Wilayah Adat

Onan Harbangan (Nagasaribu)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Onan Harbangan
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota TAPANULI UTARA
Kecamatan Siborongborong
Desa Pohan Jae (dusun Nagasaribu)
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.085 Ha
Satuan Onan Harbangan (Nagasaribu)
Kondisi Fisik
Batas Barat Berbatasan dengan Simare (Toba)
Batas Selatan Berbatasan dengan Parlombuan (Desa Tapian Nauli III)
Batas Timur Berbatasan dengan Purba Sinomba dan Pokki
Batas Utara Berbatasan dengan Bonan Dolok (Toba)

Kependudukan

Jumlah KK 82
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Areal Tombak Haminjon seluas 1.085,089 Ha . Pada masa lalu bernama Desa Onan Harbangan, namun pada tahun 1994 terjadi penggabungan desa menjadi Desa Pohan Jae Dusun Nagasaribu, Kecamatan Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara

Dahulunya naiklah ke bukit Nenek Moyang (Ompu Najolo) yaitu Datu Pijor Simanjuntak dari Toba Habinsaran . Pahompu (cucu) Datu Doloklah yang ikut datang mengisi kampung Onan Harbangan. Lalu masuk marga-marga lain menduduki kampung ini yaitu :Datu Pijor Simanjuntak dari Onan Motung, Datu Dolok dari Siparendean, Siregar dari Sibide, Huta Bulu dari Aek Nauli, Simanjuntak Mardaup dari Baringin, Napitupulu dari Panortoran dan Sianipar dari Tornaginjang, Panjaitan dari Dolok Nasuksuk

Setelah sekian lama, datanglah Raja Sisingamangaraja XII untuk mengesahkan/meresmikan Onan Harbagangan sebagai perkampungan. Dalam proses pengesahan Kampung dan Onan Harbangan, Sisingamangaraja XII melakukan acara ritual yakni “Ojak ma adat, ojak ma uhum, jonjongma patik” (adat, hukum, dan undang-undang adat) yang terdiri dari :
1. Hatian na sora Teleng (Timbangan yang seimbang) yang dipegang oleh Datu Pijor Simanjuntak
2. Solup Si Opat Bale (empat takar) yang dipegang oleh Datu Dolok Simanjuntak
3. Parmasam (12 Solup) yang dipegang oleh Sianipar

“Garang-garang ni lautan, ni onjat tu hirang ni hoda, Molo marbada Simanjutak, Sianiparma Sidabu tola” menjadi permulaan berdirinya hukum di kampung Onan Harbangan.
Peresmian diikuti acara ritual penanamam empat pohon bintatar yang melambangkan, empat marga di kampung itu yakni punguan Tuan si Hubil Tampubolon, Tuan So Manimbil Simanjuntak, Tuan Dibangarna dan Tuan Sonak Malela.

Pada proses acara ritual tersebut Raja Sisingamangaraja XII memberikan pusaka sebagai penanda berlakunya hukum adat dan adanya pengadil yang akan menjaga kehidupan sosial masyarakat. Hingga kini barang peninggalan sejarah itu masih dijaga secara turun temurun.

Dalam sistem pemerintahan adat di kampung ini awalnya Raja Huta dipegang oleh Simanjuntak dan Siregar.Seiring waktu Datu Silo Simanjuntak dan Sagisagi Dirajahon (sijadikan raja) dengan dengan terlebih dahulu melakukan ritual adat manyulangi marga Sianipar, Simanjuntak, dan Siregar. Hingga terakhir Hutabulu Simanjuntak dirajahon.

