Wilayah Adat

Kampung Melaban Pedini

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Kebahan
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Kayan Hulu
Desa Tapang Menua
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.053 Ha
Satuan Kampung Melaban Pedini
Kondisi Fisik Dataran,Perairan
Batas Barat Nanga Masau
Batas Selatan Ng. Mentibar/Serawai
Batas Timur Manaluk
Batas Utara Kayan

Kependudukan

Jumlah KK 94
Jumlah Laki-laki 188
Jumlah Perempuan 198
Mata Pencaharian utama bertani & menoreh

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada jaman dahulu Nanga Sungai Pedini yang disebut Laman Nanga Pedini dihuni oleh orang Dayak Kebahan yang berjumlah 15 kepala keluarga. Di tempat ini mereka mendirikan Laman Botakng panyakng yang dipimpin oleh pak Lansi dan temenggung Sadu. Kurang lebih 40 tahun lamanya mereka tinggal di laman Nanga Pedini. Di laman ini mereka telah memiliki tanah kepulang (tanah kuburan) atau tanah posar petunu yang tidak boleh diladangi apalagi dirusak. Tanah kepulang tersebut terletak di sebelah kanan mudik sungai Masau atau persis muara sungai Pedini. Hingga kini bukti keberadaan tanah kepulang tersebut masih ada yaknisandung dan temaduk. Sandung adalah tempat menyimpan tulang belulang para leluhur dan temaduk adalah patung yang terbuat dari kayu menyerupai bentuk manusia, dibuat untuk menghormati dan mengenang orang yang sudah meninggal dunia.
Sekitar tahun 1954, tiga orang penduduk Laman Nanga Pedini yaitu Tagai Lombok, Nyampai Sayak dan Panji Ekak berladang ke Melaban. Mereka membuat langkau (pondok) uma (ladang) di ladangnya masing-masing. Setelah tiga tahun berladang di tanah Melaban, mereka bertiga sepakat membuat sebuah teratak berbentuk rumah betang. Lama kelamaan semakin banyak orang yang mengikuti mereka bertiga berladang di Melaban.
Pada tahun 1958, terjadi musibah yang luar biasa di Nanga Pedini, hampir setiap hari ada saja orang yang meninggal karena penyakit muntaber. Pada waktu itu, semua orang berusaha menyelamatkan diri dari wabah itu dan pindah dari Laman Nanga Pedini, sekitar 8 kepala keluarga pindah ke Melaban. Akhirnya di Melaban semakin bertambah penduduknya hingga menjadi sebuah kampung. Untuk memimpin kampung, penduduk memilih Rebuk sebagai kepala kampung. Kampung ini diberi nama kampung Melaban Pedini yang dipimpin oleh Hardimin sebagai kepala dusun. Melaban adalah nama jenis kayu sedangkan Pedini adalah nama sebuah sungai.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

pemukiman, tanah karoba, gupung kepulang, gupung kaloka, pita’, tempalai, babas, agokng, ladang, rimba dan karet.
 
Kepemilikan suatu wilayah dalam masyarakat suku Dayak Kebahan di Tapang Menua berdasarkan kepemilikan individu dan kepemilikan bersama dalam satu keturunan yang disebut KEROROS atau SAKOROS. Keroros menjadi tali pengikat satu keturunan penjaganya disebut lawang. Keroros dapat berpindah ke orang lain apabila keturunan pemiliknya menjualnya kepada pihak lain. Biasanya pembagian hasil penjualannya diberikan kepada seluruh keturunan pemilik baik yang berada di kampung maupun yang sudah tidak tinggal di kampung. Apabila tanah keroros dimiliki tanpa sepengetahuan seluruh pemiliknya oleh seseorang, maka ia dianggap mencuri dan dikenai hukuman adat 20 real dan tanam tumbuh didalamnya diganti.

Dalam pengelolaan sumber daya alam, terutama mengenai batas tanah untuk lokasi berladang sengketa sesama warga masyarakat biasa terjadi. Jika terjadi sengketa, proses penyelesaianya biasanya dilakukan secara mufakat antara pihak yang bersengketa, jika dengan mufakat tidak membuahkan hasil maka batas yang menjadi sengketa dibagi dua kepada pihak yang bersengketa sehingga masing-masing mendapat bagian yang sama, tetapi apabila tidak putus juga bisa melakukan sumpah adat.
 

Kelembagaan Adat

Nama ketemenggungan Tapang Menua
Struktur Temenggung Kepala Dusun RT
Temenggung = pengambil keputusan di tingkat desa
Kepala Dusun = pengambiil keputusan di tiingkat dusun
RT = pengambil keputusan di tingkat RT 
Mekanisme pengambilan keputusan urusan ketemenggungan mulai dari tingkatan paling kecil adalah ketua RT, apabila keputusan adat tidak selesai naik ke kepala dusun jika tidak putus di kepala dusun baru naik ke temenggung. Saat ini sudah ada wakil temenggung di tiap-tiap kampung. 

Hukum Adat

Tanah pemali & gupang sulap 
gawai adat tutup tahun
- adat membangun rumah
- adat berladang
 
Tanah Karobah

Disebut Tanah Karobah karena di lokasi tersebut pernah ada (ditemukan) orang yang meninggal. Orang yang meninggal ini tidak dikuburkan di tempat ditemukan melainkan di lokasi lain yang diperuntukan untuk tanah kepulang (kuburan). Lokasi ini sebenarnya tidak boleh diladangi, kalaupun ada orang yang mau berladang disitu, ia harus mengadakan ritual adat Ngumpan Tanah dengan perlengkapan adatnya adalah: satu ekor babi seberat 30 kg untuk ngumpan dalam tanah, satu ekor ayam untuk ngumpan dalam air dan membuat kalongkakng. Kalongkakng yang diigantung diatas tanah untuk memberi makan yang di atas tanah disebut kalongkakng buko sedangkan yang dikubur dalam tanah (disebut rancak) untuk memberi makan yang di dalam tanah dan di sungai.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sintang 12 Tahun 2015 Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen