Wilayah Adat

Kampung Mering

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Ut Danum
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Ambalau
Desa Buntut Purun
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.211 Ha
Satuan Kampung Mering
Kondisi Fisik Perbukitan,Perairan
Batas Barat Dusun Buntut Purun
Batas Selatan Desa Buntut Sabon
Batas Timur Dusun Pahangan
Batas Utara Desa Menantak

Kependudukan

Jumlah KK 30
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama berladang dan menoreh karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dusun ini berada di sebelah kanan mudik sungai Mentomoi. Nama pemimpin pertama adalah Maku' yang beranakkan Laka, lalu Laka beranakkan Liang, Liang beranakkan Lanying, Lanying beranakkan Suling, Suling beranakkan Okak, Okak beranakkan Siak, Siak peranakkan Dakun, Dakun peranakkan Singam, lalu Singam peranakkan Anum. Dan Anum inilah yang membuat kampung Mering. Lalu di sebelah kiri mudik sungai Mentomoi ada lagi sebuah keluarga yang bernama Perang Nyakai yang menurunkan anak pertama bernama Jaran, Jaran melahirkan anak yang bernama Sohpai, Sohpai melahirkan Kehunoi, dan Kehunoi melahirkan Panjan. Dan panjan ini juga berperan serta dalam membentuk kampung Mering ini.
Awal mulanya kampung ini bernama Tabai Baruk yang dipimpin oleh Raden Behe, lalu pindah ke hulu, sebelah kanan mudik sungai Mentomoi dan kampung ini dinamakan Tabai Panjang. Sesudah itu kampung ini dipimpin oleh Singa Sarung, lalu di gantikan oleh Singam. Setelah Singam ini digantikan oleh anaknya yang bernama Anum, setelah itu digantikan oleh Pandung. Lalu setelah masuk masa kepala kampung, kampung ini dipimpin oleh Daruk. Lalu kampung ini dipindahkan lagi ke kiri mudik sungai Mentomoi hingga sekarang, dan bernama Karangan Mering.
Kampung ini disebut kampung Mering di ambil dari kata Karangan Mering, yaitu karangan yang ada di pangkalan Mering.
Dari rumah betang inilah yang membuat tempat untuk mengambil garam yang hingga sekarang disebut Sohpan Sungai Tonyuk, yang dihilirnya ada tempat yang disebut Hangan(tempat mengambil garam).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Ladang, kebun karet, tembawang, kuburan 
Kolektif, individu dan keturunan 

Kelembagaan Adat

Nama ketemenggungan Adat Serawai-Ambalau
Struktur Temenggung Ketua Adat Masyarakat
Temenggung = Membicarakan dan mengambil keputusan dalam perkara adat
Ketua Adat = sama dg temenggung,tetapi di tingkat dusun
 
Proses dari tingkat dusun, jika tidak dapat diselesaikan baru naik lagi ke Temenggung nya. 

Hukum Adat

aturan mengenai ini termuat dalam buku Adat Serawai-Ambalau Bagian Kedua Puluh Delapan
Tentang Melestarikan Lingkungan Hidup

Pasal 42 Ayat 1-5
 
Termuat dalam Buku Adat Serawai-Ambalau 
Tentang Perkawinan (Adat Koruh)
Bagian Kesatu
Usia Kawin

Pasal 2

1. Barang siapa yang akan melaksanakan perkawinan harus sudah mencapai batas usia :
a. Pria serendah-rendahnya 19 tahun.
b. Wanita serendah-rendahnya 16 tahun.
2. Barang siapa yang akan melaksanakan perkawinan harus terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis dari orang tua/walinya.
3. Dilaksanakan secara terang dan tunai.
4. Pernikahan dinyatakan sah bila dilaksanakan menurut adat perkawinan ini atau menurut agama yang dianutnya.
5. Telah bertunangan.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sintang 12 Tahun 2015 Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen