Wilayah Adat

Golat Naibaho

 Teregistrasi

Nama Komunitas Golat Naibaho-Siagian
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota SAMOSIR
Kecamatan Ronggur Ni Huta
Desa Sijambur
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Golat Naibaho
Kondisi Fisik
Batas Barat
Batas Selatan
Batas Timur
Batas Utara

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Menelusuri kembali silsilah, yang diwariskan dari generasi ke generasi, tidak begitu sulit bagi kelompok masyarakat Batak yang masih menjalankan hukum adat dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini, masyarakat adat di Golat Naibaho merupakan komunitas masyarakat adat yang dalam banyak hal masih menjalankan dan mengedepankan hukum adat, seperti dalam pengelolaan lahan dan tombak (hutan adat), penyelesaian konflik, dan dalam pelaksanaan upacara atau ritual-ritual adat. Sehubungan dengan hal tersebut, (silsilah) juga masih dipahami atau diketahui sampai dengan saat ini.

Berangkat dari sejarah, bahwa wilayah Bius Sitolu Hae Horbo yang berada di Samosir menguasai wilayah dari pinggir danau di Pangururan hingga ke Sijambur di Ronggur Nihuta. Guru Ni Ujur Naibaho yang merupakan turunana kedua dari Oppung Ganjang Namora Naibaho Siagian dari Lumban Siagian (Pangururan), kerap mengembalakan kerbau di Dakka Tua. Ditempat ini tumbuh daun keladi yang tanpa ditanam. Ia mengambil buahnya dan dibawa pulang ke Pangururan. Ia menerangkan pada orang tuannya bahwa keladi ini tumbuh di rawa sekitar sungai (jambur binanga). Sejak saat itu tempat pengembalaan kerbau itu bernama Sijambur. Akibat berkembangnya keturunan di Pangururan, Guru Ni Ujur ditunjuk oleh Silima Oppu (Siahaan, Sitakarain, Huta Parik, Sidauruk, Siagian) agar Guru Ni Ujur untuk pindah ke Sijambur.

“Tataring olatolat hudon panjaean, nga pulik paradatan be bius Sijambur” sejak itu Naibaho dengan hula-hulanya yakni Simbolon dan Sitanggang bersama-sama manosor ke Sijambur mengukuhkan parbiusan Sitolu Hae Horbo di Sijambur. Tanda harajaon ke tiga marga ini adalah masing-masing memiliki golat/tanah yang bernama golat jongjong dan golat barat… (Sketsa terlampir)

Sebagai salah satu marga yang baru saja manjae, Guru Ni Ujur Naibaho membuka perkampungan di Lumban Naibaho. Huta yang baru dibuka ini memiliki mual yang bernama Aek Tumpak yang menjadi tempat mandinya dan Aek Parongit yang menjadi tempat pemandian bersama.

“Hula hula di jabu, boru di balian”, marga Naibaho yang membawa serta hulahulanya marga Simbolon Sirimbang menjadi boru tano, kemudian memberikan hak untuk mengelola di golat Naibaho kepada Simbolon Sirimbang.

Adapun di Sijambur tempat-tempat pemukiman yang sudah dirajahon yakni : Lumban Puki, Sibuntuon, Lumban Siagian, Lumban Buntu, Lumban Timbul, Lumban Pande untuk boru Simbolon, Lumban Sirimbang, Lumban Tonga tonga, Lumban Siahaan. Bahkan hingga kini masih terdapat pemukiman yang sudah dirajai yakni Tapian Nauli, Pearaon/Sibatubatu. TEmpat persawahan di Golat Naibaho bernama Galung Bolak, Simardais, Sipoga, Pearongit, Raup. Sedangkan tempat perladangan berada di Paremean, Silapakora, Nahornop, Limutlimut dan Parsituduan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kelembagaan Adat

Nama Golat Naibaho
Struktur -

Hukum Adat

Tiap tahun harajaon dari marga-marga ditandai dengan petunjuk di ladang. Jika yang ditemukan burung berarti tahun itu merupakan tahun harajaon Naibaho, jika yang ditemukan adalah katak maka tahun itu merupakan harajaon Sitanggang, lalu jika yang ditemukan ular maka tahun itu merupakan kerajaan Simbolon.
Bius yang berasal dari marga Naibaho, Simbolon dan Sitanggang selalu bertemu untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan Bius Sitoluhaehorbo di tempat yang bernama Toguan di Lumban Naibaho. Tiap marga memiliki pemerintahannya sendiri. Marga Naibaho memiliki seorang Raja jolo yang marpande ke Pande Natolu, Raja Hoda marpandetu pande hoda, Raja Doli marpandeturdoli, serta mengangkar pangulu sebagai penganyom masyarakat.
Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan masyarakat di golat Naibaho.
1. Mangasease, adalah tradisi untuk mengambil hati parmahan habonaran (penggembala yang berusia dibawah 12 tahun) dan pengisi ladang. Melalui Pande, orang tua membawa makanaan kepada pengembala yang terdiri dari ikan porapora beserta pohul-pohul. Harapannya adalah agar “sinur pinahan, gabe na niula:. yang dibentuk
2. Martabartabar, adalah tradisi yang dilakukan saat terjadi wabah penyakit seperti kolera atau campak. Bius yang menginisiasi dengan melakukan tradisi martabartabar. Saat wabah terjadi mereka akan memotong kambing putih dan kulitnya digantung diatas pintu.
3. Mangarsak Lambe, adalah tradisi untuk menghalau musibah, seperti penyakit yang tak sembuh-sembuh. Mereka akan datang ke Pakirapan dengan membawa 3 ekor ayam yang berwarna merah, putih dan hitam serta membawa itak putih dan sagu-sagu dan berdoa disana.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 DRAFT RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT BATAK TOBA SAMOSIR Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen