Wilayah Adat

Wanua Lempe To Behoa

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Behoa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Tengah
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 223 Ha
Satuan Wanua Lempe To Behoa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wanua Hanggira
Batas Selatan Wanua TNLL
Batas Timur Wanua Doda
Batas Utara Wanua Bariri

Kependudukan

Jumlah KK 104
Jumlah Laki-laki 208
Jumlah Perempuan 200
Mata Pencaharian utama Bertani (sawa, kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Awalnya Wilayah Behoa hanya dihuni 1 komunitas yang tinggal di perkampungan Rano./ Wanua Rano dijadikan sebagai perkampungan lama Behoa. Wanua Rano pertama kali dibangun oleh sepasang suami istri dan dibantu oleh kedua pengikutnya. Suaminya bernama Kapita dan Istri bernama Katuno berasal dari Sigi Biromaru serta kedua pengikutnya adalah orang yang ada dui wilayah Behoa. Mereka bersama-sama membangun perkampungan Rano sebgaai pemukiman nuntuk membentuk kelompok keluarga. Seiring berjalannya waktu, masyarakat di Wanua Rano semakin banyak dan telah mengenal cara hidup berkelompok. Pada tahun 1500 telah dilakukan ekspedisi oleh Albert Kruyit yaitu pada tahun 1800 atau abad ke-20. Penjelajah tersbeut hanya mendapat kedua orang suami istri sedang membelah kayu. Penjelajah tersbeut mengambil sepenggal kayu dan bertanya kepada suami istri mengenai aktivitas membelah kayu dalam bahasan Behoa. Suami istri menjawan bahwa belahan kayu tersbeut adalah Behoa. Akhirnya penjelajah menyimpulkan tempat itu bernama Behoa dan nama itu dikenal hingga saat ini. Bukti lebih jelas keberadaan Behoa yaitu adanya kuburan lama suami istri yang tidak dikebumikan, keberadaanya masih utuh di atas tanah tanpa mengalami perubahan. Setelah wafatnya suam istri itui, masyarakat Rano mulai berpindah untuk membentuk perkampungan baru. Pada saat itu sepasang suami itri tersebut sudah dipandang oleh masyarakat Rano sebagai pemimpin atau orang yang sangat dihormati. Kematian mereka membuat bebrapa keluarga dari Wanua Rano memilih membangun pemukiman baru. Pada waktu yang bersamaan, Belanda mulai masuk dan membentuk satu distrik pemerintahan dengan membangun beberapa pemukiman di wilayah Behoa. Kedatangan BElanda di abawah pimpinan Albert Kruyit bertujuan untuk menyebarkan agama Kristen Protestan. Beberapa kampung dikoordinir oleh gerombolan Belanda. Perpecahan pertama dari Wanua Rano yaitu Wanua Longkea, lalu masyarakat Wanua Rano menyebar ke Wanua Katu dan Podondia yaitu Wanua Hanggira dan Bariri. Sebagian msayarakat Katu perpindah ke Wanua Doda.
Wanua Lempe merupakan salah satu dari wilayah Behoa. Orang Lempe dalah orang Longkea. DAri Longkea kemudian berpindah ke mata alo. Bukti pemukiman orang lempe adalah Makam Magaoe Torontiku. Kapita adalah pemimpin pada saat itu kemudian digantikan oleh Umana Mama yang bernama Pangka. Beberapa tahun kemudian terjadi pergantian pemerintahan. Pemimpin-pemimpin pada saat itu adalah:
Umana Lengi
Umana Kui
Umana Tapi
Umana Rawa
Umana Kalanda (Rambai)
Hintou Mentara (Umana Tena)
Doha.
Beberapa tahun silam kemudian terjadi perubahan kependudukan. Perpindahan masyarakat LEmpe dari perkampungan lama yaitu pada tanggal 20 Oktober 1946. Perpindahan tersebut diakibatkan oelh beberapa faktor Tula:
1. Penyakit Sampar yang membunuh semua orang lempe pada saat itu
2. Musim lapar
3. Tidak adanya kelahiran bayi sehingga penduduk tidak bertumbuh banyak.
Pemimpin pada saat itu adalah R. Mentara. Kemudian beralih kepemimpinan pada Ermus Mentara (Umana Manto). PAda tahun 1984-1993 pemerintahan beralih kepada Charles Papuling. Pada tahun 1994-1995 dipimpin oleh Amir Abdulah (Umana Pohu). Tahun 1996 pemerintahan diteruskan oleh Due Mbalea (Umana Mari). Pada tahun 2001-2006 Umana MAri digantikan oleh MAskot Mentara (Umana Mira). Pada tahun 2006-2015 dipimpin oleh Rolex Waro.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kinta: lahan pemukiman warga
Wanua: perkampungan
Bonde: lahan persawahan masyarakat
Hinoe: Lahan perekebunan masyarakat
Wana: hutan rimba yang tidak pernah terjamah
Kakau: hutan
Bulu: gunung
Pada: padang rumput
Lambara: tempat perkumpulan hewan (kerbau, sapi, anoa)
Gimpu: kandang hewan
Masora: tempat persinggahan para musafir zaman dahulu
Bangkeluho: perkampungan lama
Halu: hulu mata air
Uwai Kana: air sungai kecil
Halutawewe: Hutan tempat pemukiman lama sekaligus lahan peternakan kerbau
 
Berdasarkan ketentuan dan kesepakatan lembaga adat, pemerintah desa dan lembaga konservasi desa (LKD), TNLL, yang mengacu pada kesepakatan lembaga adat robo behoa (se kecamatan lore tengah)
1. Wilayah kompo: diperuntukkan sebagai wilayah kayu bahan ramuan, rotan, damar, dan lokasi perburuan tradidional
2. Wilayah Wangao; wilayah perlindungan sumber air untuk kebutuhan pengairan sawa dan sumber air bersih bagi masyarakat desa Bariri, dan tidak dibenarkan ada aktivitas di sekitar wilayah ini
3. Wilayah Buleli: sumber air untuk pengembangan pertanian di hamparan pada tanga, sehingga tidak dibenarkan ada aktivitas di sekitar wilayah ini.
 

Kelembagaan Adat

Nama Hondo Ada Wanua Doda: Pemangku adat
Struktur Ketua, sekretaris, bendahara, anggota lembaga adat wanua disebut: Tu'una/ katu ada: ketua LAD Topoanti Laluta (sekrtaris LAD)
1. Hondo ada: berkedudukan sebagai pemangku adat yang berfungsi memutuisakan dan menetapkan sanksi pada gelar perkara berdasarkan hukum adat.
2. Galara: berfungsi sebagai penutur jalannya peradilan. Galara adalah lembaga yudikatif yang memberikan input dan saran dan pertimbangan segala keputusan agar tercapai mufakat. Galara juga bertanggung jawab terhadap jalannya perkara serta bertugas menjadi penghubung/ pemediasi apabila terjadi konflik di tingkat wilayah.
3. Topoanti Laluta/ Tomompahawedarita: pemediasi perkara di tingkat desa dimana setiap pelaku perkara akan mengkomunikasikan kronologis masalahnya melalui interogasi yang dilakukan oleh lembaga adat yang ditugaskan untuk menggali informasi perkara. Informasi yang didapatkan akan disampaikanm pada saat gelar perkara.
4. Sekretaris: mendokumentasikan aturan adat.
5. Bendahara: mengelola anggaran sesuai hasil peradilan.
6. Anggota: membantu kegiatan dan tugas-tugas kelembagaan adat.
 
musyawarah adat 

Hukum Adat

Mapotoa: upacara untuk memulai pekerjaan
Mapokana: upacara panen yang dilakukan persatu keluarga
Mokatue'i: pesata menyelesaikan aktivitas bertani selama satu tahun yang dilakukan serentak
Mande Pare (acara pemanenan) yang pelaksanaannta dilakukan se kampung.
 
waya: aturan ini ditegakkan pada seseorang yang melakukan tindakan kriminal
Ada Tampo (adat tanah): apabila seseorang melakukan pelanggaran baik tindakan kriminal maupun persinahan, maka pelaku akan dikenai denda ada tampo. Denda tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan kesucian tanah.
Potinuwu'i: pengembalian kerugian bagi seorang yang dikriminalisasi.
denda: sanksi yang disesuaikan pelanggaran pelaku
 
Giwu: Bila seseorangh terbukti melakukan persinahan, pencurian, kriminalisasi mendapatkan sanksi denda sesuai dengan perbuatannya. Pelaku tersebut akan membayar sesuai aturan adat yang berlaku. Mekanisme pembayaran melalui giwu (denda) yang telah disesuaikan dengan pelanggaran pelaku tersebut dan akan dibayar dengan kerbau atau babi 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan pertanian: Sawa dan kebun (padi, jagung, ubi kayu, ,merica) Tumbuhan hutan: luku, owu, banga, tangkidi tumbuhan padang: huhu japi, tambata baru: air enau (minuman khas)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Bada (kunyit), lolo gambu (pucuk jambu), talipai, pudisese, rumpu karu, tangkada, hiha, wawaro, rumput tomate, bimbingkalo
Papan dan Bahan Infrastruktur Palili, uru (cempaka), kalise, taliti, beta'u ( bintangor), apuni (batang paku raksasa), kapa, tala ( bambu), uwe (rotan), tawiri ( kayu besi), dopi, pepolo, belante kuhe
Sumber Sandang jenis pakaian: ranta (pakaian dari kulit kayu) koli bea, koli kate
Sumber Rempah-rempah & Bumbu bada: kunyit kula: jahe pangka bau: daun kemangi ponda: daun pandan arogo hare: daun sere sederei: seledri pia: bawang palola: tomat marisa: rica
Sumber Pendapatan Ekonomi bertani, berternak