Wilayah Adat

Kampung Cenayan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Cenayan
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SEKADAU
Kecamatan Nanga Mahap
Desa Cenayan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.563 Ha
Satuan Kampung Cenayan
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Desa Landau Kumpai
Batas Selatan Botong Kualan
Batas Timur Desa Nanga Engkulun
Batas Utara Desa Landau Apin

Kependudukan

Jumlah KK 797
Jumlah Laki-laki 1760
Jumlah Perempuan 1758
Mata Pencaharian utama Bertani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat adat yang sekarang mendiami Kampung Cenayan menyebut dirinya Masyarakat Adat Suku Dayak Koman, yang merupakan salah satu kelompok masyarakat adat yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Koman yang hilirnya bermuara di Sungai Sekadau, Kecamatan Nanga Mahap.
Berdasarkan cerita lisan yang masih diyakini oleh mereka di Kampung Cenayan, bahwa mereka berasal dari Tampun Juah yang terletak di hulu sungai Sekayam Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau, dekat perbatasan Indonesia-Sarawak, Malaysia. Proses migrasi mereka dari Tampun Juah karena terjadinya perang antara manusia Dayak Bidayuh dengan roh halus. Perang ini dikenal mereka dengan peristiwa “perang taik”, yakni roh halus mengubah makanan manusia menjadi taik (tinja/kotoran manusia). Salah satu kelompok masyarakat Dayak Bidayuh yang terlibat perang tersebut kemudian menyebut dirinya Dayak Koman. Kelompok sub suku ini dulunya masih membaur dengan beberapa sub suku Dayak yang lain di kabupaten Sanggau (Lihat Tesis Hermanto: Non Government Organization, Negara dan Masyarakat Adat, UGM 2008 hal.39).

Ketika pecah perang taik ini kelompok masyarakat yang kemudian menyebut dirinya Dayak Koman tersebut pernah tinggal di Bale’ Angin atau Belangin, yang terletak di pinggir sungai Kapuas sebelah kiri kurang lebih 3 km ke arah hilir dari Ibu Kota Sanggau, tepatnya diseberang Kampung Jeranae dan Kampung Sekuang Kedesaan Lintang Kapuas. Ketika menetap di Bale’ Angin ternyata Orang Dayak Koman masih merasa tidak aman, kemudian mereka pindah lagi milir menelusuri Sungai Kapuas dan bermukim di Labay Laway. Setelah menetap cukup lama di wilayah Labay Laway, ketika pecah perang antara VOC dengan Kerajaan Tayan, maka Orang Koman yang dipimpin Paruci pindah untuk menyelamatkan diri dengan mudik Sungai Kapuas, yang kemudian mudik Sungai Sekadau dan masuk muara Sungai Koman.

Sewaktu Paruci dan rombongannya mudik menyusuri Sungai Koman, dimana muara Sungai Koman masih berbentuk goa, yaitu air sungainya mengalir dari bawah tanah masuk ke Sungai Sekadau. Untuk memperlancar hubungan trasnportasi, oleh Paruci muara Sungai Koman tadi digali/dikeruk sehingga menjadi besar seperti muara sungai pada umumnya. Paruci mudik ke Sungai Koman lalu membangun pedango (pemukiman) pertama di kampung Baa sekarang ini.

Karena untuk mencari tanah yang subur sebagai tempat berladang, Paruci selalu berpindah-pindah membangun pedango. Setiap mendapatkan tanah yang subur sebagai tempat berladang dan bercocok tanam, Paruci tetap membangun pedango sebagai tempat tinggal untuk menjaga ladang dan tanam lainnya. Dengan Pola kehidupan meramu, berladang dan berburu seperti itu mengharuskan Paruci selalu pindah-pindah mencari tempat baru yang masih subur dan banyak potensi sumber daya alamnya.

Setelah beberapa waktu menetap di Kampung Baa (kini sebuah kampung), Paruci pindah dan mudik sungai Koman. Perjalanan menyusuri sungai Koman penuh dengan rintangan di antaranya melewati Riam Belapar , mereka hanya menggunakan suar dari batang tebu bukan dari batang bambu, sehingga setiap menancapkan suarnya selalu patah. Atas saran Bomang Negara, akhirnya mereka mampu melewati Riam Belapar dan membangun tempat baru di Keranji. Setelah beberapa lama di Keranji mereka pindah lagi ke suatu tempat bernama Nanga Mampok, Paruci menanam pohikng (sejenis bambu), kemudian pindah lagi ke Landau Seduyoh dihilir Kampung Cenayan dan pindah lagi ke Muara Sungai Kemiatn, disinilah Paruci kemudian menanam pohon tengkawang di sepanjang sungai Kemiatn.

Keturunan Orang Dayak Koman yang pertama berasal dari Domong Paruci. Selanjutnya Domong Paruci menurunkan anaknya bernama Beringin dan Patah Lingah (tidak mempunyai keturunan). Beringin menurunkan Bungko Aor dan Pano (tidak mempunyai keturunan). Bungko Aor menurunkan Linteh dan Sugeh. Untuk keturunan orang Koman yang menjadi Dayak Koman sekarang ini adalah dari keturunan Sugeh. Keturunan Sugeh adalah Inyan dan Semen. Selanjutnya Inyan menurunkan Ingat dan Pa’i yang mendiami Kampung Piansa sekarang dan Pa’i menurunkan Cayau yang mendiami kampung Cenayan sekarang ini. Semen menurunkan Onok dan Laman tetap tinggal di Kampung Tamang. Laman menurunkan Libon, Namong, Albinus Iboh, Aloh, Amih, Acoi, Noku, Cumi dan Ajim. Mereka merupakan keturunan ke tujuh dari nenek moyang mereka, Paruci.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Ladang, kebun karet, tembawang, pemukiman, kuburan, keramat, hutan adat, hutan rimba 
Individu, kelompok(keturunan) 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Adat Desa Cenayan
Struktur Temenggung, Mantehi Adat, RT
TEMENGGUNG, mempunyai tugas dan kewenangan: pertama, mengatur adat istiadat dan hukum adat. Kedua, menyelesaikan permasalahan di wilayah di adatnya. Ketiga, menyelesaikan kasus –kasus pelanggaran adat yang besar, seperti pembunuhan. Keempat, menyelesaikan kasus-kasus yang tidak mampu diselesaikan ditingkat MANTEHI ADAT.
MANTEHI ADAT, mempunyai Tugas dan kewenangan untuk: pertama, menyelesaikan permasalahan adat istiadat ditingkat Kampung/Dusun, dan kedua, menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran adat yang tidak dapat diselesaikan pengurus adat ditingkat RT. Sedangkan RT, Mempunyai tugas dan kewenangan untuk Menyelesaikan sengketa-sengketa ringan di tingkat RT 
Dengan masih kentalnya rasa kebersamaan yang ada di Kampung Cenayan, maka setiap ada persoalan, atau kegiatan-kegiatan besar selalu dirapatkan atau di musyawarahkan di tingkat kampung. Begitu juga dengan kebiasaan dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan perkara adat, maka didahului dengan musyawarah dulu untuk mencapai kata sepakat. Apabila terjadi suatu perkara adat, baik antar komunitas mereka, antar komunitas atau antar suku maupun pelanggaran sumber daya alam oleh pihak luar, seperti dengan perusahaan dan lainnya, maka diselesaikan melalui proses perkara adat. Menurut Adat Orang Koman di di Kampung Cenayan, satuan sanksi adat bagi pelanggar adat di sebut dengan “Poku” 

Hukum Adat

Adat Berladang, Nuba Adat, Mengambil Madu, berburu
Hutan Adat, Hutan Rimba, Sungai 
- Adat Perkawinan
- Adat Kelahiran
- Adat Pengangkatan Anak
- Adat Perceraian
- Adat Kematian 
Hukum Adat Perkelahian
a). Perkelahian satu lawan satu
Apabila terjadi perkelahian satu lawan satu yang mengakibatkan salah seorang luka atau sama-sama luka, maka kedua belah pihak dikenakan sanksi hukum adat sebanyak 1 x 16 poku mangkok adat, 1 ekor ayam, 4 botol tuak.
Jika ada pihak yang terluka, maka biaya pengobatan ditanggung pihak yang melukainya. Tetapi apabila kedua belah pihak sama-sama terluka, maka dilihat siapa yang mendahului perkelahian tersebut, yang harus menanggung biaya pengobatan 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi