Wilayah Adat

Polak Teteu / Tolou Loggo

 Teregistrasi

Nama Komunitas Tolou Laggo
Propinsi Sumatera Barat
Kabupaten/Kota KEPULAUAN MENTAWAI
Kecamatan Siberut Barat Daya
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 440 Ha
Satuan Polak Teteu / Tolou Loggo
Kondisi Fisik
Batas Barat Ulu Sungai Muri sampai Ulu Sungai Peipei
Batas Selatan Pulau Karamajat, Muara Sungai Maatu Barat, Sungai Masokut, Sungai Peipei.
Batas Timur Pulau Logui, Pulau Toimiang, Pulau Takleleu.
Batas Utara Sungai Paggu, Sungai Mabola, Sungai Muri

Kependudukan

Jumlah KK 154
Jumlah Laki-laki 340
Jumlah Perempuan 302
Mata Pencaharian utama Nelayan dan Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

pada awalnya komunitas adat Toluu Laggo ditemukan oleh suat kole saumanuk dan saudaranya oleh panganyak ebbu saumanuk, asal mereka di Simatalu dengan alasan mencari tempat bercocok tanam untuk menyambung kehidupan mereka. Sebelum penjajahan Belanda Toloulaggok sudah ada. Nama komunitas adat toloulaggok, dimana penemunya melihat bulan purnama yang kemerah-merahan, maka diberi nama Toloulaggok.

Ada beberapa suku yang masuk ke Toloulaggok untuk membuka perladangan yakninya : suku sareuru, suku sabola, suku sabaggula, suku samatobe, suku sabatti, suku sauddeinu, suku saumanuk, suku sakeletuk, suku saguluw, suku sailokkoat, suku siata teitei, suku sabele pangulu, suku sapuailoat, suku sarubei, suku samalelet, suku saobbai sagu, suku tatebburuk, suku sriguruk, suku sapojai, suku sakerebau, suku sasiripoula, dll. Asal mereka dari Bat kokok (bermukim dipinggir sungai kokok). Mereka membangun pondok masing-masing suku untuk tempat tinggal sementara, jadi setiap suku sepakat untuk membangun perkampungan dengan nama toloulaggok dan tidak ada perubahan nama hingga sekarang.

Nama-nama kepala kampung :

1. kepala kampung (alm) Mateus Salalayang Sabatti

2. kepala kampung Edi Bolot Saumanuk

3. kepala kampung Erminius Saereuru

4. kepala dusun Mrius Sakeletuk, baru terbentuklah pemerintahan desa

5. kepala dusun Bastian Sabola masuk program sosial anjuran dari dinas dipropinsi pada tahun 1984 untuk perumahan sosial, dan langsung pemekaran dusun menjadi dua dusun yakninya dusun Toloulaggok dan dusun Mgilek. Untuk dikelola diluar suku penemu tanah sebagai atas hak sudah terjadi jual beli (barter) dan beberapa aturan adat yang sah. Lalu masuklah pendidikan dari yayasan paroki tahun 1978, dan tidak lama kemudian tahun 1980an masuk Sekolah Dasar (SD) Negeri.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Onaja ( Rawa ) merupakan daerah yang cocok
untuk ditanami tanaman keladi dan sagu atau
sejenisnya, biasanya di oalah oleh akum ibu
- Suksuk ( dataran ) merupakan wilayah yang
biasanya cocok untuk ditanami tanaman muda dan
tua, seperti pala, pisang, ubi, dll
- Leleu ( Pegunungan ) merupakan wilayah
pegunungan atau daerah dataran tinggi yang cocok
ditanami seperti cengkeh, pala, gaharu, karet, dll
- Tinambu ( Perbukitan ) merupakan wilayah
perbukitan yang cocok ditanami tanaman tua atau
pun jenis tanaman lain yang bisa bermanfaat untuk
kebutuhan hidup seperti tanaman buah – buahan,

sayur-sayuran dan lain – lain
- Polak teteu: Tanah yang dikelolah dengan
musyawarah satu suku dan tidak mengabaikan hak
polak teteu (tanah leluhur). Terkait dengan
pengelolaannnya : Barang siapa yang meminta
secara prosedur adat dapat memilikinya dan dalam
bentuk barter juga atas kesepakatan suku lainnya.
- Polak koinong : tanah pribadi, tanah yang dimiliki
hak satu suku tidak boleh diganggu oleh suku lain.
- polak muntogat : Dikelolah secara turun
temurun atau tidak boleh diperjual belikan.
 

Kelembagaan Adat

Nama Sikautet Uma
Struktur Sikautet Uma Sipangunan (Sikerei) Sirimuri Anggota Suku
- Sikautet uma ( Bakkat Katsaila )

Sebagai penanggung jawab dan penentu utama terhadap kelangsungan hidup anggota uma atau anggota suku dalam umandaraingat

- Sipangunan ( Sikerei )

Berperan sebagai wakil Sikautet Uma Ynag bertugas sebagai pelaku atau pelaksana ritual adat

dan sebagai petugas mengobati yang sakit

- Sirimuri

Orang yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan didalam uma. Melengkapi semua kebutuhan dalam uma

- Anggota Suku

Merupakan orang yang ada didalam uma yang membantu menyediakan segala kebutuhan didalam uma.
 
Pengambilan keputusan harus didasari dalam bentuk musyawarah adat untuk menimbang dan memutuskan suatu persoalan. 

Hukum Adat

- hutan (leleu) : umumnya selalu ada kebebasan untuk mengelolanya tapi tidak boleh sistem tebang gundul dan diketahui sipemilik.
- suksuk (dataran) : sistem pengelolaan secara musyawarah untuk dijadikan perkampungan atau tempat bercocok tanam dan tidak untuk diperjualbelikan.
- rawa (onaja) : dikelola kaum ibu-ibu dengan sistem silih berganti dan tidak untuk dimiliki.
- pesisir (baruk) : dikelola untuk penanaman kelapa. 
Yang melakukan kesalahan atau yang melanggar aturan adat tetap diberi sanksi gantirugi dan denda.
 
Barang siapa yang selingkuh harus dikenakan sanksi atau denda. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan sagu Keladi pisang talas.
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Aileppet, Kainau', Mumunen, Bekeu, Sikopuk, Sigoisok, Muntei, umandaraingat, Manai obbuk, Kirit patiggoilok.
Papan dan Bahan Infrastruktur - Koka, Mansemi, Karai, Jining, Matatloisiat, Marsawa, Panese, atipat dan lain-lain.
Sumber Sandang - Baiko, Bake, Kulit gaharu, Pelepah sagu, tobe', suggunei, tobat leleu, onggaga.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu - Cengkeh, pala, pinang, kelapa
Sumber Pendapatan Ekonomi