Wilayah Adat

Ngata Vaenumpu

 Terverifikasi

Nama Komunitas Vaenumpu
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kinovaro, Ulujadi
Desa Kanuna, Denggune, Donggala Kodi
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2 Ha
Satuan Ngata Vaenumpu
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Bulu (Gunung) Kamalisi dan Vayanga (Binangga Viora)
Batas Selatan Pantapa (Binangga salumore,u eta antara Wilayah Pantapa (Petana-Desa Doda) Kec.Kinovaro Kab. Sigi
Batas Timur Lembah Palu Kec.Ulujadi-Kota Palu
Batas Utara Nggolo (Binangga Valinya antara Wil.Adat Vayanga (Desa Kalora) Kec.Kinovaro Kab.Sigi

Kependudukan

Jumlah KK 1836
Jumlah Laki-laki 5389
Jumlah Perempuan 4232
Mata Pencaharian utama Petani dan Buruh

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Vaenumpu adalah salah satu Sub komunitas masyarakat adat yang ada di wilayah ke adatan besar Kamalisi Sulawesi Tengah yang kini pada umumnya bermukim diwilayahlereng dan pegunungan Kamalisi. Vaenumpu merupakan salah satu Komunitas ngata (sebelum colonial atau sesudah merdeka) yang berada di kawasan wilayah adat kamalisi. Vae yang berate acara syukuran pasca panen, sedangkan numpu adalah nama orang tua yang pertama kali mendiami wilayah adat salah satu katavusu pelongo hingga sampai di ngata vaenumpu.

Namun sekarang namanya vaenumpu itu sendiri menjadi uwenumpu yang dikenal masyarakat umumnya, namun perubahan ini tidak menjadi kontroversi dari pihak manapunkarena uwenumpu yang artinya sumber mata air yang mengalir kesuatu tempat dari satu tempat ketempat yang lainnya menjadi sumber kehidupan di komunitas vaenumpu itu sendiri, system pemerintahan yang di anut masyarakat adat vaenump mempercayai system kepemimpinan tertinggi di ngata tidak menggunakan Madika atau raja akan tetapi Ntina.
pengalaman infestigasi lapangan dan pengakuan orang-orang da’a di vaenumpu mereka adalah etnis tersendiri yang mereka sebut To Ulujadi atau Ulunggatoka Pinandu-ongunja poamaya. Dengan penama’an ini orang da’a mempercayai bahwa dari puncak gunung inilah awalnya dari kehidupan manusia, biasa sebutan lainnya di kenal dengan Ulunggatoka Pinandu – Pinandu : Tananilemo Nggari Tanah Pinandu – di ciptakan dari tanah, adalah tanah di jadikan manusia dan menurut orang da’a pinandu itu pulahlah nama orang yang diciptakan dari tanah tersebut. Kemudian barulah dari tulang rusuk pinandu di ciptakan perempuan yang disebut “usukei”- usukei adalah perempuan pertama yang diciptakan dari tulang rusuk pinandu.
Dalam perkembangan manusia ini, orang da’a memprcayai belum ada adat atau aturan yang mengatur adat dalam kehidupan manusia nanti setelah diciptakannya orang yang mereka sebut sebagai “Tomanurung – Tobarakah “ dari sinilah barulah mereka mengenal system adat, yang kini tetap di jaga.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pangale Viata: hutan adat kramat tdk bias di olah
Pangale : Hutan Lindung
Ova : Lahan Bekas Garapan dan di tinggalkan selama 10-15 tahun dan menjadi hutan kembali ditumbuhi kayu-kayu relatih kecil, suatu saat bias di olah kembali secara adat/arif
Pantalu : lahan hutan yang diperbolehkan dibuka sesuai aturan adat
Bonde : kebun
Ngata : pemukiman penduduk dijadikan ngat
 
1. Sistem penguasaan
Sumber daya alam di manfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahtetaraan dan di kuasai serta dikelola bersama secara adil untuk kesejahteraan rakyat. Dalam penguasaannya, sumber daya alam di kuasai dan di manfaatka oleh kelompok di mana semua orang mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasan yang di maksud di sini adalah penguasaan komunal. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama.Dalam prinsip penguasaan juga, Komunitas Kamalisi tidak tertutup kepada siapa saja yang ingin mengelolah Sumber Daya Alam yang ada di wilayah adatnya, dengan harus meminta izin atau memberitahukan /pemberitahuan lembaga adat.Tetapi melihat kenyataannya, hak-hak sumber daya alam secara adat, khususnya wilayah lembah dan pesisir wilayahnya telah mengalami perubahan. Hal ini di sebabkan oleh masuknya kelompok luar yang ingin menguasai tanah dengan memperkenalkan Masyarakat dengan bentuk material sehingga memotifasi Masyarakat untuk menjualnya. Selain itu juga di sebabkan oleh projek pemukiman lokal dan perusahaan-perusahaan yang menguasai sumber daya alam dengan skala besar. Hal paling mendasar dari penguasaan sumber daya alam tersebut adanya legalitas Negara terhadap sumber day agraria menjadi milik dan di kuasai oleh negara. Penjabaran ini telah menjadi alasan berbagai pihak yang ingin menguasai dan berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya alam di daerah tersebut.
2. Sistem Kepemilikan
Tanah dan Masyarakat hukum adat saling memiliki korelasi yang signifikan, ini menciptakan suatu hak untuk menggunakan, menguasai, memelihara sekaligus mempertahankannya. Hak-hak dan system kepemiliklah tanah di wilayah adat da’a juga seperti halnya beberapa wilayah adat yang ada disulawesi tengah. Kepemilikan tersebut di dasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di percayai oleh orang da’a bahwa tanah itu adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur” .
Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimiliki secara kelompok dan dimanfaatkan serta di atur penggunaan dan pengawasannya oleh kelompok. Hak perolehnya juga melalui kelompok artinya pada saat membuak lahan penggarapannya dilakukan secara kelompok. Jenis kepemilikan ini juga berkaitan dengan pembagian hasilnya. Jenis kepemilikan ini, dapat saja dimanfaatkan oleh individu yang ada didalam kelompok tersebut atau orang lain yang di luar kelompok garapan tersebut.dengan melalui:
1. Meminta izin dan mendapat persetujuan dari kelompok tersebut
2. Harus memberikan sedikit hasil pertanian dari tanah tersebut sesui dengan kerelaan untuk kelompok pemilkinya.
3. Tidak di perbolehkan menanam tanaman jangka panjang.
4. tanah tersebut tidak dalam masa istrahat.
• Tanah Individu : Tanah yang dikuasai dan dikelolah oleh perorangan (individu)
• Tanah keluarga: Tanah yang dikuasai dan dikelolah bersama-sama dalam satu keluarga
• Tanah Komunal : Tanah yang dikelola bersama-sama oleh komunitas (semua orang dalam komunitas ikut mengelola)
 

Kelembagaan Adat

Nama Ngata Vaenumpu
Struktur Totua ada Totua ada notangara Totua ada Buluna Totua ada nompakoni
Totua ada Notangara merupakan orang tua adat di percayakan serta bertugas menyelesaikan masalah secara umum baik tingkat criminal yang ringan maupun yang berat
Toua ada Buluna merupakan orang tua adat di percayakan serta bertugas dan memeiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah bagian pegunungan (Hutan). Seperti jika ada masyarakat dari luar maupun dalam komunitas adat vaenumpu tidak meminta izin masuk area hutan maka orang tua adat inilah yang akan bertindak.
Totua ada pompakoni merupakan orang tua dipercaya serta bertugas yang memiliki ilmu spiritual untuk meminta sang pencipta baik urusan tolak balaq, menyembuhkan orang dari penyakit, yang biasa membuat ritual sebelum membuka lahan dan lain-lain
Catatan:
Namun semua keputusanbaik sanksi maupun aturan di putuskan bersama semua totua ada yang berada di vaenumpu secara kolektif
 
Mosiromu (Musyawarah adat)
Terdiri dari seluruh totua nu ada (orang tua adat) dengan kepusan kolektif
 

Hukum Adat

- Aturan yang berlaku jika masyarakat yang membuka lahan hutan terlarang di pegunungan tanpa sepengetahuan totua ada buluna akan dilakukan sanksi
- Jika selesai panen akan dilakukan upacara adat (Vunja) syukuran adat
- Nobanta merupakan upacara syukuran sebelum dan sesudah melakukan panen
 
Givu artinya bentuk sanksi berat atau ringan
Vaya artinya aturan sanksi yang di berlakukan untuk tidak mengulangi perbuatan
Sompo artinya sanksi perbuatan yang tidak menyenangkan atau mempermalukan perempuan atau keluarga
 
Sompo :
Jika seorang suami berselingkuh dengan istrinya orang lain maka istri tersebut di denda 2x lipat dari pada yang di berikan suaminya pada saat mereka menikah disebut posupi bau (bagian sompo )
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan pertanian (Ubi, jagung, Talas, Ubi jalar, Kelapa, Padi lading) kacang panjang, kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, kemiri, kelor, paku, jeruk, pisang, papaya, nenas, sirsak, jambu mente, jambu air, jambu batu, jambu biasa,
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kayumanuru : untuk memerawat kulit agar segar, bersih, indah, awet dan bercerah Kayu Kena : untuk menyembuhkan penyakit luka pada kulit Kulit kayu vula : untuk menyembuhkan iritasi sakit mata
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Tavaili, akasia dan Nantu : untuk tiang membangun rumah maupun rumah adat bembatava, Vakava : untuk atap rumah
Sumber Sandang Kayu pohon nunu : untuk membuat pakaian (adat) Getah Pohon kayujawa dan kayu kanuna : Untuk lem
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Pia lei, kuni, parancina, nggulasi, balintua, tumbavani,semuanya digunakan untuk penyedap masakan
Sumber Pendapatan Ekonomi Sumber-sumber yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat (komoditi yang ada di wilayah adat) Contoh : Kopi, coklat, pisang, jambu, kelapa, jagung, ubi dll

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Sigi Nomor 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen