Wilayah Adat

Wanua Wanga

 Terverifikasi

Nama Komunitas Wanga
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Peore
Desa Wanga
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.760 Ha
Satuan Wanua Wanga
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Kawasan Taman Nasional Lore Lindu
Batas Selatan Desa Siliwanga
Batas Timur DesaMaholo(Lore Timur)
Batas Utara Desa Toe Jaya

Kependudukan

Jumlah KK 105
Jumlah Laki-laki 230
Jumlah Perempuan 145
Mata Pencaharian utama bertani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyrakat wanga adalah pindahan dari desa watutau pada tahun 1923 dan resmi menjadi desa pada tahun 1924 yang dipimpin seorang kepala desa yang bernama Roro Manemba (Umana Toko). Wangaadalahkerajaanbesar di lembah Lore (Tampo Lore). Menurutceritalembagaadatdesawatutau, IMANUEL PELE dan FRANS RORO, mengatakan bahwa yang pertama kali menemukankembaliwilayahWangaadalahkeluarga PELE bersama 5 orang pengikutnya yang bernama RORO, NTAITE, TOWUHE, MANEMBA, dan NDIO. Mereka membangunkembaliwilayahitu.Maka raja bersama pengikutnya berpindah tempat tinggal ke Desa Wanga Pada tahun 1925 dan berdiri sebagai Desa.
WA’ANGA yang sebutannya adalah WANGA. WA’ artinya kepala dan NGA artinya Burung Belibis. Para penemu tersebut mendirikan Desa Wanga
(WANUA WANGA) secara bersama-sama, dan di desainilah asalmulanyaadatistiadat PEKUREHUA.


Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pengelolaan Bersama sesuai kesepakatan wilayah Adat Pekurehua.
Adapun pembagian Ruang Wlayah Adat berdasarkan pengetahuan lokal yang telah digunakan sejak dulu hingga sekarang, yaitu:
Wumbu Wana : adalah hutan yang tidak pernah disentuh dan dikelolah.
Wana : yaitu hutan yang bisa dikelolah tumbuhannya seperti damar, gaharu, Nompi,Dupa, Rotan.
Pandulu : lahan pepohonan yang bisa digunakan untuk bangunan tetapi tidak bisa dirambah.
Pobondea : Hutan bekas kebun yang dikelolah selama 5 – 10 tahun.
Holua : bekas kebun yang pengelolaannya memiliki jangka waktu 1-2 tahun.
Pampa : hutan yang secara kontinu dikelolah dan ditanami tumbuhan pokok sebagai kebutuhan sehari-hari.
Boya : lokasi perkampungan warga(komunitas yang menghuni)
Kinta : lokasi pembangunan Rumah (halaman Rumah)
sistem pengelolaan/penataan ruang masyarakat adat yang terkandung dialam pengetahuan lokal masyarakat Wanga, adalah bentuk nyata yang membuktikan adanya hubungan yang tidak terpisahakan antara manusia dana alam.
Sebagai bukti bahwa masyarakat adat wanga memiliki sistem yang arif dalam menempatkan alam sebagai ciptaan tuhan yang tentunya berfungsi bagi kehidupan manusia. Untuk itu, dalam mempertahankan pengetahuan tersebut masyarakat adat wanga terus menerapkan sistem pengetahuan tersebut dalam bentuk sanksi. Contohnya :
Wana : ketika hutan ini dikelolah terus menerus tanpa ditanami kembali, maka kesusuahan akan melanda masyarakat sebab tanaman yang hidup dihutan tersebut merupakan tumbuhan langkah dan sulit dijangkau.
Wumbu Wana : ketika hutan ini dimasuki atau disentuh (dikelolah) maka akan menimbulkan wabah penyakit bagi seluruh penghuni kampung Wanga. Adapun gejalah alam yang terjadi adalah bencana dan kelaparan.hal tersebut dikarenakan penghuni hutan marah.

 
Beker jasama dengan LKD untuk mengatur SDA menurut hukum Adat 

Kelembagaan Adat

Nama LembagaAdatBoyaWanga
Struktur Ketua, Sekretaris, danAnggota HONDO ADA BOYA WANGA (Katua Lembaga Adat), Topodede Lolita (PemanduAacara/Sekretaris), (Topehugana) Anggota.
Mengatur tatanan kehidupan Komunitas masyarakat sesuai dengan aturan adat. 
Dilakukan berdasarkan musyawarah adat 

Hukum Adat

Setiap ketentuan dan kesepakatan yang di putuskan oleh Lembaga Adat tentang aturan-aturan PSDA wajib di patuhi setiap warga Masyarakat Desa wanga.

 
Perkawinan, Perzinaan,pencurian, sengketa tanah.
Salasatu satu keunggulan Adat Istiadat yang dianut oleh seluruh masyarakat adat pekurehua dimana setiap ada masalah antar masyarakat setempat dapat diselesaikan secara adat. Demikian juga kasus persinahan (BUALO)
Bualo terbagi atas beberapa bagian :
- Perbuatan (Babehia)
Adalah perbuatan seseorang yang mlanggar aturan adat.
- ,pelanggaran hukum Perkawinan, dimana seseorang yang(MOKARA-KARA, HALOLO KANDUPA DARA, ): bagi siapa yang secara sadar melakukan zina maka akan disidang dibalai desa dengan syarat 1. Mengadakan babi 1 ekor untuk perempuan yang dipotong pada saat sidang berlangsung. 2. Satu ekor babi untuk laki-laki yang diuangkan dengan nilai Rp.2000.000. 3. Mengadakan uang duduk sidang sebesar 2500.000. 4. Menjamin makan dan minum peserta sidang. Apabila, kedua yang bersangkutan tidak sepakat untuk menyatu (Kawin) maka, Pihak laki-laki akan dikenakan sanksi 3 ekor kerbau. 1. Satu ekor sebagai pengganti suami. 2. Satu ekor sebagai pemulihan nama baik keluarga pihak wanita. 3. Satu ekor sebagai pemeliharaan bay apabilah sudah hamil.
- Kesemuanya ini diberi jangka waktu 1 bulan per satu ekor.
- Demikian pulah perselisihan tanah, apabila ada kesalah pahaman dalam aturan pemakaian tanah juga masi dapat diselesaikan secara adat yang diatur berdasarkan asas kekeluargaan.

Kesimpulan :
Sanki menyangkut pelanggaran antara lain:
Ketika ada sesorang atau kelompok yang melakukan tindakan yang dianggap melanggar aturan adat akan disanksi sesuai aturan yang berlaku dan nilai pelanggarannya. Sanksi adalah denda yang merupakan hukuman bagi pelaku pelanggaran. Di dataran lore, proses penyelesaian konflik atau kontak antar sosial masi diselesaikan secara adat.
 
Contohnya tentang Tanah:
Sipengelolah pertama apabila ada yang ingin mengelolah kembali harus ada kesepakatan bersama dalam hal ini hanya sifat pinjam (POMBEHOLOI).
Contohlain :ketika terjadi pelanggaran pengelolaan lahan yang telah disepekati oleh lembaga adat dan dimusyawarakan kepada masyarakat, bahwa lahan tersebut tidak bisa di jamah bahkan dikelolah dalam bentuk apapun. maka seluruh masyarakat harus mematuhi aturan tersebut. Ketika ada kelompok atau oknum yang melanggar aturan tersebut akan d isanksi denda (Giwu). Apabila orang tersebut tidak mau diatur oleh lembaga adat maka pelaku harus meninggalkan kampong Wanga.
Yang dimaksud denda (Giwu)oleh masyarakat adat wanga adalah sanksi sebagai pengembalian atau pengganti kerugian tumbuhan yang dirusak. Jumlah kerbau yang dibayarkan harus sesuai dengan jumlah pelanggaran.
Adapun nama-nama pelanggaran berdasarkan pengetahuan local masyarakat adat wanga:
- Sala mate (Pelanggaran mata)
Pelanggaran mata dikarenakan orang yang melakukan pelanggaran telah menginginkan sesuatu dari hasil penglihatannya.
- Salahume (Pelanggaran Mulut) dikarenakan sesorang yang melakukan pelanggaran ini telah membicarakan dan menceritakan aib orang lain
- Salataye (salahtangan) adaalh perbuatan yang yang secara langsung mengambil milik orang lain sehingga perbuatan ini melanggar hukum karena dianggap sengaja mengambil milik orang dan dianggap telah memasuki lahan orang lain.
- Salah uma wata : (pelanggaran seluruh tubuh) pelanggaran yang dilakukan secara sadar dan terbukti/terang-terangan atau kedapatan mencuri dilahan orang lain.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Pertanian : Sawah (Bonde Keowai) dan Kebun (Bonde Kakau)
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Bada (Kunyit) - Bada ntomate (Tumulawak) - Hehi Tobehoa (Sese Putih) - Gambu Anitu (Jambu Setan) - Baulu (Daun Siri) - Harao (Pinang Htan) - Handutu atau pangana (Pinang Kampung) - Peda (Kapur sirih) - Tabako (Daun Tembakau) - Hinuntu (Rumput Dukun Anak)-
Papan dan Bahan Infrastruktur Uru, (Cempaka) Popangiria Dopi (Malapoga) Taiti (Taiti) Roa (Damar Babi) Koronia
Sumber Sandang Katewu Bea Tea Nahe
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Beau (Kemiri) Kula Pare (Jahe) Kula Goa (Rica) Bada (Kunyit) Huku (Kencur) Sederi (Sedrei) Bala Kama Tangkada (Daun Kemangi) Lengkuas
Sumber Pendapatan Ekonomi Wirausaha, Wirasuasta, Pertanian, Nelayan, Berdagang, Berternak.