Terdapat pengaturan mengenai Parhundul (bagian-bagian Raja Adat) yakni :
1. Parhundul Raja, sian Datu Pijor Simanjuntak sebanyak enam orang
2. Parhundul Raja Sian Datu Dolok Simanjuntak sebanyak enam orang
3. Parhundul Raja Sian Datu Silo Simanjuntak sebanyak dua orang
4. Parhundul Raja sian Sianipar sebanyak tiga orang
5. Parhundul Raja sian Marga boru/hela sebanyak tiga orang
6. Parhundul Raja Sian Huta Bulu Simanjuntak sebanyak satu orang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur -

Hukum Adat

Patik di Tombak
Patik yang mengatur tombak haminjon (kemenyan) terdiri dari masalah batas yang ditetapkan patik. Penjual dan pembeli haminjon masing-masing memberikan 1 kaleng beras kepada kas patik sebagai aturan yang sah dan mutlak harus di taati. Dalam hal keamanan, jika ada haminjon yang hilang, maka raja patik menggerakkan masyarakat untuk mencari bahkan hingga ritual Gana Sigadap yakni menemukan pelaku dengan petunjuk mistis.
Sanksi bagi pelaku akan dibebankan dengan mengganti rugi sebesar haminjon yang hilang dan memberi makan satu kampung. Hal ini adalah keputusan mutlak yang harus diaati.

Patik di Ladang
mangengge boni tu hauma dilakukan dan ditetapkan setiap tanggal 1 Oktober setiap tahunnya. Tidak diperkenankan saling mendahului dalam menanam padi. Ada sanksi yang diberikan jika ada yang saling mendahului yaitu berupa membayar denda ke dalam kas patik adat. Setiap tanggal 5 November lah mulai untuk melakukan penanaman padi di sawah setiap tahun. Demikianlah berturut-turut dari benih yang panjang umur (bengel) sampai benih yang lebih pendek (boni nagir-gir) dengan jarak-jarak 7 hari atau seminggu.

Dalam masa pertumbuhan padi, jika ada yang mengganggu seperti kerbau yang masuk ke lahan (manunda horbo), jika tidak bisa berdamai antara korban dan yang punya kerbau maka Raja Patik diundang untuk menyelesaikan masalah. Hukuman yang tertulis untuk sanksinya adalah 1 bekas kaki sebanyak 1 kaleng padi (eme) dan demikian seterusnya. Aturan yang dibuat selama masa tanam padi, yaitu kerbau tidak diperkenankan masuk ke areal persawahan. Jika sudah selesai masa tanam padi maka kerbau peliharaan bebas masuk ke persawahan.

Patik di Hauma
Dalam menanam, mengurus hingga panen padi diatur oleh Patik yang ditetapkan dalam masyarakat. Dalam hal membajak, menabur benih, dan masa panen diautur Patik yang ada. Ada beberapa jenis benih padi yang ditetapkan oleh patik. Ada jenis padi yang dipakai masyarakat yaitu silungguk, siborutambun, sigabe, sidekke, siancimon, sikukubalam.
Waktu untuk menanam padi diatur sesuai dengan jenis benihnya. Jika umur benih yang lebih panjang maka diatur lebih dahulu untuk menanam benih. Demikian seterusnya dengan jenis yang lain. Umur padi pada umumnya adalah enam bulan dengan jenis beras merah dan beras putih. Aturan patik adalah sebuah ketetapan yang mutlak yang harus ditaati oleh masyarakat dalam menabur benih padi.
Pada masa pengurusan padi, ada patik yang mengatur. Salah satunya adalah jika ada ternak masyarakat yaitu kerbau yang mengganggu padi maka akan diberikan hukuman kepada yang punya ternak. Adapun hukuman yang diberikan adalah seberapa banyak kerugian kerusakan akibat manunda horbo. Jika yang punya padi dan ternak dapat berdamai maka urusan tidak sampai kepada patik, tetapi jika tidak bisa berdamai maka Raja Patik turut untuk menyelesaikannya. Adapun hukum yang tertulis dalam patik yaitu 4 kaleng padi setiap 1 kaki kerbau yang masuk. Hukum adat ini mengakibatkan kerbau tidak diperbolehkan merumput ke areal pertanian selama masa tanam dan panen. Ketika setelah panen, itulah waktu kerbau bisa merumput di areal pertanian.
Pada masa panen, hasil padi, hanya 30% saja yang dijual, selebihnya untuk dikonsumsi untuk panen berikutnya. Pada masa panen, dilakukan juga pesta gotilon. Pesta gotilon diadakan ketika masyarakat sudah selesai panen dan menjemur seluruhnya. Pesta gotilon adalah pesta syukuran atas penen padi, dilakukam dengan acara makan bersama.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi