Wilayah Adat

Mukim Pulau Nasi

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Mukim Pulau Nasi
Propinsi Aceh
Kabupaten/Kota ACEH BESAR
Kecamatan Pulo Aceh
Desa 1. Deudap; 2. Alue Reuyeueng; 3. Pasie Janeng; 4. Lamteng; 5. Rabo
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.729 Ha
Satuan Mukim Pulau Nasi
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut),Perairan
Batas Barat Laut Samudera Hindia
Batas Selatan Laut, Pulau Bunta dan Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada dan Pulo Bate, Banda Aceh
Batas Timur Laut, Gampong Meuraxa, Mukim Meuraxa Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh
Batas Utara Gampong Lampuyang, Mukim Pulo Breuh Selatan, Kecamatan Pulo Aceh

Kependudukan

Jumlah KK 447
Jumlah Laki-laki 831
Jumlah Perempuan 732
Mata Pencaharian utama Petani, Nelayan, Peternak, Pedagang, PNS (140 orang)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejak abad ke 12 sudah ada penghuni di Pulau Nasi hal ini menurut cerita yang disampaikan oleh almarhum H. Abdullah Usman Imeum Mukim Pulau Nasi periode 1944-1999 berdasarkan dokumen/benda dan cerita peninggalan dari Teungku Glee Cut secara turun-temurun (Tgk. Glee Cut juga mempunyai peninggalan lain berupa Al-Quran Keramat dan sebuah Rapai, Tgk. Glee Cut ini adalah salah satu di antara 25 orang utusan Raja Aceh), mereka berasal dari daratan Peukan Bada.

Orang yang pertama ke Pulau Nasi adalah mereka yang mendapat hukuman dari Raja Aceh, mereka berjumlah antara 10-20 orang. Orang-orang ini adalah masyarakat yang akan dihukum oleh Raja Aceh karena tidak membayar pajak, berjudi dan lainnya. Mereka lari ke sebuah pulau di sebelah utara Peukan Bada (Pulau Nasi) kemudian mendarat di Pantai Lhoek Reudeup Gampong Deudap. Namun karena mereka pelarian, maka mereka tidak berani menetap di Pantai Lhoek Reudeup karena Pantai Lhoek Reudeup sangat dekat/dapat terlihat dari pusat Kerajaan Aceh masa itu (Banda Aceh/Kuta Raja), dan tidak dapat melakukan kegiatan apa-apa di tempat tersebut karena jika membakar sampah sedikit saja maka akan terlihat ke Kuta Raja.

Lalu mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan mendaki gunung menuruni lembah hingga sampai di satu lembah yang banyak ditumbuhi rabo (sejenis rumput besar). Karena lokasinya sangat bagus lalu kelompok ini sepakat untuk menetap di lembah tersebut (yang di kemudian hari dikenal dengan Gampong Rabo), dan mereka pun lalu bercocok tanam di daerah tersebut dari bibit tumbuhan yang mereka bawa dari kampung mereka seperti bibit padi, jagung, kelapa dan lain-lain.

Setelah sekian lama menetap di Pulau tersebut (menurut cerita, sampai kelapa yang mereka tanam mulai berbuah atau sekitar lima atau enam tahun). Lalu mereka bermusyawarah tentang masa depan mereka, bagaimana rencana kedepannya karena hanya mereka yang ada di Pualu tersebut sedangkan keluarga mereka ada di Peukan Bada (daratan Aceh), akan tetapi jika saat ini mereka kembali ke Peukan Bada pasti mereka akan ditangkap oleh Tentara Kerajaan karena status mereka adalah para tahanan. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan kembali ke Peukan Bada dengan membawa serta hasil-hasil pertanian yang ada sebagai persembahan untuk Raja Aceh mereka akan langsung menghadap Raja untuk mengakui kesalahan dan memohon pengampunan dari Raja.

Karena niat baik orang-orang ini lalu Raja dengan kebijaksanaannya memberikan ampunan kepada mereka, lalu orang-orang ini memohon izin dari Raja untuk membawa serta keluarga mereka untuk kemudian mereka menetap di Pulau karena tanah di Pulau yang sangat subur dan sangat cocok untuk pertanian. Raja pun memberikan izin kepada orang-orang tadi untuk kembali dan menetap di Pulau Nasi bersama keluarganya.

