Wilayah Adat

Ngata Pantapa

 Terverifikasi

Nama Komunitas Pantapa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan kinovaro
Desa Doda
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 4.000 Ha
Satuan Ngata Pantapa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Bulu (Gunung) Puncak Kamalisi bts Wilayah Ona (Desa Lewara) Kec.Marawola Barat Kab.Sigi
Batas Selatan Sungai matimpa Bts Wilayah Vau (Desa Balane) Kec.Kinovaro Kab. Sigi
Batas Timur Lembah Palu Bts Wilayah Duyu, Tanggiso, Taiparanggu (Kel.Duyu) Kec. Tatanga Kota Palu
Batas Utara Sungai Ta bts Wilayah Vaenumpu (Desa Denggune) Kec.Kinovaro Kab.Sigi

Kependudukan

Jumlah KK 401
Jumlah Laki-laki 1281
Jumlah Perempuan 1115
Mata Pencaharian utama petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pantapa adalah salah satu Sub komunitas masyarakat adat yang ada di wilayah ke adatan besar Kamalisi Sulawesi Tengah yang kini pada umumnya bermukim diwilayah lereng dan pegunungan Kamalisi.
Komunitas masyarakat adat Pantapa tersebut memiliki sejarah yang sama dan mereka hidup dari satu komunitas lainnya yang cukup besar di kamalisi secara adminitrasi berada di wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Madya Palu, bahkan wilayah adatnya kamilisi sampai kewilayah adminitrasi provinsi Sulawesi Barat.
Wilayah Pantapa berasal dari kebiasaan masyarakat yang pertama kali mendiami Kampung Tua bagian gunung kamilisi dengan cara menghangatkan diri dekat api di sebut NO TAPA. Sistem kepemimpinan di wilayah adat pantapa itu sendiri pemimpin tertinggi di sebut ntina.Masyarakat adat kamilisi memilih mogau dengan mosiromu (musyawarah) dan menempatkan mogau tersebut diwilayah yang ditunjuk oleh ntina

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pangale Viata: hutan adat kramat tdk bias di olah
Pangale: Hutan Lindung
Ova: Lahan Bekas Garapan dan di tinggalkan selama 10-15 tahun dan menjadi hutan kembali ditumbuhi kayu-kayu relatih kecil, suatu saat bias di olah kembali secara adat/arif
Pantalu: lahan hutan yang diperbolehkan dibuka sesuai aturan adat
Bonde: kebun
Ngata: pemukiman penduduk dijadikan ngata
 
1. Sistem penguasaan
Sumber daya alam di manfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahtetaraan dan di kuasai serta dikelola bersama secara adil untuk kesejahteraan rakyat. Dalam penguasaannya, sumber daya alam di kuasai dan di manfaatka oleh kelompok di mana semua orang mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasan yang di maksud di sini adalah penguasaan komunal. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama.Dalam prinsip penguasaan juga, Komunitas Kamalisi tidak tertutup kepada siapa saja yang ingin mengelolah Sumber Daya Alam yang ada di wilayah adatnya, dengan harus meminta izin atau memberitahukan /pemberitahuan lembaga adat.Tetapi melihat kenyataannya, hak-hak sumber daya alam secara adat, khususnya wilayah lembah dan pesisir wilayahnya telah mengalami perubahan. Hal ini di sebabkan oleh masuknya kelompok luar yang ingin menguasai tanah dengan memperkenalkan Masyarakat dengan bentuk material sehingga memotifasi Masyarakat untuk menjualnya. Selain itu juga di sebabkan oleh projek pemukiman lokal dan perusahaan-perusahaan yang menguasai sumber daya alam dengan skala besar. Hal paling mendasar dari penguasaan sumber daya alam tersebut adanya legalitas Negara terhadap sumber day agraria menjadi milik dan di kuasai oleh negara. Penjabaran ini telah menjadi alasan berbagai pihak yang ingin menguasai dan berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya alam di daerah tersebut.
2. Sistem Kepemilikan
Tanah dan Masyarakat hukum adat saling memiliki korelasi yang signifikan, ini menciptakan suatu hak untuk menggunakan, menguasai, memelihara sekaligus mempertahankannya. Hak-hak dan system kepemiliklah tanah di wilayah adat da’a juga seperti halnya beberapa wilayah adat yang ada disulawesi tengah. Kepemilikan tersebut di dasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di percayai oleh orang da’a bahwa tanah itu adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur” .
Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimiliki secara kelompok dan dimanfaatkan serta di atur penggunaan dan pengawasannya oleh kelompok. Hak perolehnya juga melalui kelompok artinya pada saat membuak lahan penggarapannya dilakukan secara kelompok. Jenis kepemilikan ini juga berkaitan dengan pembagian hasilnya. Jenis kepemilikan ini, dapat saja dimanfaatkan oleh individu yang ada didalam kelompok tersebut atau orang lain yang di luar kelompok garapan tersebut.dengan melalui:
1. Meminta izin dan mendapat persetujuan dari kelompok tersebut
2. Harus memberikan sedikit hasil pertanian dari tanah tersebut sesui dengan kerelaan untuk kelompok pemilkinya.
3. Tidak di perbolehkan menanam tanaman jangka panjang.
4. tanah tersebut tidak dalam masa istrahat.
• Tanah Individu : Tanah yang dikuasai dan dikelolah oleh perorangan (individu)
• Tanah keluarga: Tanah yang dikuasai dan dikelolah bersama-sama dalam satu keluarga
• Tanah Komunal : Tanah yang dikelola bersama-sama oleh komunitas (semua orang dalam komunitas ikut mengelola)
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Ngata (kampung)Lembaga/pemerintahan Adat Ngata (Kampung) adalah sebuah bentuk pemerintahan yang otonom, dimana Totua dipercayakan langsung oleh (Todea) rakyat Ngata (Kampung) menjadi seorang pemimpin spiritual yang mengatur dan menyelesaikan segala masalah yang menyangkut adat
Struktur 1. Ntina 2. Magau 3. Pabicara 4. Suro
Ntina: Orang Tua Adat yang spiritual terpercaya dan bijak
Magau: pemimpin adat
Pabicara: membantu kepemimpinan adat berfungsi juru bicara
Suro: suruhan pimpinan adat /kaki tangan pimpinan adat
 
Token: keputusan yang diambil dari perwakilan masyarakat (ketua adat dan beberapa tokoh) untuk menentukan pemimpin adat biasanya dilakukan di hutan keramat.
 

Hukum Adat

- Aturan yang berlaku jika masyarakat yang membuka lahan hutan terlarang di pegunungan tanpa sepengetahuan totua ada buluna akan dilakukan sanksi
- Jika selesai panen akan dilakukan upacara adat (Vunja) syukuran adat
Nobanta merupakan upacara syukuran sebelum dan sesudah melakukan panen
 
ATURAN
Vunja batam pangana : pesta panen
Vunja bovatu buaya : acara adat untuk sang pencipta
Mompakoni : buka lahan atau menebang pohon
 
SOMPO
Tindakan Pelecehan Sangsi 6ang Di Keluarkan Oleh Pelaku Yaitu Tovau 3 Ekor Bisa Bertambah Tergantung Dari Pelecehan Yang Di Lakukan Tersangka
GIVU
 Sala kana: nakono mpu’u. sangsi yang harus di keluarkan yaitu 2 ekor kambing
 Sala sumba: di beri peringatan
 Sala balaki:2 ekor ayam
 Givu ntomo:5 tovau, pingga 24,ose 2 karung
 Selingkuh: kain 25 m, kembali dua kalilipat sesuai hasil pinangan pada saat pernikahan
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbonhidrat: ubi, jagung, talas Protein: kacang tanah, kacang panjang buah : mangga, nangka, sarikaya, nenas, pisang, kelapa, sayur-sayuran : paku, kelor, tango
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Daun Sirikaya : Obat Penurun Panas - Panuntu : Obat penyakit dalam - Kumis Kucing : obat kencing batu - Daun Siri : Obat Mata Kecantikan yaitu daun manuru,
Papan dan Bahan Infrastruktur Rumbia, daun kelapa : untuk atap rumah (adat) Batang Pohon Johar, Akasia untuk tiang rumahadat.
Sumber Sandang Kayu nunu- di jadikan baju adat
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyi, sere, tumbavani, kemiri, tava mpia, pia, tava lemo
Sumber Pendapatan Ekonomi Kelapa, kemiri, Jagung, Ubi, Nenas

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Sigi Nomor 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen