kepercayaan orang Taa, dulu sebelum melakukan perang, dua orang bersaudara inilah yang lebih dulu perang (maju) untuk membantu mereka itu sebabnya mereka harus menjaga tempat tersebut. Tempat ini menjadi tempat yang sakral bagi komunitas Tau To Posangke. Himpunan bambu sangat lebat dan besar tapi tidak boleh ada yang mengambiI bambu tersebut, Apabila ada yang berani mengambil dan tidak mengembalikannya, maka orang tersebut dan keluarganya akan jatuh sakit. Mereka percaya ada roh yang menjaga tempat adalah dulu orang yang dipercaya darahnya putih seperti pulut kayu Namanya tau mokole buya raanya, tidak lain adalah pemimpin orang Tea di masa lalu. Tapi turunan dari orang tersebut sudah tidak ada lagi. Menurut mereka pohon bambu sang kakak (halaik) sudah sedikit karena sudah banyak dari mereka yang meninggal dan berpindah agama.

Seisin tuturan Posangke, mereka juga mempunyai sejarah tentang Fyautiro, Salisarao, Pumbatu dan Sumbol. Nama Salisarao misalnya, berasal atau diambil dari nama seorang pemuda bemama Sali yang selalu memakan UvuSarao (buah pinang). Fyautiro artinya lubang besar atau dalam yang dasarnya tidak kelihatan. Bisa juga disebut atau goa besar yang pintu luarnya terdapat batu menyerupai badan manusia. Mereka percaya bahwa di masa lalu, patung yang dimaksud adalah adalah sebuah keluarga oleh karena suatu peranjian sehingga dikutuk dan menjadi patung. Selain itu, juga terdapat viaukamborang, yaitu patung seorang gadis. Sedangkan nama pumbatu diambil letak lipu tersebut. Puumbatu artinya air yang keluar dari dalam batu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Pengale (hutan rimba yang belum diolah, untuk perlindungan
mata air dan kesuburan tanah)
2. Pompalivu (hutan tempat mencari rotan, damar, gaharu dan madu);
3. Kapali (Hutan larangan yang tidak boleh dimanfaatkan atau diolah),
4. Yapo Masia bekas kebun yang tegakan pohonnya sudah 10 tahun lebih);
5. Yopo Mangura (bekas kebun yang baru dimana tegakkan pohon masih dibawah 10 tahun):
6. Navu (areal perladangan rotasi untuk padi ladang dan tanaman jangka pendek:
7. Lipu (areal mukim dan pekarangan, juga dimanfaatkan untuk tanaman jangka panjang seperti kelapa)
8. Junju (hutan alang-alang) 
- Tanah Rajuyu adalah tanah yang dimliki secera bersama tidak ada larangan untuk diolah anggota komunitas wana.
- Orang Taa wana posing tidak mengenal konsep kepemilikan pribadi atas tanah, melainkan kepemilikan tanaman, atau apa yang mereka bisa tumbuhkan di atas tanah, seperti Kelapa dan Coklat 

Kelembagaan Adat

Nama Wana Posangke
Struktur - Tau T ua Adat - Tau Tua Lipu - Tau Valia - Vorotana
- Tau Tua Adat adalah orang yang memillki peran mengatur beberapa ritual dan hukum adat, misalnya Morongo atau pernikahan, givu, mengurus acara pomataa (duka).
- Tau Tua Lipu, dalam komunitas bertailan dengan tatacara berladang pengaluran lahan dan lipu.
- Tau Valia dalam dimensi spiritual dan praktik penyembuhan penyakit.
- Vorotana adalah orang yang metahui sistem pembukaan lahan.
 
Mogombo (Musyawarah) 

Hukum Adat

- Ritual momago media spiritual yang juga dipakai saat poraa (pesta panen)
- Mangalo'a Navua adalah ritual pembukaim lahan baru menggunakan tradisi Kapongo, tetapi membuka lahan secara sendiri, sendiri. Dalam kepercayaan orang Taa membuka lahan untuk padi lading tidak dilakukan sembarang tempat. Apabila dalam pembukaan lahan ditemukan burung atau ular, maka peladangan harus dihentikan karena orang Wana percaya, kalau itu dilanjutkan, padi ladang yang akan di tanam akan di makan tikus atau ada anggota keluarga yang akan meninggal.
- Givu bila persaya : Givu ini dijatuhkan pada orang lain yang datang mengambil tanah tanpa persetujuan si pemilik lahan atau pamit pada ketua adat.
 
