Wilayah Adat

Laman Kinipan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Komunitas Adat Laman Kinipan
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota LAMANDAU
Kecamatan Batang Kawa
Desa Kinipan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 16.133 Ha
Satuan Laman Kinipan
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Desa Batu Tambun: Nanga Sei Banamang, Nanga Salinsing, Batang Banamang, Tapang Upui Koris, Banamang Kanan, Hulu Banamang, Bunus Sei Liuk, Anak Sei Liuk, Tapang Bahonang, Hulu Sei Saboki, Hulu Sei Sabayun, Gonting Sapunguran, Hulu Sei Halabian, Paha Sarayungkan
Batas Selatan Desa Batu Tambun: Panumu Nanga Sei Banamang, Sei Maruai, Nanga Sei Buah, Nanga Sei Sajalayatan, Toluk Pauh, Batu Kabaringkan Bangkai, Kaki Panamaran, Durin Cupil, Pamatang Bukit Bonga, Hulu Toin Lubu Buntar, Nangan Sei Kamalung, sei Batu Kulang, Anak Sei Bulin, Batang Sei Taru, Nanga Sei Sansibung, Nanga Sei Tamaja
Batas Timur Desa Bayat: Nanga Sei Ayauan Silikan
Batas Utara Desa Ginih: : nanga sei pulau, dukuh dulah, sei langkang, nanga sei tapang, durian tagilis, hulu balaban, natai banuah simpa, gonting sigang,k pamatang bukit sadawa kangkang, sei bayun, sei jurung kuning, pamatang payahunan, hulu panyahunan, sei sampayan Desa Benakitan: hulu sei kun, natai penyapat

Kependudukan

Jumlah KK 198
Jumlah Laki-laki 331
Jumlah Perempuan 312
Mata Pencaharian utama Bertani Tradisional dan Berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah berdirinya Laman Kinipan berawal dari sebuah kerajaan Sarang Paruya, yang berdiri sebelum Masehi sekitar tahun ±1522, pada saat itu dikatakan tanah mula tumbuh karosik mula ada. Adapun kerajaan Sarang Paruya terletak dipenghuluan sungai Batang Kawa, conon kerajaan tersebut mempunyai seorang Raja bernama Santomang dengan permaisuri bernama Laminding, nama Laminding juga menjadi nama sebuah riam yang sangat indah sekarang menjadi obyek wisata masyarakat Kecamatan Batang Kawa. Adapun Kerajaan sarang paruya dihuni oleh penduduk asli borneo (suku dayak tomun) kerajaan Sarang Paruya merupakan kerajaan yang mempunyai kekayaan sangat besar dan karena kekayaanya tersebut maka kerajaan sarang paruya di kenal di mana-mana di seluruh kerajaan Nusantara dan senantiasa menjadi tujuan berlayar bagi para pedagang atau para saudagar kaya. Conon dalam sejarah, saudagar yang berlayar pertama kali ke kerajaan sarang paruya adalah Patih Nan Sabatang dari pagar ruyung, pulau sumatera barat, patih Nan Sabatang memberi nama bendera kapalnya yaitu sorai sarampun yang diambil dari nama anak dari istrinya di pulau sumatera bernama sorai sarampun/raja biak, adapun bendera tersebut masih tersimpan di desa kudangan sebagai barang pusaka. Sejarah pelayaran Patih Nan sabatang menuju kerajaan sarang paruya melalui selat bangulut tepatnya di bukit kujut/ tanah tama terletak di daerah desa patarikan, bertambat lagi di Bukit sampuraga yang terletak di penghuluan sungai belantikan, dari bukit sampuraga bertambat lagi di pulau batu Tikus, yang merupakan sebuah pulau kecil berada di sebelah ula/hilir laman kinipan, selanjutnya bertambat lagi di bukit lobur di seberang desa liku, selanjutnya bertambat lagi dibukit marunting batu aji dan akhirnya bertambat di pongkalan parahu mahiba bilai kekerajaan sarang paruya. Patih Nan Sabatang berlayar membawa dua suku, yaitu suku minang kabau dan suku malayu Ia tinggal di kerajaan sarang paruya dalam waktu yang cukup lama dan pada akhirnya ia meminang seorang dayang kerajaan sarang paruya bernama dayang ilung. Karena patih nan sabatang memperistrikan seorang dayang dari kerajaan sarang paruya dan karena patih nan sabatang memiliki kepandaian dan keberanian maka raja satomang mengangkat patih nan sabatang menjadi patih di kerajaan sarang paruya. Adapun dayang ilung memiliki lima orang saudara perempuan yang pertama bernama dayang Sarodang, yang kedua bernama dayang Caromin, yang ke tiga bernama dayang Agih dan yang ke empat bernama dayang Campan. Setelah sekian lama Patih Nan Sabatang menikah dengan Dayang Ilung maka lahirlah seorang putra bernama Cenaka Burai maka menetaplah Patih Nan Sabatang di kerajaan sarang paruya, Patih Kayak Kakal adalah keturunan salah satu suku yang dibawa oleh Patih Nan Sabatang yaitu suku minang kabau yang mamangul/ membuat laman Kudangan. Seiring berjalanya waktu maka teringatlah Patih Nan Sabatang dengan anak dan isterinya yang pertama di pulau sumatera, karena rasa rindu dengan istri, anak dan kampung halamanya akhirnya Patih Nan Sabatang memutuskan kembali ke Pagar Uyung, pulau sumatera bersama anaknya Cenaka Burai sedangan isrinya dayang ilung memutuskan untuk tinggal di kerajaan sarang paruya. setelah sekian lama tinggal di pagar ruyung maka dewasalah Canaka Burai anak dari istrinya Dayang Ilung. Cenaka Burai sudah mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang ibu asli dari dari kerajaan Sarang Paruya, dengan ijin ayahnya Patih Nan Sabatang, maka canaka burai memutuskan berlayar ke Kerajaan Sarang Paruya untuk menengok dan bertemu dengan ibunya tercinta dayang ilung, sebelum Canaka Burai berlayar ke kerajaan sarang paruya ayahnya memberikan cincin dan lukisan sebagai tanda cinta kasih yang tulus darinya ibunya. maka berlayarlah Canaka Burai ke kerajaan Sarang Paruya, berita kedatangan cenaka burai telah sampai ditelinga Dayang Ilung maka Dayang Ilung pun datang langsung kekapal anaknya setelah Ia sempai kekapal Canaka Burai Dayang Ilung mengatakan bahwa akulah Ibumu yang sekarang kamu cari-cari maka Canaka Burai langsung mengambil cincin dan lukisan yang diberikan ayahnya, untuk menentukan kebenaran dari perkataan ibu tua tersebut maka cenaka buraipun langsung mencobakan cincin itu di ibu cari ibu tua tersebut tapi ternyata cicin itu tidak cocok lagi dengan jari manisnya dan raut wajah Dayang Ilung pun tidak sama lagi dengan kecantikan raut wajah yang ada dalam lukisan itu. Maka Canaka Burai pun langsung mengatakan kepada Dayang Ilung bahwa dia bukanlah ibunya, Ia mengatakan bahwa ibunya sangat cantik seperti dalam lukisan yang ada padanya, tetapi dayang ilung tetap memaksa untuk naik ke kapal anaknya canaka burai, canaka burai langsung memukul tangan dayang ilung dengan palu lalu mengatakan, tidak, kamu bukan ibuku. mendengar perkataan cenaka burai tersebut maka sedih hati dan menangislah dayang ilung sambil menangis maka ia meludah kelantai sambil menyingkapkan tapihnya dan berkata, kalau kamu memang bukan anaku maka selamatlah kamu dalam pelayaran kembali ke Sumatera tetapi kalau memang kamu anakku yang keluar dari dalam rahimku maka kamu akan mendapat celaka. Akhirnya Canaka Burai pun melepaskan tali kapalnya dan langsung berlayar kembali ke sumatera, setelah beberapa saat meninggalkan pongkalan parahu mahiba bilai maka awan dilangitpun menjadi gelap disertai datangnya angin badai yang sanggat kencang menerjang kapal Canaka Burai. Maka menyesallah cenaka burai dan mengakui bahwa Dayang Ilung memang ibunya, lalu terdengarlah teriakan Canaka Burai ibu...... ampunilah kesalahan anakmu ini tetapi Dayang Ilung mengatakan tidak anakku ludahku sudah jatuh kelantai tidak mungkin kujilat kembali. Akhirnya kapal Canaka Burai pun pecak serta hancur berkeping-keping diterjang anggin badai kencang. Conon badan kapal bagian haluan menjadi batu berada di bukit Sampuraga, garamnya menjadi batu kakorakan di ula/ilir laman Patarikan, ayam dan papan parahunya menjadi batu di dalam sungai ginih. Seiring berjalannya waktu maka pecahlah Kerajaan Sarang Paruya, sehingga penduduk kerajaan Sarang Paruya membuat pemukiman/ laman baru yang bernama laman Satabang, sebagai pemimpin laman Satabang pertama adalah raja bungkal hulu sungai, raja bungkal hulu sungai mempunyai saudara Pangoma, anak dari Ladan dan Tulang Kambing adapun bungkal memiliki tujuh orang istri dan dikaruniai empat puluh sembilan orang anak dan telah berpencar kemana-mana. setelah sekian lama menetap di laman satabang maka terjadilah perselisihan antar Bungkal dan Pangoma perselisihan tersebut terjadi akibat dari binatang peliharaan diantara mereka saling mendatangi areal pemukiman dan akhirnya mereka saling membunuh binatang tersebut, untuk menghindari pertikaian diantara dua saudara tersebut maka mereka membuat parit untuk pembatas wilayah pemukiman dari dua saudara yang sampai saat ini masih terlihat didaerah hulu satabang. Namun diakibatkan perselisihan dua saudara tersebut terus berlanjut akhirnya Pangoma memutuskan untuk pindah bersama anak dan istrinya ke daerah jantur di kaki bukit banyawai, ia menetap dan melanjutkan hidupnya disana. Seiring berjalannya waktu maka meninggalah Bungkal sebagai pemimpin Laman Satabang, dan digantikan oleh anaknya Rata, Rata mempunyai istri Ruba. Ruba melahirkan Panisa dan Panisa menggantikan Rata ayahnya sebagai pemimpin Laman Satabang, panisa mempunyai anak yaitu Patih Panyang,k dan Patih Panyang,k mempunyai anak bernama Pahulu, Pahulu beristrikan Omi, kerena wabah penyakit sampar/ kacacar yang melanda masyarakat di Laman Satabang,k, Pahulu langsung mamangul laman yang diberi nama laman Onyu maka pindahlah pahulu, anak dan istrinya kelaman onyu untuk menghindari wabah penyakit tersebut diatas. Sebagai pemimpin pertama di laman onyu adalah Labihi Sasap Singa oleh kerena Singa membuat pelanggaran maka Singa digantikan oleh Kahingai pada saat kepemimpinan Kahingai maka laman Onyu dipindah yang sekarang disebut laman Kinipan. adapun pemimpin laman kinipan yang pertama adalah Koling, koling cucu dari Kahingai anak dari Tikus, Koling diganti oleh anaknya Jangkan, Jangkan digantikan oleh anaknya Songkar, Songkar digantikan oleh anaknya Untung,k, Untung,k digantikan anaknya Bungah, Bungah diganti oleh saudaranya Tinduh pada saat kepemimpinan Tinduh lah sejarah sudah mulai tercatat Tinduh menjadi Kepala Kampung Kinipan pada Tahun 1932 selanjutnya Tinuh diganti oleh Bisa Pada Tahun 1943 Bisa digantikan oleh Phaing pada Tahun 1944 sampai Tahun 1952 Phaing, digantikan oleh Yohanes Jaman dari tahun 1952 sampai tahun 1971 Yohanes Jaman digantikan Oleh Yunias Ampun dari tahun1972 sampai tahun 1995 Junias Ampun digantikan oleh Mathias Wilson ditahun 1996 mengundurkan diri dari jabatan kepala desa dan dilanjutkan oleh Herman Jali sabagai PJS sampai dengan tahun 1998, Herman Jali digantikan oleh Effendi Buhing dari tahun 2001 sampai tahun 2004 Effendi Buhing mengundurkan diri dari jabatan kepala Desa dan digantikan oleh Yosep Sedan selaku PLH sampai tahun 2005, dan digantikan oleh omas jayang Alpin Nyahoe dari tahun 2005 sampai tahun 2011 omas jayang Alpin Nyahoe digantikan oleh omas patinggi Emban dari Tahun 2011 sampai tahun 2017.

Sejarah Singkat Kepemimpinan Kepala Adat Laman Kinipan
Omas Pati Indunt
Omas Kanuruhan Siman
Omas Karoma Seren
Omas Cinaga Amut
Omas Gajah Mada Golau
Omas Tana Edmon Guna
Omas Radin Yunias Nasip
Omas Patih Alpius Ijun
Omas Nata Yonas Pentan
Omas Suka Kuin Tibung
Omas Karya Thomas Lidin
Omas Ganda Elyakin Pangkong

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tempat berladang/ huma atau bercocok tanam
Tempat keramat
Hutan adat/ rima
Mandulang/ menggambil emas secara tradisional
Perkebunan (kobun)
Bekas ladang (babas)
Pemukiman (laman)
Dukuh (orang yang bermukim diladang)
Panyaduan (orang yang berburu, beramu untuk mencari hasil hutan/ Tempat lahan usaha) 
1) Hak yang melekat pada Komunal Hak yang melekat pada komunal (orang banyak/bersama) adalah masyarakat hukum adat disebut komunitas yang menciptakan ikatan berdasarkan kepentingan bersama. Hak yang melekat pada seluruh komunitas atau orang perorang masyarakat hukum adat, yang dimiliki secara komunal atau bersama seluruh warga masyarakat hukum adat yang di atur oleh hukum adat di dalam wilayah adat, contoh : Rima adalah wilayah yang dikelola secara bersam-sama oleh seluruh masyarakat adat.

2) Hak yang melekat pada kekeluargaan Hak yang melekat pada kekeluargaan adalah hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan antara tiap entitas (pribadi) yang memiliki asal-usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya dan memiliki sistem kekerabatan termasuk keturunan dan hubungan kekerabatan manusia melalui pernikahan di dalam wilayah adat, contoh hak yang melekat pada kekeluargaan :
1. Pohon madu/tapang,k di tandai dengan menancapkan kayu ulin dipohon madu tersebut atau yang disebut juga janta
2. Kayu ulin ditikap/ ditandai dengan nama seseorang/ nama keturunan.
3. Pohon damar ditobuk atau ditandai dengan melukai bagian kayu damar.
4. pohon durian wakap/warisan

3) Hak yang melekat pada Individu Hak yang melekat pada individu adalah hak seseorang dalam segala sesuatu yang harus didapatkan oleh setiap orang yang telah ada sejak lahir bahkan sebelum lahir. Hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu, kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat dan kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan (sesuatu hal yang harus dilaksanakan) di atur dalam hukum adat dan wilayah adat. contoh babas dan kebun.  

Kelembagaan Adat

Nama Mantir Adat
Struktur 1. Kepala Adat 2. Wakil Kepala Adat 3. Sekretaris Kepala Adat
Kepala Adat: kepala Adat adalah perangkat adat pembantu Domang ditingkat desa/kelurahan, berfungsi sebagai peradilan adat yang berwenang membantu Domang Kepala Adat dalam menegakan hukum adat Dayak di wilayahnya.

Wakil Kepala Adat: wakil kepala adat bertugas membantu kepala adat dalam melaksanakan peradilan adat di wilayahnya.

Sekretaris Kepala adat: Sekretaris kepala adat, bertugas sebagai administrator dalam kelembagaan adat mencatat dan merigistrasi pengaduan perkara masyarakat adat. 
Pengambilan keputusan dalam sistem peradilan adat didasari dari hasil mendengar keterangan saksi dan bukti-bukti serta keterangan saksi yang ahli dalam hukum adat. selanjutnya Domang dan Mantir Adat melaksanakan musyawarah untuk membuat keputusan. Pada saat musyawarah berlangsung para pemangku adat juga bisa melibatkan tokohtokoh adat lainya baik laki-laki maupun perempuan. Setelah musyawarah dan membuat keputusan tahap akhir dari proses Peradilan Adat adalah pengumuman keputusan, pengumuman ini wajib dihadiri para pihak, para saksi, tokoh-tokoh masyarakat laki-laki/perempuan. Pembacaan eputusan dilaksanakan dalam sidang yang terbuka untuk umum pihak yang dinyatakan bersalah dikenai denda/kamuh besaranya disesuaikan dengan peraturan adat. sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat dalam peradilan adat , maka keputusan penyelesaian perkara itu dicatatkan dan diarsipkan dalam sebuah buku induk registrasi perkara adat. contoh pengambilan keputusan dalam sidang adat :
1. Pakara/sidang adat adalah proses pengambilan keputusan adat yang dilakukan oleh mantir adat dengan cara musyawarah/ sidang terbuka untuk umum yang melibatkan para pemangku adat baik laki-laki maupun perempuan.
2. Kamuh golap adalah keputusan yang dilakukan oleh kepala adat tanpa melalui sidang adat/ pakara  

Hukum Adat

Apabila dengan sengaja memasuki wilayah komunitas masyarakat hukum adat Kinipan tanpa seijin Masyarakat Hukum Adat Kinipan, maka sanksi bagi yang melanggar :
1. Tanpa ijin untuk pertama kali memasuki wilayah adat Kinipan, maka dikenakan sanksi/denda Hukum adat berupa nilai Kamuh 100 ( Seratus ) Buah Balanga yang nilai dengan uang Rp. 25.000,000,- ( Dua Puluh Lima Juta Rupiah)
2. Tanpa ijin untuk kedua kalinya memasuki wilayah adat laman kinipan, maka dikenakan sanksi/denda hukum adat berupa kamuh senilai dua (2) kali lipat dari nilai kamuh yang pertama yaitu nilai kamuh 100 x 2 yang dinilai dengan uang sebesar rp.50.000.000,- ( lima puluh juta rupiah )
3. Apabila pihak yang dimaksud telah berturut-turut melakukan tindakan pelanggaran tanpa ijin, maka pihak komunitas masyarakat hukum adat laman kinipan akan memberikan tindakan tegas dengan tidak akan memberikan ijin bagi pihak yang bersangkutan untuk melewati wilayah adat kinipan.
4. Ketika ada seseorang melakukan pencurian di rima seperti pengambilan madu, pohon ulin, pohon damar yang sudah di beri tanda (artinya sudah menjadi hak milik orang lain) akan di kamuh berdasarkan hukum adat yang berlaku. dengan sanksi/denda senilai 12 (dua belas) balanga dengan nilai uang Rp.3.000.000 ( tiga juta rupiah )
5. Tuba roba kara pampuh:
- barang siapa manuba dengan akar tuba/racun atau sejenisnya pada musim amparroba maka kena denda/kamuh atau hukupan setingi-tingginya satu buah tajau dengan nilai uang Rp.50.000 (lima puluh ribu rupiah)
- barang siapa menangkap ikan dengan menggunakan tenaga listrik/setrum maka dikenakan denda/kamuh dua buah balanga dengan nilai uang Rp.500.000 ( lima ratus ribu rupiah )
- barang siapa mamanjat/manik buah mamuar tapang/tangiran atau pohon madu milik orang lain dikenakan denda/kamuh setingi-tingginya lima buah tajau di nilai dengan uang Rp.250.000 ( dua ratus lima puluh ribu rupiah )
 
Aturan adat telah dituangkan dalam sebuah buku hukum adat, yang mengatur kepentingan umum baik itu hukum adat hudup, maupun hukum adat mati yang terdiri dari 10 BAB dan 50 Pasal 
1. Barang siapa memaksa seseorang untuk menikah dengan orang lain yang mengakibatkan orang yang dipaksa tersebut bunuh diri, maka kena denda/kamuh setinggi-tingginya 20 (dua puluh) buah balanga diuangkan sebesar Rp.5.000.000 ( Lima Juta Rupiah )
2. Ranggang corai sarak rorak, barang siapa melakukan perceraian atau mencerai istri/suami tanpa alasan atau mau cerai maka kena denda/kamuh atau hukupan satu buah ramaung diuangkan sebesar Rp.500.000 (lima ratus ribu rupiah) dengan tetap berpedoman pada surat perjanjian pemenuhan hukum adat.
3. Perselisihan dan perkelahian, barang siapa berkelahi dengan sengaja membawa senjata atau mengancam dengan kata-kata maupun dengan senjata atau dengan caci maki maka orang tersebut didenda/kamuh lima buah tajau diuangkan Rp.250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)
4. barang siapa dengan sengaja naik kerumah orang lain menantang berkelahi maka kena denda/kamuh lima buah tajau diuangkan Rp.250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan 1. Padi 2. umbi - umbian seperti : Singkong/ ubi dan Ketela/ kapila
Sumber Kesehatan & Kecantikan 1. Akar kuning Untuk Obat Ginjal 2. akar tantunggu biawak obat ambien dan disentri 3. pasak bumi obat sakit pinggang 4. akar putar wali untuk obat kurap dan gatal-gatal dan malaria 5. akar banatu untuk bedak, sabun dan obat Gatal- gatal 6. sarang semut untuk obat tumor dan kanker
Papan dan Bahan Infrastruktur - Kayu Ulin untuk pondasi rumah, lantai rumah dan atap rumah - Kayu Bangkirai untuk dinding rumah, kasau rumah - Kayu Meranti untuk dinding lapis rumah dan falapon rumah.
Sumber Sandang - Kayu Kapua, kayu torap dan kayu pudu untuk membuat pakaian, alat-alat rumah tangga seperti tanggui/payung, kampit dan tas - Raton dipergunakan untuk anyaman
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Laja kayu, sorai kayu, cengkeh kayu, daun ubai, daun lompi, daun kalurai, daun kalopu
Sumber Pendapatan Ekonomi Hasil Padi, hasil buah – buahan, pertambangan rakyat, hasil kayu serta hasil perikanan sungai dan darat.