Wilayah Adat

Kampung Engkersik Satu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dusun Engkersik Satu
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SEKADAU
Kecamatan Sekadau Hilir
Desa Engkerisik
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.358 Ha
Satuan Kampung Engkersik Satu
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Dsn. Engkersik Batu Lebur
Batas Selatan Dsn. Jerajau
Batas Timur Dsn. Suak Terentang
Batas Utara Dsn. Empering

Kependudukan

Jumlah KK 157
Jumlah Laki-laki 288
Jumlah Perempuan 274
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Suku Dayak Sekujam Kayu Bayatn adalah Penduduk asli masyarakat Desa Engkersik dan merupakan salah satu subsuku Dayak yang Mempunyai wilayah, mempunyai Adat Istiadat, hukum adat bersama perangkatnya dan masih menjalankan adat istiadat dan hukum adat serta sudah berada di daerah teritorial secara turun temurun, berabat-abat sehingga hampir sulit diketahui dari mana asal usulnya.
Menurut tradisi lisan penduduk asal Desa Engkersik yaitu Dayak Sekujam adalah salah satu kelompok yang melarikan diri dari kampung Labai Lawai karena adanya serangan dari Biajuk. Dalam masa pelarian ini dipimpin oleh Mekuk untuk mencari tempat tinggal yang baru. Sebenarnya, dari Labai Lawai hingga ke tempat tinggal yang baru, Mekuk beserta kelompoknya dan kelompok – kelompok yang lain yang juga melarikan diri, harus mengikuti Inai Abang dan Peramang sebagai penunjuk jalan. Namun ditengah jalan, jarak antara kelompok yang dipimpin oleh Mekuk dan Inai Abang semakin jauh sampai kehilangan jejak. Ini dikarenakan kelompok yang dipimpin oleh Mekuk dan beberapa kelompok yang lainnya, tergoda dengan banyaknya binatang buruan yang ada ditepian sunggai Kapuas yang masih berupa hutan lebat. Bahkan kelompok yang dipimpin oleh Mekuk sempat menetap di kampung Nanga Nuyang selama tujuh tahun, di kampung Nanga nuyang inilah Mekuk memperistrikan Nuyo anak dari Ketuk dan Gane yang terlebih dahulu berada ditempat itu.

Setelah tujuh tahun berada di kampung Nanga Nuyang, Mekuk beserta rombongannya melanjutkan perjalanan. Di Nanga Sungai Sekadau Mekuk menemukan tanda dari Inai Abang dan Peramang yakni bentangan akar Kemangkau yang menutupi jalan masuk ke sungai Sekadau serta sebilah Keris milik Peramang yang menancap di tengah – tengah akar tersebut. Ini menandakan bahwa Inai Abang serta rombongannya tidak masuk kesungai Sekadau kemudian tanda yang lain dari Inai Abang juga ditemukan di sungai sebedau, yaitu sebuah ketiti (jembatan dari kayu bulat) dari kayu sebeddau dan banyaknya tuba akar yang menutupi Nanga Sebedau.

Namun, entah mengapa Mekuk malah masuk dan menyusuri sungai sebedau. Kemudian masuk lagi kesungai merundang untuk mencari tempat menetap, mereka lalu membuat sebuah Rumah panjang diatas bukit diantara hulu sungai Keresek dan sungai Segari yang merupakan cucu dari sungai sebedau. Rumah betang tersebut dibuat dengan menggunakan kayu bayant sehingga rumah betang tersebut dinamakan Rumah Betang Kayu Bayatn sesuai dengan nama kayu untuk membuatnya yaitu Kayu Jeluti yang sering dihinggapi burung bayan.

Di rumah betang kayu bayatn inilah, orang sekujam yang dipimpin oleh Mekuk mulai berkembang jumlahnya. Sehingga rumah betang ini semakin panjang mencapai 167 pintu, ini belum termasuk yang nangkek (nempel) pada rumah betang. Masyarakat dirumah betang sangat makmur dan sejahtera. Mereka Berladang, menanam jagung, kapas, tembakau, tebu, kopi dan lain – lain. Dan untuk mengontrol kehidupan sosial mereka, mereka sangat mentaati hukum adat yang telah ditetapkan. Kejayaan Rumah Betang ini dialami pada masa kepemimpinan Temenggung Dom yang didampingi oleh kedua pembantunya yang bernama macatn ramang dan Singo Gugut.

Masa kejayaan Rumah Betang Kayu Bayatn dibawah kepemimpinan Temenggung Dom rupanya tidak berlangsung lama. Masa ini berakhir ketika terjadi suatu petaka besar yang menimpa rumah betang kayu bayatn yang dikenal dengan petaka Batu Lebur. Ini bermula pada musim kemarau yang panjang. Di mana, pada musim kemarau, biasanya para perempuan Sekujam baik tua maupun muda mencari ikan atau udang di sungai-sungai. Musim inipun tidak disia-siakan oleh dua orang gadis bernama Dawo dan Kumang yang merupakan petunggal (kakak beradik sepupu).

Pada suatu hari, kedua gadis yang sudah mempunyai tunangan ini berangkat menaggok (menangkap ikan mengunakan sejenis keranjang yang dibuat dari anyaman rotan) ikan di Sungai Segarik. Hasil tangkapan merekapun cukup banyak.

Keranjang untuk membawa hasil tangkapan pun dipenuhi oleh udang, ikan dan kepiting. Ketika hari sudah semakin sore, Kumang mendapatkan banyak udang di tanggoknya. Udang yang ada ditanggok Kumang pun melompat-lompat hendak melepaskan diri. Dengan sabar Kumang memungut satu- persatu udang yang ada ditanggoknya. Tapi, ada satu udang yang melompat agak tinggi dan menjepit payudara Kumang. Sehingga Kumang terkejut dibuatnya. Sebelum melepaskannya, Kumang memberitahukan kepada Dawo. Dawo yang melihat udang tersebut menjepit payudara kumang, menjadi tertawa terbahak-bahak. Dalam perjalanan pulan, Kumang dan Dawo terus-menerus tertawa mengingat kejadian di sungai tadi.

Sesampainya di rumah, Dawo dan Kumang menceritakan kembali kejadian itu kepada semua penduduk di rumah betang. Seisi rumah betangpun tertawa mendengarkan cerita mereka berdua. Menjelang malam, ketika orang-orang masih mentertawakan kejadian yang dialami oleh kumang, tampa disadari, langitpun mulai mendung disertai petir yang menyamar-nyamar menimbulkan suara guntur yang mengelegar memekakkan telinga. Tak lama berselang, datanglah hujan aneh dari bawah lantai rumah betang dan secara tiba-tiba membuat seluruh Rumah betang beserta isinya menjadi batu. Hanya orang yang tidur di Langkau (pondok ladang) sajalah yang selamat dari malapetaka yang dikenal dengan Batu Lebur tersebut.

Berselang enam hari setelah kejadian yang membuat seluruh rumah betang Kayu Bayatn dan penghuninya berubah menjadi batu datanglah dua orang pemuda yang bernama Berabai dan Mio kerumah betang untuk melihat tunangan mereka Kumang dan Dawo. Karena takut untuk mendekat, Berabai dan Mio menuju pohon Langsat yang berada tidak jauh dari rumah betang tersebut. Untuk melihat dari tempat yang lebih tinggi, berabai kemudian memanjat pohon langsat tersebut. Sedangkan Mio menunggu dibawah. Namun, sesampainya dipuncak pohon, secara tiba-tiba Berabai yang berada di atasnya menjadi batu. Mio yang walaupun berada dibawah turut pula menjadi batu. Hingga kini, pohon langsat yang dinaiki oleh berabai itu, disebut Pohon Langsat Berabai.

Adalah Kacung beserta anak dan istrinya yang selamat dari kejadian itu karena sedang berada di ladang, segera mengumpulkan orang-orang sekujam yang juga selamat untuk mengungsi dari tempat tersebut. Mereka mengilir sungai kapuas hingga kemuaranya dan menetap di Daerah yang bernama Pinang Kayu. Namun orang yang berkuasa di Daerah tersebut, tidak mau daerahnya ditempati oleh orang lain dan mengusir rombongan orang sekujam yang dipimpin oleh Kacung untuk pindah ke hulu Sekadau. Akhirnya, Kacung beserta rombongannya kembali mudik kapuas. Walaupun sudah bertahun-tahun dan singgah dimana-mana, tetap saja rombongan ini kembali tidak jauh dari daerah batu lebur yakni Tapang Gendang.
Di Tapang Gendang orang-orang sekujam kembali membuat perkampunagan untuk memulai kehidupan yang baru. Mereka mencari tempat berladang, berburu, menagkap ikan, dan lain-lain ditempat yang baru tersebut. Ada sebagian orang sekujam yang membuat ladang ditempat yang jauh. Sehingga, mereka sering bemalam dan bahkan sampai memutuskan untuk tinggal dan membuat perkampungan baru ditempat tersebut. Ini menyebabkan perkampungan-perkampungan orang Sekujam Kayu Bayatn mulai menyebar diberbagai tempat. Perkampungan orang sekujam tidak pernah jauh dari lokasi batu lebur. Bekas lokasi batu lebur tersebut dinamakan Tembawang Engkersik. Dan nama Tembawang Engkersik tersebut dijadikan nama Desa Engkersik sampai sekarang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Ladang, sawah, kebun karet, rimba, tembawang, pemukiman & kuburan 
Penguasaan dan pengelolaan wilayah secara turun temurun(keluarga), individu dan kolektif 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Desa Engkersik
Struktur Ketemenggungan Adat Kedesa Engkersik, Lembaga Adat/ Menteri Adat Desa, Menteri Adat, Masyarakat Adat
Ketemenggung:
1. Temenggung berwenang menyelesaikan perkara adat diwilayah Kekuasaannya.
2. Berwenang menyelesaikan perkara baik antar warga masyarakatnya sendiri maupun perkara adat dengan pihak luar.
3. Bertugas mengurus adat istiadat dan hukum adat yang ada diwilayah kekuasaan.
4. Bertugas menyelesaikan perkara adat yang tidak mampu diselesaikan oleh menteri adat bersama sekutu.
5. Menyelesaikan perkara adat yang sifatnya berat,seperti pembunuhan.
6. Melakukan koordinasi,kerja sama dengan menteri adat,dan sekutu adat setiap menegakkan adat istiadat dan hukum adat.
7. Menguatkan,mengembangkan adat istiadat dan hukum adat di wilayahnya.
8. Menggalang koordinasi dan kerjasama dengan aparat pemerintah,kecamatan dan kabupaten.
9. Menyelesaikan/merumuskan suatu perkara apabila suatu perkara tersebut tidak mampu diseslesaikan/diputuskan oleh menteri adat.
10. Mempertahankan kawasan adat.
11. Melaksanakan keputusan-keputusan hasil Musdat.
12. Mengadakan rapat koordinasi sekurang-kurangnya dua kali setahun.
13. Mengatur pengelolaan dan pemanfaatan SDA pada tingkat Ketemenggungan.
14. Melakukan pemberdayaan dan dokumentasi adat istiadat dan seni budaya.
15. Jujur,bijaksana,dan berwibawa.
16. Berani mengambil keputusan.
17. Mengerti adat istiadat.
18. Berani menyampaikan aspirasi Masyarakat Adat.

Mentri Adat:
1. Berwenang mengurus adat istiadat dan hukum adat pada tingkat Dusun/kampung.
2. Menyelesaikan perkara adat di tingkat dusun/kampung/RT/RW.
3. Melakukan koordinasi kerjasama dengan sekutu adat setempat dalam menyelesaikan perkara adat.
4. Menguatkan,mengembangkan dan menegakkan adat istiadat dan hukum adat.
5. Menggalang koordinasi dan kerjasama dengan aparat pemerintah desa,kecamatan dan kabupaten.
6. Mengatur pengelolaan dan pemanfaatan SDA dikampungnya masing-masing 
Perkara yang terjadi diselesaikan di tingkat mentri adat dahulu yaitu tingkat dusun, jika tidak dapat diselesaikan di tingkat mentri adat perkara di naikkan lagi ke tingkat temenggung desa 

Hukum Adat

Adat berladang, panen, membuka hutan, menebang pohon
Wilayah tanah adat, keramat, kuburan, tembawang, sungai hutan adat, hutan lindung, dll 
Adat perkawinan, adat kelahiran, adat kematian, adat salah basa, perkelahian, gawai adat, adat mendirikan rumah, adat prilaku, dll 
TRADISI PERKAWINAN
Dalam adat perkawinan orang sekujam, ada beberapa tahap yang harus dilalui apabila kedua belah pihak yang ingin melaksanakan perawinan. Pertama adalah bebintok tanyok atau meminang, pejadi dan kerungon.
1. Betunang
Bahannya :
• 1 Bentuk Cincin Perak
• 1 Helai Kain Tapih
• 1 Helai Kain Baju
• Dan bahan yang lain seperlunya

Catatan:
• Jika terjadi pembatalan dari pihak perempuan bahan tertsebut dipulang (dikembalikan) berlipat serta dikenakan Hukum Adat
• Jika sebaliknya Pembatalan dari pihak laki-laki lelaki tersebut juga dikenakan Hukum Adat

Hukum adat untuk Pembatalan betunang dilihat dari segi kesalahan yaitu 16 peku, 3 leso dan 5 leso. Didalam pelaksanaan betunang selama 6 bulan apa bila duluan berkumpul dalam masa betunang akan dikena sangsi adat 16 peku disebut “Adat Keribang suruk”
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi