Wilayah Adat

Sadei Rejang Juru Kalang Kelurahan Topos

 Teregistrasi

Nama Komunitas Rejang Juru Kalang Kelurahan Topos
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota LEBONG
Kecamatan Topos
Desa Topos
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.556 Ha
Satuan Sadei Rejang Juru Kalang Kelurahan Topos
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat Desa Suka Negeri
Batas Selatan Desa Talang Baru
Batas Timur Kecamatan Lebong Selatan
Batas Utara Desa Tik Sirong ( Bandar Agung )

Kependudukan

Jumlah KK 473
Jumlah Laki-laki 745
Jumlah Perempuan 781
Mata Pencaharian utama Petani dan Perkebunan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kelurahan Topos merupakan salah satu pemukiman tertua yang ada di Kabupaten Lebong dari Marga Juru Kalang. Marga ini merupakan salah satu dari 4 Marga ( Petulai ) Suku Rejang. Asal usul suku Rejang bermula dari abad ke XII-XIII atau pada saat itu masyarakat suku Rejang dipimpin oleh seorang Ajai.
Pada abad ke XIV, menurut riwayat datanglah utusan dari kerajaan Majapahit yang berjumlah 4 orang yang pada saat itu dikenal dengan sebutan Bikau ( Biku ) atau Paderi Budha.
Alasan memilih utusan dari golongan Paderi Budha adalah sebagai usaha untuk mengembangkan pengaruh Kerajaan Majapahit dengan cara yang lebih elegan. Keempat Bikau tersebut akhirnya sampai di Renah Sekelawi, karena kearifan,kesopanan dan kesaktian keempat Bikau tersebut tidak lama kemudian dipilihlah oleh keempat kelompok masyarakat ( Petulai ) untuk menjadi pemimpin mereka. Keempat Bikau tersebut adalah :
1. Bikau Sepanjang Jiwo yang menggantikan Ajai Bitang
2. Bikau Bembo yang menggantikan Ajai Siang
3. Bikau Bejenggo yang menggantikan Ajai Begelan Mato
4. Bikau Bermano yang menggantikan Ajai Tiea keteko
Setelah dipimpin oleh keempat Bikau tersebut, Renah Sekelawi berkembang menjadi daerah yang makmur dan produktif dengan penghasilan utama di sector pertanian.
Pada saat itu juga kebudayaan mereka semakin jelas dan terkenal dengan abjad Ka-ga-nga.
Pada abad ke XIII, masyarakat Kelurahan Topos dan sekitarnya diserang oleh wabah penyakit yang sangat ganas sehingga banyak merenggut jiwa masyarakat. Menurut ramalan ahli Nujum setempat yang menyebabkan datangnya musibah wabah penyakit tersebut adalah Seekor Beruk Putih yang bernama Benuang Sakti dan berdiam diatas sebuah pohon yang besar ditengah hutan. Untuk mencari jalan keluar atas musibah tersebut maka Keempat Bikau itu bersepakat untuk mencari kayu tersebut di tengah hutan dan segera untuk menebangnya. Setelah membagi tugas masing-masing mereka berpencar kesegala penjuru hutan dan akhir nya rombongan Bikau Bermano menemukan pohon besar yang mereka cari, dengan secepat mungkin mereka pun menebang pohon tersebut, namun usaha mereka untuk menebang pohon tersebut tidak berhasil, karena semakin ditebang pohon tersebut semakin membesar hingga rombongan Bikau itu merasa tidak mampu. Pada saat itu muncul lah rombongan yang terakhir yaitu Bikau Bembo dan oleh para Bikau lainnya diceritakan lah bahwa pohon tersebut tidak bias ditebang karena semakin ditebang pohon tesebut semakin membesar.
Dalam riwayatnya ketika rombongan Bikau Bembo bertemu dengan ketiga rombongan Bikau lainnya ditempat yang ditemukan pohon besar tersebut ternyata diatas pohon itu ada Beruk Putih yang bernama Benuang Sakti yang melontarkan kata-kata dalam Bahasa Rejang “ Pro Pah Kumu Telebong “ yang artinya di sini kiranya Saudara-saudara berada. Sejak saat itu Renah Sekelawi berubah nama menjadi Lebong.
Setelah mendengar cerita dari ketiga Bikau tersebut maka Bikau Bembo mengajak ketiga Bikau lainnya untuk melakukan Tarak ( Bertapa ) untuk meminta petunjuk kepada Sang Hiang ( yang maha kuasa ) untuk menebang pohon tersebut. Setelah bertarak keempat Bikau tersebut mendapatkan petunjuk kalau pohon itu dapat ditebang dengan cara dibawah pohon tersebut digalang/ditopang oleh Tujuh orang Gadis yang masih remaja.
Setelah itu mereka pun bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatu nya dan mereka pun mencari akal supaya ketujuh gadis tersebut tidak menjadi korban atau mati tertimpah oleh pohon besar itu dengan cara membuat parit.
Mereka pun mulailah menebang pohon tersebut dan benar saja pohon tersebut menimpah ketujuh gadis yang di buat sebagai penggalang namun ketujuh gadis tersebut terselamatkan oleh parit yang dibuat untuk melidungi mereka.
“ Peristiwa yang diriwayatkan diatas dijadikan awal dari nama Petulai-petulai mereka sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan dalam menebang pohon tersebut.
Petulai Bikau Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui atau Tubai, asal kata dari Bahasa Rejang “ Berubeui-ubeui “ yang berarti berduyun-duyun.
Petulai Bikau Bermano diberi nama Bermani asal kata dari Bahasa Rejang “ Beram Manis “ yang berarti Tapai Manis.
Petulai Bikau Bembo diberi nama Juru Kalang asal kata dari Bahasa Rejang “Kalang “ yang berarti Galang.
Petulai Bikau Bajenggo yang diberi nama Selupuei asal dari Bahasa Rejang “ Berupeui-uoeui “ yang berarti Bertumpuk-tumpuk.

Dan sejak itu lah Renah Sekelawi bernama Lebong dan terbentuklah Rejang Empat Petulai yang menjadi intisari dari Suku Rejang. Begitu pun dengan Marga Juru Kalang seiring dengan perjalanannya Ajai Siang digantikan oleh Bikau Bembo. Dan kemudian Bikau Bembo menikah dengan anak Ajai Siang dalam memimpin Juru Kalang.
Setelah era kepemimpinan Bikau Bembo ( para Bikau ) maka digantikan lah oleh keturunan berikutnya ( masa kepemimpinan Rio ) yaitu Rio Menaen.
Zaman Kemerdekaan
Pada tahun 1965 masa pemberontakan G 30 S PKI di madiun, pada masa yang sama timbul lah gerakan gerakan Komunis diLebong. Pada saat itu masyarakat tidak ada yang melawan secara fisik namun dengan cara mengucilkan rombongan dari pergaulan sehari-hari.
Pada tahun 1963 – 1968 terjadi kelaparan yang sangat menyengsarahkan masyarakat atau lebih dikenal dengan nama Penceklik sehingga masyarakat memakan jagung untuk bertahan hidup.
Pada tahun 1972 terjadi kemarau panjang yang mengakibatkan kelaparan dimana-mana.
Pada tahun 1973 dibentuknya pemasangan patok TNKS yang pada prosesnya pihak Balai TNKS tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang ada dipinggir hutan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Wilayah Kelolah Masyarakat
2. Wilayah aktivitas
3. Wilayah Hutan Adat
4. Wilayah Hutan Larangan
 
Individu dan Komunal 

Kelembagaan Adat

Nama Rejang Juru Kalang Topos
Struktur 1. Ketue Sadei 2. Penggawa 3. Ketue Kutei 4. Pelimo
1. Ketue Sadei adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin Sadei ( Desa )dan sekaligus merangkap menjadi Ketua Adat. Ketue Sadei berhak melegelkan sebuah keputusan melalui musyawarah adat.
Penggawa adalah Wakil dari Ketue Sadei, Penggawa memiliki hak untuk melegalkan sebuah keputusan didalam musyawarah adat melalui izin dari Ketue Sadei.
Ketue Kutei adalah orang yang dipercayai oleh 4 Keluarga/clan untuk membela nya didalam kasus kasus tertentu di musyawarah adat. Ketue Kutei hanya berhak membela keluarga/clan yang diwakili nya.
Pelimo adalah orang yang dipercaya untuk menjaga wilayah adat dan memimpin upacara-upacara adat. Seorang Pelimo tidak dipilih atau ditunjuk oleh masyarakat, tetapi akan muncul dengan sendirinya atau lebih biasa factor keturunan.
 
Musyawarah Adat 

Hukum Adat

1. Larangan membuka membuka hutan di hulu sungai besar, karena dapat mencemari aliran sungai.
- Sanksi untuk aturan adat ini adalah membayar denda uang adat dengan nilai Rp 25. 000,00, tergantung dengan luas wilayah yang dibuka, melakukan penanaman kembali disekitar aliran hulu sungai.
2. Larangan membuka hutan yang sudah pernah dibuka walaupun sudah lama ditinggal, karena hutan tersebut dianggap sudah ada yang memiliki.
- Sanksi untuk aturan adat ini adalah membayar denda adat berupa uang dengan nilai Rp 25. 000,00 tergantung dengan kerugian yang dialami, melakukan musyawarah adat untuk meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat
1. Larangan mangambil atau memanfaatkan aliran sungai secara individu dengan pemanfaatan yang berlebihan.
- Sanksi untuk aturan adat ini adalah membayar denda adat berupa uang dengan nilai Rp 25. 000,00 tergantung dengan pengambilan atau pemanfataan nya.
 
Hukum Adat Cepale
Cepale adalah Hukum Adat yang berkaitan dengan pranata sosial. Hukum Adat Cepale terbagi atas :
a. Cepale Tangean
Cepale Tangean adalah perbuatan yang menyakiti atau merugikan orang lain, sehingga orang tersebut tidak senang dan melaporkan kejadian tersebut ke lembaga Adat.
Contoh Hukum Adat Cepale Tangean adalah Memukul orang, memegang perempuan dan mencuri dalam skala kecil.
b. Cepale Matei
Cepale Matei adalah perbuatan yang membohongi atau memfitnah orang,melihat sesuatu yang dilarang oleh adat. Biasa nya Cepale Matei langsung berkaitan dengan Cepale Mulut.
c. Cepale Mulut
Cepale Mulut adalah pembicaraan yang menyakiti orang lain dan orang tersebut tidak senang sehingga melaporkan kejadian tersebut ke Lembaga Adat, membohongi atau memfitnah orang lain.
- Sanksi Hukum Adat Cepale adalah membayar sanksi adat berupa uang dengan nilai Rp 25. 000,00 tergantung dengan kesalahan yang diperbuat, jika kesalahan hokum adat Cepale Tangean seperti mencuri dalam skala kecil tapi berulang kali maka akan diarak keliling kampung, diadili di Lembaga Adat.
 
Pada tahun 2010 pernah diterapkan hokum adat Cepale Tangean karena mencuri barang secara berulang kali, maka di dalam musyawarah adat diputuskanlah orang tersebut untuk diarak keliling dusun, dengan harapan orang tersebut tidak mengulangi perbuatannya lagi, selain itu dikenai denda adat berupa uang dengan nilai Rp 250.000,00.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Padi, Ubi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Selaseak, Jahe,
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Meranti, Kayu Jabon, Kayu Sengon, Kayu Besi
Sumber Sandang Rotan, Bambu, Pandan, Lidih Kelapa,
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, Lengkuas, Jahe, Lada,
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Padi,

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang 4 Tahun 2017 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen