Wilayah Adat

Tondok (Kampung) Kalean Manik

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kalean Manik
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU
Kecamatan Walenrang Barat
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.377 Ha
Satuan Tondok (Kampung) Kalean Manik
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wilayah Adat Bure Desa Ilanbatu Uru, Wilayah Lembang Ulu Salu Kab. Toraja Utara dan Wilayah Adat Paranta Desa Ilanbatu Uru.
Batas Selatan Wilayah Adat Kujan Desa Lempe Kec. Walbar
Batas Timur Wilayah Adat Siteba’
Batas Utara Wilayah adat Sampeong Desa Lamasi Hulu Kec. Walenrang Barat

Kependudukan

Jumlah KK 603
Jumlah Laki-laki 1100
Jumlah Perempuan 1915
Mata Pencaharian utama Pada Umumnya masyarakat Adt Kalean manik Pariu (bertani) dari Tampang (sawah) dan Belak (Kebun).

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Keberadaan Komunitas adat, kalean manik asal-usulnya secara historis berasal dari Toraja Bernama Bua Lolo’/Tanduk Pirri, sekitar 1420 tahun yang lalu kemudian membentuk suatu kampong atau biasa disebut tondok. Setelah berkembang dan menetap di kampong tersebut dan diberi nama. kalean manik
Kalean Manik itu diambil dari bahasa lokal yang berarti sebuah kampong yang daerah sekitarnya mempunyai suhu dingin yang Setelah di kalean manik sepakati nama kampong tersebut bernama maka masyarakat kembali melakukan musyawarah adat untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka dan pada saat itu masyarakat adat mengangkat seorang tomakaka pertama yang bernama Ne’ Buntang beserta perangkat adatnya, dan Tomakaka yang selanjutnya : Ta’gan, Ne’ Pakatu, Ne’ Malaga, Bu’tuan/La’te Tikunna, Sijawa Kaban yang sampai hari ini sempat diketahui oleh pemangku dan tokoh adat Kadinginan, dan hingga saat ini Tomakaka terkhir komunitas adat bernama kalean manik Rasid Ta’gan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Titipan (Pangala Tamman)
Hutan yang dititipkan atau diwariskan oleh katurunan (rumpun) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan larangan yang tidak boleh diakses atau diambil sumberdaya yang ada didalamnya. Namun hutan ini boleh dipakai jika saatnya tiba, bagi Kampong Ada’ untuk menempatinya. Misalnya: Hutan Salu Petallang, Hutan Rangri, Hutan Salu Sa’pang.

- Hutan Tutupan (Kabo)
Hutan yang merupakan batas antara hutan titipan dan hutan garapan. Hutan ini juga dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan sumberdaya didalamnya kecuali hanya untuk kepentingan adat/Ada’. Lokasi yang dimaksud tersebut Buntu Kattoroan, Sarambu Tipali’, Pararra, Buntu Katapi.

- Hutan Bukaan/Garapan (Pangala Dijama)
Hutan bukaan atau hutan garapan merupakan areal yang sudah dibuka maupun sebagian masih berupa hutan yang dipakai untuk pemukiman, persawahan, kebun dan juga boleh dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat isalnya ; Buntu Pepa’pakan, Hutan Tombang Bai, Hutan Pong Balao, Buntu Toding, Buntu Uban, Buntu Batu Bulan, Buntu Mabi, Buntu To’ Lada, Buntu puang, Buntu Berada, Buntu Katadongkonan, Buntu Kaju Berrak.
 
Di dalam wilayah adat, kalean manik secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah adat terbagi menjadi dua yaitu wilayah komunal dan wilayah individu. Wilayah inidividu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Tondok (hunian), Tampang (Sawah), dan Bela’ (kebun). Proses pembagiannya pun harus diputuskan atas persetujuan Tomakaka. Biasanya di masing-masing Tondok ada ‘Matua’ yang akan menyampaikan informasi ke Tomakaka apabila ada warga yang membutuhkan area kelola untuk kehidupannya. Selain itu ada juga Anginan (Tempat) yang merupakan area yang digunakan untuk Tomakaka . Bentuknya ada sawah, kampung, Kabo (Belukar), Belak (kebun) dan lain-lain. 

Kelembagaan Adat

Nama kalean manik
Struktur - Tomakaka - Anak tomakaka - Baliara - Matua - Bunga Lalan
- Tomakaka;
Mengatur, Memimpin Musyawarah Adat dan Mengambil Keputusan Apabila Ada Masalah Yang Terjadi dalam Masyarakat Adat.
- Anak Tomakaka;
Sebagai Kepala Kelompok dalam Suatu Acara Adat Tertentu Seperti Membagi Daging (Mantawa Juku’) Dalam Pesta Adat Kematian.
- Baliara;
Mewakili Tomakaka Apabila Tomakaka Berhalangan.
- Matua ;
Mengatur Pelaksanaan Adat Dalam Wilayahnya dan Melaporkan Hasilnya Kepada Tomakaka.
- Bunga’ Lalan ;
Mengatur Jadwal Turun Sawah dan Menanam Padi di Ladang

 
Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin Lembaga Adat. Tetapi ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat dengan para perangkat adat yaitu untuk hal-hal yang berkaitan dengan upacara adat, diantaranya :
- Terjadi sengketa lahan antara masyarakat adat
- Mak Kurre Sumanga (Pesta Panen)
Bersinah / selingkuh dengan istri orang lain.
 

Hukum Adat

Di Wilayah Adat kalean manik pada umumnya masih dikelilingi oleh hutan. Tondo’ Ada’ Kadinginan sendiri berada di tengah pegunungan Buntu Toding, Buntu Uban, Buntu Pepakpakan, Buntu Batu Bulan, Buntu Mabi, Buntu To’lada, Buntu Puang, Buntu Berada’, Buntu Katadongkonan, Buntu Kaju Berrak, Buntu Katorroan, Sarambu Tipalik, Buntu Tombang Bai, Buntu Pararra’, Buntu Katapi, yang secara administratif berada dalam wilayah Desa Lempe Pasang, kec, Walenrang Barat, Kabupaten Luwu. dan juga termasuk kawasan hutan lindung. Sebagai masyarakat adat menjaga lingkungan merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar, karena kelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya merupakan indikator keberlangsungan adat dan tradisi itu sendiri serta sebagai penyangga air/salu Kadundung, Tampaan, Bernasi, Buntu, Petallang, Sa’pang, Po’poran, Kowa, Pongki, Kamassi, Bulo, Dengen.

Tomakaka juga memiliki kebijakan-kebijakan lokal dalam mengelola dan mengakses hutan, dengan melakukan pembagian yang sudah dilakukan sejak awal keberadaannya dan turun-temurun yaitu: Hutan Titipan, Hutan Bukaan/Kabo.

beberapa hal yang merupakan larangan adat yaitu;
1. Menanam padi tidak boleh lebih sekali dalam setahun.
2. Benih padi yang ditanam harus padi titipan leluhur khusus ditanam di ladang (Bela’).
3. Segala bentuk yang berhubungan dengan padi harus sesuai dengan tatanan tradisi leluhur
4. Tidak boleh Mengambil sesuatu dari hutan titipan dalam bentuk apapun. Kecuali seijin dari pemangku adat (Tomakaka).
5. Tidak boleh merusak sumber mata air.

Selain itu Tomakaka kalean manik juga masih menjaga warisan tradisi dalam menanam padi yaitu hanya melakukan satu kali panen dalam satu tahun. Padi yang ditanam pun harus padi lokal yang diwariskan oleh leluhur yang dulunya ada 11 jenis bibit, dan sekarang masih tetap 11 jenis bibit padi.

 
Hukum yang diterapkan di masyarakat Adat kalean manik secara umum ada tiga macam, yaitu ;
• Hukum agama yaitu hukum yang mengacu pada kepercayaan masing-masing agama.
• Hukum Negara diterapkan apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana yang ditentukan dalam tatanan hukum Negara.
• Hukum adat adalah hukum atau sanksi yang tidak diputuskan oleh seseorang atau para petinggi adat, tetapi hukum ini berupa sanksi yang diberikan oleh para leluhur, dengan istilah “ didosa, ma’rambu langi dan dipalik” .

Hukum seperti;
- didosa, adalah pelanggaran yang termasuk pada semua tingkatan pelanggaran seperti tingkatan ringan (potong ayam), Sedang (potong babi khusus untuk beragama nasrani), Berat (potong kerbau).
- Dipalik/diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai tujuh turunan serta Ma’rambu langi , adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori berat (Potong kerbau). Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya.
Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat To’ Passe dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah didosa, dipalik,ma’rambu langi. (mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapatkan ijin, segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal, dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran).
 
Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti didosa dengan memotong satu ekor kerbau dan dimakan bersama masyarakat adat kalean manik Jika tidak mematuhi aturan dengan memotong satu ekor kerbau maka akan diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai 7 turunan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan • Sumber karbohidrat (padi, umbi-umbian, jagung, sagu): Padi (Pare Bela’ dan Pare Tempe). • sumber protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Kacang hijau dan Kacang panjang dan kacang tanah • Sumber vitamin (sayuran dan buah): Buah (Durian, Pisang , Nangka, Mangga,Aren, Langsat, Duku, kopi,), Buah Pepaya, Buah Kelapa dll. • Sayuran; Bayam, Kacang panjang, Terong, Daun singkong, Daun Lombok, Daun suka, Umbu Rotan dan Umbu Banga).
Sumber Kesehatan & Kecantikan • • Tumbuhan obat: kumis kucing, lampujang, jahe, kencur, Daun Sualang, Daun Sari kaja, Kulit Kayu Jawa, Daun Sambiroto, Maniram dll. • Tumbuhan kosmetik: Kunyit, Lidah Buaya, Beras, Daun Pandan, kencur, Kemiri, Kaju Lange, Kelapa, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur a. bambu, kayu uru, kayu nato, kayu betao, kayu bitti, kayu sandana, kayu jabon, kayu sengon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate, Kayu Hitam dll.
Sumber Sandang kapuk, kapas, nase dan rotan.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, sereh, daun bawang, daun cemangi, dengen, patikala, mangga, jarru/belimbing, jeruk asam, kunyit, merica, asam tuak, lengkuas, daun kedundung, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Cengkeh, Padi, Cokelat, Jagung, Sagu, Kayu, Rotan, Durian, Mangga, langsat, Rambutan, Cempedak, dll.