- Givu salampale (laki - laki) perempuan bdak boleh berpegangan yang belum kawin)
- Givu Salampojuyu adalah seseorang apabila telah menikah tetapi pergi bersama-sama dengan orang lain bukan istrinya yang menimbulkan kecurigaan maka ia akan diberikan givu.
- Givu Ada lima sanksi yang diberikan pada seseorang yang telah diketahui mencuri. Seseorang
ketahuan mencuri akan diberikan denda berupa 80 lembar uang seratus ribu.
- Pomaata: upacara adat orang meninggal. Dalam upacara ini biasanya masyarakat Tau Taa di Posangke memperagakan tarian kayori selama dua hari sampai pagi
 
Penerapan salampale

- Salam Mpate Todu, yaitu perbuatan memegang bagian tubuh perempuan secara langsung. Jumlah dendanya berupa givu 80 yang terdiri dari uang, atau barang seperti, piring, sarung atau pakaian,
- Salam Mpale Vavolembe yaitu perbuatan mamegang tidak secara langsung bagian tubuh perempuan atau terlapis pakaian, misalnya mencolek, atau mencubit dengan maksud hendak merayu dan sejenisnya. Jumlah dendanya cukup berat yakni 2 x 80 berupa uang atau barang seperti piring, sarung, atau pakaian.

Penerapan Givu bila persaya
Besaran givu dari adat sebanyak 8 (delapan) lembar uang seratus ribu rupiah Sementara jumlah denda karena perbuatan tersebut ditentukan sendiri oleh sipemlik lahan garapan. Denda dari adat dijatuhkan dalam kasus ini semata-mata karena si orang tersebut, dianggap telah melakukan perbuatan tercela dan tidak menghargai pemilik lahan.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang (Pee Langkai, Pae Uva, Pae Puyurede, Pae Vuyulago, Pae Sivile, Pae Galampa, Pae Mukuni, Pae Buya, Pae Nsaja, Puyu Rapa, Pae Mur'a, Pao Mpondo, Pae Rante), Tebu, Ubi kayu, Pisang, sayur mayur (Bayam Pulih, Tandoyo sejenis kangkung, kacang panjang, rebung, gansi sejenis kacang tanah, oambo sejenis sawi, terung) Jagung dan Sagu
Sumber Kesehatan & Kecantikan 1. Sumber Kesehatan - Nunang (Obat Penurun Panas/Demam) - Tofo'o (Obat Penurun Panas/Demam) - Miyeja (Obat Penurun Panas/Demam) - Kapi-kapi (Obat Malaria) - Daun Simu (Obat luka dan untuk menghentikan pendarahan - Slaga (Obat untuk Iuka dalam dan mengeluarkan darah kotor di dalam tubuh) - Daun Irabuno Obat Malaria - Ombu (Obat batuk untuk anak-anak dan orang dewasa) - Kulit Andolia (Obat sakit perut) - Kulit Molovira (Obat Kulit) - Daun Vunga (Salah satu obat berkhasiat banyak yang sering dipakai sebagai syarat praktik momago, daunnya wangi dengan aroma yang khas) - Goraka untuk mengobati orang yang kena muntaber - Kukul obat Iuka 2. Sumber Kecantikan - Kaju Pia digunakan sebagai sabun mandi dan bahan yang digunakan pada bagian kulit. - Fuya Ntrevu digunakan sebagai sabun mandi dan bahan yang digunakan pada bagian akar tumbuhan tersebut - Fuya njongi sebagai bahan untuk menghaluskan rambut dan bahan yang digunakan airnya
Papan dan Bahan Infrastruktur Bambu, Kayu, Rotan dan Daun Sagu
Sumber Sandang Sumber Pakaian Terbuat dari Kulit kayu Tea, lmpo dan Amba namun pada umumnya masyarakat adat wana posangke tidak lagi menggunakan bahan tersebut.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Rica, Tomat, Bawang putih, Bawang Merah, Merica, Daun Sereh, Jahe, Kunyit, Jeruk
Sumber Pendapatan Ekonomi Getah Damar, Rotan, Padl Ladang, Kakao, Kopra dan Nilam