Sekembalinya dari Kuta Raja, orang-orang tersebut masih menetap di lokasi semula (Gampong Rabo sekarang). Pada saat itu lokasi yang mereka tempati maupun Pulau itu sekalipun belum mempunyai nama, masih dengan sebutan “Pulo Jeih” (Pulau Itu).

Kehancuran suatu negeri biasanya disebabkan oleh fitnah, dan Raja sangat mendengar omongan dari orang-orang kepercayaannya di lingkungan dalam Istana Kerajaan terutama Panglima. Hingga pada suatu hari salah seorang pejabat penting di Kerajaan Aceh pada saat itu menyampaikan kepada Raja Aceh tentang kondisi Pulo Jeih yang telah lama tidak ada kabar beritanya dari saat mereka kembali lagi kesana bersama keluarga mereka mungkin sudah ada sekitar 10-15 tahun, mereka sudah membangun gampong di sana, sudah melakukan kegiatan pertanian di sana dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, mungkin kita harus mengontrol ke sana, karena kalau tidak mereka akan menggalang kekuatan untuk melawan Kerajaan dan melepaskan diri dari Kerajaan Aceh karena mereka yang melarikan diri kesana adalah orang-orang yang dulu melakukan pelanggaran di Kerajaan. Setelah melalui pemikiran yang panjang, Raja pun akhirnya membenarkan pernyataan tadi dan mengirimkan utusan ke Pulau untuk mengatur kehidupan orang-orang di Pulau.

Kemudian di akhir abad ke 12 Raja Aceh pada saat itu mengirimkan utusannya ke Pulau sebanyak 25 kepala keluarga ---ada informasi 25 orang tetapi ada juga yang mengatakan 20 orang, tetapi pihak narasumber lebih yakin kepada 25 kepala keluarga---. Yang dimaksud 25 KK di sini adalah orang-orang yang sudah berkeluarga dan mempunyai kemampuan khusus. Yang terdiri dari amirul mukminin (Kadhi Kerajaan – Tgk. Glee Cut), ahli pertanian, ahli pertukangan, ahli kelautan dan lain-lain, semua mereka itu tercakup ke dalam 25 KK tersebut di atas, sejak saat itulah mulai penyebutan nama Pulau tersebut dengan Pulo Peunasoe. Kata peunasoe atau mengisi diambil dari perintah Raja yang menyuruh utusannya untuk mengisi Pulau Nasi dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus untuk mengatur kehidupan bermasyarakat di Pulau Nasi. Sedangkan penamaan Pulo Peunasoe menjadi Pulau Nasi dilakukan pada masa penjajahan Belanda.

Utusan Raja yang berjumlah 25 tadi mulai mengatur kehidupan para warga yang telah terlebih dahulu menetap di Pulau, baik itu kehidupan sosial, pertanian, kelautan dan lain-lain. Dan sejak saat itu hubungan transportasi laut antara pulau dengan daratan Aceh mulai ada meskipun dengan durasi dua bulan, tiga bulan, sampai enam bulan sekali tergantung dari kondisi cuaca. Kepulangan para utusan ini ke Kuta Raja juga bertujuan untuk menyampaikan laporan kepada Raja Aceh pada saat itu tentang kondisi terakhir di Pulau Peunasoe. Namun pada saat itu masyarakat hanya mendiami kawasan Gampong Rabo sekarang.
Lama kelamaan karena berita tentang Pulo Peunasoe selalu rutin di terima oleh Raja, maka Raja pun berniat untuk mengunjungi Pulau Peunasoe, lalu dilakukanlah musyawarah di Kerajaan menyangkut rencana kunjungan Raja ke Pulo Peunasoe. Maka diputuskan sebelum kedatangan Raja ke Pulau maka terlebih dahulu akan dikirim seorang utusan Kerajaan untuk melakukan persiapan di Pulau Peunasoe. Utusan Raja tersebut juga mendarat melalui Pantai Lhoek Reudeup lalu baru menuju kawasan permukiman. Utusan Kerajaan yang diutus ke Pulau Peunasoe ini sifatnya hanya sementara untuk melakukan persiapan kunjungan Raja Aceh, sehingga setelah kujungan Raja diambil inisiatif untuk menempatkan seorang pejabat Kerajaan yang kemudian dikenal dengan nama Raja Kandang. Tugas utama dari Raja Kandang ini adalah memimpin dan mengatur tata kehidupan masyarakat di Pulau Peunasoe, juga menyiapkan penyambutan kedatangan Raja Aceh setahun sekali pada setiap Buleun Safa (Bulan Safar).

Raja Kandang ini kemungkinan besar berasal dari keturunan Raja Deli, hal ini diambil kesimpulan karena sudah ada beberapa kali ada orang dari Kerajaan Deli dulu yang melakukan ritual di Kuburan Raja Kandang, mereka melakukan ritual tabur bunga di Kuburan Raja Kandang lalu memberi makan seekor ayam jantan berbulu putih setelah itu ayam jantan tersebut dilepas dan naik ke atas Kuburan Raja Kandang dan lalu berkokok di atas kuburan maka mereka meyakini bahwa kuburan tersebut adalah adalah keturunan Deli. Lalu ayam tersebut dipotong dimasak dan disantap bersama-sama warga setempat. Saat mereka akan pulang mereka biasanya memberikan buah tangan untuk mesjid Al-Ikhlas Kandang berupa sajadah, tikar dan lain-lain juga sumbangan uang dan hal ini juga dilakukan pada Mesjid Deudap dan untuk Mesjid Deudap berlanjut sampai adanya tahun-tahun sebelum tsunami yang diberikan oleh salah satu pemilik Sultan Hotel Banda Aceh yang meyakini bahwa Raja Kandang tersebut adalah salah satu leluhurnya.

Batu nisan yang ada pada Kuburan Raja Kandang menurut cerita bukan berasal dari batu yang ada di Pulau Nasi dan bentuk nisan yang ada di Kuburan Raja Kandang sama dengan bentuk nisan bangsawan Kerajaan Deli, di Aceh yang bentuk nisannya sama dengan Nisan Raja Kandang adalah Nisan Putroe ijo yang ada di kawasan Peulanggahan, Banda Aceh. Salah satu ciri nisan bangsawan Deli adalah ada gambar kande di atasnya, hal ini sama dengan nisan Raja Kandang dan nisan Putroe Ijo dan ini lebih mempertegas lagi bahwa Raja Kandang adalah salah satu bangsawan keturunan Raja Deli yang mengabdi di Kerajaan Aceh.

Lalu kenapa catatan tentang Raja Kandang ini tidak ada? Sudah menjadi kebiasaan di Aceh atau bahkan di seluruh dunia bahwa catatan tentang orang yang meninggal itu dituliskan pada nisannya, pada nisan Raja Kandang di bagian kepala terdapat sebuah lobang segi empat dengan diameter kurang lebih 20x20 cm dan diyakini di situlah nisan Raja Kandang yang terbuat dari emas ditancapkan dan nisan tersebut kemudian hilang karena dicuri oleh Bangsa Spanyol namun dalam pelariannya kapal yang ditumpangi oleh orang Spanyol ini tenggelam di kawasan laut Deudap. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya penemuan jangkar dari kapal tersebut yang hingga saat ini masih ada di Deudap juga roda angen dari kapal tersebut, pasca tsunami di sepanjang Pantai Deudap juga banyak di jumpai pecahan-pecahan tembikar dengan berbagai jenis dan ukuran yang diyakini dari kapal Spanyol yang tenggelam tersebut dan tembikar tersebut merupakan harta kerajaan yang dicuri bersamaan dengan nisan tersebut. Menurut informasi dari orang-orang tua terdahulu memang di kawasan Laut Deudap tidak ada kapal lain yang yang dulunya pernah tenggelam karena daerah tersebut bukan lintasan pelayaran kapal dagang sebagaimana halnya Selat Malaka.

Raja Kandang ini memiliki staf atau pendamping Raja yaitu:
1. Teungku Di Bayu
2. Tuan Di Cinu
3. Ja Rabo
4. Teungku Di Buket

Saat Raja Kandang sudah menetap di Pulo Peunasoe ini ada sedikit sejarah yang hilang. Di aceh ada banyak kandang, kandang ini bermaksud/berfungsi yang pertama sebagai pertahanan karena adanya peperangan dan banyak pasukan pertahanan yang meninggal saat mempertahankan kandang tersebut maka banyak juga kandang yang berubah fungsi menjadi pemakaman.

Raja Kandang mengatur/membagi Pulau Peunasoe menjadi:
1. Gampong Rabo (Gampong yang pertama di Pulau Nasi).
2. Gampong Alue Riyeueng.
3. Gampong Deudap.
4. Gampong Lamteng.
5. Gampong Pasi Janeng.

Gampong Rabo adalah gampong pertama di Pulau Nasi, lalu dibuka Gampong Alue Riyeueng dan kemudian Raja Kandang menetap di perbatasan antara Gampong Rabo dan Gampong Alue Riyeueng, kemudian ada kawasan Gampong Deudap, yang dijadikan sebagai pintu masuk ke Pulau Nasi lalu Gampong Lamteng yang asal katanya berasal dari sebutan Lamtayeun karena bentuknya melengkung mirip dengan ‘’tayeun” yaitu sejenis peralatan dapur di Aceh. Seiring dengan pertumbuhan penduduk baru kemudian dibuka Gampong Pasi Janeng. Dari lima gampong tersebut hanya Gampong Rabo yang tidak memiliki kawasan laut, lalu Raja Kandang dengan kebijaksanaannya memberikan kawasan Pantai Demit menjadi wilayah Gampong Rabo supaya semua gampong-gampong di Pulau Nasi memiliki wilayah laot (laut) meskipun secara geografis sebenarnya Pantai Demit ini lebih dekat dengan Gampong Lamteng.

Raja Kandang mengatur pertahanan Pulau dengan benteng-benteng pertahanan yang di Pulau lazim disebut dengan Tuan, sebenarnya sebutan Tuan itu ditujuakan kepada orang-orang yang memimpin pertahanan tersebut namun lama kelamaan sebutan Tuan itu menjadi nama tempat di mana orang tersebut memimpin. Tuan-tuan tersebut adalah:

A. Tuan-tuan yang bertugas menjaga di sekeliling Kandang/Benteng Raja Kandang:
1. Tuan Di Cinu
2. Tuan Uteun Paya
3. Tuan Alue Asan
4. Tuan Di Seulabee

B. Tuan-tuan yang menjaga sekeliling pulau:
1. Tuan Di Buket
2. Tuan Di Nipah
3. Tuan Ujoeng Dungoen
4. Tuan Ujoeng Eumpee (tuan terbesar dan berhadapan langsung dengan Kuta Raja)

C. Tuan-tuan yang menjadi perwakilan di Pulo Breueh:
1. Tuan Di Payet
2. Tuan Di Kala

D. Perwakilan di Indrapurwa:
1. Tuan Di Pulo


Imuem Mukim Pulau Nasi Masa ke Masa

1. Imeum Man
Belum ada data pada masa ini.

2. Usman (Ayah H. Abdullah Usman)
Pada saat ini Aceh masih berperang melawan penjajah Belanda.

3. H. Abdullah Usman (tahun 1944-1999)
Ada beberapa kejadian pada saat kepemimpinan Imuem Mukim Abdullah Usman, di antaranya adalah:

• Kemarau panjang pada tahun 1962.
• Gempa Besar pada hari Rabu bulan Juni 1963 yang mengakibatkan rumah-rumah hancur dan ternak kerbau mati.
• Pada masa pemberontakan PKI tahun 1964 Imuem Mukim menginstruksikan masyarakatnya untuk menjaga pantai di Pulau Nasi supaya tidak masuk anggota PKI ke Pulau Nasi.
• Kemarau panjang terjadi lagi pada tahun 1981, akibatnya banyak tanaman cengkeh yang mati.
• Terjadi gempa pada hari Senin, tanggal 4 April 1983.
• Ada terjadi pelarian masyarakat Peukan Bada ke Pulau Nasi, kemudian bersama dengan masyarakat Pulau Nasi membuka kebun untuk menanam ubi dan disebut dengan “Lampoh Ruyong” terletak di Deudap dan Alue Reuyeueng, peristiwa ini terjadi pada masa peperangan dengan penjajah Jepang.

4. Abdan Aba (tahun 2001-2004)
Imuem Abdan Aba dipilih menjadi Imuem Mukim Pulau Nasi tahun 2001, sebelumnya menjadi Plt. Mukim Pulau Nasi tahun 2000 sampai 2001.

Pada tahun 2002 ada Program Gema Assalam (Gerakan Masyarakat Aceh Darussalam), program pemberdayaan mukim dari Pemerintah Provinsi Aceh. Kegiatan-kegiatannya antara lain untuk peningkatan ekonomi di Mukim Pulau nasi, seperti pemberian hand tractor, mobil angkutan, dan lain-lain.

Kemudian pada masa ini mulai dilakukan pemetaan partisipatif untuk memetakan batas wilayah Gampong Deudap dan Gampong Lamteng.

Tahun 2003 Presiden RI Megawati menetapkan Darurat Militer di Aceh dan kemudian pada tanggal 23 Mei 2003 TNI menyerang GAM di Mukim Pulau Nasi untuk menguasai pos-pos di Pulau Nasi.

26 Desember 2004 gempa dan tsunami menghantam Aceh, Pulau Nasi termasuk wilayah yang paling parah dihantam gelombang tsunami, dari lima gampong di Pulau Nasi hanya Gampong Rabo yang tidak terkena tsunami, empat gampong lainnya hancur akibat tsunami dan banyak korban meninggal, salah satunya Imuem Mukim Abdan Aba.

5. M. Jakfar (tahun 2005-sekarang)
Imuem Mukim M. Jakfar memimpin Mukim Pulau Nasi tahun 2005 menggantikan Imuem Abdan yang menjadi korban tsunami di Aceh.

Pada tanggal 15 Agustus 2005 terjadilah peristiwa yang mengharukan dan memerdekakan perasaan masyarakat yaitu perdamaian antara GAM dan RI yang ditandatangani di Helsinky, perdamaian ini dikenal dengan MoU Helsinky. Dengan adanya penandatanganan perdamaian ini turut dirasakan oleh masyarakat Mukim Pulau Nasi sebagai bagian dari Aceh yang sangat lama merasakan keamanan yang tidak kondusif. Dengan kondusifnya keamanan, penduduk dapat menggarap lahannya dengan aman dan Imuem Mukim Jakfar mulai melakukan penguatan kelembagaan di Mukim Pulau Nasi.

Beliau juga melanjutkan pemetaan partisipatif untuk memetakan batas wilayah Mukim Pulau Nasi. Kemudian dilakukan pembentukan Panglima Laot dan pendokumentasian Hukum Adat Laot Lhok Mukim Pulau Nasi pada tahun 2014.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Laot (laut), merupakan sumber utama mata pencaharian nelayan, dibagi dalam beberapa zona (konservasi, mata pencaharian tradisional 1 mil dari ujung terluar pantai/zona manfaat dan wilayah laut luar/zona bebas).
• Paya/rawa, merupakan sumber mata pencaharian nelayan dan petani.
• Blang (sawah), lahan yang ditanami padi untuk sumber pangan masyarakat.
• Pemukiman, tempat tinggal penduduk dan aktifitas sosial.
• Seuneubok (kebun/ladang), merupakan sumber pangan dan bumbu masak, umumnya pertanian holtikultura.
• Glee (gunung/bukit), termasuk di dalamnya hutan produktif dan hutan lindung.
Hutan lindung terbagi dua: hutan lindung pantai (uteun pasie ---istilah ini hanya ada di Pulo Aceh---) dan hutan lindung gunung. 
• Laot (panglima laot)
• Paya/rawa (petua teupin)
• Blang (keujruen blang)
• Pemukiman (keuchik dan imuem mukim)
• Glee dan seuneubok (petua glee)  

Kelembagaan Adat

Nama Mukim
Struktur Imuem Mukim Panglima laot Imuem Chik Tuha Peut Mukim Tuha Lapan Mukim Peutua Glee Keujrun Blang Keuchik
Imuem Mukim, melaksanakan fungsi pemerintahan dan adat tingkat mukim.

Panglima Laot, mengatur pengelolaan wilayah laut dan rawa.

Imuem Chik, mengatur dalam bidang keagamaan di tingkat mukim.

Tuha Peut Mukim, perangkat yang bertugas sebagai pengawas dan penasehat mukim.

Tuha Lapan Mukim, sebagai anggota musyawarah mukim, salah satunya adalah para keuchik di Mukim Pulau Nasi.

Peutua Glee, mengatur hukum adat di hutan dan kebun.

Keujruen Blang, mengatur dan mengelola hukum adat di sawah.

Keuchik (kepala desa), melaksanakan pemerintahan di dalam gampongnya.
 
Majelis Musyawarah Mukim 

Hukum Adat

Hari Pantang Melaut, yaitu hari-hari di mana seluruh nelayan Lhok Pulau Nasi berpantang untuk melakukan aktifitas mencari atau menangkap ikan di laut, dan pantangan ini juga berlaku bagi nelayan luar Lhok Pulau Nasi yang mencari nafkah di wilayah Lhok Pulau Nasi.

- Hari-hari Pantang Melaut: Hari Jumat berlaku pantang melaut selama satu hari mulai hari kamis setelah azan ashar sampai selepas salat ashar hari jumat untuk aktifitas pukat, jaring, memancing (termasuk dari darat) dan pengunjung wisata lainnya. Khusus untuk memancing ikan di laut boleh dilakukan setelah shalat jumat.

- Hari Raya Idul Fitri, pantang melaut selama tiga hari mulai dari azan ashar hari meugang sampai azan ashar hari raya ketiga.

- Hari Raya Idul Adha, pantang melaut selama tiga hari mulai dari azan ashar hari meugang sampai azan ashar hari raya ketiga.

- Hari Peringatan Tsunami, pantang melaut satu hari mulai dari salat subuh hingga salat magrib tanggal 26 Desember setiap tahun.

- Hari Kemerdekaan RI, pantang melaut setengah hari mulai dari setelah salat subuh hingga upacara kemerdekaan selesai pada tanggal 17 Agustus tiap tahun.

- Hari Khanduri Laot, pantang melaut selama satu hari mulai azan ashar sebelum khanduri laot sampai selepas salat ashar pada hari khanduri laot.

Pelanggaran terhadap hari pantang melaot merupakan pelanggaran terhadap Hukum Adat Lhok Mukim Pulau Nasi, karenanya dapat dikenakan sanksi sesuai kesepakatan masyarakat Mukim Pulau Nasi.

Aturan Penangkapan Ikan
Dilarang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bom pukat trawl, dilarang menangkap ikan dengan jaring yang menggunakan alat bantu lampu robot, dilarang menggunakan bom dan bius (meracuni ikan), dilarang menyelam menggunakan alat bantu kompresor, dilarang menggunakan rawen kareung (rawen kecil) dan dilarang melakukan penangkapan ikan dengan cara apa pun di dalam kawasan daerah perlindungan laut (DPL) di wilayah Lhok Mukim Pulau Nasi

Sanksi Adat
Apabila melanggar poin-poin dalam aturan Hukum Adat Laot dan aturan di dalam DPL-KKPD Lhok Mukim Pulau Nasi maka boat dan alat tangkap akan ditarik ke darat dan tidak boleh melaut selama tujuh hari.

Apabila ada boat yang kepadatan melanggar, maka akan dikenakan denda sebesar Rp500.000,-
 
Apabila ada nelayan Lhok Mukim Pulau Nasi yang hilang di laut, maka nelayan yang lain dalam kawasan Lhok Mukim Pulau Nasi wajib membantu/mencarinya maksimal tiga hari berturut-turut.

Apabila ada warga yang meninggal, bagi nelayan di teupin setempat tidak boleh melaut sebelum jenazah dikebumikan.

Chahroet adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seulangke untuk memastikan status seorang gadis di suatu gampông.

Masa Meulake adalah suatu proses untuk meminang dan memberikan tanda jadi (jok caram).

Tueng Lintoё adalah acara penyambutan pengantin laki-laki (lintoё baroё) di tempat pihak pengantin perempuan (dara baroё).

Intat Lintoё adalah acara mengantar pengantin laki-laki (lintoё baroё) di tempat pihak pengantin perempuan (dara baroё).

Tueng Dara Baroё adalah acara penyambutan pengantin perempuan (dara baroё) di tempat pihak pengantin laki-laki (lintoё).

Intat Dara Baroё adalah acara mengantar pengantin perempuan (dara baroё) di tempat pihak pengantin laki-laki (lintoё).

Baa Boh Kayee pada usia lima bulan kehamilan yang dilakukan oleh pihak lintoё ke pihak dara baroё.

Baa Bu yaitu prosesi adat yang dilakukan pada saat usia tujuh bulan kehamilan yang dilakukan oleh pihak lintoё ke pihak dara baroё.

Peucicap dan cukur rambut bagi bayi baru lahir di hari ketujuh sejak kelahirannya.

Peutreun aneuk adalah serangkai prosesi adat yang dilakukan pada saat bayi berusia tiga bulan atau lima bulan untuk memperkenalkan anak kepada dunia luar dengan membawa turun dari rumah ke suatu tempat yang dianggap suci. Sekalian dengan intat ayon (antar ayun) oleh pihak lintoё ke pihak dara baroё.
 
Apabila melanggar poin-poin dalam aturan Hukum Adat Laot dan aturan di dalam DPL-KKPD Lhok Mukim Pulau Nasi maka boat dan alat tangkap akan ditarik ke darat dan tidak boleh melaut selama tujuh hari.

Apabila ada boat yang kepadatan melanggar, maka akan dikenakan denda sebesar Rp500.000,-
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Pade (padi sawah), boh u (kelapa), coklat, ie unoe (madu), mangga, pisang, labu, sawo, ubi jalar, kacang-kacangan, jagung. Ikan laut lepas (layang, tongkol, ekor kuning, hiu). Ikan karang (kerapu, kakap merah dan putih, rambeu). Udeung (udang), biengkong (kepiting), lobster.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Cengkeh, pala, pineung, on ranup (sirih), ie unoe (madu), jahe, kunyet. on gaca, on capa, on seurune, on simpangge, on tungkat ali, on sijaloh, on rabőn, boh ranup uteun, boh capli buta, boh keumudee, boh pineung nyeen, boh muteue, on meurak, on beuraleun, on silingong. Kosmetik: On jeumpa rhout, breuh leukat, boh ceuko, jeundrang, on dan bak pisang abee, on siron, on mee,
Papan dan Bahan Infrastruktur Seumantok, barat daya, peureulak,bungo, kru eng, bayu, bak sikabu, bengkireng, kleu, runeue, naboek, peugeu, seribu naek, nibong, pinang, rumbia, koral, pasir laut, koral laut, koral sungai, batu gunung, batu kali,
Sumber Sandang Pandan pantai, bak iboih, bak ngom, barom, awee, daun rumbia, daun kelapa, nipah,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cabe, pala, lada, kunyit, cengkeh, pinang, asam sunti, jahe, asam jawa, boh limeng, boh muteu, kuyun cut, bak rheu, on teumuruy, on silingong, on kruet, boh lamkuweuh, boh u, cuka jok, boh keumiri,
Sumber Pendapatan Ekonomi Laut: Ikan karang (kerape cabang, bubara, kerape kabee,) telur penyu, udang, lobster, kepiting, cumi, gurita, lolak, teripang, nila, mujair, gabus, bandeng, lele, belut. Darat: Padi, kelapa, cengkeh pinang, pala, coklat, nilam, cabe rawit, batu cincin (kecubung & giok pancawarna), rotan, madu, durian,